Yang Terluka

Yang Terluka
Debkolektor Cilik


__ADS_3

Rifal mengurut pangkal hidungnya yang teramat pusing. Keysha menyudahi hubungan mereka yang baru seumur jagung tanpa sebuah alasan yang jelas.


"Apa sesulit ini mencintai gadis remaja?"


Hembusan napas kasar yang Rifak keluarkan. Kenapa nasibnya selalu saja seperti ini. Memilukan dan pantas dijuluki sad boy.


Sedangkan di kamar Riana, Keysha masih betah mengurung diri di sana. Menatap ponselnya dengan nanar karena tidak ada satu pesan pun yang dikirimkan oleh Rifal. Padahal, Keysha berharap Rifal sedikit berjuang.


Sedih kini yang dirasakan Keysha. Papihnya sangat tega menyuruhnya untuk mengakhiri hubungan dengan pria yang dia cintai. Alasan sang Papih pun masuk akal. Perbedaan usia mereka terpaut jauh. Apa akan sanggup Rifal menunggunya?


Keysha mulai membuka pikirannya. Dia harus berpikir realistis sekarang. LDR itu tidak mudah. Di mana kepercayaan itu nomor utama. Sedangkan pergaulan Rifal dan juga dirinya akan sangat berbeda. Apa dia masih sanggup mempertahankannya?


Malam pun tiba di mana Keysha dan juga kedua orang tuanya serta adiknya harus kembali ke Singapura. Tidak ada perpisahan termanis, tidak ada juga ucapan selamat tinggal dari Rifal. Pria itu seperti lenyap di telan bumi.


"Kalau jodoh pasti gak ke mana," ujar Riana. Keysha tersenyum perih dan memeluk tubuh Riana kembali. Sahabatnya sedari balita. Tumbuh dan berkembang secara bersama.


"Aku pergi, ya." Riana mengangguk pelan dengan senyum lebar.


Tibanya di Bandara, mata Keysha seperti sedang mencari sosok seseorang. Namun, dia harus menerima pil pahit ketika tidak ada orang yang dia harap akan mengejarnya.


Ini dunia nyata, Keysha. Bukan drama Korea atau drama China.


Keysha merutuki dirinya sendiri.Dia pun bangkit dari duduknya dan menuju pintu keberangkatan. Datang ke Indonesia hanya untuk mengantarkan luka yang tak kasat mata.


Di balik tembok, seorang pria sedang memandangi punggung seorang wanita yang tengah berjalan pelan. Dia tidak ingin menampakkan diri. Dia tidak ingin menambah luka lagi. Biarlah dirinya yang menginterospeksi diri sambil memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan Keysha.


Rifal pun pulang dengan langkah gontai. Seperti manusia yang hidup segan mati tak mau. Dia menjatuhkan diri di kasur miliknya. Menelungkupkan wajahnya di atas bantal.


Menikmati kesakitan seorang diri dengan kamar yang gelap. Baru saja meminta restu kepada sang Mamih, tetapi harus berakhir seperti ini.


Pagi menjelang, Rifal dikejutkan dengan kehadiran Rindra dan Radit di kamarnya. Wajah kacau Rifal sangat terlihat jelas sehingga membuat Radit dan Rindra menghembuskan napas dalam.


"Kenapa harus selalu jadi pecundang?" geram Rindra.


"Apa Kakak tidak ingin berjuang?"


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rifal. Dia tidak ingin membahas perihal ini sebenarnya. Biarlah kesakitan dan lukanya dia tanggung seorang diri.


Ketiga kurcaci kecil menerobos masuk ke dalam kamar Rifal dan segera naik ke pangkuan sang paman. Keceriaan ketiga anak Radit menular kepadanya. Dia tidak mengindahkan ucapan dan nasihat Radit serta Rindra. Dia memilih bermain bersama ketiga keponakannya.


Di ruang makan, Addhitama hanya berdua bersama Echa. Banyak hal yang Addhitma bicarakan. Hingga sebuah pertanyaan membuat Echa mengerutkan dahinya.


"Apa Rifal serius dengan anak Azkano?"


Echa tersentak, dia menatap ke arah Addhitama. "Apa Papih tidak merestui?" Addhitama menggeleng.


"Papih cuma ragu kepada Rifal. Apa dia mampu menunggu?"


Echa mengusap lembut tangan sang Papih mertua. "Hubungan mereka sudah berakhir." Wajah terkejut Addhitama sangat terlihat jelas.


"Kenapa?"


"Alasan klasik, Pih. Echa sih yakin mereka masih saling mencintai. Kita serahkan saja pada yang namanya jodoh."


Addhitama tersenyum mendengar penuturan dari menantunya yang satu ini. Malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuk putra bungsunya.


Rindra dan Radit datang dengan wajah yang sangat terlihat kesal.


"Malah dicuekin, malah main sama anak-anak," keluh Radit.


Echa hanya tertawa dan memberikan roti bakar kepada sang suami. Dia juga memberikannya kepada Rindra.


"Namanya juga orang patah hati. Udah untung gak bunuh diri juga," kelakar Echa.


"Jaga ucapan lu!" sentak Rifal yang sudah menggendong ketiga anak Echa.


"Gua gak akan sebodoh itu!" Wajah geram Rifal terlihat jelas dan mampu membuat Echa tertawa puas.


Rifal mendudukkan dirinya di kursi di samping sang Abang. Si triplets masih berada di pangkuannya.


"Bikinin gua kopi sama roti bakar yang enak," titahnya pada Echa.


"Bubu au opangtin."


"Telowbelly."


"Tedu."


Echa hanya menghela napas kasar mendengar permintaan ketiga anaknya dan juga kakak iparnya.


"Om, nanti ain yu ke emol," ajak Aleeya.

__ADS_1


"Tata Na au atan buldel."


"Tata Sa inin pisa."


Rifal tertawa mendengar ocehan ketiga keponakannya. Tingkah lucu mereka membuat hati sedih Rifal berubah drastis.


"Baiklah, tetapi harus ijin opa dulu," ujar Rifal.


"O-pa ...."


Addhitma malah tertawa mendengar ucapan manja ketiga cucunya. Apalagi sorot mata mereka membuat hati Addhitma seketika luluh.


"Boleh."


Mereka bertiga bertepuk tangan gembira. Echa yang berada di dapur tertawa bahagia mendengar kehangatan ketiga anaknya dan juga anggota keluarga dari suaminya.


Radit dan Rindra serta Addhitma sudah berangkat ke kantor, sedangkan Echa dan ketiga anaknya juga Rifal masih berada di meja makan.


"Lu gak ada niatan buat kerja lagi?" tanya Rifal yang kini duduk santai di ruang keluarga sambil memperhatikan ketiga keponakannya yang sedang berulah.


"Belum ada niatan, Kak. Ketika Aleesa sudah sembuh total mungkin akan kembali lagi. Echa tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengan Aleesa dan kedua anak Echa yang lainnya."


Rifal tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut adik iparnya. Umurnya masih muda, tetapi kedewasaannya sangat luar biasa.


"Apa sih yang membuat lu yakin sama Radit?" Rifal sudah menaikkan kakinya ke atas sofa dengan duduk bersila, sambil memangku cemilan yang tersedia.


"Kak Radit itu adalah pria yang sabar dan selalu mengayomi," jawab Echa seraya tersenyum.


"Apa karena itu?"


"Kak Radit mampu menerima kekurangan Echa. Masa lalu Echa, penyakit Echa, trauma Echa. Dia mampu menerima segala kekurangan Echa. Dia yang selalu berada di samping Echa ketika Echa terpuruk. Meskipun di awal pertemuan dia menyebalkan, tetapi dia mampu memberikan sesuatu yang manis di ujung cerita."


Rifal tersenyum mendengar ucapan dari Echa. Dari adiknya dia memperoleh sesuatu pembelajaran. Rifal merasa salut kepada kedua adiknya ini.


"Kak Radit itu tidak pernah melarang Echa, tetapi Echa juga tahu mana yang kak Radit suka mana yang gak dia suka. Jadi, jarang berantemnya kalau masalah sepele begitu."


"Gua pengen punya hubungan kayak lu berdua," ucap Rifal.


"Kenapa semua orang yang melihat kita berdua selalu mengatakan hal yang sama?" tanya Echa heran.


"Perjalan cinta Echa dan Kak Radit tidaklah mudah, Kak. Banyak kerikil-kerikilnya, tetapi tidak kami publish. Tidak ada gunanya."


Lagi-lagi Rifal merasa bangga dan salut kepada adik iparnya ini.


Rifal tertawa mendengar tagihan janji dari Aleeya.


"Semua anak lu cocok jadi debkolektor," canda Rifal.


Rifal bersiap terlebih dahulu dan kemudian membawa ketiga keponakannya dan juga sang pawang ke sebuah mall terbesar yang banyak permainannya.


Namun, Aleesa tidak bisa sebebas kedua saudaranya. Dia hanya bisa melihatnya saja karena dokter menyarankan Aleesa untuk tidak terlalu kecapek-an.


"Bubu, talo tata Sa dah tembuh, boleh tan anti ain itu," tunjuknya pada mainan yang sedang Aleeya dan Aleena naiki.


"Boleh banget, dong. Apapun yang Kakak Sa minta pasti akan Bubu dan Baba turuti."


"Kakak Sa tayang Bubu." Aleesa merangkul leher Echa dan mencium pipinya.


Hati Echa terenyuh mendengar ucapan dari anak keduanya ini. Untuk ketiga anaknya apapun akan dia berikan. Sekalipun nyawanya yang akan jadi taruhannya, pasti tidak akan pernah dia tawar lagi.


"Udah yuk mainnya. Kasihan Kakak Sa," ujar Rifal.


Aleena dan Aleeya mengangguk pelan. Mereka berdua menuruti perintah dari Rifal. Namun, mereka berdua menjelma menjadi debkolektor cilik kembali.


"Iya, semua yang kalian minta pasti akan Om belikan." Sorak gembira pun terdengar dari mereka bertiga.


Rifal sibuk memesan apa yang diinginkan oleh ketiga keponakannya. Dia sangat bangga, meskipun makanan yang mereka pilih beda-beda. Mereka selalu menawari saudara mereka makanan yang mereka punya.


"Pintar banget sih keponakan Om," puji Rifal.


"Makasih banyak udah jadi ibu yang luar biasa untuk ketiga anak-anak ini."


Echa tersenyum mendengar ucapan dari Rifal. "Apa yang telah Echa dan Kak Radit alami, tidak boleh terjadi kepada mereka." Echa memandang lembut wajah ketiga anaknya.


"Echa ditakdirkan untuk menjadi anak broken home. Masa kecil Echa pun bisa dibilang sangat susah dan kurang kasih sayang dari ayah. Kak Radit ...."


"Dia anak yang malang," timpal Rifal.


"Kami berdua sangat tahu bagaimana rasanya menjadi anak yang kurang kasih sayang dari salah satu orang tua. Makanya, kami berkomitmen untuk menjaga anak-anak dengan kasih sayang yang penuh. Cukup kami orang tua dari mereka yang mengalami kesedihan. Tugas kami sebagai orang tua saat ini, memberikan kebahagiaan kepada mereka. Didikan yang bagus agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang hebat."


"Gak salah Papih punya menantu kayak lu," puji Rifal. Echa hanya tertawa.

__ADS_1


Setelah selesai bermain, makan dan juga membeli mainan. Rifal mengantarkan ketiga keponakannya serta ibunya pulang ke rumahnya. Ketiga anak Echa sudah terlelap dengan damainya.


"Kekenyangan mereka," kata Rifal seraya terkekeh.


"Tolong bantu ya, Kak."


Setelah membawa si triplets ke kamarnya. Rifal pamit pulang, tetapi Echa mencegahnya.


"Kakak gak akan melakukan sesuatu untuk hubungan Kakak?"


Rifal tersenyum dan tidak berkata apa-apa.


"Dia sebenarnya tidak mau."


Rifal tahu, dia yang dimaksud oleh Echa adalah Keysha.


"Karena orang tuanya 'kan?" Echa mengangguk.


"Tidak ada yang salah dari alasan kedua orang tuanya, yang salah itu Kakak. Kakak yang tidak tahu diri mencintai anaknya."


Hati Echa seketika mencelos mendengar ucapan dari Rifal. Sangat menusuk sekali. Bagaimana jika Keysha yang mendengar ini semua?


"Harusnya Kakak sadar umur. Perbedaan umur kita sangat mencolok, di atas sepuluh tahun."


"Tidak ada yang salah dengan yang namanya cinta, Kak?"


"Memang, tetapi perasaan Kakak yang salah karena sudah mencintai anak remaja. Benar kata Papih, mencintai anak remaja tidak semudah mencintai wanita yang seusia."


Echa tidak dapat menimpali ucapan dari Rifal. Dia hanya menatap Rifal dengan tatapan iba.


"Kakak sudah biasa seperti ini. Kakak serahkan jodoh Kakak kepada yang di atas, yang penting kamu dan Radit bahagia. Mbak Nesha dan Abang juga bahagia. Masih ada empat keponakan Kakak yang menjadi pelipur lara Kakak. Putus cinta bukan berarti dunia berhenti berputar 'kan?"


Mereka tertawa bersama, mencoba menutupi kesedihan yang ada dengan tawa kepalsuan.


Bukan hanya Rifal yang merana, Keysha pun seakan hilang gairah hidupnya. Wajah sendu menghiasi hari-harinya.


"Apa Mamih terlalu kejam kepada kamu?" Sheza tiba-tiba datang dan membuyarkan lamunan Keysha.


"Tidak ada yang salah Mih. Key yang salah karena mencintai orang yang harusnya menjadi Kakak Key."


Ada rasa iba di hati Sheza. Seharusnya dia dan suami tidak egois. Memberikan kesempatan kepada Keysha untuk tetap menjalin hubungan dengan Rifal. Toh, mereka juga tidak akan tahu bagaimana kelanjutan hubungan putrinya dengan anak kedua Addhitama itu. Berjodoh atau tidak biar Tuhan yang menentukan.


Sudah seminggu Keysha menjalani hari-hari dengan ponsel yang seperti kuburan China. Sepi seperti tak memiliki kontak. Selalu menunggu pesan atau panggilan pria yang masih dia sayangi.


"Apa di sana Kakak merindukan, Key? Key kangen Kakak."


Tangan Keysha memeluk tubuhnya sendiri. Membayangkan bahwa Rifal lah yang tengah memeluknya dengan sangat erat.


Di negara yang sama, seorang pria tengah memandang langit malam Singapura. Langit sangat indah berbanding terbalik dengan hatinya. Tugas kantor yang mengharuskan dia terbang ke Singapura. Kebetulan, hotel yang dia tempati tidak jauh dengan kediaman Kano.


"Jika, kita masih bersama ... mungkin setiap malam aku akan berkunjung ke rumahmu. Membawamu berkeliling menikmati udara malam. Namun ... semuanya sudah berubah. Kita sudah berpisah."


Raut kesedihan masih terlihat jelas di wajah Rifal. Akan tetapi, dia terlalu pandai untuk bersembunyi. Suntuk melanda, Rifal memutuskan untuk keluar dari hotel. Niat hati ingin mencari angin segar di negara orang.


"Siapa tahu jodoh gua ada di sini," gumamnya, seraya menghibur diri.


Dia mengendarai mobil sewaannya dan mengelilingi Kota Serangoon. Mata Rifal memicing ketika melihat ada mobil yang mogok. Pria yang sedang berusaha membenarkan mobilnya seperti Rifal kenal.


"Pak Kano," gumamnya.


Mobil uang dikendarai Rifal dia tepikan. Dia segera menghampiri Kano.


"Kenapa Pak?" Ucapan tiba-tiba Rifal membuat Kano tersentak.


"Ya ampun, Pak Rifal. Mengagetkan saja." Rifal hanya tersenyum.


"Sepertinya mobil saya bermasalah. Menghubungi bengkel pun sudah, tetapi belum datang juga. Menghubungi orang rumah pun sepertinya sudah terlelap," terang Kano.


"Biar saya antar, Pak."


"Tidak usah," tolak Kano.


"Saya hanya mengantar Bapak. Saya tidak akan masuk ke rumah Bapak apalagi menemui putri Bapak."


Perkataan Rifal seperti sindiran halus untuk Kano.


"Mari, Pak," ucap Rifal dengan sangat sopan.


Mau tidak mau Kano mengikuti Rifal. Apalagi malam semakin larut. Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Kano suasana di dalam mobil hanya keheningan.


"Apa Pak Rifal ke sini ada pekerjaan?"

__ADS_1


"Tentu saja, Pak. Tidak mungkin 'kan saya nekat ke sini untuk menemui anak Bapak. Bapak sendiri saja tidak merestui."


Jleb!


__ADS_2