
Iyan masih sering mengunjungi rumah bu Parmi. Namun, dia terlebih dahulu izin kepada sang kakak. Dia tidak ingin melihat kakaknya menangis kembali.
Wajah riang Iyan terlihat jelas. Apalagi, Iyan menenteng beberapa plastik makanan yang sengaja Iyan bawa. Itu adalah makanan yang dibuat oleh Mbak Ina. Ada juga berbagai macam cemilan untuk Anggi.
"Assalamualaikum."
Ucapan salam Iyan tidak ada jawaban. Dia masih mematung di depan pintu. Kembali Iyan mengucapkan salam. Namun, tetap sama.
"Sepertinya Bunda dan Anggi belum pulang."
Iyan memilih menunggu di luar. Ada kursi kayu di depan rumah Bu Parmi. Cukup lama menunggu, Iyan tidak mendapati siapapun yang datang. Helaan napas kasar pun keluar dari mulut Iyan.
"Mungkin Bunda pulang sore," gumamnya.
Baru saja dia bangkit, Anggi datang dengan tergopoh-gopoh sambil membawa karung berisi botol bekas.
"Kak Iyan!" seru Anggi.
Iyan tersenyum, tetapi senyumnya pudar karena dia tidak melihat Bu Parmi bersama Anggi.
"Bunda mana?" tanya Iyan.
"Bunda?" ulang Anggi.
"Maksud aku ... ibu kamu," ujar Iyan.
"Oh ... Ibu ada di dalam kok. Tadi ibu gak ikut, soalnya ibu lagi gak enak badan."
Dada Iyan bergemuruh cepat. Ada ketakutan yang melandanya sekarang.
"Berarti pintunya gak dikunci?" Anggi menggeleng.
"Kita masuk, yuk." Anggi menarik tangan Iyan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Bu ... Anggi pulang. Ada Kak I ...."
Mata Anggi dan Iyan melebar ketika melihat tubuh Bu Parmi tertidur di lantai.
"Ibu!" seru Anggi dan juga Iyan.
Iyan segera menghampiri Bu Parmi. Ketika dia memegang tangan Bu Parmi, Iyan terdiam sejenak. Kemudian, air matanya menetes.
"Bunda!" teriak Iyan.
Anggi yang tidak mengerti apa-apa terus bertanya kepada Iyan tentang ibunya. Namun, Iyan terus menangis di atas tubuh Bu Parmi.
"Jangan tinggalin Iyan, Bunda."
Otak Anggi mulai bekerja. Dia menggeleng menyangkal semuanya.
"Ibu cuma tidur. Ibu gak meninggal," ujar Anggi.
__ADS_1
Iyan terus terisak, ketika bundanya meninggal tidak ada sedikitpun air mata yang menetes. Namun, terhadap Bu Parmi air matanya tidak bisa terbendung lagi.
"Jangan pergi lagi, Bunda. Iyan masih merindukan Bunda."
Ucapan Iyan sangat mengiris hati. Anggi masih tidak ingin memercayai ucapan Iyan.
"Pindahin Ibu, Kak. Ibu harus tidur di atas."
Iyan menggeleng, dia menatap manik mata Anggi dengan air mata yang masih berjatuhan.
"Ibu sudah meninggal, Nggi."
"Enggak! Ibu masih hidup," teriak Anggi.
Teriakan Anggi membuat salah seorang tetangga Bu Parmi keluar rumah. Dia menghampiri Anggi dan mulutnya menganga ketika dia melihat ada dua anak yang tengah menangis di atas tubuh Bu Parmi. Wajah Bu Parmi sudah sangat pucat sekali.
"A-anggi ... Ibu kamu kenapa?"
"Bunda meninggal."
"Ibu cuma tidur! Ibu masih hidup!" elak Anggi.
Tetangga Bu Parmi pun terkejut, dia segera menghampiri Bu Parmi yang tergeletak di tanah. Ketika dia memegang tangan Bu Parmi, sudah tidak ada denyut nadinya. Jarinya pun dia arahkan ke depan hidung Bu Parmi. Wanita itu menggeleng.
"Benar Nggi, ibu kamu sudah meninggal."
Anggi terdiam memandang wajah tetangganya. Dia terus menggeleng dengan air mata yang mengalir deras.
Wanita itu pun menangis mendengar jeritan yang keluar dari mulut Anggi. Dia tidak tega melihat Anggi hidup sebatang kara.
"Tolong bangun Ibu ... Anggi gak bisa hidup tanpa Ibu ...."
Para tetangga Bu Parmi pun berdatangan, tidak ada yang tidak menangis melihat pemandangan yang menyayat hati ini. Anggi tidak ingin melepaskan pelukannya terhadap jenazah ibunya.
"Bangun Bu ... bangun ...."
Ibu penjaga warung menghampiri Anggi. Dia mengusap lembut rambut anak perempuan itu.
"Ikhlaskan ibumu, Nak." Si ibu itu berkata dengan air mata yang berderai.
"Ibu ...."
Iyan hanya berdiri menatap Anggi dengan hati yang sakit. Bagai de Javu ketika ibunya tiada.
Kenapa ketika aku ingin mendapat sentuhan bunda, ibu ini malah pergi?
Di kediaman Echa, dia sangat khawatir ketika adiknya belum pulang juga. Iyan mengatakan hanya sebanyak ke rumah Bu Parmi. Aroma bunga melati pun menyeruak. Dia teringat akan perkataan Iyan.
Jika, harum melati menusuk hidung Kakak. Menandakan sesuatu buruk sedang terjadi.
"Ibu," panggilnya.
__ADS_1
Wangi bunga melati semakin menusuk. Hati Echa benar-benar sudah tak tenang.
"Iyan," gumamnya.
Echa mengajak ketiga anaknya untuk ke rumah Bu Parmi. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada orang di rumah. Mamahnya pun sedang ke Depok untuk memantau butik yang ada di sana.
Echa diantar Pak Mat. Dia tidak berani membawa mobil jika hanya berempat dengan ketiga anaknya. Di tengah perjalanan, Echa menghubungi suaminya. Namun, Radit sedang ada rapat penting. Jadi, tidak bisa ke sana.
Tibanya di depan gang sempit, sudah terdapat bendera kuning. Jantung Echa berdetak dengan sangat cepat.
Ada apa ini?
Batinnya sungguh tidak tenang. Tangan Aleesa menarik-narik ujung baju Echa, membuat Echa menatap putri keduanya.
"Om encil anis."
Rasa cemas semakin melanda, Echa menuntun ketiga anaknya menyusuri gang sempit itu. Dahi Echa mengerut ketika melihat banyak orang di depan rumah Bu Parmi.
"Siapa yang akan memakamkan dia? Dia sudah tidak memiliki keluarga."
Para ibu-ibu terus berbisik, Echa semakin dibuat bingung. Aleesa menarik tangan Echa kembali dan terus mengajak Echa untuk memasuki kerumunan.
"Permisi," ucap Echa yang mulai masuk ke dalam kerumunan.
Semua orang memandang takjub ke arah Echa. Penampilan sederhana, tetapi masih terlihat anggun dan cantik. Berbeda dengan penampilan para ibu-ibu di sana.
Mata Echa melebar ketika melihat Iyan yang tengah berdiri.
"Iyan," panggil Echa.
Iyan segera menoleh dan berhambur memeluk tubuh Echa.
"Bunda Kak ... Bunda ...."
Terkejut sudah pasti, mata Echa melebar dengan sempurna ketika Anggi tengah menangis memeluk tubuh Bu Parmi.
"Bunda ... meninggal."
Tubuh Echa terasa lemas. Dia tidak menyangka Bu Parmi akan meninggal secepat ini, yang dia khawatirkan adalah Anggi. Bagaimana dengan Anggi esok dan seterusnya?
"Kenapa Tuhan selalu mengambil orang yang Iyan sayangi? Baru saja Iyan merasakan kelembutan sentuhan tangan bunda, tetapi kini hanya sebuah kenangan."
Echa tidak bisa berbicara. Dia mengusap lembut kepala Iyan.
"Apa Iyan memang harus ditakdirkan seperti ini? Iyan hanya ingin mendapat kasih sayang Bunda. Apa memang Iyan tidak boleh merasakan itu semua?"
Hati Echa sangat sakit mendengar ucapan Iyan. Mulutnya terbungkam, andai saja jika ibu kandung Iyan tidak sekejam itu pasti Iyan tidak akan seperti ini.
"Bu, ini gimana?" Seorang ibu menghampirinya dan Echa mengenal ibu tersebut. Dia pemilik warung yang ada di depan gang.
"Siapa yang akan bertanggung jawab atas pemakamannya? Bu Parmi sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sedangkan ... di pemakaman umum, harus ada biayanya," terang si ibu pemilik warung.
__ADS_1
"Urus saja jenazahnya sesuai syariat agama. Semuanya akan saya tanggung. Saya akan menghubungi seseorang untuk mengurus tempat di mana Bu Parmi dimakamkan."