Yang Terluka

Yang Terluka
Menua Bersamamu


__ADS_3

Radit dan Addhitama datang dengan langkah tergesa. Dia segera menghampiri adik dan juga ibu mertuanya.


"Mah," panggil Radit. Ayanda segera memeluk tubuh sang menantu.


"Maafkan Mamah, Dit. Mamah gak bisa jaga Echa," sesal Ayanda.


Radit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan sang mertua. Dia menatap ke arah Aska meminta penjelasan kepadanya.


"Kakak didorong Ziva sampe--"


"Keluarga dari Nyonya Elthasya." Suara sang dokter membuat Radit segera menghampiri dokter tersebut.


Sang dokter mengajak Radit untuk masuk ke dalam. Di sana istrinya sudah berlinang air mata. Radit bingung dibuatnya.


"Sayang." Radit segera menghampiri Echa dan memeluk tubuh istrinya. Echa benar-benar terisak di dalam dekapannya.


"Pak, ada yang harus kami sampaikan." Dokter itu tidak mau berlama-lama memberitahukannya kepada Radit.


Pelukan hangatnya pun dia urai. Sekarang, dia menatap ke arah sang dokter.


"Istri Bapak mengalami keguguran."


Deg.


Sebuah berita yang sangat mengejutkan yang Radit dengar. Dia tak bisa berkata, dia juga tidak menyangka bahwa istrinya tengah hamil. Tangan Radit menggenggam erat tangan Echa. Meskipun dia syok, dia masihbisa menahan semuanya.


"Satu hal lagi, Pak." Raut wajah dokter sudah berubah. Radit mulai sedikit curiga.


"Rahim istri Bapak harus diangkat."


Seperti dihantam anak panah yang sangat runcing hati Radit sekarang ini. Kenapa cobaan yang luar biasa ini datang dengan sangat tiba-tiba.


"Aku gak mau, Ay," tolak Echa.


Mendengar suara sang istri yang sangat berat dan serak semakin membuat hati Radit sakit. Dia memandangi wajah istrinya yang sudah sembab dan air matanya masih mengalir sangat deras.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik, dok."


Mata Echa melebar ketika mendengar Radit berkata dengan mudahnya. Dia menggelengkan kepala dengan air mata yang semakin tak tertahan.


"A-ay ...."


Radit tidak bisa berkata, dia hanya bisa memeluk erat tubuh sang istri. Sekuat tenaga d menahan sesak di dada. Dia menjerit keras di dalam hati.


"Aku tidak mau, Ay. Tidak mau."


Tidak ada jawaban apapun dari Radit. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Echa. Bukan hanya Echa yang terluka, dia juga sangat terluka.


Lima belas menit kemudian, Echa yang masih menangis sudah keluar dari ruang IGD. Dia yang masih terbaring di ranjang pesakitan didorong oleh beberapa orang perawat juga suaminya. Ayanda, Addhitma, Rion, Arya serta Aska segera menghampiri Echa juga Radit. Namun, mulut Radit seakan terbungkam. Dia terus mendorong ranjang pesakitan istrinya. Keluarga Radit juga Echa pun tersentak ketika Echa dibawa ke ruang operasi. Air mata Echa semakin jatuh dengan bebasnya.


"Ini bukan akhir segalanya. Apapun yang terjadi, Cintaku tak akan pernah berubah untuk kamu." Sebuah kecupan hangat Radit bubuhkan di kening istrinya. Para perawat pun membawa masuk Echa ke dalam ruang operasi.


"Dit, jelasin sama Ayah. Apa yang terjadi dengan Echa?" sergah Rion yang sedari tadi menahan tanya.


Radit masih terdiam, dia seperti manusia bisu.


"Dit, Mamah mohon. Katakan apa yang terjadi dengan Echa? Katakan Dit!"


"Echa keguguran."


Tidak ada yang tidak terkejut mendengar ucapan Radit. Semua orang hanya terdiam tak bisa berkata apapun.


"Rahimnya harus diangkat," ucap Radit dengan nada yang sangat lemah. Kepalanya pun menunduk dalam, tubuhnya bergetar. Radit menangis, dan Radit juga bersedih.


Ibu dari Echa sudah limbung ketika mendengar ucapan sang menantu. Aska dengan sigap menangkap tubuh ibunya.


"Itu bohong 'kan, Dit. Itu bohong 'kan!" sentak Rion.


Tubuh Radit semakin bergetar hebat. Tubuhnya mulai luruh ke lantai. Terlihat air mata terjatuh ke lantai.


"Maafkan Radit."

__ADS_1


Addhitma segera memeluk tubuh putranya. Dia menepuk pelan tubuh lemah sang putra. Dia tahu Radit sangat terpukul. Radit sangat kecewa.


Rion hanya bisa menyandarkan tubuhnya di dinding dengan mendongakkan kepalanya ke atas.


"Kenapa nasibmu harus selalu seperti ini, Dek?" lirihnya.


Arya segera menenangkan sahabatnya ini. Bagaimanapun Arya tahu bahwa Rion sangat menyayangi sang putri.


"Kita harus ikhlas. Tuhan pasti punya rencana yang lain," imbuh Arya.


Ketika operasi tersebut selesai, Echa sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Raut penuh kesedihan masih terlihat jelas. Radit masih terus mendekap tubuh Echa dengan erat.


Semua orang mencoba untuk menahan air mata mereka. Terlalu sakit melihat Echa seperti ini.


"Aku ... sudah gak bisa hamil lagi." Sebuah kalimat yang sangat menyayat hati.


Radit mengendurkan pelukannya. Dia menatap ke arah sang istri tercinta. Kedua tangan Radit sudah menangkup wajah Echa.


"Kita sudah memiliki tiga orang anak yang sangat cantik. Itu sudah cukup untukku," balas Radit.


"Aku hanya ingin menua


bersama kamu dan merawat anak-anak kita bersama, hingga mereka menikah dan memiliki anak. Aku hanya ingin menikmati masa tua bersama kamu karena aku tahu, anak-anak kita nantinya akan dibawa oleh suaminya. Kamulah yang akan menemani masa senjaku hingga maut memisahkan kita berdua," tuturnya.


"Jika, aku memilih membiarkan rahim kamu masih bertahan. Itu sama saja aku menginginkan kamu menjemput kematian. Aku tidak mau itu."


Tes.


Air mata Radit pun menetes. Echa benar-benar tercengang melihat suaminya menitikan air mata.


"Aku hanya ingin kamu terus menemaniku. Tak peduli kamu bisa hamil atau tidak. Aku hanya menginginkan kamu." Suara Radit sudah semakin berat dan pelan.


Echa benar-benar terharu dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Mereka tidak menyangka ternyata itu alasan yang sesungguhnya.


"Aku akan tetap berada di samping kamu. Menemani kamu dalam suka maupun duka. Aku ingin menua bersama kamu."

__ADS_1


Kalimat yang sangat indah dan manis yang keluar dari mulut Radit. Semua orang terharu mendengarnya. Radit dan Echa pun sudah berpelukan dengan sangat erat.


"Mungkin ini yang harus kita bayar untuk kesembuhan Aleeya, putri kedua kita."


__ADS_2