
Keberangkatan Radit ke Kota Semarang membuatnya galau sendiri. Ingin rasanya dia menolak permintaan sang Papih. Namun, ini adalah tanggung jawabnya.
"Yang, kalau ada apa-apa langsung hubungin aku, ya?" Ucapan yang sudah lebih dari sepuluh kali Radit ucapkan pada sang istri.
"Iya, Ay. Iya."
Sungguh lebay sekali suaminya ini. Namun, Echa juga bahagia karena Radit memang tidak bisa jauh dari keluarga.
Tangannya terus memeluk tubuh sang istri. Terdengarlah pekikan suara dari sang kakak tercinta membuat Radit mendengus kesal.
"Aku berangkat, ya." Echa mengangguk seraya tersenyum. Tak lupa dia mencium tangan sang suami Dibalas dengan kecupan hangat di keningnya.
"Pamit dulu sama anak-anak," titah Echa.
Mereka berdua turun langsung menuju ruang keluarga. Di mana ketiga anak mereka sedang bermain dengan mainan kerincingan. Ada yang sedang tengkurap dan ada juga yang menangis karena tidak bisa membalikkan badan lagi ketika lelah tengkurap.
Radit menggendong satu per satu anaknya. Dia cium dan dia bisikkan kata-kata penuh sayang yang membuat ketiga anaknya tersenyum senang.
"Jangan nakal, ya. Jangan buat Bubu kerepotan," ucapnya pada ketiga buah hatinya.
Echa mengantar sang suami sampai mobil. Lagi-lagi Radit mengecup hangat kening Echa. "Aku sudah menyuruh Mbak Nesha untuk nemenin kamu di sini. Ayah juga kayaknya pulang malam. Mamah lagi ke Singapura nemenin Papa," terangnya.
"Iya, tadi Mbak Nesha udah chat kok." Echa melambaikan tangan ketika mobil itu sudah pergi.
Bahagia sekali menjadi dirinya. Dimanja dengan segala kemewahan oleh suami yang sangat pengertian. Namun, Echa bukanlah wanita yang senang berbelanja. Dia berbelanja hanya seperlunya saja.
Jiwa mudanya sudah hilang setelah memiliki tiga buah hati sekaligus. Jika, belanja pun yang dia cari adalah perlengkapan ketiga buah hatinya. Apapun yang lucu pasti dia beli untuk si triplets.
Mengajak main ketiga anaknya sudah menjadi kegiatannya sehari-hari. Makan pun sambil menemani ketiga putri mereka.
"Kakak Na udah ngantuk, ya. Mimi dulu, ya." Echa mengangkat tubuh Aleena. Putri pertamanya ini sangatlah baik. Tidak pernah rewel sekalipun sedang sakit. Seakan menjadi contoh yang baik untuk kedua adiknya.
Setelah Aleena terlelap, giliran Aleesa yang mulai rewel. Echa dengan sabarnya menimang-nimang Aleesa, tak perlu waktu lama putri keduanya pun terlelap.
"Mbak, tolong liatin Aleena sama Aleeya dulu, ya. Echa mau naruh Aleesa dulu." Mbak Ina yang sedang sibuk membersihkan dapur segera menuju ruang keluarga.
Lengkungan senyum terukir indah di wajah Mbak Ina ketika melihat tiga bayi lucu dan cantik. Namun. dia tidak berani menyentuhnya. Ayah dari ketiga bayi ini terus mengingatkan untuk steril. Sungguh ayah yang over protektif.
Echa kembali ke ruang keluarga, kini dia membawa Aleena. Si Putri sulung kebanggaan Addhitama. Wajahnya yang sangat mirip dengan Radit dan mendiang mamih mertua, membuat Addhitama sangat bahagia. Bukan berarti Addhitama tidak menyayangi kedua adik Aleena. Tidak begitu.
"Satu lagi nih, si anak Bubu yang sangat pintar. Saking pintarnya selalu buat Bubu pusing," kekeh Echa sambil mencium pipi gembul Aleeya.
Untuk menidurkan Aleeya membutuhkan tenaga ekstra. Bagaimana tidak, Aleeya harus diajak main terlebih dahulu. Setelah dia lelah bermain dan tertawa barulah dia terlelap. Merawat tiga anak yang memiliki keunikan masing-masing memang melelahkan. Namun, membawa kebahagiaan tersendiri untuknya.
Setelah anak-anaknya terlelap, Echa keluar kamar untuk mencuci pakaian si triplets. Lelah memang, tetapi inilah kewajibannya. Ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dia tidak ingin melihat anaknya seperti dirinya waktu kecil.
Ketika anaknya tertidur, Echa lebih senang menatap wajah damai ketiga anaknya. Dua anaknya wajahnya sangat mirip dengannya. Sedangkan yang satunya mirip dengan Radit.
Suara seseorang membuat Echa membalikkan badan. Sudah ada Nesha dan Rio yang datang.
"Aunty." Rio segera berhambur memeluk tubuh Echa. Anak Rindra yang satu ini sangatlah lengket kepada Echa.
"Belajar apa hari ini?" Rio sangat antusias memperlihatkan hasil belajarnya kepada Echa. Rio terus bercerita perihal ini dan itu.
"Pintar banget si keponakan Aunty," pujinya.
Echa tersenyum melihat ke arah Nesha yang tengah menenteng tas mewah. Echa tahu harganya di atas lima puluh juta. Nesha merasa tidak nyaman dengan tatapan Echa.
"Ini pemberian dari papihnya Rio." Echa pun tersenyum.
"Untuk memperlihatkan jati diri dan kemampuan diri," balas Echa.
Nesha hanya menghela napas kasar. Menatap ke arah tasnya dengan tatapan nanar.
"Sebenarnya Mbak malu," ucap Nesha.
Echa mengerutkan dahinya tidak mengerti. Di mana para wanita berlomba-lomba memamerkan tas branded. Sang kakak malah berkata seperti itu.
"Mbak gak pantas buat bawa tas macam ini. Biasanya Mbak cuma beli tas yang harganya lima puluh ribu. Itu pun kalo tasnya belum butut belum Mbak ganti," terangnya.
__ADS_1
Echa tercengang mendengar ucapan Nesha. Dia penasaran siapa Nesha sebenarnya? Jujur saja, Echa baru bisa akrab dengan Nesha beberapa bulan ini. Itu pun karena Nesha sudah berbaik hati menunggu Echa ketika dia terkena tusukan oleh ibu sambungnya.
"Mbak, boleh Echa tanya sesuatu?" Nesha mengangguk.
"Tapi, Mbak jangan marah atau tersinggung, ya." Nesha mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Kenapa Mbak bisa menjadi suami Abang? Bukankah Abang pacarannya dengan ...."
"Fani maksud kamu?" sambung Nesha seraya tersenyum.
"Jodoh rahasia Tuhan 'kan. Mbak juga gak menyangka bisa berjodoh sama anak dari keluarga berada," jelasnya.
"Mungkin kamu penasaran siapa Mbak? Mbak adalah anak piatu yang ditinggal pergi oleh ibu Mbak ketika Mbak berumur tujuh belas tahun. Dibuang oleh ayah Mbak sendiri karena dia takut harta milik ibu Mbak, Mbak ambil semua," ungkapnya.
"Dibuang?" Nesha pun mengangguk.
Echa teringat akan dirinya sendiri. Nasibnya dengan Nesha hampir sama. Bedanya, Echa dibuang di usia balita sedangkan Nesha di usia remaja.
"Dari usia tujuh belas tahun, Mbak harus bisa menghidupi diri sendiri. Belum lagi buat bayar biaya sekolah. Belum kontrakan, makan dan lainnya."
"Maaf, Mbak. Echa kira ...."
"Hidup Mbak penuh kesusahan, Cha. Tidak seperti kamu. Masuk ke dalam keluarga Addhitama yang notabene pengusaha sukses membuat diri Mbak minder. Gaya hidup kita yang berbeda, pergaulan yang beda membuat Mbak merasa gak pantas. Untung saja, papihnya Rio tidak mempermasalahkan itu semua. Dia malah mengarahkan Mbak harus begini dan begini. Dia juga memberi tahu bagaimana caranya agar Mbak itu percaya diri. Bagaimana harus make up jika menghadiri acara."
Echa tersenyum lega mendengar ucapan dari Nesha. Setidaknya, Rindra sudah banyak berubah.
"Abang banyak berubah setelah bersama Mbak," tutur Echa.
"Mbak mencoba menerima kekurangan papihnya Rio. Sebaliknya juga begitu. Rumah tangga jika terus menuntut kesempurnaan akan hancur. Berumah tangga itu menyatukan dua orang yang berbeda, mengisi kekosongan yang ada. Serta melengkapi satu sama lain."
Ya Tuhan, wanita yang benar-benar baik dan sabar.
"Echa setuju dengan itu. Echa sangat bahagia Mbak bisa merubah sifat jelek Abang. Echa juga melihat, Abang sangat sayang keluarga." Nesha membenarkan ucapan Echa.
Mereka asyik bertukar cerita dan juga berbagi pengalaman dalam mengurus anak dan juga menjalani biduk rumah tangga.
"Manisnya suami kamu," imbuh Nesha.
Echa hanya tersenyum mendengar ucapan dari Nesha. "Kelewat manis itu, Mbak," sahut Echa.
Obrolan mereka terus mengalir sambil bermain dengan si triplets. Menyuapi si triplets dengan MPASI yang membuat mereka tertawa bersama. Kedua menantu Addhitama sangatlah luar biasa. Sama-sama memiliki hati yang baik dan berparas cantik.
Tak terasa senja sudah tiba. Rindra sudah datang menjemput istri serta anaknya.
"Mbak pulang dulu, ya. Papihnya Rindra udah nunggu di luar." Echa mengangguk.
"Kak Iyan, kapan-kapan main ke rumah Iyo, ya." Iyan mengacungkan dua jempolnya.
Sedari tadi Rio merasa bosan karena si triplets tidur sangat nyenyak. Dia terus merengek ingin pulang. Hingga Iyan datang dan Rio bermain dengannya. Echa melengkungkan senyum ketika melihat Iyan bersikap normal di hadapan Rio. Baru kali ini pula, Echa melihat Iyan bermain dengan anak manusia.
Bisikan Radit mampu membuat tiga bayi kembar lucu menjelma menjadi anak-anak yang baik. Tidak pernah rewel dan selalu asik bermain sendiri. Jadi, Echa masih bisa mandi atau pun makan dengan tenang. Apalagi, di rumah hanya ada Iyan. Riana sedang ada tugas sekolah yang mengharuskannya menginap di sana.
"Yang, Ayah udah pulang?" Begitulah isi pesan yang Radit kirimkan.
"Gak ada siapa-siapa di rumah Ay. Lagi pula, anak-anak udah tidur. Aku juga mau tidur. Tadi siang gak sempet tidur karena ada Mbak Nesha sama Rio." Bukannya membalas pesan, Radit malah menelponnya.
"Iya."
"Sekarang kamu istirahat, ya. Selamat begadang sendirian."
"Hem."
Radit pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban kesal dari sang istri.
"Besok jadi pulang? Apa nambah hari lagi?"
"Belum tau, Yang. Masih banyak yang belum beres."
Hanya helaan napas kasar yang Radit dengar. Dia hanya mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Kamu istirahat, ya. Aku juga mau istirahat.
"Miss you."
Ingin rasanya Radit melompat kegirangan. Selama memiliki anak baru kali ini Echa mengucapkan kata-kata mesra.
Dengusan kesal keluar dari mulut Rifal. Radit sengaja me-loudspeaker panggilannya dengan sang istri. Ingin membuat sang kakak iri.
"Adik laknat lu!" umpat Rifal.
Radit hanya tertawa dan dia merebahkan kepalanya di kursi pesawat. Ya, dia hanya membohongi istrinya. Padahal pekerjaannya sudah selesai. Radit merengek ingin pulang layaknya anak kecil yang membuat Rifal jijik dengan kebucina. sang adik.
"Setelah menikah, Kakak akan merasakan bagaimana tidak enaknya tidur hanya berteman guling."
Itulah yang Radit katakan. Lagi-lagi Rifal berdecak kesal. Kalimat itu seperti kalimat mengejek.
Pukul 23.15 Radit tiba dirumahnya. Mbak Ina sedikit terkejut ketika melihat Radit sudah berada di depan pintu.
"Kok Mas Radit ...."
"Sengaja bikin kejutan buat istri saya," sambungnya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam.
Sebelum masuk ke kamarnya, Radit terlebih dahulu membersihkan tubuhnya di kamar mandi bawah. Dia selalu mengingat pesan dari Iyan.
Kalau abis berpergian, jangan langsung nyentuh si trio tuyul. Bersih-bersih badan dulu. Selain kotor biasanya banyak yang 'ngikutin'. Anak bayi sangat sensitif.
Setelah di rasa bersih, Radit masuk ke dalam kamar. Di mana hanya lampu tidur yang menyala. Ketiga anaknya sudah terlelap dengan damainya. Radit menghampiri sang istri. Mengecup keningnya sangat lembut.
Namun, dia tidak bergegas naik ke tempat tidur. Dia memilih untuk mandi terlebih dahulu. Mengganti pakaiannya dengan piyama yang biasa dia gunakan.
Tangan Radit melingkar di perut Echa yang tengah miring ke arahnya. Sekilas dia mengecup bibir Echa. Kemudian mendekatkan wajahnya ke kening sang istri. Bibirnya terangkat dengan sempurna ketika melihat para wanita kesayangannya tidur dengan damainya.
Echa merasa ada yang sedang menyentuh dadanya. Apalagi sentuhan itu tidak berhenti di sana. Malah menjalar ke mana-mana. Dengan mata yang terasa sangat lengket, Echa membuka mata.
Matanya melebar ketika ada seseorang yang sudah membaringkan kepala di bantalan miliknya. Mulutnya hendak berteriak, tetapi wangi maskulin orang yang ada di hadapannya membuat Echa menyunggingkan senyum.
"Ay," panggil Echa.
Radit yang sedang asyik sendiri mendongakkan kepala dengan senyum manisnya. Segera dia kecup bibir merah Cherry istrinya. Menuangkan rasa rindu. Padahal belum sampai dua puluh empat jam mereka berpisah. Namun, Radit sangat merindukan istrinya.
"Katanya besok baru pulang," imbuh Echa, seraya mengusap lembut pipi suaminya yang sangat mulus.
"Sengaja, ingin bikin surprise." Echa tertawa dan mengecup singkat bibir sang suami.
"Miss you." Echa meletakkan wajahnya di dada bidang sang suami yang sebagian kancingnya sudah terbuka.
"Miss you too, Sayang," balas Radit seraya mengecup ujung kepala sang istri.
"Besok kita ke dokter kandungan, ya. Kita periksa kondisi kamu." Echa menatap ke arah atas. Menatap manik mata Radit sekilas.
"Ya," jawab Echa.
Radit mengeratkan pelukannya. "Aku sudah tidak bisa menahannya, Sayang." Echa membalas pelukan sang suami.
Dia merasakan ada yang sudah mengeras. Sebenarnya Echa tidak keberatan untuk membantu sang suami. Namun, Radit menolaknya. Dia tidak ingin sang istri kelelahan. Dia tidak ingin hanya menikmatinya sendiri. Dia ingin mereka berdua menikmati bersama.
"Sabun di kamar mandi cepat habis apa itu ulah kamu?" Pertanyaan Echa membuat Radit tertawa.
"Kenapa harus bertanya jika kamu sudah tahu jawabannya," jawab Radit.
Echa menggelengkan kepala dan tidak lagi membalas ucapan Radit. Matanya terlalu mengantuk. Tubuhnya terlalu nyaman berada di dalam pelukan sang suami. Dengkuran halus pun terdengar menandakan Echa sudah terlelap.
Tak hentinya Radit mengecup ujung kepala sang istri. Rasa cintanya terlalu besar dibanding nafsunya. Lebih baik di tersiksa dari pada istrinya yang harus menahan sakit tak terkira.
Ketiga anaknya pun seakan mengerti bahwa ayah dan ibu mereka sedang melepas rindu. Mereka tidak bangun untuk malam ini. Seakan bisikan Radit menjadi timer waktu untuk mereka. Sebelum Radit naik ke atas tempat tidur. Radit membisikkan sesuatu kepada si triplets.
"Ijinkan Baba berdua sama Bubu dulu, ya. Baba rindu sama Bubu. Kalian 'kan setiap hari selalu sama Bubu."
Ucapan itu mampu dimengerti oleh si triplets. Biasanya jam setengah satu malam mereka terjaga. Malam ini mereka masih terlelap dengan nyenyaknya.
__ADS_1