
Mereka tiba di rumah ketika tengah malam. Addhitama.tersnyum bahagia ke arah ketiga anaknya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Makasih atasannya kejutannya," ucap Addhitama.
Rindra, Rifal dan juga Radit hanya tersenyum dan memeluk tubuh ayahnya.
"Apa yang kami lakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah Papih lakukan untuk kami," balas Rindra.
"Terus sehat ya, Pih," ujar Rifal.
"Dampingi Radit hingga ketiga anak Radit menikah," lanjutnya.
Addhitama merasa sangat beruntung memiliki anak yang luar biasa seperti ini. Bagaimana tidak, ketiga anaknya menjelma menjadi pengusaha sukses. Apalagi Raditya Addhitama.
"Jika, Mamih kalian masih ada mereka akan sangat bangga kepada kalian," imbuh Addhitama.
"Kalau Mamih masih ada, pasti kami tidak akan menjadi anak yang v mandiri, Pih," balas Radit.
"Kepergian Mamih untuk membuat kita menjadi anak yang mandiri dan juga Mamih. Tidak manja apalagi cengeng. Sedari kecil kami sudah dihadapi dengan kerasnya kehidupan yang sesungguhnya."
Apa yang dikatakan oleh Radit benar adanya. Tuhan memiliki cara sendiri untuk membentuk manusia.erjwa bertiga dibentuk dari rasa kehilangan sedari kecil. Rencana Tuhan lebih indah dari rencana manusia karena Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya.
Keesokan harinya hati bahagia masih berlanjut. Keluarga dari Echa serta Satria berdatangan ke rumah Addhitama. Mereka akan mengadakan pesta barbeque serta bakar-bakar. Raut bahagia terpajang di wajah sengaja Addhitama.
Gelak tawa terdengar riuh. Belum lagi suara mereka yang tengah berkaraoke ria. Namun, di balik keramaian itu ada seorang anak yang merasa kesepian, Kalfa.
Dia berdiam diri di bawah anak tangga seorang diri. Ucapan sangat papih angkatnya masih terngiang-ngiang di kepala.
"Lusa, kita akan pindah ke Bandung."
Wajah riang Kalfa berubah sesuai sendu seketika. Dia sudah merasa menemukan teman di sini yaitu si triplets. Akan tetapi, dia malah harus terpisah dari si triplets.
"Jangan sedih, Nak. Di sana kamu akan menemukan teman yang baru lagi. Kita juga masih bisa berkunjung ke sini untuk bertemu dengan Aleena, Aleesa dan juga Aleeya.
Kalfa hanya terdiam tak menjawab ucapan dari Satria. Dia malah bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamar. Satria menghela napas kasar. Jika, bukan karena tugas penting dia juga tidak ingin meninggalkan Jakarta. Anak yang dia angka sudah menemukan kebahagiaannya. Dia tidak ingin merebut kebahagiaan itu. Meskipun,. Kalfa bukan darah dagingnya, tetapi dia tetap anak yang sangat Satria sayangi.
Sedari tadi, Aleena mencari Kalfa karena anak itu belum terlihat juga. Papihnya malah sedang asyik berkaraoke ria dengan yang lainnya.
Aleena meniggalkan kedua adiknya dan mencari Kalfa ke sana ke mari. Semua ruangan sudah Aleena tuju, tetapi Kalfa masih tetap tidak ada. Ketika Aleena hendak naik ke lantai atas, terdengar suara isakan tangis lirih. Suaranya sangat Aleena kenal. Aleena mencoba mencari kembali. ternyata Kalfa yang ada di sana.
"Kal," panggil Aleena.
Kalfa mendongak dengan air mata yang sudah membanjir wajahnya.
"Kenapa kamu nangis?" tanyanya.
"A-aku ... tidak akan bisa bertemu kamu lagi," ujarnya.
Aleena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kalfa. Dia menatap intens ke arah Kalfa.
"Aku mau pindah ke Bandung."
Ucapan Kalfa membuat Aleena terdiam. Dia merasa senang bermain dengan Kalfa yang selalu mengerti dia. Tidak pernah menjahilinya. Malah sangat melindungi Aleena. Ketika Aleena terjatuh, Kalfa yang membantunya berdiri. Kalfa yang membersihkan luka kaki Aleena. Dia juga yang meniup-niupi kaki Aleena.
Banyak kenangan yang tercipta antara Aleena dan juga Kalfa. Kalfa juga merasa sangat senang jika berada bersama Aleena. Anak yang pertama kali tidak takut kepadanya hanyalah Aleena. Aleena yang menghampirinya dan memberi dia susu serta makanan. Kalfa masih ingat aku.
"Kenapa halus pelgi?" tanya Aleena.
"Papih."
Aleena hanya menghembuskan napas kasar. Dia mengangguk dan meninggalkan Kalfa sendirian lagi.
"Aleena," panggil Kalfa.
Aleena tidak menggubrisnya, dia malah berlari masuk ke dalam kerumunan orang-orang.
Jingga yang baru saja mendapat telepon dari saudaranya yang berada di Jogja, berubah murung.
"Kembali ke Jogja. Bu'de gak mau tahu. Masih muda mau.aja kerja jadi pengasuh!" bentak Bu'denya.
"Yang penting halal 'kan, Bu'de."
"Bu'de gak mau tahu, kamu harus kembali ke Jogja. Di sini masih banyak pekerjaan yang bagus untuk kamu!"
Jingga tidak bisa menolak. Dia harus nurut kepada kakak dari ibundanya itu. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Bu'de Teti.
"Bagaimana aku harus ngomongnya?" Bingung dan gamang, dia tidak ingin meninggalakan ini karena dia pun digaji dengan cukup besar. Apalagi dia merasakan kenyamanan yang tak terkira ketika bekerja di rumah Satria. Kalfa yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, juga Satria yang sudah seperti ayah untuknya.
Satria sudah membelikan ponsel baru untuk Jingga. Segala kebutuhan. Jingga akan dia penuhi. Dia pun berterus terang bahwa dia tidak ada maksud apa-apa. Satria hanya ingin Jingga tumbuh seperti remaja pada umumnya.
__ADS_1
Jingga melamun seorang diri di meja makan. Dia tahu Kalfa sedang bersedih karena dia tidak mau pindah ke Bandung. Jingga dengan susah payah membujuk Kalfa untuk pindah dan akhirnya dia mau dengan syarat Jingga pun ikut ke Bandung. Jingga menyetujuinya, tetapi sekarang ga malah seperti ini.
"Kalfa pasti akan semakin bersedih," gumamnya.
Satria mencari Kalfa serta Jingga. Hanya Jingga yang dapat dia temukan, sedangkan Kalfa tidak ada.
Jingga pun kelabakan mencari Kalfa begitu juga Satria. Dia mencari Kalfa ke mana-mana, tetapi tetap tidak ada.
"Aleena, kamu lihat Kalfa gak?" tanya Jingga.
Wajah Aleena pun nampak sendu. Dia menatap lurus ke depan tanpa mau menatap wajah Jingga.
"Aleena," panggil Jingga lagi.
"Di bawah tangga." Jawaban yang terdengar sangat datar.
Semua makanan sudah tersaji, biasanya Aleena dan kedua saudara akan berebut makanan. Namun, tidak dengan Aleena. Radit dan Echa menatap bingung ke arah sang putri sulung.
"Kakak Na, makan sayang," titah Echa. Aleena hanya mengangguk pan tanpa ekspresi.
Satria sudah kembali dan bergabung bersama mereka.
"Kalfa ketemu?" tanya Addhitama.
"Ada di bawah tangga. Dia masih marah," terang Satria.
"Marah?" ulang Addhitama.
Satria mengangguk, dia menatap ke arah orang-orang yang ada di depannya.
"Besok aku akan pindah ke Bandung."
Sontak semua orang menatap tajam ke arah Satria. Begitu juga dengan Adhitama.
"Aku akan menetap di sana karena ada salah satu perusahaan yang membutuhkan tenagaku dengan ekstra."
Aleena menunduk dalam. Echa dan Radit menatap ke arah Aleena. Mereka berdua tahu jika Kalfa dan Aleena sangat dekat. Tangis Aleena pun pecah, seakan dia tidak ingin berpisah dengan Kalfa.
Radit segera meraih tubuh Aleena dan menggendongnya. "Nanti kita bisa main ke sana atau Kalfa yang main ke sini," ujar Radit.
Semua orang menatap iba ke arah Aleena. Siapa yang tidak kedekatan Aleena dengan Kalfa. Mereka seperti adik-kakak.
"Kal, gak mau pindah. Kal ingin di sini saja."
Baru kali ini Kalfa menangis keras seperti ini. Anak yang terbilang kalem dan juga anteng berubah seperti pemberontak hingga Jingga kewalahan.
Terpaksa Jingga membawa Kalfa ke arah orang-orang yang tengah menikmati makanan yang sudah tersedia. Suara tangis Kalfa membuat semua orang menoleh. Satria segera meraih tubuh Kalfa.
"Nak, jangan begini dong, Sayang. Kasihan Kakak Jingganya."
Kalfa malah semakin menjadi. Dia semakin menangis keras sedangkan Aleena malah membenamkan wajahnya di pundak Radit.
"Kok gua yang melow, ya," ujar Rifal.
Kedua anak ini seperti memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Mereka seakan tengah menumpahkan ketidak relaannya untuk berpisah.
Setengah jam berlalu, barulah Kalfa berhenti menangis. Satria sudah memangku minta dan Jingga membuatkan susu untuknya.
"Bandung-Jakarta itu tidak jauh, Nak. Kita bisa sering berkunjung ke sini. Atau yang di sini berkunjung ke Bandung." Satria mulai memberi pengertian kepada Kalfa dengan terus mengusap lembut kepala Kalfa.
"Jagoan gak boleh cengeng. Harus bisa nahan sedih serta air mata," ucapnya lagi.
Semua orang tersenyum melihat Satria yang menyayangi Kalfa dengan sepenuh hati.
Satria mulai membujuk Kalfa agar mau makan. Beribu cara dibujuk dan akhirnya Kalfa mau makan. Satria dengan penuh kesabaran menyuapi Kalfa.
"Kami juga makan Jingga, tidak usah sungkan," ucap Addhitama.
Jingga tersenyum bahagia ketika dia berada di tengah-tengah keluarga besar dari majikannya ini. Hal yang tidak akan dia kenang seumur hidupnya. Dari keluarga inilah dia mengerti bagaimana memiliki keluarga yang sangat lengkap. Merakan kasih sayang yang sangat tulus tanpa membedakan derajat.
Canda tawa mulai terdengar kembali, tetapi Kalfa dan juga Aleena masih betah berada di pangkuan ayah mereka. Aleesa dan Aleeya sudah bermain bersama Rio.
Kebahagiaan yang Hingga rasakan harus lebur ketika dia mendapat pesan dari bu'denya.
"Malam ini kamu sudah harus berangkat dari Jakarta."
Hanya kebahagiaan sesaat yang Jingga rasakan. Mulutnya terasa kelu untuk mengutarakan semuanya. Apalagi, Kalfa baru saja tenang. Dia tidak ingin membuat Kalfa histeris kembali.
Setengah jam berlalu, Hingga belum membuka suara. Dia hanya mendengarkan apa yang orang-orang katakan. Namun, ketika dia melihat waktu terus berputar. Dia memutuskan untuk segera membicarakannya kepada Satria.
__ADS_1
"Pak."
Suara Jingga membuat semua orang terdiam. Semua mata tertuju pada Jingga.
"Ada apa?" tanya Satria.
"Sebelumnya saya minta maaf." Jingga belum bisa melanjutkan bicaranya. Dia malah menundukkan kepalanya.
"Ada apa, jingga?" tanya Satria lagi. Tidak biasanya Jingga seperti ini.
"Saya mau berhenti bekerja."
Sontak mata semua orang melebar begitu juga dengan Satria. Kalfa yang berada di pangkuan sang ayah menatap nanar ke arah Jingga.
"Saya disuruh kembali ke Jogja malam ini juga," jelasnya.
Satria hanya terdiam, yang dia pikirkan ini adalah putranya. Dia yang merasa nyaman dengan Jingga harus berpisah. Apa itu mudah? Belum lagi Kalfa juga harus berpisah dengan Aleena.
"Apa tidak bisa kamu tolak keinginan keluarga kamu itu?" Satria mulai mencoba bernegosiasi dengan hati yang ketar-ketir. Kalfa sudah terdiam dan menunduk dalam.
"Udah ... pergi aja semuanya. Gak ada yang sama Kal." Kalfa turun dari pangkuan Satria dan berlari menjauh dari semua orang.
Jingga segera bangkit dari duduknya dan mengejar Kalfa. Sungguh hatinya sakit mendengar ucapan Kalfa barusan.
"Kalfa!" teriak Jingga. Dari arah belakang Satria ikut mengejar Kalfa.
Jingga berhasil memeluk tubuh Kalfa dari belakang. Kalfa terus memberontak, tetapi Jingga menahannya dengan sangat kuat.
"Udah pergi! Kal gak apa-apa," teriaknya dengan suara serak.
"Maafkan Kakak, Kal," sesal Jingga.
Satria memeluk tubuh Kalfa. Dia mengusap lembut putra angkatnya ini.
"Kenapa semuanya gak sayang sama Kal? Ibu dan ayah Kal berdarah-darah tinggalin Kal. Papih mau bawa Kal jauh dari teman Kal dan sekarang Kakak mau pergi dari Kal."
"Kal gak nakal, kenapa kalian semuanya jahat kepada Kal?"
Hati Satria sakit mendengar ungkapan terdalam dari Kalfa. Anak ini masih menyimpan trauma atas kepergian orang tuanya.
Radit yang menatap mereka dari jauh hanya menghela napas kasar. Sebagai psikolog, dia melihat ada luka yang menganga sangat lebar di dalam diri Kalfa.
"Trauma Kalfa sangat parah. Kematian kedua orangtuanya membawanya pada ketakutan yang luar biasa. Sampai sekarang ketakutan itu masih ada," terang Radit. Semuanya yang ada di sana menatap iba ke arah Kalfa.
"Om Satria sedikit menutup luka yang Kalfa rasakan. Akan tetapi, perpisahan seperti ini yang akan menimbulkan luka itu tambah dalam. Si triplets adalah teman pertamanya. Jingga sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. Sekarang, dia harus berpisah dengan teman-temannya juga pengasuhnya sama halnya ketika dia ditinggal oleh kedua orang tuanya. Menyembuhkan trauma itu tidak mudah dan akan terus membekas sampai di dewasa," terang Radit.
"Malang sekali nasibmu, Kalfa," ucap Nesha.
Satria berusaha menenangkan Kalfa yang terus saja berontak. Dia memeluk tubuh putra angkatnya tersebut.
"Papih, kembalikan Kal ke jalanan lagi saja. Biar Kal bisa bernasib sama seperti orang tua Kal."
Air mata Satria mengalir begitu deras mendengar ucapan Kalfa. dia menggeleng dengan cepat.
"Kalfa anak Papih. Kalfa aja terus bersama Papih. Kita akan selalu berdua."
Jingga menunduk dalam serta menyeka ujung matanya. Hatinya sangat sakit ketika mendengar penuturan yang teramat memilukan dari Kalfa. Dia sudah sangat jahat kepada Kalfa. Jahat sekali.
Satu jam berselang, Kalfa sudah mulai tenang. Namun, pandangan kosong masih terlihat jelas di wajahnya.
Satria sudah menyuruh Rifal untuk mengambil uang tunai karena dia tidak bisa meninggalkan Kalfa yang masih terguncang. Satria dan juga Jingga serta Kalfa kini sudah berhadapan. Satria memberikan ialah terakhir kepada Jingga.
"Itu dua kali lipat dari gaji kamu," ujar Satria.
Jingga terkejut dengan ucapan Satria. Dia menatap intens wajah Satria.
"Sebenarnya saya berat melepaskan kamu Karen putra saya sudah sangat menyayangi kamu. Akan tetapi, saya juga tidak bisa memaksa kamu. Terima kasih sudah menyayangi dan menjaga Kalfa dengan tulus. Terima kasih sudah mau berkerja dengan saya."
Bulir bening pun menetes di wajah Jingga. Dia menggelengkan kepalanya.
"Saya yang seharusnya bertema kasih, Pak," balas Jingga.
Jingga sudah mengemasi barang-barang miliknya. Mereka juga sudah kembali ke rumah Satria.
"Maaf saya tidak bisa mengantar," imbuh Satria.
Jingga mengangguk memberi, sedangkan Kalfa sudah tidak mau melihat Jingga. Dia masih marah, dua hanya memandangi gelang pemberian dari Aleena.
Ketika Kalfa hendak kembali ke rumahnya, Aleena mendekat dan memberikan gelang manik-manik lucu kepada Kalfa.
__ADS_1
"Semoga nanti kita bisa beltemu lagi."