
Setelah mendapat pencerahan dari Radit dan Addhitama, hati Iyan kembali lega. Tidak ada beban berat yang dia pikul sendirian. Semua rasa iri dan dengki yang ada di hatinya hilang sudah. Dia merasa menjadi anak yang paling malang, tetapi Abang iparnya lebih malang dari dirinya ketika seusia Iyan. Dari cerita hidup Radit Iyan bertekad untuk menjadi anak yang terus bersyukur. Apa yang dia lihat bahagia, pada nyatanya tidak seperti itu.
Iyan dan Radit tiba di rumah menjelang Maghrib. Di halaman sudah terparkir mobil ayahnya. Iyan berlari masuk ke dalam rumah. Tak dia hiraukan dua lontong putih penjaga rumah yang sedang menyambutnya.
Iyan mencari sosok sang kakak. Ketika dia melihat Echa sedang menata makanan di atas meja, dia memeluk tubuh kakaknya dari belakang sehingga membuat Echa terkejut.
Echa rasakan baju bagian belakangnya basah. Dia lihat tangan kecil yang melingkar di perutnya. Perlahan Echa membalikkan tubuhnya. Dia mengurai pelukan yang Iyan berikan. Wajah adiknya sudah basah karena air mata.
"Iyan, kenapa nangis?" Echa sudah menghapus air mata yang memandang wajah Iyan. Isak tangis masih keluar dari mulutnya.
"Maafkan Iyan, Kak."
Echa menatap Iyan dengan perasaan bingung. Pikiran jelek sudah mengitari otaknya.
"Iyan ... selalu membuat Kakak menangis. Iyan ... selalu ... menjadi anak yang kurang bersyukur."
Suara Iyan terbata mengucapkan itu semua. Echa tersenyum dan menangkup wajah sang adik tercinta.
"Iyan, kisah Iyan dan kisah Kakak hampir sama. Kita berdua melalui masa-masa menyedihkan sewaktu kecil. Ketika kita ingin mendapatkan kasih sayang yang utuh, kedua orang tua kita malah berpisah," ungkap Echa.
"Perpisahan ayah dan mamah Kak Echa adalah takdir dari Tuhan. Begitu juga dengan perpisahan ayah dan juga Bunda. Itu sudah ada dalam catatan Tuhan. Semarah apapun kita kepada Tuhan, kita tidak akan pernah bisa merubah ketentuan dan takdir itu. Tugas kita sebagai makhluk ciptaan-Nya harus menjalankan apa yang sudah Tuhan atur. Di balik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan. Kapan? Ketika Tuhan mengatakan ... sudah waktunya kamu bahagia."
Iyan memeluk erat tubuh Echa. Dia benar-benar bersyukur memiliki kakak sekaligus ibu untuknya yang selalu menyayanginya. Ketika dia salah pun, kakaknya tidak pernah marah hanya menasihati.
Rion yang baru saja akan masuk ke ruang makan menghentikan langkahnya di samping Radit. Dia menatap ke arah menantunya.
"Iyan akan lebih baik," ucap Radit seraya tersenyum.
"Makasih, Dit."
Ucapan tulus yang keluar dari mulut Rion. Radit hanya tersenyum dan menepuk pundak sang ayah mertua.
"Iyan sudah Radit anggap seperti adik kandung Radit sendiri. Jadi, Ayah tidak perlu berterima kasih. Nasib Radit dan Iyan semasa kecil hampir sama. Namun, Iyan jauh lebih beruntung dari Radit."
Kehadiran si triplets menyudahi keharuan yang ada. Mereka tengah saling menyalahkan satu sama lain karena boneka Aleena sudah tak memiliki kepala. Kalau sudah begini, Echa akan mengurut keningnya yang terasa berdenyut hebat.
"Baba ... boneka Kakak Na dilusak Dedek," adunya pada sang Ayah.
"Enggak Engkong, Dedek gak ngelusak. Tadi Dedek pinjam, telus sama Kakak Na ditalik badannya. Telus ... sama Dedek ditalik kepalanya," jelas Aleeya.
"Telus ... jadi setan kepala buntung," timpal Aleesa seraya tertawa.
Iyan terkekeh mendengar celotehan Aleesa. Di saat kedua saudaranya tengah bertengkar, dia sibuk mengelap ingus si makhluk kepala botak.
"Kakak Sa capek!" sungutnya.
Radit, Rion dan juga Echa yang tifak mengerti apa-apa menatap bingung ke arah Aleeya. Aleeya tengah melinting-linting tisu terus dia masukkan ke dalam hidung makhluk kerdil yang dia panggil botak.
"Kakak Sa sumpel pakai tisu bial ingusnya gak jatuh-jatuhan."
Iyan tertawa melihat makhluk kerdil botak yang hanya memakai popok, telinga panjang dan kini hidungnya disumpal layaknya om poci.
"Kalian kenapa sih?" tanya Rion kepada Iyan yang sedari tadi terbahak.
Iyan menggeleng dan malah menjauhi kedua kakaknya dan juga ayahnya. Dia memilih masuk ke dalam kamar.
Hal seperti ini sudah biasa mereka rasakan. Aleesa yang berbicara sendiri, Iyan yang akan tergelak jika Aleesa melakukan sesuatu. Mereka mencoba untuk mengerti akan keistimewaan Iyan dan juga Aleesa. Selama Aleesa membawa teman para makhluk yang di luar nalar manusia, rumah mereka terasa lebih adem dan tidak pernah ada gangguan apapun. Biasanya, setiap malam ada saja suara yang mengganggu telinga Echa.
Para makhluk tak kasat mata, jika diperlakukan baik mereka juga akan berbuat baik pula. Echa memang sering mengalami gangguan dari orang lain. Namun, secara halus dan tak terlihat. Perlindungan dari Aleesa serta para sahabat Iyanlah yang tidak bisa membuat gangguan itu masuk ke dalam tubuh Echa. Malah berbalik kepada diri si pengirim.
Setelah drama boneka kepala buntung selesai, mereka menikmati makan malam bersama. Menu yang mereka makan pun sangat banyak dan menggugah selera.
__ADS_1
Apalagi si triplets yang langsung menyerbu daun selada dan ayam bakar. Untung saja Echa sengaja memasak ayam bakar bagian paha semua. Jika tidak, akan ada drama termewek-mewek lagi.
Echa dan Radit tertawa ketika si triplets tak berhenti mengunyah. Apalagi ada sate telur puyuh. Iyan dengan jahilnya mengambil sate telur puyuh yang tersisa tiga tusuk. Pekikan suara bawel pun hampir memecahkan gendang telinga.
"Telul Dedek!" seru Aleeya.
"Ini punya Om kecil, 'kan tadi Aleeya udah makan banyak telurnya. Nanti bisulan loh makan telur kebanyakan," goda Iyan.
Mata dan hidung Aleesa sudah memerah. Hidungnya sudah kembang kempis bertanda dia ingin menangis.
"Jelek banget tahu, Dek," ucap Aleena santai.
"Iya, udah kayak hidung si kelbau di film Pada Zaman Dahulu," lanjut Aleesa.
Akhirnya tangis Aleeya pun pecah dan Iyan tertawa puas. Echa hanya mengembuskan napas kasar. Setiap makan malam enak ada saja keisengan dari mereka ini.
Suara seseorang membuat keluarga Rion yang tengah menikmati makan malam menoleh. Tamu itu sudah duduk di kursi meja makan tanpa malu. Malah tangannya dengan lincah mengambil makanan yang mengunggah selera.
"Tamu tak tahu diri," umpat Rion kesal.
"Berisik ah! Kebetulan gua lapar banget. Gua belum pulang ke rumah soalnya. Habis dari rumah emak gua," ucapnya panjang lebar.
"GAK NANYA!" seru mereka semua.
Arya tidak memperdulikan seruan keluarga dari sahabatnya ini. Dia lebih memperdulikan perutnya yang sudah berdisko ria sedari tadi.
"Lu makan apa kerasukan?" sergah Rion.
"Roman-romannya gak dimasakin sama Kak Beby udah berbulan-bulan nih," timpal Radit.
"Lu kalau ngomong suka benar."
Mereka pun tertawa, kecuali si triplets yang sudah sibuk menyembunyikan sate telur puyuh mereka karena manusia yang tengah kelaparan itu tidak pernah makan urusan.
"Bikin sendiri!" sungutnya.
"Sekali-kali lah anak lu berbakti kepada gua," jawab Arya.
Echa hanya menggelengkan kepala melihat perseteruan yang selalu terjadi di antara ayah dan juga sahabat ayahnya itu.
"Kopinya mau campur sianida gak? Biar bisa cepat tidur," goda Echa.
"Keponakan laknat lu! Tidur untuk selamanya gua," sungut Arya.
Echa pun terbahak mendengar sungutan dari Arya. Baginya, apa yang diucapkan oleh Arya tidak akan pernah dia ambil hati. Itu hanya sebatas gurauan mereka berdua. Arya dan Rion memilih untuk menikmati kopi di halaman samping. Radit sudah masuk ke dalam kamar si triplets karena ketiga putrinya ingin dibacakan dongeng, sedangkan Iyan sedang asyik bermain PS seorang diri.
"Tumben banget lu," hardik Rion sambil menyesap kopi.
"Gua mau minta bantuan anak dan cucu lu." Mata Rion segera menatap tajam ke arah Arya. Dahinya mengkerut dan kedua alisnya menukik sangat tajam.
"Udah dua Minggu ini duit di brankas gua ilang-ilangan mulu. Masa ilangnya satu ikat," ujar Arya.
"Lu kira anak dan cucu gua dukun sakti apa?" sergah Rion.
"Bukan begitu Bhe go. Gua cuma mau minta Iyan dan Aleesa ngeliat ke kamar gua. Takutnya ada tuyul atau makhluk lain yang ngambilin duit gua di brankas," tuturnya.
"Sama aja tulil!" umpatnya.
Arya tidak mau menimpali ucapan Rion. Jika, semakin Arya banyak memotong ucapan Rion semakin lama juga semuanya akan selesai.
"Boleh, ya. Gua minta tolong banget nih. Gua mah cuma pengen tahu doang," ujar Arya seraya meyakinkan.
__ADS_1
"Sekali praktek seratus juta," sahut Rion.
"Bapak dan engkong matre lu! Ngejual keistimewaan anak dan cucu lu sendiri," sungut Arya.
"Lah, gua ngejualnya aja ke lu. Bukan ke yang lain."
Pergulatan dua pria yang tak lagi muda pun terjadi. Mereka saling memiting kepala satu sama lain. Echa yang melihatnya pun malah ikut duduk di depan dua manusia paruh baya yang tak malu dengan usia.
"Kok udahan?" tanya Echa sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa gak lu lerai?" tanya Arya.
"Buat apa? Untungnya apa buat Echa?"
Sungguh Arya ingin mencekik ibu tiga anak ini. Sifat menyebalkannya tidak pernah hilang sedari kecil. Arya berdecak kesal, dia menatap nyalang ke arah Echa.
"Besok gua mau minjem Aleesa," kata Arya.
Echa menatap bingung ke arah sahabat dari ayahnya ini. Tatapannya seolah bertanya lebih dalam lagi.
"Duit gua ilang-ilangan terus. Gua yakin pasti ada tuyul di rumah gua," pungkasnya.
"Balikin lagi anak Echa," ucapnya.
"Ya pasti atuh."
"Om tahu 'kan, kalau satu diajak pasti yang dua ngintilin." Helaan napas kasar pun berhembus. "Iya, paham," jawab Arya.
Keesokan sorenya, si triplets sudah cantik dengan penampilan kekiniannnya. Mereka sedang menunggu Arya yang katanya akan menjemput mereka. Iyan pun dipaksa ikut ke rumah Arya.
Tak berapa lama, Arya datang dan mereka berempat masuk ke dalam mobil. Suara riuh terdengar apalagi si triplets yang terus bernyanyi. Bukannya merasa bising, Arya malah tertawa terbahak-bahak karena mendengar nyanyian tak jelas mereka bertiga.
Tibanya di kediaman Arya, Aleesa dan Iyan hanya melihat tetangga ibu yang tengah saling mencari kutu di sore hari di atas dahan pohon. Rumah Arya masih berendeng dengan rumah Rion yang terdahulu. Aleesa melambaikan tangan ke arah mereka. Mereka pun membalas tangan Aleesa.
Di rumah Arya, tidak ada hal ataupun aura yang mencemaskan. Hanya ada Tante kunkun yang berjaga di pohon besar di depan rumah Arya. Arya mengajak si tripelts dan Iyan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia memperlihatkan brankasnya. Mata Arya membelalak dengan sempurna ketika melihat satu ikat uang berwarna merah lenyap kembali.
"Tuh 'kan, hilang lagi," keluh Arya.
Aleesa dan Iyan saling tatap. Dia sama sekali tidak melihat apapun di sana.
"Om lupa kali naruhnya," ujar Iyan.
"Enggak. Masalah duiybmah Om gak pernah lupa," jawabnya. Iyan berdecak kesal mendengarnya.
"Botak, kamu lihat teman kamu di sini?" bisik Iyan kepada makhluk kerdil berwajah jelek.
"Aku tidak melihat mereka. Lagi pula brankas dia sudah dilapisi ayat-ayat suci yang akan membuat tubuh kami panas jika masuk ke dalamnya," jelas si Botak.
"Lalu?" Si Botak mengangkat bahunya.
Aleesa melihat ke sekeliling kamar Arya. Dia lihat ada kamera kecil di pojokan atas.
"Itu," tunjuknya pada kamera CCTV.
"Betul tuh, Pah. Cek CCTV saja, soalnya Iyan juga gak melihat apa-apa," tukasnya.
"Kenapa gak kepikiran."
"Baiklah," ujar Arya.
Dia mengajak ketiga anak Echa dan juga Iyan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Arya mengecek CCTV yang berada di kamarnya. Dia lihat tanggal kemarin. Dahinya mengkerut ketika melihat CCTV.
__ADS_1
"Lah itu 'kan Mamah Bebi."