Yang Terluka

Yang Terluka
Rindra-Nesha (Pertemuan pertama)


__ADS_3

Rindra memberhentikan mobilnya tepat di kafe kekinian yang bernama Nugro's Cafe. Di sana sudah ada dua sahabatnya yang dengan setia menunggu kedatangan Rindra yaitu Dave dan Nugro.


"Sorry, telat."


"Kebiasaan," sahut Dave dengan tatapan malas.


"Mau minum apa?" tanya Nugro


"Latte."


Nugro menuju dapur dan menyuruh barista di sana untuk membuatkan latte yang diinginkan Rindra.


"Sha, setelah latte siap, tolong antar ke meja itu, ya," tunjuk Nugro ke meja yang ditempati oleh dua pria tampan. Nesha pun mengangguk.


Pandangan Nesha masih tertuju pada sosok pria yang sedang memakai kemeja hitam di meja yang ditunjuk oleh Nugro. Senyum di wajah Nesha terukir ketika melihat pria itu sedang tertawa.


"Makhluk yang sangat sempurna," gumam Nesha.


"Udah selesai, Sha," ucap Toni.


Lamunan Nesha pun harus buyar seketika. Baru saja membayangkan betapa bahagianya jika menjadi pacar pria berkemeja hitam itu. Apalagi sampai beruntung menikah dengannya.


"Iya, Kak. Akan aku antar." Nesha segera menaruh cangkir latte di atas nampan. Dan membawanya ke meja yang berisi tiga pria tampan. Termasuk Nugro di meja itu.


"Permisi, Mas. Ini pesanannya, silahkan diminum," tutur Nesha dengan sangat ramah dan menunjukkan senyum yang manis. Rindra dibuat terpana sejenak akan kecantikan yang Nesha miliki.


"Sangat cantik," batinnya. Tatapannya masih tertuju pada Nesha yang juga sedang menatapnya.


"Makasih ya, Sha," ujar Nugro dengan sangat lembut.


"Sama-sama, Mas. Saya permisi."


"Siapa dia?" tanya Dave setelah menyesap espresso yang dia pesan.


"Nesha. Dia sudah empat tahun kerja di sini." Nugro menatap ke arah dua sahabatnya dengan tatapan tidak bersahabat. "Jangan macam-macam kalian," ancam Nugro.


Dave dan Rindra saling pandang. Seakan mata mereka sedang berbicara. Tak lama kemudian mereka mengangguk kecil.


Setelah selesai berbincang santai, Dave dan Rindra meninggalkan kafe milik Nugro. Di parkiran, Dave mencekal tangan Rindra hingga langkah Rindra harus terhenti.


"Apa?"


"Pelayan tadi," ujar Dave. Rindra mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Jika, lu bisa mendapatkan hati perempuan itu ... BMW 5 series milikku akan gua berikan cuma-cuma buat lu," tantang Dave.


"Cih, hanya itu tantangannya?" Rindra sangat meremehkan tantangan yang Dave berikan.


"Iya. Tetapi jika kalo gagal, lu harus rela berbagi Fani dengan guw," jawab Dave dengan seringainya.


"Ambil saja, jika dia mau," ejek Rindra.


"Sialan!"


Dave sudah pergi dari kafe milik Nugro. Berbeda dengan Rindra yang masih betah berada tidak jauh dari kafe milik sahabatnya. Hadiah yang ditawarkan oleh Dave sangat menggiurkan. BMW 5 series yang dibanderol 1,22 milyar.


"Perempuan itu memang cantik dan menarik. Apalagi jika gua bisa menikmati tubuhnya," gumam Rindra dengan otak yang sudah tidak waras.


Lampu di dalam kafe itu pun mulai dipadamkan. Mata Rindra memicing tatkala melihat seorang perempuan yang ditunggunya menaiki motor matic berwarna pink dan melajukannya meninggalkan kafe. Rindra mulai mengikuti motor itu.


"Pulang sendirian lewat jalan sepi begini." Monolog Rindra yang masih mengikuti motor yang dikendarai oleh Nesha.


Hingga tercetus ide gila. Rindra menginjak pedal gas dan dengan sengaja menabrak motor Nesha dari belakang. Nesha beserta motornya pun terjatuh.


Rindra segera memberhentikan mobilnya dan turun dari mobil untuk membantu Nesha. "Kamu tidak apa-apa?" Rindra sudah membantu Nesha berdiri.


Ingin sekali Nesha memaki, tetapi mulutnya seketika membeku ketika bola mata berwarna cokelat itu menatap ke arahnya.


"Ayo, naik ke mobilku. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya," ujar Rindra yang kini memapah Nesha sampai masuk ke dalam mobilnya.


"Aku sudah hubungi orang bengkel kenalanku. Motor ini akan segera mereka ambil." Nesha seakan terhipnotis akan ucapan Rindra. Dan hanya mengangguk patuh.


"Apa perlu kita ke rumah sakit?" Dengan cepat Nesha menggeleng.


"Cuma terkelupas sedikit. Diberi obat merah juga nanti akan sembuh." Rindra menyunggingkan senyum mendengar ucapan lembut yang terlontar dari mulut Nesha. Hatinya terasa damai dan sejuk mendengar Nesha berbicara.


"Ya sudah, aku akan mengantar kamu dan mengobati luka kamu di rumahmu."


"Ja-jangan," tolak Nesha.


"Kenapa?" Tangan yang hendak memutar kunci mobil pun terhenti. Sekarang Rindra menatap lekat ke arah Nesha.

__ADS_1


"Ini sudah larut. Aku hanya tinggal di kontrakan sempit seorang diri. Aku tidak mau orang lain berpikiran yang macam-macam terhadapku," jelas Nesha berhati-hati.


Bibir Rindra sedikit terangkat, tangannya mengusap lembut ujung kepala Nesha membuat jantung Nesha tak bisa diam seketika.


"Baiklah, aku hanya akan mengantar kamu saja. Jika, siang hari aku boleh 'kan main ke kontrakan kamu?" Nesha mengangguk.


Mobil pun melaju ke arah kontrakan Nesha. Mobil Rindra hanya mampu berhenti di depan gang. Karena letak kontrakan Nesha berada di dalam gang sempit.


"Boleh aku tahu di mana kontrakan kamu?" Nesha yang hendak membuka pintu mobil pun kembali terdiam.


"Aku hanya ingin memenuhi tanggung jawabku. Mengantarkan kamu selamat sampai tujuan." Sungguh ucapan yang sangat manis yang keluar dari mulut Rindra.


"Ya sudah," jawab Nesha pasrah.


Rindra mengikuti Nesha dari belakang. Hingga langkah Nesha terhenti di kontrakan kecil dan kumuh. "Ini tempat tinggalku."


Hati Rindra seketika teriris mendengat ucapan Nesha. Tidak dia sangka perempuan cantik seperti Nesha tinggal di kontrakan yang bisa dibilang tidak layak untuk dihuni.


"Aku masuk, ya," pamit Nesha.


Namun, Rindra menarik tangan Nesha. "Kenapa lagi?"


"Kita belum kenalan," ujar Rindra.


"Nesha," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Rindra." Uluran tangan Nesha disambut hangat oleh Rindra. Senyum terukir dari keduanya. Pandangan mereka terkunci dan mampu membuat mata mereka tidak berkedip.


Deheman seseorang membuat Nesha dan Rindra memutuskan pandangan. "Aku masuk, ya."


Rindra terus memperhatikan Nesha hingga masuk ke dalam kontrakannya. Ketika dia membalikkan badan, Rindra terkejut dengan kehadiran bapak paruh baya yang sudah ada di hadapannya.


"Jaga dia dan jangan sakiti dia. Sudah terlalu banyak kesakitan yang dia peroleh." Kakek itu berlalu begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa lagi. Bingung, itulah yang Rindra rasakan.


Rindra memilih untuk tidak menghiraukan ucapan pria paruh baya tersebut. Memilih untuk pulang dan merebahkan diri di kasur empuk yang nyaman.


Baru saja Rindra masuk ke dalam rumah. Tatapan tajam sang ayah menghentikan langkahnya.


"Sampai kapan kamu mau bermain-main dengan wanita lain, Rindra?" Suara yang menggema disepinya kediaman Addhitama.


"Anak yang berada di dalam perut Fani butuh pengakuan. Dan Fani juga butuh status pernikahan," lanjut Addhitama yang masih emosi.


"Udah malam, Pih. Aku lelah," jawab Rindra. Rindra meninggalkan sang papih yang masih tersulut emosi. Membiarkan papihnya berteriak sesuka hati. Sudah menjadi makanan sehari-hari Rindra mendapat perlakuan seperti ini dari Addhitama semenjak Rindra mencoba mencurangi hubungan Raditya dan juga Elthasya.


"Waktu lu tinggal 13 hari lagi," ucap seseorang dari balik sambungan telepon.


"Berisik." Rindra segera memutuskan panggilan dari Dave dan memilih mandi karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Setelah rapi, Rindra keluar dari kamarnya menuju meja makan. Tatapan tajam sang papi yang menjadi pembuka pagi hari Rindra yang cerah.


"Kapan kamu akan menikahi Fani?" sergah Addhitama.


"Kenapa Papi selalu mendesak aku? Kenapa gak Papi tanya pada Fani sendiri?" Sebenarnya Rindra enggan menanggapi ucapan Addhitama.


Namun, dia juga lelah karena terus didesak oleh Addhitama agar menikahi Fani. Bukannya Rindra tidak mau. Fani sendiri yang belum siap membina rumah tangga.


Ponsel Rindra berdering. Ternyata Fani yang menghubunginya dan Rindra segera menjauhi dua orang yang sedang menikmati sarapan. Papinya dan juga adik keduanya, Rifal.


Ponsel masih menempel di telinga Rindra. Sedangkan dia masih diam membisu. Mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Fani.


"Apa kamu serius? Resikonya besar loh," ujar Rindra.


Rindra terdiam kembali mendengarkan jawaban Fani. Dan akhirnya dia menyetujui apa yang diinginkan oleh Fani.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Rindra memikirkan apa yang diinginkan Fani. Rindra teringat sesuatu, yaitu Nesha. Rindra bergegas mengeluarkan mobilnya dari garasi dan melajukan mobilnya ke kediaman Nesha. Di jalan menuju arah tempat tinggal Nesha, Rindra memicingkan matanya ketika melihat Nesha sedang berjalan kaki.


"Shit! Motornya 'kan di bengkel," gumam Rindra.


Rindra segera menghentikan mobilnya tepat di depan Nesha. Membuat Nesha kebingungan. Pasalnya, mobil yang dibawa Rindra berbeda dengan yang semalam dibawanya mengatakan Nesha pulang.


"Maaf, ya," sesal Rindra yang sudah menggenggam tangan Nesha. Jantung Nesha berdegup sangat cepat mendapat perlakuan dari Rindra.


"Aku antar," ucap Rindra yang sudah menarik lembut tangan Nesha dan membukakan pintu mobil untuk Nesha.


"Makasih." Hanya seulas senyum yang Rindra berikan kepada Nesha. Wanita cantik meskipun wajahnya polos tanpa sentuhan make up.


"Kamu sudah sarapan?" Nesha menggeleng.


"Kita makna bubur aja, ya. Aku juga belum sarapan," kata Rindra yang masih fokus ke jalan.


Mobil Rindra berhenti di pinggir jalan tempat para penjaja makanan gerobakan berada. Rindra memesan dua porsi bubur untuknya dan juga Nesha. Berhubung keadaan ramai, mereka berdua duduk berdampingan hingga kulit mereka saling menyentuh.

__ADS_1


Menatap kulit putih Nesha membuat Rindra merasakan hal yang berbeda. Apalagi jika melihat manik mata Nesha yang sangat teduh. Membuatnya merasa nyaman dan tenang.


Dua mangkuk bubur sudah tersaji di depan mereka. Bibir Nesha terangkat ketika dia bisa mengisi perutnya dengan sarapan di depannya. Karena biasanya Nesha hanya sarapan susu sereal yang ada di warung-warung. Sebagai pengganjal perutnya. Nesha harus menghemat karena penghasilannya sebagai pelayan tidaklah banyak.


Rindra tersenyum ketika melihat Nesha sangat lahap menyantap bubur. Tidak sadar ibu jari Rindra mengusap sudut bibir Nesha. Seketika tatapan mereka bertemu. Nesha sangat terpesona dengan ketampanan Rindra begitu juga yang merasa damai menatap manik mata Nesha.


"Pak." Ucapan Nesha membuat Rindra tersadar. Dan mereka melanjutkan sarapan mereka dengan kecanggungan.


Setelah selesai Rindra mengantarkan Nesha ke kafe milik Nugro. Sebelum Nesha turun, Rindra menarik Nesha hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Deru napas mereka bersahutan.


Bibir Rindra menempel di kening Nesha membuat Nesha mematung sesaat.


"Sebelum motormu selesai diperbaiki. Aku yang akan antar-jemput kamu. Jangan dulu pulang sebelum aku jemput kamu." Seperti terhipnotis Nesha mengangguk patuh.


Nesha turun dari mobil dengan dada yang bergemuruh. Begitu juga Rindra yang tak kunjung melajukan mobilnya. Menatap punggung Nesha hingga dia hilang di balik pintu.


"Kenapa dadaku terasa berdetak lebih cepat?" Monolog Rindra sebelum dia melajukan mobilnya meninggalkan kafe Nugro.


Menjelang kepulangannya, ponsel Rindra terus saja berdering membuatnya mengerang kesal. Siapa lagi jika bukan Fani. Ketika sambungan telepon dia jawab. Fani sudah mengomel dengan lancarnya.


Dengan kesal Rindra keluar dari ruangannya. Meninggalakn berkas-berkas yang belum dia selesaikan dan menjemput Fani di unit apartmentnya. Tibanya di sana, Rindra disuguhkan pemandangan yang sangat menggoda. Namun, tidak ada yang bergejolak pada tubuhnya.


"Mau main dulu atau langsung pergi?" Fani sudah berdiri di hadapan Rindra hanya dengan menggunakan handuk. Dan terlihat ada yang menyembul di sana. Lagi-lagi, Rindra tidak berselera.


Semenjak menatap manik mata Nesha, hasrat setan itu seolah menghilang. Yang ada di kepalanya sekarang ini adalah senyuman manis Nesha.


Mereka berdua menuju sebuah klinik yang terletak di sebuah perkampungan cukup kumuh. Dan tempatnya sangat tersembunyi.


"Ini kliniknya?" tanya Rindra. Dia heran karena tidak ada papan nama kliniknya. Serta klinik ini terlihat seperti rumah biasa.


"Iya, jangan banyak tanya." Fani menarik tangan Rindra untuk masuk ke klinik tersebut.


Di sana sudah ada dokter yang dikenal Fani. Menyambut hangat Fani dan juga Rindra.


"Kamu serius?" tanya dokter untuk itu. Fani mengangguk yakin.


"Apa Mas setuju?" tanya dokter pada Rindra.


"Dia mah setuju aja, dok. Lagi pula kami belum siap," ujar Fani.


"Kita periksa dulu."


Setelah selesai diperiksa dokter itu memberikan beberapa pil kepada Fani.


"Jika, tidak mau keluar ke sini lagi. Biar kami yang melakukan tindakan secara langsung." Fani mengangguk setuju. Sedangkan Rindra hanya dia mendengar ucapan dokter kepada Fani.


Rindra terus saja melihat ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di mana jam pulang kerja Nesha tiba. Namun, dia harus menemani Fani mencari makanan yang dia inginkan terlebih dahulu sebelum kembali ke apartment. Jam sebelas lima belas menit barulah Rindra tiba di depan Apartment Fani.


"Mau mampir dulu gak? Aku akan memberikanmu servis yang memuaskan. Karena setelah ini kamu akan berpuasa," ucap Fani menggoda. Dengan cepat Rindra mengusir Fani dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa tiba di kafe.


Tubuh Rindra membeku ketika dia melihat seorang perempuan yang kedinginan sambil menelungkupkan wajahnya di atas lutut.


Rindra berlari ke arah Nesha dan berhambur memeluk tubuhnya yang tengah terduduk.


"Maaf, maaf, aku terlambat," sesal Rindra. Tidak ada jawaban dari Nesha hanya Isak tangis yang terdengar.


"Aku takut," lirihnya.


Hati Rindra terasa sakit mendengarnya. Dia merutuki kesalahannya. Perempuan mana yang tidak takut berada di depan kafe yang sudah gelap tengah malam begini.


"Jangan takut, aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu." Rindra semakin mengeratkan pelukannya begitu juga Nesha yang membalas pelukan erat Rindra.


Nyaman, itulah yang Rindra rasakan. Ucapannya sangat tulus dari lubuk hatinya.


Mencintai Nesha bukanlah keinginannya. Namun, keteduhan matanya membuat rasa itu hadir dengan sendirinya. Menimbulkan kenyamanan yang selama ini Rindra cari. Seperti tatapan teduh sang Mamih. Begitulah Rindra menilainya.


Ternyata, wanita yang Rindra cintai hanya wanita biasa. Anak yang dibuang oleh sang ayah karena ingin menguasai harta warisan peninggalan ibu dari Nesha.


Ditinggalkan di tengah jalan di kala hujan. Hanya diberi uang dua ratus ribu rupiah untuk bekal hidupnya oleh sang ayah. Apa cukup untuk membayar sekolah serta biaya hidup di ibukota?


Di usianya yang seharusnya bermain dan berkumpul bersama teman-teman, Nesha harus berkerja setelah pulang sekolah untuk membiayai sekolah serta biayai hidupnya. Belum lagi biaya tempat tinggalnya.


Mandiri sejak berusia tujuh belas tahun. Tidak mengenal lelah meskipun dalam hatinya dia ingin menyerah. Setidaknya, dia harus mendapatkan ijazah SMA.


Kamu harus jadi dokter.


Keinginan yang ibunya ungkapkan. Namun, tidak mampu Nesha lakukan. Terlalu sulit untuk anak sebatang kara seperti Nesha. Membiayai sekolah SMA-nya sangat sulit. Apalagi kuliah yang biayanya lebih banyak lagi.


"Ampun, Ayah. Salah Sha apa? Sakit, Ayah."


Itulah yang Nesha ucapkan ketika seseorang yang dia panggil Ayah datang ke kontrakannya tengah malam. Memukulinya membabi-buta hingga dia tak sadarkan diri. Tujuannya agar Nesha mati. Ada yang menuntut harta gono-gini milik ibu Nesha, yaitu ayah dari sahabat Nesha.

__ADS_1


Merasa dirinya terancam Nesha pun pergi dari ibukota menuju Kota kecil. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai office girl. Hidup susah sudah biasa bagi Nesha. Apapun pekerjaannya yang penting halal pasti akan Nesha kerjakan. Yang paling penting, dia bisa terlepas dari ayahnya yang tidak memiliki hati itu.


Ibu, kapan Sha bahagia? Kenapa nasib Sha buruk seperti ini? Sha lelah Bu. Sha sebenarnya tidak mampu. Ingin rasanya Sha menyusul Ibu.


__ADS_2