
Iyan terdiam ketika sang kakak menanyakan perihal itu. Alasan Iyan sudah jarang mengunjungi Bu Parmi ya ini. Iyan sudah curiga bahwa kakaknya lah yang mengirimkan sembako untuk Bu Parmi dan juga Anggi.
"Kenapa diam?"
Echa sudah menatap tajam ke arah Iyan, sedangkan Iyan sudah menunduk dalam. Ada ketakutan di hatinya.
"Selama ini kamu anggap Kakak apa? Kenapa kamu gak bilang jujur sama Kakak?"
Nada bicara Echa sudah mulai bergetar. Matanya sudah memerah.
"Maafkan Iyan, Kak."
Iyan berkata dengan posisi kepala masih tertunduk. Dia tahu, pasti kakaknya sudah menangis.
"Kalau kamu kangen sama bunda, kamu bilang ke Kakak. Kita ke makam Bunda. Doakan Bunda. Jangan seperti ini caranya," ujar Echa.
"Selama hampir dua tahun ini, Kakak berusaha menjadi ibu untuk kamu dan Riana. Kakak sangat berjuang, agar kalian tidak merasa kesepian. Ada tempat untuk berkeluh kesah."
Tangis Echa pun pecah. Usahanya untuk menjadi ibu pengganti Iyan dan Riana sia-sia. Kedua adiknya masih selalu menutupi semuanya.
"Kakak."
Iyan berhambur memeluk tubuh sang kakak. Mulutnya terus mengucapkan kata maaf.
"Iyan yang salah Kak. Iyan minta maaf."
Rasa rindu kepada sang ibu, membuat Iyan malah menjadi anak nakal.
"Iyan gak sekolah karena ... Iyan bantu Anggi cari botol bekas. Ibunya Anggi waktu itu sedang sakit. Iyan gak tega," terangnya.
Hati Echa mencelos mendengar ucapan Iyan. Sebenarnya Echa tidak marah kepada adiknya. Dia lah yang merasa telah gagal menjadi seorang kakak untuk Riana dan juga Iyan.
"Maaf ... uang outbond dan SPP dari Kakak Iyan pakai untuk bayar hutang Bunda. Maafkan Iyan, Kak."
Echa memeluk tubuh adiknya. Inilah kerapuhan Iyan. Nampak baik-baik saja pada nyatanya tidak seperti itu.
"Kakak gak marah. Kakak hanya telah gagal menjadi ibu pengganti untuk kamu." Iyan menggeleng.
"Kakak adalah ibu terbaik yang pernah Iyan miliki. Kakak adalah wanita yang paling Iyan sayang. Maafkan Iyan, Kak. Rasa rindu membuat Iyan seperti ini."
Jojo yang berada di samping Iyan pun menyeka ujung matanya. Dia merasa bahwa Echa sangat tulus menyayangi Iyan. Tidak ada kata lelah, meskipun dia sendiri memiliki tiga orang anak.
Sabtu pagi, Echa dan Radit mengajak Iyan beserta Riana untuk mengunjungi Bu Parmi. Riana yang tidak tahu apa-apa hanya menatap kedua kakaknya secara bergantian.
"Nanti juga kamu tahu."
Ucapan salam Iyan dijawab oleh Anggi yang sudah memamerkan senyum manisnya. Namun, senyum itu pudar ketika melihat Radit dan Echa.
"Om ... Tante ...."
Telunjuk Anggi mengarah pada Radit dan Echa secara bergantian. Hanya sebuah senyum ketulusan yang mereka berdua berikan. Riana masih bingung, belum mengerti tujuannya datang ke sini untuk apa. Anak kecil itu juga siapa?
Suara batuk seseorang semakin mendekat. Seketika Riana melebarkan matanya melihat Bu Parmi yang sudah berada di ambang pintu.
"Bu-bunda ...."
Bu Parmi menatap Riana dengan sorot mata bingung. Apalagi mata Riana sudah berkaca-kaca.
"Bunda 'kan sudah meninggal," gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ri, ini Bu Parmi. Bukan Bunda," terang Echa.
Riana memandang sendu ke arah Echa. Air matanya pun terjatuh sudah. Echa berhambur memeluk tubuh Riana.
"Kamu rindu 'kan sama Bunda?"
Tidak ada jawaban dari Riana. Hanya Isak tangis yang terdengar.
"Ini ada apa, Pak? Kenapa setelah melihat saya kakak ini menangis?"
Radit hanya tersenyum. "Adik saya ini teringat akan ibunya yang telah tiada."
Bu Parmi sedang berusaha menyambungkan satu per satu kejadian. Radit mengatakan perempuan yang tengah menangis itu adiknya. Perempuan itu juga memanggilnya bunda sama seperti Iyan.
"Jadi ...."
Radit mengangguk, dia menyentuh pundak Iyan. "Iyan ini adik ipar saya, dan yang sedang menangis itu Kakak dari Iyan."
Bu Parmi sungguh tidak menyangka dengan apa yang sudah terjadi. Dua anak yang memanggilnya dengan sebutan Bunda.
"Jika, kalian kangen sama Bunda. Kalian bisa main ke sini. Kalian bisa lihat Bunda dalam wujud asli."
__ADS_1
Riana semakin mengeratkan pelukannya kepada Echa. Rasa rindu, marah bercampur jadi satu.
"Ri, gak ingin ketemu Bunda. Gak mau."
Echa mengusap lembut rambut Riana. Dia tahu Riana masih memendam sakit yang teramat dalam kepada ibundanya. Rasa rindunya mengalahkan rasa amarah yang masih bersarang di hatinya.
Namun, jika di dalam mimpi, Riana akan sangat bahagia bertemu dengan ibunya. Berbeda jika melihat langsung. Ada luka yang tak terlihat yang masih menganga.
"Bu, makasih banyak sudah mengirimkan sembako yang tiada henti kepada saya. Semoga rezeki Ibu dan Bapak diganti oleh Allah."
"Amin Ya Allah," jawab Echa.
"Kami ikhlas kok untuk membantu. Kami tidak ingin melihat orang di sekeliling kami kelaparan. Makasih, sudah menjadi pelipur lara untuk Iyan," jelas Radit.
Riana terus merengek untuk pulang. Hatinya sungguh sangat tidak sanggup melihat Bu Parmi. Terlalu sakit jika harus melihat langsung wajah ibundanya.
Tibanya di rumah, Echa mengekori Riana. Dia masih menangis cukup keras.
"Ri, kasihan loh Bunda. Bunda gak akan tenang kalau kamu masih menyimpan marah sama Bunda," ungkap sang kakak.
"Ri gak marah, Kak. Ri belum siap bertemu dengan bunda. Meskipun itu hanya orang yang mirip bunda. Hati Ri teras tercabik-cabik."
Echa sangat mengerti akan hal itu. Dia mendekap hangat tubuh adiknya yang masih terisak.
"Maafkan Kakak, ya. Kakak belum bisa jadi ibu pengganti untuk kamu dan juga Iyan."
Riana mengurai pelukannya, dia menatap dalam sang kakak. Kemudian, menggeleng.
"Kakak adalah ibu kedua untuk Ri. Kasih sayang yang Kakak berikan lebih dari yang Bunda berikan. Jangan pernah berkata seperti itu, Kak. Tanpa Kakak Ri tidak akan pernah berubah."
Mata Echa berkaca-kaca mendengar penuturan dari adiknya ini. Meskipun, bukan adik kandung kasih sayangnya sangat tulus kepada mereka berdua. Ingin selalu memberikan yang terbaik untuk kedua adiknya. Itulah yang Echa niatkan dalam hati.
"Makasih, sudah mau memaafkan segala kesalahan Ri. Membimbing Ri menjadi manusia yang lebih baik lagi. Menyayangi Ri tanpa syarat. Makasih banyak, Kak."
Riana mengeratkan pelukannya terhadap Echa. Air mata Echa luruh begitu saja. Kata-kata yang terdengar sangat tulus yang Riana ucapkan.
Di tempat yang berbeda, Rion terdiam seribu bahasa ketika dia mengikuti anak-anaknya pergi ke rumah Bu Parmi.
"Amanda."
Sebuah nama yang mampu membuat Rion sakit terlalu dalam. Seorang wanita yang sudah memberikan luka yang sangat lebar. Hanya karena anak dia sanggup bertahan.
Rion tidak menjawab, hanya memberikan sebuah surat serta foto kepada Arya.
"Kok bisa?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Arya ketika membaca surat panggilan orang tua karena Iyan bolos sekolah, tidak membayar SPP dan juga outbond. Selembar surat itu Rion dapatkan dari Radit. Bagaimana pun Rion adalah ayah dari Iyan. Dia berhak tahu, walaupun risiko Rion murka sangat besar.
Namun, bibir Arya terkunci ketika melihat foto yang Rion berikan.
"Ini ... Amanda?"
Rion menggeleng, dia menyandarkan tubuhnya di kepala sofa.
"Hanya mirip. Dia juga yang membuat Iyan bolos sekolah."
Arya tidak bisa berkata. Mulutnya seperti terbungkam.
"Iyan pasti rindu ibunya."
Kalimat Arya yang membuat Rion memejamkan mata. Mengurut pangkal hidungnya yang terasa pusing.
"Gua belum bisa jadi ayah dan ibu bagi anak-anak gua."
Hati Arya sakit mendengar penuturan Rion. Ucapan yang penuh dengan penyesalan.
"Lu adalah ayah yang hebat," sangkal Arya.
"Anak-anak lu juga adalah anak-anak yang sangat kuat," sambungnya lagi.
Rion masih bergeming. Hatinya perih ketika melihat Riana menangis. Orang yang paling terlihat terpukul ditinggal oleh Amanda hanya Riana.
"Iyan ... dia anak yang spesial. Wajar jika dia merindukan sosok ibunya. Apalagi dari kecil dia selalu diabaikan oleh Amanda."
Tidak ada jawaban dari Rion. Dia masih membeku. Namun, tidak dipungkiri ucapan Arya benar adanya.
"Riana ... anak yang salah didikan. Untung semuanya cepat terbongkar, sehingga dia bisa menjadi anak yang sangat baik sekarang. Gua yakin, ada luka yang tak terlihat yang Amanda berikan terhadap Riana. Riana tidak akan menangis jika tidak merasakan hal yang perih."
Kedua pria itu sekarang mulai terdiam. Bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Yang lu harus pikirkan itu Echa. Putri sulung lu yang seperti malaikat tak bersayap. Mampu menerima lu dan kedua adiknya dengan tangan terbuka. Menyayangi mereka seperti anak-anaknya."
__ADS_1
"Lu adalah ayah yang sangat beruntung begitu juga anak-anak lu. Tanpa kehadiran Echa, anak-anak lu tidak akan seperti ini."
Rion menatap nanar ke arah Arya. Raut sedihnya terlihat jelas.
"Gua tahu lu masih sakit hati. Gua tahu ... lu belum bisa memaafkan. Gua gak bisa ngomong apa-apa. Gua hanya bisa bilang ... gua bangga punya sahabat kayak lu. Anak-anak yang lu prioritaskan dengan mengabaikan perasaan. Gua aja belum tentu bisa kayak lu."
Arya memeluk tubuh Rion. Sahabatnya ini sedang dilanda kerapuhan. Hanya Arya yang mampu mengerti tanpa harus Rion menjelaskan.
Rion yang disakiti Arya lah yang emosi. Mulut pedasnya ingin sekali memaki-maki. Namun, takdir berkata lain. Orang yang ingin dia maki sudah mati.
"Lu ajak ketiga anak lu berbicara. Ajak juga menantu lu. Tanpa Radit, Echa gak akan bahagia. Menantu lu adalah menantu idaman semua para mertua. Bukan hanya mencintai anak lu, tetapi keluarga lu juga."
Malam harinya, Rion mengajak Echa, Iyan, Riana serta Radit berkumpul. Ditambah ketiga cucunya yang sedang aktif berlari ke sana ke mari.
"Ada apa, Yah?"
Wajah bingung dan cemas Echa tunjukkan. Tidak biasanya ayahnya seperti ini.
"Kenapa kalian menutupi semuanya dari Ayah?"
Echa menatap ke arah Radit, suaminya hanya bersikap datar. Sedangkan Iyan sudah tertunduk dalam.
"Sekecil apapun masalah yang sedang kalian hadapi, tolong bilang kepada Ayah. Jika, Ayah marah ... tolong kalian redam emosi Ayah. Jangan menyembunyikan apapun dari Ayah. Kalian adalah anak-anak Ayah. Tanggung jawab ayah."
Mendengar ucapan Rion yang sangat lirih membuat mereka bertiga menunduk dalam. Tidak ada yang berani menegakkan kepala.
"Maafkan Ayah ... Ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian. Belum bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk kalian. Jika, kalian rindu dengan bunda ... bilang sama Ayah. Meskipun, Ayah belum bisa memaafkan bunda kalian, pasti Ayah akan mengantar kalian ke makam bunda."
Riana dan Iyan berhambur memeluk tubuh Rion. Ucapan Rion sangat membuat hati mereka sakit. Apalagi, Rion berkata dengan suara yang sangat berat.
"Ayah adalah ayah terbaik di dalam hidup kami," ucap Riana.
"My Hero, forever."
Air mata yang sudah menganak, kini tumpah juga. Echa menatap sendu ke arah ayahnya yang sedang mengecup ujung kepala Riana dan juga Iyan secara bergantian.
"Apa kamu tidak ingin memeluk Ayah?"
Pertanyaan Rion membuat Echa berhmambur memeluk tubuh ayahnya yang sudah sedikit menua. Tangisannya pecah di dalam dekapan hangat sang ayah.
"Terima kasih, sudah selalu ada bersama Ayah."
"Kami akan selalu menemani Ayah. Kami tidak bisa jauh dari Ayah," jawab Echa.
Rion mengurai pelukannya. Dia menangkup wajah Echa dan menatap nektra cantik yang Echa miliki.
"Malaikat kecil yang Tuhan kirimkan untuk Ayah. Terima kasih telah menyayangi kedua adikmu. Terima kasih telah mau memaafkan Ayah. Terima kasih, Dek."
Echa menggeleng, dia menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi ayahnya.
"Echa hanya seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tua. Ingin merawat Ayah semampu Echa karena Echa yakin, banyak pengorbanan yang sudah Ayah lakukan untuk Echa. Echa tidak ingin, hanya fokus melihat titik hitam yang ada pada kertas putih. Biarlah titik hitam itu menjadi pemanis. Karena semuanya diciptakan secara berdampingan. Ada hitam dan putih."
Sudut bibir Radit melengkung dengan sempurna mendengar penuturan dari istrinya, sedangkan Riana tercengang mendengar perkataan sang kakak yang sangat menyentil hatinya.
Terbuat dari apa hatimu, Kak? Ri, ingin seperti Kakak. Ri, ingin berubah menjadi lebih baik lagi.
"Maafkan Echa, Ayah. Echa belum bisa membahagiakan Ayah. Belum bisa memberikan sesuatu yang membanggakan untuk Ayah dan selalu merepotkan Ayah. Seharusnya Echa yang sudah menggantikan posisi Ayah di toko. Akan tetapi ...."
"Kamu adalah kebanggan Ayah dan kebahagiaan untuk Ayah. Tanpa kamu, Ayah tidak akan setegar ini. Tidak ada kata repot dari ayah untuk anaknya. Alasan kamu gak bisa gantiin Ayah karena anak-anak kamu."
Echa memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat. Cintanya pada sang ayah melebihi apapun.
"Radit ...."
Sekarang, Rion memanggil menantunya yang sedang memangku Aleena.
"Makasih sudah mau menjadi menantu Ayah. Makasih sudah banyak membantu Ayah. Makasih juga karena kami sudah membuat anak ayah bahagia."
"Tidak usah berterima kasih, Ayah. Sudah kewajiban Radit. Menyayangi Echa berarti harus menyayangi keluarganya juga. Membahagiakan Echa berati harus membahagiakannya keluarganya juga. Selagi Radit bisa membantu, pasti akan Radit bantu."
Sungguh beruntungnya Rion memiliki menantu Raditya Addhitama. Pria tengil dan keras kepala yang mampu meluluhkan kekerasan hatinya. Kini, menjadi pendamping putri sulungnya.
Aleena turun dari pangkuan Radit. Dia mulai naik ke pangkuan Rion. Melihat Aleena, kedua saudaranya ikut-ikutan.
"Tata Na tayang Enton. Anan anis."
Tangan mungil itu menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi Rion. Sedangkan Aleesa dan Aleeya sudah memeluk tubuh Rion.
"We love you, Ayah."
Ketiga anak serta menantu Rion memeluk hangat tubuh Rion yang juga tengah dipeluk oleh ketiga cucunya. Kebahagiaan yang tiada Tara yang Rion rasakan.
__ADS_1