
Setiap hari ada saja kelakuan si triplets yang membuat Rion menghela napas sangat kasar. Tiada hari tanpa menahan emosi. Bosan menyelimuti hati Rion, dia mengajak jalan ketiga cucunya ke sebuah toko serba ada tak jauh dari rumahnya. Hanya keluar dari komplek, toko itu sudah terlihat.
Tangannya mendorong stroller dobel, ada Aleena dan Aleesa di sana. Sedangkan Aleeya dia gendong di depan. Menyusuri komplek di pagi hari bersama ketiga cucunya terasa menyenangkan.
Tibanya di toserba, Rion segera melihat-lihat ke dalam. Banyak sekali barang yang dijual di sana. Aleeya meronta-ronta ingin turun. Mau tidak mau Rion menurunkan cucunya yang satu itu.
"Jangan nakal!" kata Rion dengan nada penuh ancaman.
Rion terus melangkahkan kakinya, dia berniat untuk membeli baju senada dengan ketiga cucunya. Biasanya di toserba banyak pilihannya.
Prank!
Suara benda pecah terdengar. Rion melihat ke sekelilingnya. "Aleeya."
Rion memutar balikkan stroller dan bergegas mencari Aleeya. Benar saja, cucunya tengah menangis keras dan di hadapannya ada pecahan beberapa guci.
"Aleeya gak apa-apa?" Rion segera menggendong Aleeya dan menenangkannya.
"Maaf, Pak. Pecah berarti membeli," ucap salah seorang pegawai.
"Akan saya ganti," kata Rion.
"Tapi ... bukan guci ini saja yang pecah," ujar si pegawai.
Kemudian tangannya menunjuk ke arah pegawai lainnya yang memberikan satu troli minuman kemasan yang sudah ditusuk sedotan oleh Aleeya.
Ingin rasanya Rion berteriak kencang. Namun, harus dia tahan. Niat utama ingin membeli baju harus pupus sudah. Dia harus mengeluarkan uang sebesar satu juta rupiah untuk mengganti kerugian. Sungguh sial nasib Engkong yang tidak berdosa ini.
Tibanya di rumah, Rion tak banyak bicara. Dia masih kesal dengan kelakuan Aleeya. Bukan karena uang, tetapi karena tangan Aleeya yang tidak mau diam. Bayangkan jika guci itu menimpah Aleeya. Sudah pasti dia akan terkena masalah.
"Map," kata Aleeya.
Rion masih bergeming, dia melangkahkan kakinya menuju kamar si triplets, diikuti oleh ketiga cucunya. Melihat sang engkong berdiri di pantry kecil, mereka mencuci tangan bergantian.
Satu per satu botol susu yang Rion bawa diberikan kepada ketiga cucunya. Aleeya yang sekarang menjelma menjadi anak pendiam. Susu di botol pun tidak dia sentuh sama sekali. Rion hanya mengajak bercanda kedua kakaknya. Sedangkan dengan Aleeya, dia seolah acuh.
Dari ketiga anak Echa, Aleeya yang sangat perasa. Dia adalah anak yang sangat sensitif. Kedua kakaknya tertidur, dia pun pura-pura tertidur. Ketika Rion keluar kamar, Aleeya masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya.
Rion duduk di halaman samping, sebelumnya dia meminta dibuatkan kopi kepada Mbak Ina.
"Ini kopinya, Pak." Rion mengangguk.
"Anak-anak memang suka berbuat ulah, Pak." Rion menatap ke arah Mbak Ina. Seolah asisten rumah tangganya ini mengetahui isi hatinya.
"Ponsel Neng Echa dua kali dilempar oleh Aleeya. Itulah yang membuat ponsel Neng Echa mati. Itu terjadi, ketika Bapak pulang langsung marah kepada Neng Echa karena panggilan Bapak tidak dijawab oleh Neng Echa," terang Mbak Ina. Keterangan Mbak Ina seperti tamparan keras untuk Rion.
"Belum lagi ... kalung pemberian dari Mas Radit yang Aleena tarik hingga terputus. Liontinnya hilang entah ke mana. Sampai sekarang belum ketemu. Padahal liontin itu harganya seratus juta." Lagi-lagi Rion tersentak. Echa tidak pernah mengatakan perihal apapun kepada dirinya.
Memang benar, barang pemberian Radit tidak ada yang bernilai murah. Semuanya mahal, Rion akui itu.
"Belum lama ini, Aleesa memecahkan guci kesayangan Neng Echa. Guci itu terlihat tidak menarik, tetapi memiliki nilai seni yang tinggi. Harganya juga mahal sekali, hampir lima puluh juta. Namun, Neng Echa tidak pernah marah ataupun membentak ketiga anaknya. Dia selalu tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa."
Rion memang bukan ayah dan kakek yang baik untuk anak serta cucunya. Uang yang dia keluarkan hari ini tidak sebanding dengan kerugian Echa. Akan tetapi, anaknya itu tidak pernah berbicara apapun kepadanya. Tidak pernah mengeluh.
__ADS_1
"Saya tahu, Bapak lelah. Kelakuan tiga anak Neng Echa terkadang di luar dugaan kita. Mereka hanya anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Tidak sewajarnya mereka dapat amukan kemarahan dari kita," tukas Mbak Ina.
Rion benar-benar menyesal telah memperlakukan Aleeya seperti itu. Padahal dia masih kecil, dia tidak tahu mana yang bahaya mana yang tidak. Lagi pula ini bukan sepenuhnya kesalahan Aleeya. Rion juga telah lalai menjaga Aleeya.
Kopi yang masih utuh dia tinggal begitu saja. Tidak setetes pun dia minum. Rion melangkahkan kakinya menuju kamar si triplets. Dia mengusap dada ketika melihat cucunya masih tertidur. Namun ...
"Satu ... dua ... Aleeya," gumamnya.
Rion mencari Aleeya di setiap sudut kamarnya. Ke dalam lemari, kamar mandi pun tidak ada. Panik bercampur khawatir kini yang Rion rasakan.
"Maafkan Engkong, Aleeya," sesalnya.
Rion melihat ke arah pintu kamar Echa, masih tertutup rapat. Di samping Aleeya hanya ada botol susu milik Aleeya yang masih penuh.
"Di mana kamu Aleeya?" ucap pelan Rion.
Kepanikan membuyarkan semuanya. Dia menghampiri Mbak Ina menanyakan keberadaan Aleeya. Jawaban tidak tahu dari Mbak Ina membuat Rion semakin cemas. Begitu juga Mbak Ina.
"Pak, apa di pohon mangga?" Tanpa banyak bicara Rion segera berlari ke sana. Namun, tidak ada.
Rion dan Mbak Ina dibantu Pak Mat mencari Aleeya. Satu jam berselang, mereka tidak menemukan Aleeya. Suara tangis Aleena dan Aleesa pun memekik gendang telinga.
"Dedek." Sosok itu lah yang mereka cari.
Rion segera menggendong kedua cucunya dan membawanya ke luar kamar. "Jangan nangis, ya. Adik kalian ada kok. Sekarang kalian duduk manis dulu ya, di sini."
Rion mencoba berbicara lembut dan juga meyakinkan kedua cucunya. Sudah pasti mereka mencari Aleeya. Mereka ditakdirkan untuk tidak bisa dipisahkan. Mbak Ina dan Pak Mat mencari terus keberadaan Aleeya. Hingga Rion membuka kamar anak-anaknya. Dari kamar Iyan, Riana serta Echa. Dia terus mencari ke sudut ruangan kamar. Akan tetapi, Aleeya tidak ditemukan. Rion pun mengerang frustasi.
"Dedek, Bu," kata mereka berdua.
Radit menenangkan istri serta kedua anaknya. Dia membuka laptop di kamarnya yang terhubung dengan cctv. Mata Radit dan Rion terus melihat ke arah layar laptop. Mereka melihat Aleeya jalan ke kamar Radit. Lalu, menutup pintu penghubung. Radit segera beralih ke cctv yang dipasang di kamarnya. Setelah tahu Aleeya berada di mana Radit merasa lega.
Radit membuka pintu lemari besar. Dilihatnya Aleeya tengah tertidur sambil menghisap jempolnya di lantai lemari bagian bawah yang luas. Hati Radit teriris terlebih Rion
Dengan hati-hati, Radit memindahkan tubuh Aleeya ke atas tempat tidur. Dia mencium kening putrinya sangat dalam.
"Baba yakin, kamu tidak akan pergi ke mana-mana."
Echa dan kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Air matanya sudah tidak bisa tertahan. Tumpah ruah melihat Aleeya apalagi mendengar kondisi Aleeya ketika ditemukan.
"Ya ampun, Aleeya. Maafkan Bubu, Nak," lirih Echa.
"Maafkan Ayah, Ayah ...."
"Echa akan ganti kerugian Ayah. Bahkan Echa sudah transfer sepuluh kali lipat dari kerugian Ayah tadi," sinisnya.
Rion ingin menimpali ucapan Echa, tetapi Radit mencegahnya. Dia membawa Rion ke ruang keluarga. Berbicara sesama pria mungkin akan lebih enak.
"Ketiga anak Radit ini perasa dan sensitif," imbuhnya.
"Makanya Radit dan Echa tidak pernah memarahi mereka senakal apapun mereka."
"Hilangnya liontin Echa, rusaknya ponsel Echa serta guci kesayangan Echa pecah kami berdua mencoba untuk tidak mempermasalahkannya. Biarlah uang hilang, tetapi jangan sampai anak-anak sedih dan sakit hati dengan perkataan orang tuanya. Itulah yang kami terapkan, Yah," ungkap Radit.
__ADS_1
"Biarkan Echa sendiri dulu. Dia akan sangat sensitif jika mengenai anak-anak. Apalagi sampai mendapat kabar bahwa Aleeya hilang dan berada di dalam lemari. Jika. kita tidak buru-buru menemukannya mungkin Aleeya sudah tidak bernyawa." Rion menundukkan kepalanya sangat dalam. Dia menyesal karena telah memperlakukan Aleeya seperti tadi.
"Maafkan Ayah, Dit," sesalnya.
Hanya seulas senyum yang Radit berikan. Dia mencoba untuk tenang walaupun dia juga sedikit marah mendengar kelakuan sang ayah mertua.
Radit kembali ke kamar, dilihatnya Echa sedang mendekap hangat tubuh Aleeya. Air matanya masih mengalir. Sedangkan kedua putrinya yang lain juga tengah memeluk tubuh Aleeya.
"Jangan menangis lagi, Yang," pintanya sambil mengusap lembut kepala Echa.
"Aku tidak bisa membayangkan jika Aleeya ...." Radit segera memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Anak kita baik-baik saja, Yang." Radit terus menenangkan Echa.
Lambat laun kedua anak Echa tertidur kembali begitu juga dengan Echa. Ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Radit. Sedangkan Rion yang mengintip mereka dari balik pintu hanya dapat menghela napas kasar.
Aleeya bangun dari tidurnya tepat jam dua. Dia melihat ke arah kiri dan kanannya. Ada kedua kakaknya beserta kedua orang tuanya.
"Bubu," panggil pelan Aleeya sambil mengusap lembut pipi Echa.
Echa sedikit terkejut, matanya mulai membuka dan Aleeya sudah menatapnya. Seulas senyum Echa berikan kepada Aleeya.
"Lapal," kata Aleeya.
"Mau susu?" Aleeya menggeleng.
"Mam," jawabnya.
Echa mengusap lembut rambut putri bungsunya. "Bubu buatkan, ya." Lagi-lagi Aleeya menggeleng.
"Mam di lumah Mimo," pintanya.
Echa mengerti maksud dari Aleeya. Dia menyetujui keinginan anak ketiganya.
"Bagaimana jika kita makan di mall? Sambil bermain?" Aleeya mengangguk seraya tersenyum.
Echa membangunkan Radit dan memberitahukan rencananya. "Ide bagus," jawab Radit.
Aleeya berbisik kepada Radit dan membuat Radit tergelak. "Siap, apapun yang Aleeya minta pasti akan Baba berikan," jawabnya.
"Hole." Teriakan Aleeya membangunkan kedua kakaknya. Melihat Aleeya sudah berada bersama mereka.
"Dedek!" teriak Aleena dan Aleesa.
Radit dan Echa tersenyum bahagia melihat ketiga anaknya seperti ini. Setelah semuanya rapih, perlengkapan si triplets pun sudah siap, mereka keluar kamar beriringan. Namun, Aleeya meminta untuk digendong Radit. Masih ada ketakutan di hati Aleeya jika menghadapi Rion.
"Cucu-cucu Engkong mau ke mana?" Suara Rion menghentikan langkah mereka. Berbeda dengan Aleeya yang bersembunyi dileher Radit.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Rion. Echa dan ketiga anaknya seakan membisu.
"Mau ke mall, Yah. Anak-anak ingin makan di luar sambil bermain," jawab Radit.
Aleena segera menarik tangan Echa agar segera cepat pergi. Aleena dan Aleesa merasakan ketakutan Aleeya. Rion menatap nanar ke arah cucu-cucunya. Mereka seakan membenci Rion sekarang.
__ADS_1