
Kakek menatap wajah Radit yang pucat. WaJah Radit mengingatkannya pada sang cucu yang sangat dia sayangi.
"Kenapa kamu bernasib naas seperti ini?" gumam sang kakek.
Pria paruh baya itu melihat sudut bibir Radit yang membiru dan ada darah yang mengering di sana.
"Lelaki itu selalu saja mendahulukan emosi dibandingkan akal sehatnya," gerutu pria paruh baya itu.
Dokter keluarga yang sudah memeriksa Radit pun mengatakan jika Radit kekurangan asupan makanan. Kakek itu pun mengangguk mengerti.
Setengah jam, dia menunggu Radit tersadar. Hanya lengkungan senyum yang pria itu tunjukkan.
"Kamu memang pantas untuk cucu kesayanganku."
Tiba-tiba Radit membuka matanya perlahan. "Sudah sadar," tanya sang kakek.
"Maaf, Kek," ucap Radit.
Sang Kakek pun tersenyum ke arah Radit. Dia mengusap punggung Radit dengan penuh kasih sayang.
"Kamu kenapa? Diserang lagi sama orangtua kamu?" Dengan lemah Radit pun mengangguk.
"Menuju cinta sejati pasti akan ada banyak ujian dan rintangannya. Kamu harus bisa melalui itu," ujar sang kakek.
"Tapi mereka memaksaku untuk menikahi wanita itu," lirihnya.
"Jangan takut, Kakek akan selalu mendukung kamu. Kakek sangat yakin, kamu bukanlah pria bejat," terang Kakek.
Beberapa pelayan masuk ke dalam kamar Radit yang memang tidak ditutup. Mereka membawa beberapa makanan serta buah-buahan dan juga susu untuk Radit.
"Makanlah, dan nanti akan ada yang membersihkan luka di kaki mu," ucap sang kakek. Radit pun mengangguk dan mematuhi ucapan dari sang kakek.
Setelah selesai makan, ternyata telapak kaki Radit terluka. Karena amarah yang menggebu, sakit pun tak dia hiraukan.
"Lihatlah, bukan hanya hatiku yang tersiksa. Tapi, fisikku pun terluka."
Gumaman Radit terdengar oleh Kakek. Karena dia sedang berada di depan pintu kamar Radit.
__ADS_1
"Kamu anak yang kuat, Dit. Meskipun terus disakiti, kamu masih mampu bertahan di atas segala sakit dan luka yang kamu rasakan saat ini," gumam Kakek.
Setelah luka Radit selesai dibersihkan, dia menatap langit-langit kamar. Matanya menatap kosong seolah tidak ada lagi gairah untuk melanjutkan hidupnya.
Radit mencoba memejamkan matanya sejenak. Dia merasa ada yang membelai lembut rambutnya. Dan mengecup keningnya.
Perlahan Radit membuka matanya. Seorang wanita cantik tersenyum hangat ke arahnya dengan memakai gaun putih panjang. Senyum yang tersungging pun sangat amat menyejukkan hati Radit.
"Mamih," panggil Radit.
"Kamu anak Mamih yang paling baik, kamu tidak akan pernah melakukan hal yang memang dilarang oleh agama. Berjuanglah terus Nak, demi mendapatkan sebuah kebenaran. Mamih bahagia, karena di luaran sana masih banyak orang yang menyayangi kamu. Seperti kakek ini yang sangat tulus menyayangi kamu. Jangan pernah kecewakan dia Nak, dia memiliki harapan yang besar kepada kamu."
Tak terasa bulir bening jatuh diujung matanya. Dan Radit pun tersadar. Dia mencari sosok Mamihnya namun, tidak ada siapa-siapa di kamarnya.
"Bisakah Mamih datang ke dalam mimpi Radit lebih lama lagi? Radit butuh pelukan hangat, Mih. Radit butuh sandaran," lirihnya.
Sisi terlemah Radit ketika seperti ini. Ketika dia sedang dilanda masalah, Mamihnya akan hadir dimimpinya. Hanya menyampaikan sesuatu yang terkadang sulit dicerna oleh akal manusia.
Radit menelungkupkan wajahnya di atas kakinya yang ditekuk. Isakan lirih sangat terdengar menyayat hati. Ada ketakutan yang Radit rasakan. Dia takut, jika hasil tes DNA nanti positif. Yang dia pikirkan bukanlah Fani atau anak yang ada di dalam kandungan Fani. Tapi, Echa yang selalu ada di kepalanya. Apa perjuangannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Echa harus kandas?
Sedangkan di apartment milik Radit, Addhitama masih menatap nanar ponsel milik putranya. Addhitama sedang membuka aplikasi chat pada ponsel Radit. Semua isi chat dari orang lain Radit hapus, tapi tidak dengan pesan dari Echa. Addhitama terus menscroll isi pesan putra bungsunya bersama pacarnya, tidak ada pesan yang aneh-aneh hanya sebatas gombalan receh yang Radit layangkan untuk Echa.
Addhitama membuka galeri foto yang ada dia ponsel Radit. Hatinya bergetar ketika dari melihat sebuah foto keluarga yang sangat lengkap. Ada dirinya, ketiga anaknya serta istrinya.
Padahal foto asli itu hanya ada mereka berempat tanpa Radit. Karena Radit belum hadir ke dunia. Tapi, di foto itu disiapkan foto Raditya yang tengah tersenyum ke arah kamera. Dan editan itu terasa nyata.
Bulir bening pun jatuh di ujung mata Addhitama. "Maafkan aku, Sayang. Aku telah gagal menjaga putra bungsu kita," gumamnya lirih.
Keesokan harinya, Radit tidak pergi kuliah ataupun praktek. Dia masih betah di kamarnya. Sedangkan sang kakek, sedang menerima telpon penting dari seseorang.
Bibirnya tersungging tipis. "Ambil sehelai rambut darinya. Lakukan tes DNA juga," ujar sang kakek pada sambungan telepon.
"Kamu kira saya orang bodoh. Berbagai cara apapun yang kamu lakukan tidak akan pernah bisa menembus ruangan itu," kata sang kakek dengan senyum smirk.
Ternyata benar, ada manusia yang kebakaran jenggot. Dan dia menyuruh tikus-tikus kecil untuk menyelundup masuk ke ruangan penting yang menyimpan hasil tes DNA Radit dengan anak di kandungan Fani. Namun, sayangan seribu sayang. Ruangan itu dijaga ketat oleh petugas serta pengawal yang menyamar jadi petugas.
"Sial!" pekik seseorang pria muda.
__ADS_1
Sudah tiga hari Radit tinggal di rumah pria paruh baya. Sang kakek merasa sangat senang, setidaknya ada yang menemaninya di rumah besar itu.
"Mau ke mana, Dit?" tanya sang kakek.
"Hari ini aku kembali ke apartment Kek. Sudah tiga hari aku bolos kuliah dan juga praktek. Dompet dan ponselku pun ada di apartment," sahutnya.
Wajah sang kakek nampak sendu mendengar jawaban Radit. Radit mendekat ke arah sang kakek seraya tersenyum.
"Aku akan sering-sering jenguk Kakek ke sini, kok. Lagi pula aku ingin membuka praktek psikiater di dekat-dekat sini," ujarnya.
Sang kakek pun tersenyum bangga kepada Radit. "Kakek akan selalu mendukung kamu."
"Makasih Kek."
Ketika sang Papih mengabaikan dirinya ternyata ada sosok laki-laki yang hangat yang memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Semua yang Radit tidak dapatkan dari Addhitama, kini Radit dapatkan dari pria paruh baya ini yang dia sebut Kakek.
Sesampainya di apartment, ternyata sang Papih sudah ada di dalam apartment Radit. Menatap figura yang baru saja dia lihat. Ya, keluarga bahagia yang Radit edit.
Radit hanya menatap Addhitama dengan tatapan datar. Tak sepatah kata pun dia ucapakan kepada papihnya. Dia pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Pergi ke mana kamu selama tiga hari ini?" tanya Addhitama yang ternyata mengekori Radit dari belakang.
"Radit tidak akan lepas dari tanggung jawab kok. Jika, dari hasil tes DNA itu menyatakan bahwa anak yang dikandung Fani anak Radit, Radit akan menikahi Fani," jawabnya seraya memasukkan barang yang dia butuhkan untuk kuliah.
Sejurus kemudian, Radit menatap papihnya dengan tatapan penuh kepiluan.
"Jika, tes itu menyatakan jika Radit bukan ayah dari anak itu. Biarkan Radit mengejar seseorang yang dapat menyembuhkan luka Radit selama ini."
"Luka yang tak akan pernah sembuh sampai kapan pun. Karena Papih tidak tahu bagaimana rasanya selalu disalahkan dan selalu dipaksa menuruti kemauan kalian."
Addhitama tersentak mendengar apa yang dikatakan oleh Radit. Dia memakai tasnya di punggungnya dan berlalu meninggalkan papihnya yang mematung di tempatnya.
***
Mon maap kemarin gak up, gtw kenapa kalo setiap awal bulan mood aku buat nulis tuh jelek banget. Ntah karena lelah mengejar 60k ataupun karena komen yang hampir gak ada.
Yang nungguin cerita Bang Duda, lagi proses pengetikan ya. Insya Allah hari ini up kok. Lagi banyak gangguan yang bikin pikiran kemana-mana.
__ADS_1
Komen ya biar aku semangat nerusin ceritanya ...