Yang Terluka

Yang Terluka
Aleesa


__ADS_3

Sehari menjalani tugas sebagai istri membuat Radit semakin mengerti akan Echa. Ketika mereka sama-sama libur, mereka berdua akan membagi tugas. Radit yang akan mengurus si triplets dan Echa yang memasok di dapur. Semenjak bekerja, akhir pekan adalah hari di mana Echa ingin memberikan sesuatu yang tidak suaminya dapatkan selama hari kerja. Masak-masakan kesukaan suaminya dengan tangannya sendiri.


Acara liburan mereka harus tertunda karena Aleesa demam. Hari ini pun Aleesa masih sangat rewel membuat Radit sedikit kewalahan. Sedangkan Aleeya sudah berlarian ke sana ke mari tidak ingin memakai baju.


"Aleeya!" Suara Radit sedikit meninggi membuat Aleeya yang tengah berlari terdiam. Dia menikah ke arah sang ayah yang sudah memperlihatkan tatapan tajamnya.


Aleeya pun mulai melangkahkan kaki menuju Radit dengan kepala yang tertunduk. Radit menghela napas kasar sebelum berbicara kepada anak bungsunya.


"Aleeya, dengar Baba," ucap Radit sambil menegakkan kepala Aleeya agar menatapnya.


"Aleeya Jagan nakal. Kalau habis mandi harus segera memakai baju. Tidak boleh berlarian atau bermain sebelum memakai baju. Paham?" Aleeya mengangguk pelan dengan mata yang sudah berair.


Radit memeluk tubuh putrinya dengan mencium pipi gembilnya. "Jangan nakal, ya. Harus jadi anak yang baik seperti Kakak Na dan Kakak Sa. Okay?"


Akhirnya, tuyul kecil itu bisa ditaklukkan. Namun, Aleesa tidak ingin turun dari gendongan Radit. Awal-awalnya Aleena dan Aleeya iri kepada Aleesa. Setelah Radit jelaskan akhirnya mereka mengerti.


"Sekarang kalian boleh main, tetapi tidak boleh ke dapur. Ada Bubu yang sedang masak. Kalian tahu 'kan bagaimana Bubu kalo sudah berteriak?" Ketiga anak Echa pun mengangguk seraya tertawa.


"A-i-mau," kata Aleeya.


"Acan," ucap Aleena.


Aleeya dan Aleena memilih untuk menonton televisi acara kartu. favorit mereka. Bernyanyi sambil menari itulah yang mereka lakukan. Sedangkan Radit sedang menggendong Aleesa yang sedang manja tak mau diturunkan.


"Masak apa, Yang?" tanya Radit.


"Aku lagi pengen sop tetelan sapi sama sosis bakar buat anak-anak," jawab Echa. Sejurus kemudian, tatapan sedih Echa terlihat.


"Demamnya masih turun-naik. Kalau tidak ada perubahan nanti kita bawa ke rumah sakit." Radit seolah tahu akan kekhawatiran Echa.


"Kamu lanjut masak aja, aku jagain anak-anak dulu." Echa hanya bisa mengangguk.


Ketika anak sakit, orang tua lah yang pusing. Echa takut, jika Aritmia yang dia derita menurun kepada salah satu anaknya.


Sedangkan Radit tertawa lepas melihat tingkah lucu kedua anaknya yang tengah menari. Lucu dan gemas yang Radit rasakan. Pantas saja mertuanya ingin mengasuh ketiga anaknya. Mereka memiliki tingkah lucu yang sangat menghibur. Sedangkan Aleesa terus berada di gendongan sang ayah.


"Kakak Sa makan, ya. Setelah itu minum obat. Nanti Baba akan temenin kamu tidur." Aleesa yang terlihat tak berdaya pun mengangguk pelan. Sudut bibir Radit pun terangkat sedikit.


"Radit mengambil bubur yang sudah Echa siapkan. Menyuapi Aleesa dengan telaten. Tidak dia hiraukan Aleesa yang selalu mengelap mulutnya ke baju Radit, yang terpenting Aleesa mau makan dan minum obat. Setelah itu Radit membawa Aleesa ke kamar. Mencoba menidurkannya sambil membacakannya dongeng.


Sedangkan si dua kurcaci yang lain sudah berlari ke dapur memeluk kaki sang ibu.


"Mam."

__ADS_1


Satu kata yang terucap dari mulut mereka yang membuat Echa tertawa. Echa mematikan sayur yang sudah matang. Dia berjongkok di hadapan kedua putrinya.


"Lapar?" Mereka pun mengangguk.


"Sosis bakar mau?" Aleeya dan Aleena pun bertepuk tangan gembira. Mereka mendorong meja khusus mereka makan ke ruang televisi membuat Echa bangga kepada anak-anaknya.


Setelah mereka duduk manis, Echa membawa dua piring berisi nasi, sosis bakar dan juga wortel serta brokoli tumis. Ditambah kecap Malika kesukaan mereka yang pastinya akan membuat mereka lahap. Benar saja, satu potong sosis sudah habis sedangkan nasi dan sayurnya masih tersisa. Echa pun tertawa dan memberikan mereka sosis lagi. Anak-anak Echa menjelma menjadi anak yang sederhana, tidak neko-neko. Makan hanya dengan kecap saja pun mereka sangat lahap.


Tak butuh waktu lama, piring mereka sudah kosong. Kedua bocah itu meminta air mineral kepada sang ibu karena Echa lupa membawakan mereka minum. Minum pun mereka menggunakan air mineral kemasan botol kecil. Mereka tidak mau minum di dalam gelas. Jadi, air mineral dalam botol kecil harus selalu tersedia untuk ketiga anaknya. Pintarnya, satu botol kecil itu pasti langsung habis tak tersisa.


"Kita minta endorse air mineral ke Wawa Arya, yuk," gurau Echa disambut anggukan kedua putrinya.


Setelah membersihkan piring bekas kedua anaknya makan. Meja makan khusus mereka pun sudah Echa bereskan.


"Sekarang, apa Bubu boleh makan?"


"Oyeh," jawab Aleena.


"Ya," kata Aleeya.


Echa tersenyum dan mencium pipi gembul kedua putrinya. Sebelum Echa mengambil makanan. Dia akan mengajak suaminya terlebih dahulu untuk makan bersama. Ketika pintu kamar putrinya terbuka, Echa melihat Radit sedang terlelap dengan damainya sambil memeluk tubuh Aleesa. Wajar saja suaminya ikut terlelap. Semalaman Radit begadang mengurus Aleesa karena Aleesa terus menangis dan tidak mau diturunkan dari gendongan Radit. Dengan Echa pun Aleesa tidak mau.


Echa menutup pintu kamar ketiga anaknya kembali. Dia memilih untuk ke dapur dan menyendokkan nasi beserta sayur. Seperti biasa, dua kurcaci itu pasti akan merecoki Echa jika sedang makan.


Tanpa berkata Aleeya sudah mengambil sendok milik Echa. Menyuapkannya ke dalam mulutnya.


"Pintarnya anak, Bubu," puji Echa pada Aleena.


Tidak ada makan santai jika memiliki anak balita. Mereka akan merecoki ibunya ketika ibunya makan atau juga ibunya akan makan dengan terburu-buru jika anak-anaknya sedang tertidur. Takut, anaknya menangis pas sedang enak-enaknya makan.


Ketika Echa hendak ke dapur, dia berpapasan dengan sang suami yang baru keluar dari kamar ketiga putrinya.


"Udah bangun?" tanya Echa.


"Maaf, aku ketiduran," jawab Radit yang kini duduk di meja makan.


"Mau makan sekarang?" tanya Echa.


"Suapin."


Echa tergelak mendengar kemanjaan sang suami. Echa mengambil nasi dan sayur untuk sang suami.


"Makannya sambil nemenin anak-anak, ya." Radit pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Kedua anaknya merasa cemburu ketika melihat sang ayah tengah disuapi oleh ibu mereka. Merkea terus memukul bahu Radit membuat Radit tertawa melihat tingkah laku kedua anaknya.


"Jangan nakal dong anak-anak Bubu," imbuh Echa.


Kedua anak mereka mengerucutkan bibir mereka. Menunjukkan bahwa mereka sedang marah.


"Sini-sini anak Baba." Radit memeluk tubuh Aleena dan Aleeya.


"Jangan nakal, harus nurut sama ucapan Bubu dan juga Baba," terang Radit.


"Kalau kalian jadi anak penurut, nanti Baba akan beliin kamu rumah boneka Barbie yang bagus," tutur Radit.


"Benel?" tanya balik Aleena dan Aleeya.


"Ya, Baba selalu akan menepati janji jika kalian menjadi anak baik." Mereka berdua pun berteriak gembira.


Berbeda dengan Aleesa, dia sedang dikelilingi oleh Ibu, Om Uwo dan juga Devandra. Panasnya suhu tubuh Aleesa bukan sakit biasa. Ada yang sedang bermain-main dengan Aleesa. Makhluk kiriman yang ingin melenyapkannya.


"Apa Aleesa akan baik-baik saja, Bu?" tanya Devandra.


"Tubuhnya sedang melawan, makanya panas. Ibu yakin, makhluk itu akan segera keluar dari tubuh Aleesa," tutur Ibu.


Benar saja, makhluk kerdil pun keluar dari tubuh Aleesa dengan wajah yang berdarah-darah.


"Bukannya dia yang berdarah-darah, malah aku," sungut si makhluk kerdil tersebut.


"Tau begini, pensiun aja jadi makhluk astral," gerutu si makhluk tersebut.


Devandra menghela napas lega ketika mengetahui Aleesa tidak kenapa-kenapa.


Aleesa turun dari tempat tidur dan berlari ke arah kedua orang.


"Bubu." Suara Aleesa membuat Echa tersentak. Matanya melebar ketika melihat Aleesa yang sudah sehat.


"Kamu udah sembuh, Nak," tanya Radit.


Aleesa mengangguk pelan dan malah berjoget mengikuti alunan musik.


"Ya ampun, gak boleh kecapean dulu, Aleesa," ucap Echa.


Lagi-lagi Aleesa tak menghiraukan ucapan sang ibu. Dia terus bergoyang hingga masuknya seorang perempuan membuat mata Aleesa memicing dengan sempurna.


"Tere?"

__ADS_1


__ADS_2