Yang Terluka

Yang Terluka
Harus Memilih


__ADS_3

Setelah pulang dari pemakaman, Radit tidak langsung kembali ke rumah sakit. Dia kembali ke rumah sang Papih. Sebelumnya dia menghubungi Echa karena dia ingat kata-kata Iyan tempo hari. Setalah dari pemakaman, tidak boleh langsung menemui ketiga anaknya. Harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"Dari mana kalian?"


Addhitama sudah duduk di ruang keluarga. Rindra dan kedua adiknya hanya saling tatap. Ketika mereka pergi ke pemakaman, sang Papih sudah berangkat ke kantor. Sekarang malah sedang menginterogasi mereka.


"Abis nengok Mamih," ujar Rifal.


Dahi Addhitama mengkerut mendengar ucapan dari Rifal.


"Sudah lama 'kan kami bertiga tidak ke makam Mamih," terang Radit.


"Mamih pasti senang melihat kami sudah akur kembali," tambah Rindra.


Sudut bibir Addhitama melengkung. Bukan hanya istrinya, dia juga sangat bahagia melihat ketiga anaknya kembali seperti dulu lagi. Selalu kompak dan saling melengkapi.


"Pih, Radit mau ganti baju dulu, ya. Mau balik lagi ke rumah sakit. Hari ini Aleesa boleh pulang."


Bukan hanya Radit yang berganti pakaian, kedua kakaknya dan juga papihnya ikut berganti pakaian karena ingin menjemput Aleesa.


Addhitama dan juga kedua kakaknya berada dalam satu mobil yang sama. Sedangkan Radit sudah membawa mobilnya sendiri. Tibanya di sana, Aleesa dan kedua saudaranya sudah sangat cantik dengan kunciran-kunciran yang menggemaskan.


Tidak ada keluarga Echa yang lain karena mereka sudah menyiapkan pesta kejutan kecil-kecilan untuk Aleesa.


"Udah beres semua?" Echa mengangguk.


Addhitama mulai menggendong Aleena, Rindra menggendong Aleeya dan Rifal menggendong Aleesa. Sedangkan Echa dan juga Radit sudah membawa tas yang mereka bawa. Sedangkan boneka besar sudah dijemput oleh Pak Mat. Meskipun ada drama dari ketiga anaknya, Echa tetap menyuruh Pak Mat untuk membawanya.


"Baba, tapan iyat pinuin?"


Kebawelan Aleesa sudah kembali menandakan dia sudah sembuh.


"Setelah Kakak Sa tidak sakit lagi, ya."


"Tapi ... tata Sa dah tembuh."


"Kakak Sa belum sembuh, Nak. Kakak Sa harus menemui Om dokter lagi nanti. Setelah Kakak Sa sudah tidak boleh menemui Om dokter, baru lah kita lihat pinguin." Echa mencoba menerangkan secara perlahan.


"Bubu, tata Na inin bitin oneta Olaf," kata Aleena.


"Olaf?" ulang kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Let it go ...."


Mereka bernyanyi dengan lirik yang sekenanya membuat Radit dan Echa tertawa. Olaf adalah boneka salju yang ada di film kartun Frozen.


"Kakak Na mau bikin boneka salju?" tanya Radit.


"Au, Ba," jawab antusias Aleena.


"Baiklah, nanti kita akan berlibur bersama naik pesawat lagi. Mau?"


"Mau!" sorak mereka bertiga.


Echa tertawa bahagia melihat ketiga anaknya sudah ceria kembali. Apalagi melihat Aleesa yang sudah terlihat sangat sehat.


Terimakasih Ya Allah telah mengembalikan Aleesa. Aku siap mengorbankan apapun demi putriku.


Tibanya di rumah, kedatangan si triplets disambut meriah oleh keluarga Echa.


"Enton!"


Orang pertama yang mereka peluk adalah Rion. Tak tanggung-tanggung mereka meminta Rion untuk menggendong mereka bertiga.


"Anak-anak Bubu, Engkongnya berat, Sayang."


Bahagia yang tak terkira melihat pemandangan ini. Echa selalu berdoa, kebahagiaan ini akan selalu dia lihat dan dia rasakan selamanya.


"Mending kita makan, udah banyak yang Mbak Ina masak," ajak Ayanda.


Mereka segera menuju meja makan, kecuali Rion yang sedang bercanda ria dengan ketiga cucunya.


Di meja makan ada Gio, Ayanda, Aska, Keysha, Sheza, Kano, Kaza, Addhitma, Rindra dan juga Rifal. Sedangkan Radit dan Echa sedang menyiapkan makanan untuk anak mereka. Si triplets rindu makan pakai telur ceplok dengan kecap. Tidak lupa ditambah kerupuk udang.


"Kamu kapan kembali ke Singapura?" tanya Gio kepada Kano.


"Nanti malam sepertinya. Banyak pekerjaan di sana. Lagi pula, Keysha dan Kaza tidak bisa berlama-lama izin sekolah."


"Kenapa sebentar sih, Pih? Kakak masih kangen sama Keysha," ujar Aska.


Rifal terbatuk mendengar ucapan dari Aska. Sedangkan Rindra sudah menatap penuh arti kepada Rifal. Bagaiman dengan Keysha? Sedari tadi dia hanya diam dan tidak bicara sama sekali. Hanya mencuri-curi pandang sebentar.


"Kalau kamu kangen, kamu bisa ke Singapura pas libur kuliah." Aska tersenyum dan mengangguk menimpali ucapan dari Kano.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka menuju ruang keluarga di mana si triplets berada. Sedangkan Rifal bangkit menuju dapur untuk membuat kopi. Secangkir kopi sepertinya akan mengencerkan otaknya yang sedang tersendat.


Ketika dia sedang menuangkan kopi. Rindra menepuk pundak Rifal.


"Bicarakan jika kamu tidak ingin menyesal."


Rifal menatap Rindra sekilas, kemudian melanjutkan kegiatannya lagi. Setelah Rindra pergi, Rifal yang hendak berbalik dengan membawa secangkir kopi hampir bertabrakan dengan Keysha.


Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari Keysha. Menatap Rifal pun tidak. Dia terus melanjutkan langkahnya hingga tangannya dicekal oleh Rifal.


"Kita perlu bicara."


Rifal berbicara dengan sangat tegas, tetapi Keysha masih saja diam. Tidak menjawab ucapan dari Rifal.


"Mau kamu apa sekarang?"


Keysha mulai menegakkan kepalanya setelah mendengar bentakan Rifal. Keysha menatap Rifal dengan tatapan sendu.


"Bukankah Kakak yang menghindari Key?" Mulut Rifal terdiam mendengar ucapan Keysha.


"Kakak tanya mau Key itu apa? Key ingin ... kita menyudahi hubungan ini."


Tangan Rifal yang mencekal Keysha terlepas begitu saja. Apalagi sorot matanya menyiratkan kepiluan yang sangat mendalam.


"Usia kita terlalu beda jauh. Key, tidak pantas mendampingi Kakak. Mungkin, akan ada yang lebih pantas mendampingi Kakak di luaran sana. Maafkan Key, Kak."


Keysha segera pergi dari dapur meninggalakan Rifal yang tengah mematung. Hati Rifal bagai ditusuk belati yang sangat tajam. Sakit dan perih.


Namun, dia tidak bisa melakukan apapun. Apa yang dikatakan sang Papih benar adanya. Mencintai anak ABG akan lebih sulit. Sekarang terbukti ucapan dari Addhitama.


Apa aku harus menyerah?


Sedangkan Keysha sudah menitikan air mata. Dia segera masuk ke dalam kamar Riana dan menumpahkan tangisnya di sana.


"Papih tahu, kamu menjalin hubungan dengan Rifal. Akan tetapi, lebih baik hubungan kalian diakhiri saja. Setelah lulus kamu harus terbang ke Australia untuk kuliah di sana. Fokus pada kuliah kamu karena Papih ingin kamu meneruskan usaha Opa dan juga Papih. Harapan Papih ada pada kamu."


Keysha teringat akan ucapan ayahnya yang sangat mengagetkan hatinya. Mengakhiri? Itu sangat sulit. Ingin rasanya dia berbicara seperti itu, tetapi Keysha tidak ingin menjadi anak yang membangkang.


"Kalau jodoh, pasti gak akan ke mana. Sejauh apapun kamu berpisah, pasti akan disatukan kembali. Sama halnya dengan Mamih dan Papih. Sudah lama berpisah, bertemu kembali dan akhirnya menjadi sepasang suami-istri sampai saat ini. Kamu dan Kaza adalah bukti cinta dari Mamih dan Papih."


Kata-kata dari Sheza pun kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Keysha semakin terisak.

__ADS_1


"Maafkan Key, Kak. Key, sayang Kakak, tetapi Key tidak bisa membangkang kedua orang tua, Key."


__ADS_2