
Resign-nya Radit dibantu oleh Addhitama agar semuanya cepat selesai. Addhitma juga menginginkan anak dan menantunya cepat kembali ke Indonesia. Bukan tanpa alasan, hamil triplets tidaklah mudah. Pasti akan banyak keluhan yang nantinya akan Echa rasakan. Di Jakarta, Echa pasti akan diurus dengan sangat baik oleh Ayanda.
Kehadiran Genta membuat Echa sangat bahagia. Genta memeluk hangat tubuh Echa dan mengusap perut Echa yang sudah terlihat membuncit.
"Cicit-cicit Kakek," ucapnya.
"Besok pagi kita akan terbang. Kamu harus istirahat dulu. Perjalanan kita cukup lama." Echa mengangguk patuh.
"Kamu tidak memberitahu orang rumah?" Dengan cepat Echa menggeleng.
"Biar jadi kejutan, Kek," jawab Echa dengan senyum manisnya.
Radit baru saja tiba di rumah dan langsung mencium tangan Genta dan mencium kening sang istri.
"Anak-anak nakal gak?" Radit bertanya dengan tangan yang mengusap lembut perut sang istri.
"Mereka baik hari ini."
"Kek, aku bersih-bersih dulu, ya." Radit dan Echa meninggalkan Genta di ruang keluarga dengan senyum yang mengembang dengan sempurna.
"Inilah balasan dari kesedihan kamu di waktu kecil. Memiliki suami yang luar biasa sayangnya kepada kamu," gumam Genta.
Radit menggandeng tangan istrinya menuju ruang keluarga di mana Genta berada.
"Maaf, Kakek baru bisa jenguk kamu di sini. Kondisi Kakek kemarin sedang tidak sehat."
"Gak apa-apa, Kek. Maaf juga, Echa gak bisa jenguk Kakek di sana." Echa memeluk erat tubuh sang kakek.
"Kamu tetap cucu kecil, Kakek." Echa tersenyum menatap manik mata sayu Genta.
"Makasih, sudah mau menerima Echa menjadi cucu Kakek," ucapnya tulus.
"Kakek tidak suka kamu berbicara seperti itu. Kamu adalah cucu Kakek dan beberapa perusahaan Kakek pun akan Kakek serahkan kepada kamu." Ucapan serius yang Genta lontarkan.
Sungguh beruntungnya Echa memiliki kakek seperti Genta. Dibina menjadi wanita yang mandiri dan kuat oleh sang kakek selama tinggal di Ausi dan bekerja di perusahaan Genta. Bentakan sering Echa terima, jika memang dia salah. Genta akan menjadi atasan, jika berada di kantor. Sedangkan jika berada di rumah, dia akan menjelma menjadi Kakek yang sangat baik hati dan juga hangat. Dia juga sering meminta maaf, jika dia merasa sudah terlalu kasar kepada Echa.
__ADS_1
Echa mengajak Genta untuk makan di rumahnya. Di mana menu kesukaan Genta sudah Echa siapkan. Mereka makan dengan penuh obrolan yang mengasyikkan.
"Kakek pulang, ya. Besok pagi Kakek akan menjemput kalian. Rumah ini akan dijaga oleh orang suruhan Kakek."
"Makasih, Kek," jawab Radit.
"Tidak usah sungkan, jika kalian membutuhkan sesuatu datanglah temui Kakek. Meskipun, Kakek tahu kalian tidak akan pernah melakukan itu." Senyum tipis terukir di wajah Genta.
"Kamu adalah pria pekerja keras dan Kakek yakin kamu akan menjadi suami yang sangat hebat untuk istrimu." Genta menepuk pundak Radit dengan pelan.
"Jaga cucu dan cicit-cicit Kakek," pinta Genta sebelum dia pergi menuju hotel di mana dia akan beristirahat.
"Pasti, Kek."
Bukannya di rumah Radit tidak ada kamar kosong. Masih ada dua kamar kosong untuk tamu. Namun, Genta lebih memilih untuk tidur di hotel karena dia harus menjalani serangkaian terapi terlebih dahulu sebelum tidur.
"Aku gak sabar ingin cepat ketemu mereka di sana." Radit tersenyum dan merangkul pundak sang istri.
"Besok kita akan pergi dan rasa rindumu akan terobati."
"Capek gak?" Radit sudah memangku kaki Echa. Tangannya sudah mulai memijat lembut kaki sang istri.
"Sedikit Ay. Mungkin karena jarang digerakin, makanya jadi mudah lelah." Radit tersenyum sambil mengusap pipi sang istri.
"Kamu tidur, ya. Biar aku yang pijitin kaki kamu." Echa mengangguk patuh.
"Maaf, merepotkan," katanya. Hanya sebuah senyuman yang menjadi jawaban dari Radit. Kemudian, dia mencium kening Echa.
"Good night, Sayang."
Tak lama dipijat, terdengar dengkuran halus. Senyum Radit melengkung dengan sempurna. Dia mengecup perut sang istri sebanyak tiga kali.
"Jangan nakal ya, Nak. Biarkan Bubu istirahat karena besok kita akan melakukan penerbangan jauh."
Keesokan paginya, Genta sudah menjemput Radit dan Echa. Sebelumnya mereka mengajak Genta sarapan terlebih dahulu di sebuah tempat yang menjual aneka makanan dan masakan Indonesia. Echa ingin menikmati semangkuk bubur ayam yang hampir tidak pernah dia temui.
__ADS_1
Setelah menikmati sarapan. Echa memilih-milih cemilan khas Indonesia untuk bekalnya di pesawat. Seperti anak kecil, begitulah Echa. Namun, Radit tidak akan mempermasalahkan. Bukan tanpa sebab, memasuki usia kandungan empat bulan membuat Echa senang makan makanan ringan. Dokter pun tidak melarang. Asal, jangan keseringan. Puas berbelanja dan membawa dua kantong plastik besar cemilan, mereka menuju bandara di mana pesawat pribadi Genta sudah menunggu mereka.
Di dalam pesawat, Radit sudah mengatur kenyamanan tempat duduk sang istri. Echa hanya tersenyum ke arah Radit, sambil sesekali menyuapi cemilan ke mulut Radit.
Genta hanya menggeleng melihat kedua cucunya yang selalu tertawa riang. Seolah kebahagian terus menyelimuti mereka.
Lama mengudara, tiba sudah Echa di Jakarta tepat di malam hari. Hatinya sangat bahagia karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayah, Mamah, Papa serta keluarganya yang lain.
"Capek gak?" Echa menggeleng dan merebahkan kepalanya di pundak sang suami.
Tibanya di rumah sang Mamah, kening Echa mengkerut ketika melihat mobil yang sangat dia kenali terparkir di halaman luas sang papa.
Ketika Echa masuk meninggalkan Radit dan juga Genta, tiba-tiba tubuhnya mematung di tempatnya. Rangkulan tangan Radit membuat Echa bergeming di tempatnya dengan nafas yang tidak teratur.
Ketika Echa membuka suara, sambutan hangat dari ketiga orang tuanya membuat Echa melengkungkan senyum. Perlakuan mereka terhadap Echa membuat Riana mendengus kesal begitu juga dengan Amanda. Ada kata-kata yang membuat Echa melirik tajam ke arah dua orang yang terlihat acuh akan kedatangannya.
"Kenapa gak bilang kalo mau pulang? Bisa Papa jemput," ujar Gio.
"Echa dijemput Kakek, Pa." Echa memeluk tubuh Gio dengan penuh kerinduan.
"Dit, ajak istrimu masuk ke kamar. Kasihan, dia pasti lelah." Radit mengangguk patuh.
Tibanya di kamar, Radit membantu istrinya membersihkan badan terlebih dahulu. Barulah Echa naik ke atas tempat tidur. Radit sudah memangku kaki istrinya untuk memijat.
"Ay, sini." Echa sudah menepuk tempat yang berada di sampingnya.
Echa memeluk tubuh sang suami dengan sangat erat. Menelusupkan wajahnya ke dada bidang Radit.
"Kenapa?" Radit sudah bisa menebak ada yang sedang Echa pikirkan.
"Sepertinya ada yang sedang tidak beres antara Bunda dan juga Ayah."
"Sstt, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Mungkin itu hanya perasaan kamu saja."
...****************...
__ADS_1