Yang Terluka

Yang Terluka
Menerima


__ADS_3

Ayanda menghela napas panjang. Dia tahu siapa yang menyebabkan teh manis itu rasanya kecut. Dia juga sedikit mendengar cekikikan dari ketiga cucunya. Namun, dia tidak ingin Christina mengetahui keisengan si triplets.


Setelah Christina pergi bersama Aska, Ayanda berjongkok di bawah meja makan dapur, dan menatap si triplets dengan tatapan tajam. Ketiga anak itu hanya memperlihatkan cengiran mereka.


Ketiga anak Echa menunduk dalam. Dia baru pertama kali ini melihat sang nenek marah.


"Mimo gak pernah ajarin kalian nakal," tukasnya.


"Tapi ... kakak Na gak suka sama pelempuan itu," ujar Aleena.


Aleena adalah anak yang sangat keras kepala. Ketika dia tidak suka, dia akan berbicara blak-blakan. Tidak peduli orang itu akan marah atau membencinya.


"Dia tidak baik untuk, Om."


Sekarang Aleesalah yang berucap. Ayanda hanya menghela napas kasar. Ketiga cucunya ini memang benar-benar anak yang sangat kritis dan tidak takut mengutarakan ketidak sukaan mereka. Mereka tidak peduli respon dari orang lain.


"Mimo tahu, tapi alangkah baiknya kalian tidak mengerjai anteu itu. Kalau anteu itu sakit bagaimana?" tanya Ayanda.


"Malah lebih bagus. Jadi, anteu itu gak bisa dekat-dekat Om," pungkas Aleeya.


Ayanda kalah jika harus berbicara dengan tiga anak Echa ini. Sungguh pintar sekali berbicara. Pantas saja Echa selalu membawa obat sakit kepala.


Di kampus Aska, mulut Aska tak hentinya bersungut-sungut. Sengaja dia blokir nomor Christina.


"Gak guna!" serunya dengan nada yang sangat kesal.


Ken dan Juno malah terkekeh geli melihat Aska yang terus bersungut-sungut. Mulutnya seperti mulut tetangga yang suka nyinyir jika tengah marah.


"Cantik padahal," ujar Ken.


"Gak peduli!" jawab Aska.


"Kenapa gak dicoba dulu?" imbuh Juno.


"Buat anak gak boleh coba-coba," sungut Aska.

__ADS_1


Sungguh jawaban seperti iklan di televisi. Ken dan Juno pun tertawa mendengarnya.


Askara adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta. Ken dan Juno yang sudah dekat selama tiga tahun pun tak pernah sedikitpun mendengar curhatan tentang wanita dari mulut Askara. Hanya nongkrong, touring atau bisnis.


Semenjak nomor Christina diblokir oleh Aska, hidup Aska terasa tenang. Tidak ada lagi gangguan dan dia bisa rebahan sekalian main game. Namun, waktu rebahannya terganggu karena Beeya datang.


Tanpa rasa bersalah, anak itu masuk ke dalam kamar Aska dan naik ke tempat tidurnya. Bergelayut manja di lengan Askara.


"Modus apa lagi?" sergah Aska.


"Bantu putusin pacar Bee yang kelima." Aska menatap jengah ke arah Beeya.


"Udah punya korban yang lain?" Dengan cepat Beeya mengangguk dan Aska menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Bosan, terlalu bawel. Setengah jam sekali chat. Kamu dimana? Udah makan apa belum? Emangnya aku bocah," sungut Beeya.


"Lah emang kamu bocah."


Beeya memukul lengan Aska. Saudaranya ini sungguh teramat menyebalkan. Tidak seperti Aksara.


"Atuhlah, Kak ...."


"Iya, tapi traktir makan," kata Aska.


"Beres."


Playboy tengik dan playgirl somplak akan beraksi. Beeya memang perempuan bar-bar. Dia memeluk erat pinggang Aska layaknya pacar sendiri.


"Kamu kalau naik motor begini?" Beeya menggeleng.


"Hanya ke saudara aja begini juga." Aska pun tertawa. Tm


Beeya ternyata sudah membuat janji dengan yang namanya Deki di sebuah mall. Deki sudah menunggu Beeya sedari setengah jam yang lalu. Namun, matanya melebar ketika melihat Beeya datang dengan seorang laki-laki yang pernah dia lihat.


Wajah Deki sangat tidak bersahabat, tetapi Beeya seakan tidak peduli. Dia malah mendudukkan diri di depan Deki tanpa disuruh.

__ADS_1


"Aku mau kita putus."


Kalimat yang sangat mudah Beeya katakan. Aska sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Beeya. Belum juga bertegur sapa sudah mengatakan hal seperti itu. Apalagi melihat wajah anak laki-laki yang seperti ingin menangis.


"Sa-salah aku apa?" tanya Deki dengan suara yang bergetar.


"Aku gak suka sama cowok yang bawel," tukas Beeya.


"Lagi pula aku sudah memiliki pengganti kamu." Beeya merangkul manja lengan Aska.


"Bee, aku mohon." Deki sudah meraih tangan Beeya, tetapi Beeya gibaskan.


"Udah ya, cukup sampai di sini hubungan kita." Beeya beranjak dari duduknya, diikuti Aska.


Askara tersenyum ke arah Deki. "Jangan sampai bunuh diri," ejeknya.


Beeya dan Aska adalah dua orang yang mudah untuk didekati, tetapi sulit untuk dimiliki. Contohnya saja sekarang.


Tugas Aska sudah selesai, kini dia meminta imbalan makan di restoran Korea. Beeya pun menurutinya karena Beeya adalah cucu Sultan. Meskipun diberi batasan uang jajan oleh papah dan Mamahnya. Kakek, Nenek serta Bu'de Beeya memberikan satu buah ATM khusus untuk Beeya jajan.


Baru saja mereka menikmati makanan yang tersaji, wajah Aska terasa sangat dingin dan lengket. Ya. dia disiram oleh Christina.


"Ini alasan kamu blokir nomor aku? Aku itu sayang sama kamu Askara," teriak Christina.


Aska mulai menjadi pusat perhatian semua orang. Dia benar-benar sangat kesal. Apalagi Christina yang terus mengoceh tak jelas. Tidak mungkin Askara membentak Christina.


"Apa kurangnya aku, Aska? Aku sangat mencintai kamu."


Aska ingin menenggelamkan dirinya ke dasar lautan mendengar ucapan Christina. Pada akhirnya, Aska menyerah dari pada dicap laki-laki jahat karena Christina menangis meraung-raung. Beeya hanya menjadi penonton sambil menikmati makanan yang dia ambil.


"Oke, aku menerima kamu."


Maya Beeya melebar dan dengkuran kesal terdengar dari mulut Beeya.


"Pinter sekali nih cewek, pakai air mata buaya." Beeya tersenyum tipis setelah mengatakan itu.

__ADS_1


"Buaya dikadalin, mana bisa Maemunah," kelakar Beeya di dalam hati


"Sabar, Bang. Bee akan bantu Abang untuk menendang ini cewek."


__ADS_2