Yang Terluka

Yang Terluka
Sehancur Ini


__ADS_3

Tatapan Radit tak teralihkan pada sosok yang sedang dipeluk oleh Genta yang sedang berurai air mata. Yang Radit bisa lakukan hanya menghela napas dalam.


Genta berhasil membawa Echa untuk terbang ke Ausi. Meyembuhkan lukanya serta menyadarkan Ayah kandungnya akan berharganya anak gadis ini.


Radit duduk di kursi penumpang depan. Dan sesekali dia melihat Echa melalui spion depan. Keadaan Echa sangatlah kacau.


Hingga mereka tiba di Bandara. Radit ingin sekali menghampiri Echa dan duduk di samping Echa. Namun, Genta belum mengijinkannya. Dia takut, Echa akan lari.


Isakan lirih masih terdengar di telinga Radit. Karena Radit duduk tepat di kursi belakang Echa.


"Echa kangen Ayah. Maafkan Echa Ayah."


Kalimat yang diucapkan dengan penuh kesaktian luar biasa. Radit sangat merasakan hal itu.


Setelah lima jam mengudara, Radit menatap Genta dan Genta pun mengangguk pelan. Perlahan Radit menghampiri Echa dengan jantung yang berdetak kencang. Ada sedikit ketakutan di hati Radit. Kehadiran Radit takut ditolak oleh Echa.


Echa belum tersadar akan kehadiran Radit yang sudah duduk di sampingnya. Echa masih asyik dengan pikirannya sendiri. Radit pun menyentuh tangan Echa dengan sangat lembut membuat Echa terbangun dari pikiran-pikiran yang sedang berkeliaran di kepalanya.


Echa menatap sinis dan tajam ke arah Radit. Seketika keningnya mengkerut.


"Alis itu," gumamnya.


Gumaman Echa terdengar oleh Radit hingga bibirnya terangkat. Namun, Echa tidak bisa melihatnya karena Radit menggunakan masker.


Echa mengibaskan tangan yang disentuh Radit. Dan dengan cepat Radit membuka maskernya. Mata Echa nanar dan bulir bening sudah menganak di mata indahnya.


"Aku rindu kamu, Bhul," ucap Radit dengan suara berat.


"Kamu jahat Bhal, jahat." Echa memukul-mukul dada Radit. Namun, Radit biarkan saja. Dan tak lama pukulan itu berubah menjadi pelukan erat. Tangan Echa melingkar di pinggang Radit.


"Kamu jahat, jahat." Ucapan yang tidak sesuai dengan tindakan.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." Radit membalas pelukan Echa tak kalah eratnya. Tak hentinya dia mengecup puncak kepala Echa.


Pelukan Radit seakan menenangkan hati dan pikirannya hingga dengkuran halus terdengar dari mulut Echa. Radit tersenyum bahagia. Dia segera membaringkan tubuh Echa dengan kursi pesawat yang sudah diatur dengan senyaman mungkin. Tak lupa Radit pun menyelimuti tubuh Echa, Radit terus menggenggam tangan Echa dan dia berjanji, dia tidak akan melepaskan Echa lagi.


Genta tersenyum bahagia melihat Echa bisa kembali tenang setelah bersama Radit.

__ADS_1


"Sembuhkan cucu kesayanganku. Dan restu Kakek akan Kakek berikan untukmu."


Radit menatap Genta yang sudah berdiri di sampingnya dengan tangan Genta yang berada di pundak Radit.


"Radit akan berusaha menyembuhkan Echa. Dan makasih atas restu Kakek untuk Radit," sahut Radit.


"Kakek yakin, kamu akan bisa menjaga Echa dengan baik," tutur Genta.


Selama mengudara Radit sama sekali tidak memejamkan matanya. Dia masih menatap wajah cantik Echa yang kini tidak bercahaya. Mata panda serta wajah yang tirus membuat Radit merasa bersalah.


"Maafkan aku, Sayang. Aku janji akan membahgiakan kamu."


Sentuhan hangat tangan Radit membuat Echa semakin masuk ke alam mimpi.


Setelah hampir 15 jam mengudara, mereka tiba di Bandara. Dengan lembut Radit membangunkan Echa. Setelah mata Echa terjaga, Radit segera mengeluarkan tisu basah yang ada di tas kecil miliknya. Dengan telaten, Radit membersihkan wajah Echa dengan menggunakan tissue basah agar jejak air mata yang membasahi wajah Echa menghilang.


"Kita udah sampai, sekarang kita turun," ucapnya lembut sambil menautkan jemarinya pada jemari Echa. Dan Radit memakaikan topi di kepala Echa karena cuaca di Canberra sedang memasuki musim panas.


Menuju kediaman Genta, Radit dan Echa berada di kursi belakang dan Genta berada di kursi depan. Hanya keheningan yang tercipta. Namun, Echa pun tidak menolak dengan genggaman tangan Radit.


Tiba di rumah Genta, Radit mengantarkan Echa masuk ke dalam kamarnya tanpa melepaskan genggamannya.


Echa menggelengkan kepala dan memeluk pinggang Radit menelusupkan wajahnya ke perut Radit. Karena posisi Radit sedang berdiri dan Echa duduk di tepian tempat tidur.


Dan Radit merasakan kemeja di bagian perutnya basah. Radit berjongkok di depan Echa dan menghapus air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Jangan menangis lagi, Sayang. Aku di sini sekarang. Maafkan aku yang telah melukai kamu."


Dengan kasar Echa mendorong tubuh Radit. Dia sedikit tersadar, jika Radit bukan lagi miliknya. Dia sudah menjadi suami orang.


"Pergi kamu, pergi," usirnya pada Radit.


"Kamu kenapa Sayang?" Radit mendekat. Namun, Echa melemparkan semua bantal dan guling yang ada di atas tempat tidur serta barang-barang yang berada di atas nakas ke arah Radit.


"Kamu jahat Radit! JAHAT!" seru Echa.


"Aku tuh sayang sama kamu tapi, kamu malah mengkhianati aku. Kamu breng sek Radit breng sek!" pekik Echa dengan isakan cukup keras.

__ADS_1


Genta yang mendengar suara kegaduhan dari kamar cucunya segera menghampiri kamar Echa. Dilihatnya Radit masih berdiri di depan Echa menerima semua kemarahan Echa. Semua barang yang ada di sekitaran Echa, Echa lempar ke arah Radit. Hingga pelipis Radit mengeluarkan darah pun, Radit seakan menerimanya. Radit masih menatap Echa dengan raut wajah sangat sulit dibaca.


"Keluarkan terus semua kekesalan mu kepadaku. Jika, itu membuat beban di hatimu sedikit menghilang," batin Radit.


Radit menoleh ke arah Genta yang baru saja datang dengan menggelengkan kepalanya. Dan Genta pun mengerti apa yang dimaksud oleh Radit.


Darah yang terus mengucur di pelipis Radit tak Radit hiraukan. Radit masih memandang wajah Echa yang sedang berusaha mengeluarkan semua rasa kesal yang dia pendam seorang diri.


"Ayah, Echa terluka karena dia."


Tubuh Echa pun luruh ke lantai dengan tertunduk dalam.


"Dia jahat Ayah. Echa ingin mengadu kepada Ayah. Tolong luangkan waktu Ayah untuk Echa," lirihnya.


Perlahan Radit mendekati Echa yang sedang menangis. Dia memeluk tubuh Echa yang benar-benar sedang rapuh.


"Aku memang jahat Sayang, jahat," bisik Radit.


Echa semakin menangis keras dan Radit semakin mengeratkan pelukannya. Radit membangunkan Echa dari posisi duduknya dan dibaringkannya tubuh Echa di atas tempat tidur.


"Jangan menangis lagi, Sayang. Suaramu sudah serak, tubuhmu sudah mulai demam. Sekarang tidur, ya."


Radit mengusap lembut rambut Echa hingga kenyamanan pun Echa rasakan. Perlahan matanya sudah tidak fokus dan terpejam. Namun, Radit terus mengusap lembut rambut Echa hingga Echa pulas.


Setelah tidak ada pergerakan, dengan pelan Radit turun dari tempat tidur. Menyelimuti tubuh Echa. Kemudian mencium kening Echa sangat dalam.


"Aku janji, aku akan menyembuhkan semua lukamu, Sayang."


Radit menutup pintu kamar Echa dengan sangat hati-hati agar Echa tidak terbangun. Dan Radit mulai menghampiri Genta.


"Bagiamana Dit?" tanya Genta.


"Maafkan Radit, Kek. Semua ini salah Radit. Karena Radit, Echa malah seperti ini. Andai ayahnya juga mau mendengarkan keluh kesah Echa, sudah pasti Echa tidak akan sehancur ini."


...----------------...


Mau aku UP tiap hari gak?

__ADS_1


Syaratnya cuma komen dan like. Biar ide terus mengalir ...


__ADS_2