
Menahan sedih sendirian memang tidaklah enak. Akan tetapi, Iyan tidak ingin membuat semua orang bersedih, terutama ayahnya. Ayahnya sudah dikhianati oleh sang bunda. Ayahnya masih menyimpan luka dan Iyan tidak ingin membuat ayahnya semakin terpuruk.
Keesokan pagi hanya keheningan yang tercipta. Echa enggan turun karena matanya masih sembab. Semalaman dia menangis, memikirkan hati Iyan yang sesungguhnya.
"Bang, Kakak mana?" tanya Iyan. Anak ini sudah kembali ceria meskipun terlihat jelas masih ada guratan pilu di wajahnya.
"Kakak masih di kamar, gak enak badan katanya."
"Suruh istirahat dulu istri kamu. Malam ini Ayah gak pulang, ya. Ayah harus mengecek toko yang ada di Bandung. Bermalam di rumah Nenek." Mereka mengangguk mengerti.
Air mata terus saja menetes seakan tidak bisa berhenti. Rasa sakit dan sedih itu masih terasa di hati Echa. Kesedihannya sudah satu tahun Iyan pendam seorang diri. Anak itu benar-benar kuat.
"Yang, anak-anak aku titip ke Mbak Nesha dulu, ya." Echa mengangguk pelan.
Hari ini Echa berencana untuk mengunjungi sekolah Iyan. Dia ingin menanyakan perihal Iyan kepada wali kelasnya. Echa terlebih dahulu membuat janji karena Echa tidak ingin Iyan tahu akan kedatangannya ke sekolah.
Jam sembilan pagi, Echa menuju sekolah Iyan dengan diantar oleh Pak Mat. Di sepanjang perjalanan Echa terus menyeka ujung matanya. Dia masih teringat akan tulisan tangan adiknya. Tibanya di sana, Echa segera ke kantor di mana wali kelas Iyan sudah menunggu.
"Selamat pagi, Bu," sapa Echa sopan.
"Selamat pagi."
Echa tidak ingin berbasa-basi, dia segera menanyakan perihal Iyan kepada ibu Cici selaku wali kelas Iyan.
"Rian ... anaknya lebih senang menyendiri. Dia seakan menutup diri terhadap teman-temannya yang lain," terang Bu Cici.
"Apa itu terjadi setelah bundanya meninggal?"
"Tidak, Rian memang anak yang seperti itu. Memang ada sih perubahan yang mencolok ketika Rian kehilangan ibunya ... salah satunya yang masih sangat saya ingat ketika perayaan hari ibu. Di mana anak-anak membanggakan ibunya di depan kelas sedangkan Rian hanya membisu. Sekitar lima menit dia terdiam dan dia hanya mengatakan ... Iyan sayang bunda."
Air mata Echa luruh kembali. Hatinya sangat sakit mendengar penuturan dari wali kelas Iyan. Adik yang dia anggap kuat ternyata sebaliknya.
"Terkadang saya juga merasa kasihan kepada Iyan. Ketika teman-temannya yang lain dijemput oleh ibunya, Rian hanya dijemput oleh sopir. Ada sorot kerinduan yang terpancar di matanya. Rindu akan sosok seorang ibu karena saya belum pernah melihat Rian dijemput atau diantar oleh ibunya semenjak masuk ke sekolah ini."
Echa tidak mampu berkata, hatinya sangat terluka ketika mendengar kenyataan tentang Iyan.
Banyak yang Bu Cici beritahukan perihal Iyan di sekolah. Echa hanya menjadi pendengar yang baik tanpa mencela sedikit pun. Suara bel istirahat pun berbunyi. Echa memilih pamit kepada Bu Cici.
"Boleh saya ke kelas Rian?"
"Tentu saja, Bu. Mari saya antar." Bu Cici mengantar Echa menuju kelas Iyan.
Suasana ruang kelas pun kosong, hanya ada Iyan di sana yang sedang duduk di sudut kelas. Seolah Iyan sedang berbicara dengan orang lain.
"Setiap istirahat, Rian selalu berbicara sendiri," terang Bu Cici.
Echa mendekat ke arah Iyan setelah Bu Cici pergi. Langkah Echa pun terhenti.
"Aku gak menangis. Aku hanya rindu kepada Bunda. Kamu sih tidak tahu bagaimana merasakan rindu kepada orang yang sudah tidak ada untuk selama-lamanya."
Echa menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar.
"Jika, aku memiliki kenangan indah bersama Bunda. Mungkin aku juga gak akan menangis jika aku merindukan Bunda. Kamu tahu sendiri ... hanya sebuah foto yang aku miliki."
"Iyan."
Suara sang kakak terdengar di telinganya. Iyan mencoba untuk menoleh, sang kakak sudah berdiri di belakangnya dengan air mata yang sudah terjatuh.
"Kakak ...."
Iyan berlari menghampiri Echa. Dia menghapus air mata Echa dengan tangannya.
"Kenapa Kakak menangis? Kenapa Kakak ke sini?" Echa tidak bisa berkata. Dia hanya ingin memeluk tubuh Iyan.
"Jangan berbohong terus, Iyan. Tidak ada salahnya laki-laki juga menangis." Suara Echa terdengar sangat berat dan Iyan mengerti akan maksud kakaknya.
"Iyan baik-baik saja, Kak."
Echa mengurai pelukannya dan menatap manik mata Iyan. Masih terlihat sorot kesedihan di sana.
"Ketika Iyan sedih, Iyan tidak sendiri. Ada Kakak dan juga Abang yang bisa Iyan jadikan sandaran. Jangan menyembunyikan kesedihan Iyan. Kakak juga berhak tahu akan hati Iyan yang sesungguhnya." Baru kali ini Iyan melihat sang kakak menangis dengan air mata yang membanjiri wajahnya tepat di hadapannya.
Sekuat-kuatnya Iyan, dia tidak akan kuat ketika melihat wanita yang sangat dia sayangi itu menangis.
"Iyan hanya rindu Bunda. Itu saja, Kak. Seiring berjalannya waktu, pasti Iyan juga akan terbiasa," lirihnya.
Ya Tuhan, hati Echa sangat teriris mendengarnya. Dia menangkup wajah sang adik yang kini ikut menangis.
__ADS_1
"Dengar Kakak, ya. Bunda memang sudah meninggalkan kita semua. Harus Iyan ingat, sekarang Kakak adalah pengganti Bunda. Apapun yang Iyan rasakan bisa Iyan ceritakan pada Kakak. Segala keluh kesah Iyan akan selalu Kakak dengar. Tolong anggap Kakak sebagai Bunda. Kakak tidak ingin melihat Iyan terpuruk dan selalu bersedih."
Iyan tidak menjawab, dia masih menatap serius mata Echa dengan derai air mata.
"Iyan ingat 'kan, orang yang pertama kali percaya akan kemampuan Iyan adalah Abang. Jika, Iyan tidak mau bercerita kepada Kakak. Cerita lah pada Abang, tidak baik semua sedih dan rasa sakit Iyan dipendam sendiri. Kakak sayang Iyan, Kakak tidak ingin Iyan kenapa-kenapa," ungkapnya.
Iyan memeluk tubuh sang Kakak dengan air mata yang terus saja mengalir.
"Iyan hanya tidak ingin melihat Ayah bersedih. Iyan gak mau liat Kak Ri menangis lagi. Iyan tidak mau," terangnya.
Echa mengusap punggung Iyan memberikan Iyan ketenangannya. Setelah tangisnya reda, Echa mengajak Iyan untuk makan di kantin. Namun, Iyan menolaknya.
"Iyan tidak boleh makan sembarangan." Penolakan Iyan membuat Echa mengerutkan dahinya.
"Siapa yang bilang?"
"Bunda."
Astaga, ingin rasanya Echa marah. Jadi, selama Iyan masuk SD dia tidak boleh jajan di kantin. Bekal pun jarang dia bawa.
"Lalu Iyan makan apa? Pasti perut Iyan lapar," kata Echa.
"Iyan mau makan di rumah saja."
Echa mengusap lembut tangan Iyan. Menatap Iyan dengan penuh cinta dan sayang.
"Dengar Kakak, ya. Iyan setiap hari membawa uang ke sekolah. Pakailah yang itu untuk Iyan jajan. Kakak tidak akan marah, malah Kakak akan senang," ujar Echa.
"Tapi ... bagaimana dengan Bunda? Iyan tidak ingin menjadi anak yang tidak nurut. Iyan ingin bertemu Bunda, meskipun hanya di dalam mimpi gak apa-apa."
Baru kaki ini Echa tidak bisa berbicara apa-apa. Hatinya sakit dan mulutnya terkunci.
"Iyan tidak nakal. Iyan anak penurut. Jika, sudah waktunya bunda ingin bertemu dengan Iyan pasti bunda akan datang kepada Iyan. Yang penting, Iyan harus sehat dan makan yang banyak, ya."
Echa membawa Iyan menuju kantin. Di sana banyak beraneka makanan dan juga jajanan.
"Iyan mau apa?" tanya Echa.
"Boleh makan mie goreng?" Echa tersenyum kemudian mengangguk.
Adiknya yang satu ini sangatlah berbeda dari yang lain. Dia masih menjaga sikap meskipun orang yang dia hormati sudah tidak ada.
"Emang boleh?" Echa pun mengangguk.
Pesanan Iyan sudah ada di meja. Iyan makan dengan lahapnya menandakan bahwa adiknya memang lapar. Ujung mata Echa berair kembali.
"Kamu adalah anak yang hebat dan berbakti. Kakak yakin, nanti kamu akan menjadi orang sukses."
Setelah selesai makan, Iyan mengeluarkan yang di saku seragamnya.
"Apa ini cukup?" Uang lembaran berwarna biru yang dia keluarkan.
"Coba kamu bayar ke kantin itu," tunjuknya ke arah pedagang serba mie.
"Kemudian, kamu bayar sosis itu ke pedagang itu," tunjuk Echa lagi ke pedagang aneka sosis bakar dan goreng.
Iyan menghampiri pedangan mie dan menyerahkan uang kepada si mamang pedagangnya. Iyan menghitung kembaliannya.
"Sepuluh, tiga puluh, empat puluh."
Iyan bergegas ke tukang sosis. Menanyakan harga sosis bakar yang tadi sang kakak pesan yang ukuran jumbo.
"Sepuluh ribu," ucap si pedagang.
Iyan menyerahkan uang pecahan sepuluh ribuan kepada di pedagang. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih.
"Sudah?" Iyan mengangguk.
"Kalau Iyan makan di kantin, harus bayar dulu, ya. Ini bukan restoran. Iyan mengerti?" Hanya seulas senyum yang Iyan berikan.
"Iyan haus," ujarnya. Echa tertawa karena dia lupa membelikan air minum kepada Iyan.
Iyan menuju kantin yang menjual aneka makanan ringan dan juga air mineral. Dia harus membayar lima ribu rupiah untuk satu botol air mineral.
"Sisa berapa uangnya?"
"Sepuluh ... dua puluh ... lima."
__ADS_1
"Sisa uang jajan Iyan bisa uang tabung. Akan tetapi, uang jajan Iyan juga tidak boleh dihabiskan. Takutnya, di sekolah ada iuran tak terduga. Iyan paham?" Iyan pun mengangguk.
Kebiasaan Iyan yang tidak pernah jajan di luar membuat Echa harus mengajarkan Iyan bagai anak TK. Itu tidak masalah untuk Echa, malah dia sangat bahagia karena memiliki waktu bersama Iyan hari ini.
"Pulang sekolah nanti Kakak jemput lagi, ya." Iyan mengangguk dan melambaikan tangan kepada Echa.
Bu Cici tersenyum bahagia melihat Iyan. Baru kali ini wajah Iyan nampak bahagia.
"Rian, ayo masuk."
Bel pulang sekolah tiba, sesuai dengan janji Echa dia menjemput Iyan dengan membawa si triplets. Senyum Iyan mengembang dan mempercepat langkahnya menuju sang kakak. Iyan mencium tangan kakaknya sangat sopan dan Echa pun membalas dengan sentuhan lembut di kepala adiknya.
"Itu ibu baru kamu ya, Rian?" tanya seorang ibu yang terlihat menor.
"Pintar juga ayah kamu pilih daun muda," cibir ibu-ibu yang lain.
Echa hanya menghela napas kasar. Dia mengajak Iyan untuk masuk ke dalam mobil.
"Maaf, saya duluan." Echa pamit sopan kepada para ibu yang menyebalkan itu.
"Apa kamu sering diperlakukan seperti itu?" Echa penasaran.
"Udah biasa, Kak. Gak pernah Iyan anggap juga tuh," jawab Iyan yang masih bermain dengan si triplets di kursi penumpang bagian belakang.
"Udah biasa gimana?"
"Udah biasa dikatain gak punya ibu. Terus dikatain juga kalau ayah gak sayang sama Iyan. Anak sebatang kara lah. Pokoknya banyak," terang Iyan dengan santainya.
"Apa kamu gak marah?"
"Untuk apa? Pada nyatanya Iyan emang udah gak punya ibu. Mereka bilang ayah gak sayang sama Iyan. Iyan gak peduli, karena Iyan tahu Ayah sangat menyayangi Iyan, Kak Ri dan juga Kakak."
Echa terenyuh mendengar jawaban dari Iyan. Anak yang baru kelas tiga SD sudah memiliki pikiran seperti itu.
"Mereka bilang Iyan sebatang kara, pada kenyataannya tidak seperti itu. Iyan punya Ayah dan kakak serta Abang yang sayang Iyan. Ada juga ibu dan Jojo yang sayang sama Iyan. Ibu pernah bilang, jangan mudah tersulut emosi. Jika, ada yang menjadi api kita harus menjadi air."
Bangga sekali Echa memiliki adik seperti Iyan. Adiknya dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya. Sama seperti dirinya di waktu kecil.
Tibanya di rumah, Echa segera menyiapkan makan siang untuk adik dan ketiga anaknya.
"Mau makan pakai apa?" tanya Echa. Padahal Mbak Ina sudah masak makanan enak.
"Tetap," ucap Aleeya.
"Telul," kata Aleesa.
"Pupuk," imbuh Aleena.
Echa tersenyum ke arah ketiga anaknya. Sekarang, dia menatap ke arah Iyan.
"Apa Iyan boleh makan seperti si triplets?"
"Tentu boleh. Sekarang Iyan ganti baju dulu, ya. Setelah itu jagain si triplets." Iyan mengangguk.
Echa membawa anak-anaknya ke kamar untuk membersihkan diri mereka. Kemudian, pakaian mereka pun Echa ganti. Selama Echa menggoreng telur untuk adik dan ketiga anaknya makan, Iyan dan tiga kurcaci asyik bermain hingga gelak tawa terdengar sampai ke dapur.
Echa sudah membawa lauk untuk mereka makan. Namun, Echa merasa ada yang janggal. Ketiga anaknya serta Iyan sudah tak bersuara. Hanya suara televisi yang samar terdengar. Echa segera berlari menuju ruang televisi. Echa mengusap dadanya karena jantungnya sudah berdegup sangat cepat.
"Kenapa malah tidur?" gumam Echa.
Senyum terukir di wajah Echa, sesaat kemudian tercium wangi melati yang sangat menusuk. Bulu kuduk Echa mulai berdiri. Hawa dingin sudah memenuhi ruangan ini.
"Masa siang-siang," gumamnya.
Namun, wangi melati itu semakin menusuk hidung. Dirasakannya tubuh bagian kanannya seperti ada yang memegangnya.
"Ibu ... aku tahu ibu di sini," ucap pelan Echa.
"Makasih telah memberi tahu aku tentang Iyan. Maaf, jika aku telah lalai kepada Iyan. Aku sungguh tidak tahu." Suara penuh penyesalan terdengar jelas di telinga.
Sebuah melati tergeletak tepat di ujung kaki Echa. Menandakan ibu menjawab ucapan dari Echa.
"Makasih Bu ... makasih banyak," ucapnya lagi.
Perlahan aroma melati itu menghilang. Echa menghembuskan napas lega. Dia kembali menatap wajah adiknya serta ketiga anaknya.
"Tumbuhlah menjadi Om dan keponakan yang saling menyayangi. Jadilah manusia-manusia hebat di masa depan. Tetaplah rendah hati meskipun nanti kamu berada di titik tertinggi. Kalian adalah kebanggaan ku."
__ADS_1
Sebuah harapan kecil yang terucap dari bibir Echa. Semoga ucapan baik akan menjadi doa yang baik juga. Doa kecil yang Echa panjatkan. Semoga Tuhan mendengar doanya dan mengabulkannya.