
Tindakan Echa tadi siang si triplets ceritakan kepada sang ayah. Radit tersenyum dan mengusap lembut kepala ketiga anaknya.
"Kalian harus contoh Bubu, ya."
Hati Radit sedikit lega karena siang tadi dia mendapat notifikasi pengeluaran yang cukup besar dari kartu yang istrinya pegang. Belum sempat Radit menanyakan, ketiga anaknya sudah melapor terlebih dahulu.
Echa yang tengah berada di kamar menoleh ketika melihat suaminya yang baru saja pulang kerja.
"Maaf," ucapnya.
Radit tersenyum dan memeluk tubuh Echa. Inilah Echa yang tidak akan pernah mau memakai uang suaminya ketika dia membantu orang lain. Dia takut suaminya menanyakan perihal uang yang dia gunakan. Dia juga sangat khawatir jika suaminya tidak percaya.
"Kenapa minta maaf? Itu 'kan uang kamu, Sayang."
Radit bukanlah orang yang akan bertanya ke mana uang yang istrinya gunakan. Dia cukup tahu pengeluaran istrinya karena dia sangat tahu bagaimana Echa.
"Nanti aku transfer balik, ya." Radit menggeleng dengan cepat. Dia menangkup wajah sang istri yang merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Uang aku adalah uang kamu," tukasnya.
Echa memeluk tubuh Radit dan tak hentinya mengucapkan terima kasih. Radit mengurai pelukannya. Dia menatap wajah Echa dengan penuh cinta.
"Setelah aku mandi, kita ke mall ya. Kita cari hadiah buat anak dari teman aku." Echa mengangguk dengan cepat.
Dia segera keluar kamar dan memberi tahu ketiga anaknya. Sorakan riang gembira terdengar. Setelah sang ayah sudah rapi, serta si triplets yang sudah cantik. Begitu juga dengan Echa yang terlihat ellegant. Mereka berlima berangkat menuju sebuah mall.
Di dalam mall, si triplets asyik berlarian. Tawa renyah mereka terdengar, sedangkan kedua orang tua mereka tengah bergandengan tangan bagai pasangan kekinian. Radit yang terus menggenggam tangan Echa sangat erat.
"Bubu, ke sini aja," teriak Aleeya. Dia menunjuk ke arah toko bayi.
"Ay, anaknya cowok apa cewek?" tanya Echa.
"Cowok, Sayang."
Radit menemani ketiga anaknya. Jika, dibiarkan begitu saja sudah pasti mereka bertiga akan berbuat onar. Setelah memilih baju yang lucu dan berkualitas, Echa membayar tagihannya. Dia tidak akan mempedulikan harga. Ada kualitas pasti ada harga.
__ADS_1
Mereka menuju food court di mana ketiga anaknya ingin menikmati makanan. Echa dan Radit akan membebaskan mereka memilih makanan apa saja yang akan mereka makan.
Radit dan Echa hanya tertawa ketika melihat ketiga anaknya menyantap makanan. Seperti anak yang tengah lomba makan.
"Kamu gak makan?" Echa menggeleng. Dia malah merebahkan kepalanya di pundak Radit.
"Udah beberapa hari ini perut aku mual terus. Jadwal haid aku aja udah lewat."
Mata Radit melebar, dia menatap bingung ke arah Echa.
"Jangan bilang ...."
"Belum tahu, Ay. Seingat aku ada satu hari aku melupakan minum pil. Malam itu juga kamu menghajar aku lebih dari dua kali."
Radit menelan salivanya. Echa hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Kalau jadi juga gak apa-apa, Ay." .
__ADS_1
Helaan napas yang menjadi jawaban atas kalimat yang istrinya katakan.
"Aku tidak ingin kamu kesakitan lagi. Minimal lima tahun untuk mengandung lagi pasca operasi. Itu lebih aman. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama kamu, Sayang. Aku tidak ingin mengambil risiko besar."