
Radit bersujud di depan kaki Echa dengan air mata yang menetes. Echa hanya mematung di tempatnya.
"Maafkan aku," lirihnya.
"Aku dijebak, aku gak ingat apa-apa. Dan aku gak tau apa yang sudah aku lakukan."
Rintihan dan desahan kenikmatan yang pernah Echa dengar, kini terngiang-ngiang kembali di telinganya.
Echa memejamkan matanya sejenak, mengatur napasnya perlahan. Dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh lemah.
"Bangunlah, Kak." Echa memegang pundak Radit dan membantunya berdiri,
Echa sangat melihat raut kepiluan di manik mata Radit. Apa Radit adalah lelaki yang lemah? Kenapa dia harus menangis seperti ini? Begitulah batin Echa.
"Aku sudah mengikhlaskan hubungan kita. Mau Kakak dijebak atau melakukan karena mau sama mau, aku bisa apa? Nasi sudah jadi bubur kan."
"Bahagiakan dia, pertanggungjawabkan perbuatan Kakak. Mungkin jodoh kita cukup sampai di sini. Kakak hanya jadi penawar lukaku untuk sementara, bukan untuk selamanya. Karena Kakak pun malah membuat luka baru lagi di hati aku," ucapnya.
"Bhal ...."
Echa mundur beberapa langkah ketika Radit hendak menggenggam tangannya.
"Aku akan baik-baik saja, percayalah. Jaga diri kamu baik-baik." Seulas senyum Echa berikan untuk Radit. Perlahan tapi pasti, Echa meninggalkan Radit seorang diri.
Apa yang Echa katakan tidak sebanding dengan apa yang Echa rasakan. Dia terluka, hatinya sangat sedih dan juga perih jika harus mengingat perbuatan Radit kepadanya.
Lingkaran tangan di perut Echa membuat langkahnya terhenti. Dia sangat mendengar jelas isakan lirih yang keluar dari bibir Radit. Air mata Radit pun membasahi pundak Echa.
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Bhal. Aku sangat mencintai kamu."
Semakin sakit hati Echa mendengarnya. Bukan hanya Radit yang mencintainya, tapi Echa juga mencintai Radit. Rasa sayang dan cintanya melebihi rasa sayangnya terhadap Riza.
Echa membalikkan tubuhnya dan dia membiarkan tangan Radit masih memeluk pinggangnya. Wajah Echa sudah dibanjiri air mata. Begitu juga Radit. Echa menatap manik mata Radit seraya tersenyum dengan air mata yang sudah menetes.
"Aku juga mencintai kamu, tapi ada yang lebih membutuhkan pertanggung jawaban kamu. Jadi, lupakanlah aku. Belajarlah mencintainya sebagaimana kamu mencintai aku," ucap Echa dengan suara sangat berat.
__ADS_1
"Seiring berjalannya waktu, kita akan saling melupakan. Semua rasa yang pernah kita miliki satu sama lain akan pudar, kemudian hilang karena terkikis waktu. Aku ikhlas melepaskan kamu. Jangan jadi orang pengecut, pria sejati akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat."
Radit menarik tangan Echa dan dia memeluk Echa dengan sangat eratnya. Echa pun membalasnya karena ini akan menjadi pelukan terakhir untuknya dan juga Radit.
"Aku harap ini menjadi pertemuan dan pelukan kita yang terakhir." Radit tercengang mendengarnya.
"Permisi." Echa melepaskan tangan Radit yang masih memeluknya. Dia membuka pintu kamarnya meninggalkan Radit di depan pintu kamar dengan ribuan penyesalan.
Echa bersandar di pintu dalam kamarnya dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Dadanya sangat sesak. Dan tubuhnya pun luruh ke lantai. Dia menangis dengan menelungkupkan wajahnya di atas kaki yang dia tekuk.
"Ayah, kenapa Echa harus merasakan sakit hati lagi?"
Ketika Echa berada dalam situasi seperti ini, yang dia ingat dan dia ingin peluk hanyalah ayahnya. Ayahnya adalah sosok pria pertama yang sangat dia cintai
Radit pulang dengan wajah yang sangat frustai. Tidak ada gairah pada wajahnya. Seperti orang yang benar-benar kehilangan arah.
Dengan langkah gontai, Radit menyusuri pemakaman hampir tengah malam. Ketika tiba di satu makam dia langsung bersimpuh dan menumpahkan segala kesakitannya.
"Mamih, apa benar Radit sudah melakukan hal yang melanggar norma agama? Apa benar Radit sudah menodai wanita itu? Radit gak ingat Mih," lirihnya.
"Radit hanya mencintai kekasih Radit. Radit hanya ingin dia, Radit sangat mencintai dia. Kenapa harus seperti ini? Apa salah Radit Mih? Kenapa semesta seakan tidak mengizinkan Radit untuk bahagia? Kenapa Mih?"
"Mih, izinkan Radit untuk ikut bersama Mamih. Radit sudah lelah Mih," keluhnya.
Suara hati seorang anak yang sangat frustai akan hidup dan cintanya. Anak yang baru saja membuka diri untuk mengenal dunia, kini malah disakiti oleh dunia.
"Kamu anak baik, Nak. Mamih yakin kamu tidak melakukan itu."
Suara itu sangat nyata dan belaian tangan itu sangat terasa di kepala Radit yang sedang tertidur di samping pusara sang Mamih.
Namun, ketika dia membuka matanya, hanya gundukan tanah yang dia lihat. Air matanya pun mengalir kembali.
"Andai Mamih masih ada, mungkin Radit tidak akan sehancur ini," lirihnya.
Radit mengusap pusara sang Mamih dengan kepiluan yang mendalam. Dia mengecup pusara itu.
__ADS_1
"Tunggu Radit, Mih. Sebentar lagi Radit akan menyusul Mamih."
Radit pun pergi meninggalkan pemakaman sang Mamih dan melangkahkan kaki menuju rumahnya. Dia memejamkan matanya sebentar di sana kemudian dia bertolak ke Canberra.
Hari-hari yang dilalui Radit dan Echa teramat menyakitkan. Bukan hanya Echa yang merasakan sakit luar biasa. Radit pun merasakan hal yang sama. Bisa dibilang lebih hancur dari Echa.
Ketika hati Echa sakit, masih ada sahabat dan keluarganya yang selalu memberikan pelukan hangat. Berbeda dengannya, disaat dia memerlukan dukungan hanya keputus asaan yang dia terima. Papihnya seakan tidak mau membantunya untuk mencari kebenaran. Sahabatnya seakan menyalahkan Radit dan menyuruh Radit untuk bertanggung jawab.
Betapa berat beban yang Radit pikul seorang diri. Dia masih mencoba untuk bertahan karena kakaknya.
"Apa yang Mamih katakan bisa jadi emang itu kenyataannya. Jangan buat Papih sedih dan merasa bersalah lagi."
Demi Papihnya dia rela menahan rasa sakitnya seorang diri. Menanggung beban yang sangat berat di pundak rapuhnya. Semuanya dia lakukan demi sang Papih, meskipun papihnya tidak mau membantunya malah menyalahkannya.
Dua bulan sudah Radit dan Echa berpisah. Mereka sama-sama belum bisa melupakan satu sama lain. Kehadiran Doni pun tidak membuat Echa kembali membuka hatinya.
"Cha, gua benar-benar sayang sama lu." Echa hanya tersenyum.
"Gua gak mau pacaran dulu. Mau fokus sekolah dan menata hati gua yang masih hancur."
Selalu jawaban itu yang Echa berikan. Bukan tanpa alasan, hati Echa belum sepenuhnya sembuh. Di lubuk hatinya paling dalam, dia masih mengharapkan Radit. Orang yang Tuhan kirimkan entah dari mana, tapi mampu menyembuhkan luka di hati Echa.
Di belahan dunia yang berbeda, Radit hanya menghabiskan waktunya di dalam apartment. Tidak ada keinginan untuknya keluar rumah dan bergaul. Seakan hidupnya kembali ke warna yang monokrom.
Bel pun berbunyi, membuat Radit bangkit dari posisi tidurnya. Ketika pintu dibuka, Fani sudah ada di depan apartment milikinya.
"Mau ngapain kamu ke sini?" Ya, Radit berbicara bahasa Indonesia karena Fani pun asli Indonesia yang menimba ilmu di negara kangguru.
"Aku hamil Dit." Fani mengambil terstpack yang ada di dalam tasnya. Kemudian menunjukkannya ke arah Radit.
"Nggak ... Nggak mungkin. Itu bukan anak aku," bentaknya.
"Ini anak kamu Dit. Kamu yang udah menanam benihnya di rahim aku," sahut Fani yang sudah terisak.
***
__ADS_1
Semoga dapat menemani malam Minggu kalian ...
Jangan lupa komen dan jempolnya. Kalo ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun timbun,