Yang Terluka

Yang Terluka
1 Pria 3 Wanita


__ADS_3

Beby enggan keluar, dia memilih untuk menghubungi satpam rumahnya melalui sambungan telepon.


"Pak Joko, itu Tuan lagi ada di atas pohon mangga. Tangganya tolong sandarkan di pohon lagi ya, Pak. Jangan lupa panggil Tuan, takutnya dia pingsan kedinginan."


Kocak sekali istri dari Arya ini. Ketika suaminya membutuhkan pertolongan dia malah enggan membantu. Ada alasan di balik itu semua pastinya.


"Iyan, Aleesa sini, Nak."


Beby memanggil anak dan cucu dari Rion. Dia tahu kedua anak ini memiliki keistimewaan.


"Mamah boleh tanya?" Kedua anak itupun mengangguk.


"Kalian ke sini diajak Papah?" tanyanya. Lagi-lagi mereka berdua mengangguk.


"Kalau boleh tahu, kalian disuruh apa datang ke sini?" Beby mulai penasaran.


"Kata Papah uang di brankas Papah selalu saja hilang-hilangan. Makanya, Papah minta bantuan kami berdua," jelas Iyan.


"Jadi ... Papah nyangkanya ada tuyul?" tebak Beby.


"Iya, tapi di kamar Papah Iyan tidak melihat apapun. Begitu juga dengan Aleesa. Malah dia yang mengusulkan untuk melihat cctv yang ada di kamar."


Arina dan sang Mamih pun terbahak. Mereka berdua benar-benar tak habis pikir dengan Arya.


"Ternyata istri sendiri tuyulnya," ucap mereka kompak.


Arya masuk ke dalam rumah dengan badan yang sudah basah kuyup. Tangannya masih memeluk sepatu mahal yang baru seminggu dia beli.


"Sepatunya nyangkut di atas pohon rela naik ke atas pohon. Kalau istri dan anaknya nyangkut di atas pohon, belum tentu mau naik ke atas pohon. Pasti beralasan Papah gak bisa manjat." Beby menirukan suara Arya.


"To-long ... Pa-pah ke-dinginan." ucapnya dengan suara yang bergetar.


Aleeya berlari ke dapur, dia bertanya kepada asisten rumah tangga Arya mengenai handuk. Dia pun menghmpiri Arya dengan membawa handuk.


"Pakai, Wa," ujar Aleeya.


Disaat seperti ini hanya Aleeya yang mengerti dirinya. Tanpa Arya sadari, Arina mengambil gambar Arya dan mengirimkannya kepada Rion dan juga Echa.


"Demi sepatu mahal, pohon pun akan aku panjat." Caption dari foto tersebut.


Di rumah yang berbeda, Rion dan juga Echa tertawa terbahak-bahak melihat wajah Arya yang sudah membiru.


Esok pasti akan menjadi bahan ejekan yang menyenangkan untuk kedua ayah dan anak itu.


Setelah membersihkan tubuhnya, Beby membuatkan suaminya teh panas. Sedangkan anak-anak yang ada di sana dia buatkan susu cokelat hangat.

__ADS_1


"Makanya, jangan sok sosialita." Nasihat sang ibu. Arya kini sedang menyeruput teh panas buatan sang istri.


"Ketika kamu lajang gak masalah beli barang mahal. Akan tetapi, sekarang keadaan kamu sudah berbeda. Kamu memiliki anak dan juga istri yang harus kamu nafkahi. Meskipun, istri kamu bekerja tanggung jawab kamu masih ada," tukasnya.


"Umur lu gak akan selalu muda aja, Bhaskara. Dari sekarang, lu harus menyiapkan masa depan lu. Memikirkan warisan untuk anak lu," timpal Arina.


"Barang-barang yang lu beli itu mahal-mahal. Coba kalau semua barang branded yang lu punya lu jual. Bisa kebeli satu rumah yang seharga di atas 1M. Apa lu gak nyesel? Contohnya aja itu sepatu, dipakai gak sama lu?" tanya Arina.


Arya hanya terdiam. Apa yang dikatakan oleh kakak dan mamahnya.


"Boleh kamu beli barang bermerk. Akan tetapi, jangan keseringan," kata Nyonya Bhaskara.


"Itulah yang membuat Mamah berani mengambil uang Papah. Papah tuh gak bisa dibilangin. Terlalu egois dan selalu ingin dimengerti tanpa mau tahu perasaan istri."


Mulut Arya benar-benar terkunci. Satu pria melawan tiga wanita yang mulutnya akan kompak ketika melihat Arya tersiksa.


"Ya, maaf," ujarnya.


"Ini bukan lebaran, Pah," sungut Beby.


Iyan dan Aleesa hanya tertawa melihat Arya dimarahi istri tercinta. Semua unek-unek yang selama ini Beby pendam dikeluarkan semua. Ocehan panjang kali lebar membuat si triplets menguap sangat lebar.


"Ngantuk," kata Aleeya.


Omelan Beby bagai lagu Nina Bobo untuk mereka bertiga. Sangat merdu dan mendayu-dayu. Sepeti sepoian angin laut yang membuat siapapun terkena hembusannya tertidur nyenyak. Dengkuran halus terdengar, Arina dan sang Mamih tertawa.


Rion mengabarkan kepada Arina bahwa dia akan menjemput anak dan ketiga cucunya. Namun, Rion meminta kepada Arina agar tidak memberitahu Arya. Dia ingin memberikan kejutan kepada Arya.


Kuliah tujuh menit berganti nama menjadi kuliah tujuh jam. Sudah setengah jam berlalu, ocehan Beby belum juga selesai. Mulut Arya sudah menguap sedari tadi menandakan dia mengantuk berat.


"Mamah Sayang, gak capek apa ngomel terus?" ucapnya.


Suara tawa menggelegar membuat Arya menoleh ke arah pintu. Sudah ada Rion yang datang untuk menjemput ketiga cucunya serta anaknya.


"Bahagia banget tuh muka," ejeknya.


Arya mendengkus kesal. Jika, dia tidak tengah menjalani hukuman dan sidang dari yang mulia Beby Putri Winarya, sudah pasti dia akan mengajak duel sahabat laknatnya itu.


"Beb, lelang aja sepatunya," ujar Rion tanpa rasa berdosa sama sekali. Mata Arya sudah hendak lepas dari tempatnya.


"Jangan ngadi-ngadi, lu!" sentaknya. Rion mencebikkan bibirnya.


"Ide bagus tuh, duda," sahut Arina.


"Nyambung aja kayak kabel," sindirnya.

__ADS_1


"Duda ngeselin, lu!" geramnya.


Arina dan Rion bagai kucing dan juga tikus. Tidak akan ada keakuran yang mereka ciptakan. Hanya saling sindir dan saling mengatai satu sama lain.


"Mending pulang, lu," usir Arya.


Rion berdecak kesal, baru juga sampai sudah diusir secara tidak hormat. Bukan Rion Juanda jika menuruti perintah sahabatnya itu.


"Semau gua lah, jangan ngatur-ngatur!" Rion menjawab dengan nada yang sewot.


"Gak sopan kamu ke tamu bicara seperti itu," omel Nyonya Bhaskara.


Arya kira kedua wanita yang sangat menyebalkan di mata Arya sudah terlelap karena sedari tadi masuk ke kamar.


"Ini kenapa pada nyerang begini?" keluh Arya.


"Emang kamu salah!" tekan Beby.


"Udah sih, Pah. Ngalah aja kenapa, berisik tahu."


Kini putrinya juga tidak mendukungnya. Malah ada di kubu para wanita dan juga sahabat tak tahu adab.


"Papah itu udah salah. Jangan terus membela diri terus," oceh Beby.


Hembusan napas sangga kasar keluar dari mulut Arya. Sahabatnya malah tertawa mengejek.


Sahabat laknat lu! Tunggu balasan gua.


Batin Arya terus menggerutu kesal. Melihat wajah tampan sahabat membuatnya muak. Ingin rasanya dia melempar kotoran ke wajah Rion.


"Udah ah, aku pamit pulang," ucap Rion yang sudah membawa satu per satu cucunya. Iyan juga sudah menyudahi mainnya dengan Beeya.


"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Nyonya Bhaskara.


"Enggak, Tante. Aku sama sopir. Gak mungkin aku bawa mobil sendiri. Nanti yang jagain si triplets siapa," terangnya.


"Emang enaknya ke mana?" tanya Arina.


"Lagi bikin cucu yang baru buat gua."


Jawaban yang sangat menyebalkan. Bukan hanya Arya yang kesal dengan Rion, rasa kesal itu kini menular kepada Arina.


"Oh iya." Rion menghentikan langkahnya. Dia menoleh kepada Beby.


"Suami kamu baru aja transfer uang buat beli sepatu dan tas merk Kondor."

__ADS_1


"Papah!" Beby sudah berkacak pinggang seraya mata terbuka lebar.


__ADS_2