
Rindra mengikuti permintaan Radit. Setelah permintaan maafnya, Rindra pergi dari kehidupan Radit. Dan berjanji kepada Radit dan Papihnya untuk bertanggung jawab atas Fani.
Echa semakin bahagia bersama Radit. Dia selalu menemani Radit di rumah sakit. Karena Genta juga mengizinkannya.
"Pagi, Kak Radit," ucap salah seorang perawat.
Hanya seulas senyum yang Radit berikan. Dia tidak menggubris si perawat itu. Sedangkan Echa sedang berada di dalam kamar mandi.
"Makin ganteng aja," ucap si perawat lagi.
Di kamar mandi, Echa yang sedang menggosok gigi hampir mematahkan sikat gigi ketika mendengar perkataan lenjeh dari seorang wanita. Dia segera menuntaskan aktifitas di kamar mandinya. Dan ingin melihat siapa yang berani mengganggu kekasihnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Echa menatap tajam ke arah Radit dan juga si perawat. Ya, Echa tahu kalo Radit tidak menanggapi ocehan si perawat. Karena dia sibuk memainkan ponselnya.
"Ehem!." Deheman yang sengaja Echa berikan membuat Radit menegakkan kepalanya dari layar ponselnya.
"Udah selesai?" tanya Radit dengan senyum manisnya kepada Echa.
Echa hanya menjawab dengan anggukan pelan. Dan si perawat pun menatap tidak suka ke arah Echa. Apalagi Echa, ingin rasanya dia menyuntik mati perawat di depannya ini. Tampang pas-pasan, tapi genitnya keterlaluan.
"Morning kiss dong, Yang," pinta Radit.
Echa menatap jengah ke arah Radit. Tapi, dia harus melakukannya agar si perawat di depannya itu tahu diri.
Echa mengecup kening Radit, berlanjut ke kedua pipi Radit.
"Makasih, Sayang," ucapnya sambil mengecup kening Echa.
Pemandangan yang menyebalkan bagi si perawat. Tanpa banyak kata, dia pergi setelah menyelesaikan tugasnya memeriksa Radit.
"Ganjen," sungut Echa ketika si perawat sudah keluar.
Radit tertawa melihat wajah kekasihnya ditekuk seperti itu.
"Ciye, cemburu nih," goda Radit sambil mencolek dagu Echa
"Menurut kamu aku harus diem gitu kalo ada yang mulai carper sama pacar aku? Aku denger loh semua gombalan receh dia tadi," oceh Echa.
"Sepertinya kamu senang banget digodain perawat itu," sinisnya dengan mata menatap tajam.
__ADS_1
"Kamu bisa lihat kan, Yang. Aku tidak memperdulikannya," sahut Radit sambil merengkuh tubuh Echa. Dan dia menarik Echa agar duduk di samping tempat tidurnya.
"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang," goda Radit.
Wajah Echa masih saja ditekuk. Echa sudah mulai merasakan cemburu jika ada yang mendekati Radit. Hanya dia yang boleh fekst dengan Radit. Radit hanya miliknya, begitulah egonya.
"Yang," panggil Radit.
Echa masih tidak bergeming, dia masih fokus pada ponselnya. Cemburu masih menguasai hatinya. Sudah dua jam Echa mengabaikan Radit.
Radit mencoba turun dari ranjang pesakitan. Dengan pelan, dia menghampiri Echa dengan membawa botol infus di tangan kirinya.
"Yang, udahan dong marahnya," ucap Radit yang sudah duduk bersama Echa. Tapi, tidak Echa dengar ucapan Radit.
Hingga Radit merampas ponsel yang Echa pegang. "Balikin," pinta Echa.
"Gak mau, lebih penting ponsel dari pada pacar kamu yang sakit ini, iya?" ucap Radit.
"Sakit juga masih banyak yang ngurusin, kan. Tadi perawat datang, terus dokter datang bawa makanan sambil ngelus pipi kamu. Ya udah, sepertinya kamu juga gak perlu kehadiran aku di sini," oceh Echa dengan nada sedikit tinggi.
Radit mengatur napasnya, dia lupa Echa sedang sensitif karena sedang datang bulan. Hal sekecil apapun pasti akan menjadi besar jika Echa sedang berada di fase ini.
"Baru pagi ini udah dua cewek yang bikin aku kesal. Nanti siang ada lagi perawat yang lain, malam ada lagi. Kamu mau buat aku mati berdiri?"
Radit terdiam mendengar Omelan Echa. Mata Echa sudah nanar menandakan dia juga sudah lelah. Setiap hari harus melihat pemandangan seperti itu. Selama tiga hari ini dia diam. Tapi, semakin ke sini rasanya semakin sesak.
Radit menarik tangan Echa, memeluk tubuh Echa dengan sangat eratnya.
"Jangan nangis, Yang. Maaf," ucap Radit.
Hanya isak tangis yang menjadi jawaban atas ucapan Radit.
"Aku hanya milikmu, Sayang. Aku gak akan pernah berpaling dari kamu. Puluhan dokter cantik yang mendekatiku pun, tidak bisa mengalahkan kecantikan kamu di mata aku. Aku sayang kamu, selamanya akan selalu sayang sama kamu," ujarnya sambil mengecup ujung kepala Echa.
"Maaf, jika sudah membuatmu lelah. Aku janji, lelahmu itu akan aku ubah menjadi bahagia. Aku janji, Sayang."
Di saat seperti ini, Radit harus mengalah. Meredam semua kekesalannya. Karena dia tahu, usia Echa masih labil.
Memang, selama tiga hari ini Laura selalu datang menemui Radit untuk membawakan makanan. Tapi, makanan itu tidak pernah Radit sentuh. Baginya, makanan yang dibawa oleh Echa lebih nikmat. Apalagi dimakan berdua bersama Echa.
__ADS_1
Laura, dokter kandungan yang memang terang-terangan mengatakan jika dia menyukai Radit. Radit pun mengatakan dengan terang-terangan juga jika, dia tidak menyukai Laura. Dia hanya mencintai kekasihnya. Namun, Laura tidak mudah menyerah. Dia masih mendekati Radit sampai sekarang ini.
"Radit aku bawa maka ...."
Ucapan Laura terhenti ketika melihat Radit sedang mengecup kening seorang gadis yang sangat cantik di matanya. Berbeda sekali dengan dirinya yang berkulit albino.
Kantong makanan yang dibawa Laura pun jatuh ke lantai. Seperti hatinya yang terasa remuk redam melihat adegan di depannya dengan sangat jelas.
Radit dan Echa menoleh ke arah asal suara. Di sana sudah ada Laura yang mematung di tempatnya. Echa hanya menghela napas kasar dan dia beranjak dari duduknya. Berniat pergi karena tidak ingin melihat part demi part yang membuatnya sakit.
Dengan cepat Radit mencegah tangan Echa hingga dia terjatuh di pangkuan Radit.
"Tetap di sini, Sayang," ucapnya sambil memeluk tubuh Echa.
"I-itu ...."
"Ini kekasihku, Laura. Wanita yang sangat aku sayangi di dunia ini. Wanita yang sudah membuat hariku berwarna," jelasnya.
"Aku tidak bohong dengan perkataan ku tempo dulu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu karena wanita ini. Wanita yang mau menerima segala kekuranganku. Wanita yang sangat cantik dan luar biasa. Dan aku sangat mencintainya."
Radit mengecup kening Echa lagi dengan sangat dalam. Seakan memberitahukan kepada Laura, jika dia memang sangat mencintai Echa.
Dada Laura terasa sesak sekali. Matanya sudah nanar. Air matanya sudah menganak dan ingin sekali meluncur membasahi pipinya.
"Baiklah, Radit. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Karena aku sangat melihat cinta yang kamu punya untuk wanitamu begitu besar. Dan kalian memang pasangan yang cocok." Suara Laura terdengar sangat bergetar.
"Aku pamit, semoga kalian bahagia." Laura pergi meninggalkan Radit dan juga Echa dengan air mata yang sudah tidak bisa tertahan.
"Sakit sekali hatiku, Dit," lirih Laura.
Sedangkan Radit masih betah memangku Echa dan juga memeluknya.
"Cintaku untukmu sangatlah besar, Yang. Jangan ragukan cintaku lagi," ucapnya sambil meletakkan dagunya di bahu Echa.
...----------------...
Semoga terhibur ...
Jangan lupa komen dan kalo ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.
__ADS_1