Yang Terluka

Yang Terluka
Playboy Dan Si Triplets


__ADS_3

Suara bel terdengar, Ayanda yang sedang bersantai sambil menonton drama China cukup merasa terganggu karena belum ada yang membukakan pintu.


"Nyonya, ada yang mencari den Aska."


Ayanda menghela napas kasar ketika mendengar nama Aska.


"Biar saya yang keluar." Pelayan itu pun mengangguk.


Ketika Sampai di ruang tamu, mata Ayanda memicing melihat perempuan sangat seksi sedang duduk di sofa.


"Cari siapa, ya?"


Mata perempuan itu berbinar ketika melihat wanita yang sudah tidak muda lagi, tetapi parasnya masih cantik sekali.


"Saya pacarnya Aksa, Tante."


Perempuan itu mengulurkan tangannya. Namun, Ayanda masih belum menyambutnya.


"Askanya tidak ada," tukas Ayanda.


Raut kecewa nampak jelas di wajah perempuan itu. Dia pun pamit undur diri. Ayanda segera naik ke lantai atas. Dia masuk ke kamar Aska yang sedang berbaring santai dengan telinga dicocoki headset. dan tangan sedang asyik bermain game.


Tangan Ayanda merampas ponsel milik Aska sehingga dia menatap bingung ke arah dan ibu.


"Kenapa sih, Mom? Adek gak berulah," ucapnya.


"Gak berulah dari mana? Baru saja Mommy kedatangan tamu, perempuan seksi yang katanya ngaku pacar kamu," jelas Ayanda.


"Udah sih, Mom. Cuekin aja, kalau gak usirin mereka satu per satu. Cewek yang tingkat halunya ketinggian," ujar Aska santai.


"Adek!" seru Ayanda.


Aska membenarkan posisinya, yang semula rebahan kini duduk menghadap sang ibu yang sedang berkacak pinggang. Aska menggenggam tangan ibunya sangat lembut dan menatap hangat manik mata Ayanda.


"Mommy, Sayang. Jikalau Adek punya pacar, malam Minggu Adek gak akan Adek habiskan di rumah atau ngajak si triplets main. Atau juga touring sama teman-teman Adek. Lebih baik Adek ke rumah pacar Adek, 'kan bisa melakukan hal yang enak-enak."


Baru saja Ayanda mendengarkan dengan serius malah kini dibuat kesal kembali. Pukulan keras mendarat di pundak Aska, tetapi Aska malah tertawa.


"Adek gak sebejat itu, Mom." Aska mencium punggung tangan Ayanda.


"Mommy percaya 'kan sama Adek?"


Ayanda sangat tahu sorot mata itu, sorot mata yang tidak bisa berbohong. Ayanda pun mengangguk.


Aska menghembuskan napas lega ketika sang ibu telah meninggalkan kamarnya.


"Kam pret nih cewek. Beraninya datang ke rumah gua," geramnya.


Tangan Aska sudah membuka kontak telepon. Dia menghubungi seseorang.


"Halo, Sayang."


"Sekarang juga kita PUTUS!"


Sambungan telepon pun Aska putuskan secara sepihak. Inilah sifat buruk Aska. Selalu saja membuat perempuan terluka.


Sebenarnya Aska sama sekali tidak tertarik dengan perempuan-perempuan cantik di kampusnya. Bukannya dia tidak normal, tetapi kriterianya terlalu tinggi. Hampir tiga tahun kuliah sudah tiga lusin perempuan yang dia putuskan.


Tidak ada satu pun dari ketiga puluh enam wanita yang Aska tembak. Semua wanita itu yang menembak Aska. Seperti piala bergilir. Berhubung Aska bukanlah pria yang kejam, dia mengiyakan setiap ajakan pacaran setiap perempuan. Akan tetapi, hanya akan bertahan paling lama dua bulan. Itu sudah rekor terlama.


Seperti hari ini, Aska sedang duduk di kantin bersama Ken dan juga Juno. Mereka tengah berbincang perihal bisnis yang sedang mereka kelola di Bandung. Bisnis kafe kekinian dengan modal pas-pasan. Seorang perempuan cantik bermata indah serta berambut hitam sebahu menghampiri tiga pria itu.


"Boleh gabung, gak?" tanya si perempuan.


"Mau deketin Aska, Sil?" Begitulah Juno menebaknya. Sisil Itulah namanya.


Aska yang merasa dipanggil menoleh sekejap, kemudian kembali fokus pada layar segiempat miliknya. Sisil hanya tersenyum dengan wajah yang merona.


"Ka, lu gak tertarik?" Aska hanya mengangkat bahunya.


Ghattan Askara Wiguna, pria yang mudah didekati tetapi sulit untuk dimiliki. Itulah keistimewaan yang dia punyai.


Aska memilih untuk pergi dari pada nantinya harus berurusan dengan wanita lagi. Dia ingin fokus mengembangkan usahanya.


"Mau ke mana?" tanya Ken.


"Pulang, gua harus belajar sama Kakak gua perihal ini." Aska berpamitan kepada dua sahabatnya dan mengangguk sopan kepada Sisil.


"Lu lihat 'kan gimana Aska?" Sisil mengangguk.


"Gua yakin, dia akan membalas cinta gua," imbuh Sisil dengan percaya diri.


Ken dan Juno tertawa sumbang. Perempuan di depan mereka saat ini sangatlah percaya diri.


"Pada gak kapok, ya. Padahal si Aska mah iya-iya juga cuma iya karena gak mau nyakitin. Malah dianggap serius," kata Ken.


"Malam Minggu si Aska aja sama kita terus," ucap Juno seraya tertawa.


Malam Minggu adalah malam yang ditunggu bagi mereka yang memiliki kekasih. Namun, tidak berlaku dengan Aska. Dia masih santai rebahan di tempat tidur. Padahal dering ponselnya sedari tadi berbunyi.


"Om!"


Pekikan suara ketiga keponakannya terdengar. Aska yang sedang rebahan pun tersenyum dan merentangkan tangan agar mereka peluk.


"Om bau, belum mandi," ujar Aleeya sambil menutup hidungnya.


Aska tertawa dan mengacak-acak rambut Aleeya. "Kalau begitu, Om mandi dulu. Lalu, kita nongkrong."


Ketiga keponakannya pun berteriak gembira. Inilah salah satu kegiatan malam Minggu Aska. Padahal kemarin dia baru saja jadian dengan Sisil. Harusnya dia ke rumah Sisil untuk pergi kencan ataupun sekedar berbincang. Aska tetaplah Aska. Ponselnya yang sedari berdering pun sengaja dia diamkan karena panggilan itu dari Sisil.


Jum'at siang.


"Aska, gua mau jujur sama lu."

__ADS_1


Aska yang baru saja duduk di kelasnya menatap bingung ke arah Sisil. Sedangkan Sisil sudah tersenyum manis ke arahnya.


"Lu kenapa? Kayak kuda begitu cengirannya."


Mulut Aska tidak pernah bisa berkata manis kepada wanita. Terlalu jujur itulah Aska.


"Gua tuh lagi mandang wajah lu. Lu ganteng banget kaya oppa-oa Korea," tukas Sisil.


"Gua mah korengan, jadi jangan mau sama gua, ya."


Ken dan Juno yang baru saja masuk ke kelas tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aska. Jika, Aska sudah berkata seperti itu bertanda dia tidak suka. Akan tetapi, Sisil seperti pejuang kemerdekaan. Tak pantang menyerah dan terus mendekati Aska.


"Mau ya, jadi pacar gua. Please ...."


Harga dirinya rendah banget.


Batin Aska berkata sangat kejam, tetapi memang itu kenyatannya. Aska belum menjawab Sisil, dia masih terdiam. Tangan Sisil sudah bergelayut manja ke lengan Aska, sontak mata Aska melotot.


"Bisa gak tuh tangan yang sopan?" geram Aska.


Dia sama sekali tidak suka disentuh oleh perempuan yang memang tidak dia sukai.


"Makanya mau ya jadi pacar aku," paksa Sisil.


"Kalau gak mau, aku akan nempel terus ke kamu." Aska bergidik ngeri, dan akhirnya mengiyakan apa yang diminta Sisil.


Senyum bahagia terukir jelas di wajah Sisil, tetapi tidak dengan Aska. Dia malah menyerahkan selembar kertas kepada Sisil .


...Peraturan Jadi Pacaran Gua...


...(Askara)...




Tidak boleh pegang-pegang.




Tidak ada namanya jemput menjemput.




Jangan terlalu berharap untuk menikmati malam Minggu berdua kecuali khilaf.






DILARANG KERAS DATANG KE RUMAH ASKARA ATAU HUBUNGAN AKAN PUTUS PADA DETIK ITU JUGA.




Mata Sisil melebar dengan sempurna ketika membaca isi dari peraturan itu.


"Ghila!" seru Sisil.


"Mau ya lu jalanin, gak mau ya udah." Sangat mudah sekali Aska berbicara seperti itu sedangkan Sisil sudah menggelengkan kepalanya.


"Mau lah, gua mau jadi pacar lu." Aska hanya mengangguk.


Begitulah cara Aska menerima wanita yang mengungkapkan perasaan mereka kepada Aska. Sebenarnya kedua sahabat Aska Ken dan juga Juno sudah memperingatkan para wanita untuk tidak terlalu terobsesi kepada Aska. Aska adalah pria yang hatinya seperti es kutub. Wanita yang menjadi primadona di kampusnya pun dia putuskan dengan mudah. Malah dia hampir mati karena dihajar oleh pria yang menyukai primadona kampus itu.


Kembali ke sekarang, Aska sudah tampan dengan penampilannya. Aroma parfum pun sudah menyeruak.


"Ciye ... keluar kandang juga," ejek Radit.


"Apaan? Orang mau nongkrong sama si triplets."


Radit terdiam mendengar ucapan dari adik iparnya ini, sedangkan Ayanda dan juga Echa sudah tertawa.


"Lu gak normal?" sergah Radit.


"Berisik Bandit!" seru Aska.


Aska mengajak ketiga keponakannya masuk ke dalam mobil dan membawanya menuju tempat tongkrongan sejuta umat, yaitu angkringan. Sebelumnya dia sudah janjian dengan Ken dan juga Juno. Mereka berdua sangat antusias ketika Aska mengatakan bahwa dia datang bersama ketiga keponakannya.


Tibanya di sana, Ken dan Juno menyambut si triplets dengan suka cita.


"Om Upin Ipin," ujar Aleesa.


Itulah panggilan sayang dari si triplets untuk Ken dan juga Juno. Kebersamaan mereka berdua membuat tiga keponakan Aska teringat akan kisah anak kembar dari negeri Jiran, Upin dan Ipin.


Mereka bertiga sudah lengket sekali dengan Ken dan Juno, dan mengajak dua sahabat dari om-nya itu untuk memilih sate yang mereka inginkan.


"Keponakan lu gak bisulan apa ngambil sate telor puyuh masing-masing sepuluh tusuk," ujar Ken.


Aska hanya tertawa dan memangku ketiga keponakannya yang sangat lucu.


"Mereka pecinta telur, jadi biarin aja. Kalau bisulan tinggal dibawa ke dokter kulit, emak bapaknya kaya," kelakar Aska.


"Lu juga anak orang kaya, bodoh," sentak Juno.

__ADS_1


"Enggak lah, masih banyak yang lebih kaya dari bapak gua." Inilah Aska, anak yang selalu low profile dan tidak ingin disebut anak orang kaya.


Penampilan Aska sehari-hari pun layaknya mahasiswa pada umumnya. Motor yang dia gunakan pun hanya motor matic. Hanya Ken dan Juno yang mengetahui siapa dirinya. Para wanita yang datang ke rumah Aska pun datang ke tempat para pelayan. Di sana juga ada mini bioskop untuk menonton film yang bisa digunakan oleh penghuni rumah.


Aska dan kedua sahabatnya tertawa melihat si triplets yang sedang memakan sate telur puyuh dengan sangat lahap.


"Mantap bener dah, minumnya es teh manis," ujar Ken.


Mereka bertiga asyik berbincang mengenai bisnis mereka bertiga. Aska sudah merasa lega karena perkembangan bisnisnya mulai naik meskipun hanya sedikit.


"Kalau begini terus bisa dong kita buat kafe cabang di Jakarta," tutur Juno.


"Gua setuju tuh, Ka."


Aska mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Aska!"


Panggilan dari seseorang membuat Aska serta dua sahabatnya menoleh. Aska sudah menunjukkan mata malasnya ke arah Sisil.


"Kenapa telepon aku gak diangkat-angkat?" Ucapan manja Sisil membuat dua sahabat Aska ingin muntah.


"Gua sibuk," jawabnya singkat.


Sisil ikut bergabung membuta Aska dan dua sahabatnya merasa risih. Apalagi Sisil yang terus berusaha duduk berdekatan dengan Aska. Meskipun, Aska sudah terus menghindar.


"Ayah, Dedek mau sate lagi."


Aleeya sudah menunjukkan piring yang hanya tersisa tusukan kepada Aska.


"Kakak Sa juga mau lagi, Ayah."


"Kakak Na juga, Ayah."


Ken dan Juno saling tatap dan menahan senyum mereka berdua. Ternyata ketiga keponakan Aska sangat pandai berdrama. Mereka seolah tahu bahwa omnya sedang dikejar musuh.


"Boleh, tapi jangan telur lagi, ya. Nanti dimarahin bunda."


Ucapan Aska membuat mata Sisil melebar. Ayah dan bunda, apa maksudnya ini? Itulah yang tengah dia pikirkan.


"Siap, Ayah," jawab mereka kompak.


Aska membawa si triplets untuk memilih kembali sate yang mereka inginkan. Sisil terlihat syok sedangkan Ken dan Juno terus mengulum bibir mereka.


"Apa ... Aska udah punya istri?"


Ingin rasanya Ken dan Juno tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat wajah Sisil yang sudah pias.


"Lu dengernya gimana?" tanya balik Ken.


"I-itu anaknya sekaligus tiga?" tunjuk Sisil ke arah si triplets.


Ken dan Juno kompak menganggukkan kepala, sedangkan Sisil sudah tertunduk lesu. Aska dan ketiga keponakannya kembali bergabung. Dia menyenggol lengan Ken dengan ujung mata menunjuk ke arah Sisil. Ken hanya mengulum bibirnya.


"Kenapa lu gak bilang kalau lu udah punya istri?" Suara Sisil terdengar berat.


"Lu gak nanya, dan lu juga maksa gua buat Nerima lu. Harusnya lu ngerti dari selembar kertas yang gua kasih ke lu."


Aska berucap seakan tidak berdosa, dengan mudah dan dengan santainya.


"Lu gak mau jadi pelakor?" Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Juno.


Sisil menatap ke arah si triplets yang sudah duduk di pangkuan Aska. Mereka memeluk tubuh Aska dengan eratnya.


"Jangan ambil Ayah. Jangan pisahkan Ayah dan Bunda." Aleesa sudah terisak begitu juga Aleena dan juga Aleeya.


"Ayah, jangan tinggalkan kami. Kami sayang Ayah."


Ucapan Aleeya membuat Ken dan Juno ingin tertawa keras. Mereka berdua sangat terpukau dengan akting keponakan dari sahabatnya ini.


Ponsel Aska berdering, Echa lah yang menghubunginya.


"Iya, Bunda. Anak-anak masih Ayah ajak nongkrong. Sebentar lagi juga Ayah ajak pulang."


"Kamu kesambet setan apaan, Dek?"


"Love you, Bunda."


Sambungan telepon pun Aksa akhiri, dia sangat tahu pasti kakaknya sedang bersungut-sungut di sana.


"Mah, si Adek kenapa? Kok manggil Echa dengan sebutan Bunda." Ayanda mengangkat bahunya sedangkan Radit sudah tertawa.


"Palingan lagi berakting dia. Apalagi ketiga anak kita lagi sama dia. Cocok jadi aktor dan aktris," terang Radit seraya tertawa.


Di tempat tongkrongan, Sisil sudah menyeka ujung matanya. Dia menatap Aska dengan tatapan nanar dan sedih.


"Lebih baik kita putus," lirihnya.


Sebenarnya Sisil berharap jika Aska mempertahankannya. Tidak masalah jadi pelakor. Begitulah keinginannya.


"Oh, ya udah."


Jawaban yang membuat keinginan Sisil pupus begitu saja. Tidak ada sedikit saja kata-kata Aska yang membuatnya bahagia. Seolah Aska pasrah saja.


"Aska ...."


Panggilan Sisil membuat Aska menoleh ke arahnya, pandangan mereka bertemu.


"Boleh aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya?"


Permintaan yang sederhana yang Sisil ucapkan. Meskipun sudah putus, tetapi dipeluk Aska adalah hal langka yang pastinya tidak pernah semua mantan Aska rasakan.


"TIDAK BOLEH!!" Si triplet lah yang menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2