
Setiap sore, Iyan selalu senang duduk di bawah pohon mangga hingga menjelang Maghrib. Rion tidak akan mempermasalahkan apapun atau menanyakan perihal ini dan itu kepada Iyan. Banyak sedikit dia tahu keistimewaan Iyan. Dia juga mendengar dari Radit dan Echa bahwa pohon mangga itu adalah tempat tinggal teman-teman tak kasat mata Iyan.
"Jo, kamu kenapa gak pernah cerita tentang kamu semasa hidup? Aku gak pernah menutupi apapun dari kamu, tetapi kamu seakan menutupi semuanya dari aku," imbuh Iyan yang asyik menyandarkan tubuhnya di batang pohon.
"Untuk apa aku menceritakannya? Aku lebih senang seperti ini," jawab Jojo yang sedang duduk di batang pohon sambil mengayunkan kakinya.
"Setidaknya kami tahu bagaimana Kak Jojo semasa hidup? Aku saja yang hanya diberi waktu hidup selama dua Minggu masih ingat dengan apa yang aku rasakan," tutur Devandra.
"Aku hanya ingin tahu, Jo. Aku tidak ada maksud apa-apa," balas Iyan.
Jojo terdiam sejenak, pandangannya menatap lurus ke depan. Bayangan bambu, balok kayu, sapu lidi, hingga besi pun terlintas di kepalanya. Timbunan tanah yang membuat dia menjerit sangat keras.
Hanya keheningan yang tercipta, Jojo sama sekali tak mau bicara. Hingga aroma melati menyeruak membuat Dev, Iyan dan Om Uwo mencari-cari keberadaan ibu.
"Ceritakan saja, Jo. Sudah waktunya Iyan dan yang lainnya tahu. Siapa tahu mereka bisa membantu." Suara lembut ibu membuat Jojo menitikan air mata. Iyan tersentak ketika melihat Jojo menangis. Biasanya, Jojo lah yang menyaksikan Iyan menangis seperti ini.
Jojo masih bergeming, mulutnya seakan membeku. Pelukan hangat ibu membuat tangis Jojo semakin keras.
"Jojo rindu Mamak." Kalimat lirih yang Jojo keluarkan.
"Jojo adalah anak yang mengalami kekerasan fisik oleh ayahnya." Iyan terdiam mendengarnya. Dia mulai menelaah pantas saja Jojo ingin berteman dengannya. Nasib mereka sama. Bedanya, Iyan mengalami kekerasan secara verbal oleh ibu kandungnya.
"Padahal Jojo anak yang penurut, selalu membantu ayahnya di kebun dan tidak pernah bermain layaknya anak seusianya. Benar begitu, Jo?" Jojo pun mengangguk.
"Ayahnya sangat galak kepadanya. Sedikit saja kesalahan yang Jojo lakukan, akan kena hukuman pukul oleh ayahnya. Awal-awal ayahnya memakai bambu kecil. Semakin ke sini ayahnya semakin brutal," terang ibu.
"Sudah Bu, Jojo takut."
Iyan sangat merasakan ketakutan yang Jojo rasakan. Lebih dari lima tahun mengenal Jojo, baru kali ini Iyan melihat Jojo seperti ini.
"Lawan rasa takutmu, Jo," imbuh ibu.
Melihat Jojo seperti ini membuat Iyan, Dev dan Om Uwo menatap iba kepada Jojo. Anak yang baik hati dan selalu menjadi pelindung untuk siapapun yang Jojo anggap keluarga. Ternyata semasa hidupnya dia mengalami hal yang sangat menyedihkan.
"Bersyukurlah kamu Iyan, kamu memiliki Ayah yang baik. Coba lihat lah Jojo. Setiap hari dia pasti terkena pukul dengan bambu dan sapu lidi." Iyan menatap ke arah Jojo dengan mata yang sangat pilu.
"Kenapa Jojo bisa meninggal, Bu?" tanya Om Uwo.
Ibu tidak segera menjawab, dia menatap wajah Jojo sebentar. Hingga anggukan kecil Jojo berikan.
"Dipukuli ayahnya dengan balok besar dan juga besi tebal." Gadget yang Iyan pegang terjatuh begitu saja. Sedangkan Dev dan Om Uwo sudah bergidik ngeri membayangkannya.
"Kenapa ayahnya memukul Kak Jojo, Bu? Katanya Kak Jojo gak nakal," tanya Dev.
"Ayah kandung berhati iblis itu kepergok sedang bermesraan dengan seorang wanita di kebun yang sedang dia garap. Padahal, pada waktu itu Jojo hanya bertanya Bapak sedang apa? Akan tetapi, ayah Jojo segera menyeret Jojo dan membawanya masuk ke dalam hutan. Jojo yang memang anak penurut tidak berani bertanya ataupun melepaskan genggaman tangan ayahnya yang sedang tersulut emosi. Sakit di pergelangan tangannya pun tak Jojo hiraukan."
"Ketika tiba di tengah hutan, ayahnya segera mengambil balok kayu tebal dan menghantam tubuh Jojo hingga tersungkur."
Pada waktu itu ...
Bugh!
Pukulan balok besar mengenai tubuh Jojo sebelah kanan. Tidak ada satu huruf pun yang ke luar dari mulut Jojo. Tidak ada ringisan dan tidak ada permohonan untuk tidak memukulnya. Jojo membiarkannya saja karena dia sudah terbiasa seperti ini.
"Anak gak tahu diuntung!"
Ayunan balok itu terus mengenai tubuh hingga Jojo tidak bisa terbangun lagi. Darah sudah ke luar dari mulut dan hidung Jojo. Namun, Jojo masih bisa tersenyum ke arah ayahnya.
"Sa-salah Jo-jo a-pa, P-pak?"
"Kamu anak pembawa sial! Jika, ibumu tidak mengandungmu sudah dipastikan aku akan menceraikan wanita itu," sarkas ayah Jojo.
Jojo tidak menangis mendengar ucapan jahat dari sang ayah. Dia membalasnya dengan seulas senyuman.
"Apa kamu menantangku?" sergah ayahnya Jojo.
Senyuman Jojo diartikan bahwa dia tengah menantang si ayah berhati iblis. Padahal, Jojo sedang menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa meskipun sang ayah memperlakukannya dengan keji.
Kali ini, ayahnya Jojo mengambil besi tebal. Pembunuhan Jojo memang sudah direncanakan olehnya. Di tengah hutan inilah tempat eksekusinya.
Bugh!
Bugh!
Kali ini besi itu mengenai perut Jojo. Mata Jojo melebar dan mulutnya menganga menahan sakit. Tidak hanya dua kali, pukulan besi itu terus menghantam tubuh Jojo hingga terdengar seperti kayu patah pada tubuh Jojo.
"Sa-sa-kit, P-pak."
Kalimat terakhir yang bisa Jojo ucapkan. Matanya sudah sulit untuk membuka. Tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan. Melihat Jojo sedang sekarat, ayahnya Jojo segera menarik tubuh Jojo yang seperti tulang lunak ke lubang besar yang sudah dia siapakan. Jojo masih bisa melihat ketika Ayahnya memasukkannya ke dalam lubang bagai bangkai. Meskipun tubuhnya sudah tidak bisa merasakan apa-apa.
Lubang itu perlahan ditimbun oleh tanah. Ingin rasanya Jojo berteriak, tetapi suaranya tercekat. Jojo hanya bisa pasrah ketika tanah itu mulai menimbun. Cahaya yang masih Jojo lihat kini berubah menjadi gelap karena tubuhnya sudah tertimbun tanah. Dadanya semakin sesak dan sesak hingga dia kesulitan untuk bernapas. Napasnya mulai tersengal tak lama kemudian Jojo menutup mata untuk selama-lamanya.
#off.
__ADS_1
"Sampai sekarang Jojo masih bergentayangan seperti ini karena dia ingin bertemu ibunya. Dia ingin mengatakan kepada ibunya bahwa dia baik-baik saja."
Iyan menyeka ujung matanya yang berair. Sungguh sakit hati Iyan mendengarnya. Sedangkan Dev sudah hilang entah ke mana.
"Itulah alasannya kenapa Jojo mau bersahabat dengan kamu. Nasib kamu dan Jojo tidak jauh beda." Iyan mengangguk mengerti.
"Yang sabar ya, Jo." Om Uwo mengusap lembut kepala Jojo.
"Jangan bersedih, Jo. Aku akan selalu ada buat kamu," ucap Iyan.
Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Iyan masuk dalam rumah. Sebelum masuk dia mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu. Baru saja Iyan menutup pintu halaman samping, Aleesa menarik tangan Iyan agar dia berjongkok.
"Dev, ana?" bisik Aleesa.
"Dia lagi pulang dulu ke rumahnya," jawab Iyan sedikit berbohong sambil mengusap puncak kepala Aleesa.
Selama di meja makan, Iyan seakan tidak menikmati makanan malam ini. Sesekali Iyan menatap ke arah kanannya. Biasanya ada Jojo di sana. Namun, kali ini Jojo tidak ada.
"Kenapa, Yan? Apa makanannya tidak enak?" tanya Echa.
Iyan tersenyum seraya menggeleng. Setelah makan malam, Iyan segera masuk ke dalam kamarnya. Memanggil-manggil nama Jojo, tetapi Jojo tak kunjung datang.
"Ibu," panggilnya.
Namun, ibu juga tak kunjung datang. Iyan memilih duduk di kursi meja belajar. Dia mengambil buku gambar dan juga pensil. Tangannya mulai mencoret-coret buku gambar. Terciptalah reka adegan Jojo yang sedang disiksa oleh ayahnya. Coretan tangan Iyan terlihat seperti gambar hidup.
"Begitu jahatnya ayah kamu, Jo," gumam Iyan.
Iyan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Jojo.
"Kamu siapa? Kenapa kamu bisa di sini?"
"Aku Jojo."
"Apa kita bisa berteman?"
"Kamu penolong aku, Jo. Jika, tak ada kamu mungkin aku sudah mati," lirih Iyan.
Ketukan pintu terdengar, Iyan segera menoleh ke arah pintu. Sudah ada Kakak dan Abang iparnya di sana.
"Boleh kami masuk?" Iyan tersenyum.
Echa menghampiri Iyan yang tengah duduk di kursi meja belajar. Dia mengusap lembut kepala sang adik. Namun, mata Echa memicing ketika melihat gambar yang Iyan gambar.
"Ini kamu yang gambar? Kok serem gambarnya." Iyan mengangguk.
Radit ikut melihat ke buku gambar. Kening Radit mengkerut melihat gambar yang Iyan buat.
"Seperti hidup gambarnya," ucap Radit.
"Itu bayangan kejadian Jojo ketika Jojo meninggal," jelasnya.
"Jojo?" ulang Radit.
"Temen Iyan yang selalu bersama Iyan," jawabnya.
"Dia meninggal karena dipukul?" tanya Radit.
Wajah Iyan berubah menjadi sendu. "Ada ya ayahnya yang kejam kepada anaknya?"
Radit dan Echa saling pandang. Belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Iyan.
"Ini Jojo dan ini ayahnya," tunjuknya pada gambar.
"Ayahnya mukulin Jojo katanya Jojo nakal. Padahal Jojo gak nakal, Jojo anak baik. Buktinya dia masih tersenyum ketika ayahnya terus memukulinya," terang Iyan.
"Jadi, cara meninggal teman kamu ini tragis?" tanya Radit.
"Iya. Pembunuhan Jojo sudah direncanakan oleh ayahnya dari jauh-jauh hari."
"Ini balok dan besi. Ayahnya memukul Jojo menggunakan dua benda ini. Sesakit apapun Jojo tidak mengeluarkan suara. Dia hanya tersenyum meskipun tubuhnya sudah tak berdaya. Semua tulangnya patah serta mulut dan hidungnya sudah mengeluarkan darah segar," jelas Iyan.
"Jojo dikubur dalam keadaan hidup-hidup oleh ayahnya." Kalimat yang Iyan ucapkan membuat mata Echa melebar.
"Sekarang Jojo gak ada di sini. Iyan sedih karena baru pertama kali liat Jojo menangis," keluhnya.
Radit mengusap lembut punggung Iyan. "Jojo pasti kembali," imbuh Radit.
Berkali-kali Iyan memanggil Jojo, tetapi Jojo tidak pernah ada. Memanggil Dev pun sama. Memanggil ibu juga ibu tidak pernah datang. Iyan memilih menjalankan matanya.
Keesokan paginya, tidak ada Jojo di sampingnya. Biasanya senyum khas Jojo yang menyambut paginya.
"Jo," panggil Iyan.
__ADS_1
Lagi-lagi Iyan harus menelan pil kecewa. Jojo tidak muncul meskipun sudah dipanggil. Iyan turun ke lantai bawah menuju meja makan. Dilihatnya Aleesa sedang mematung di pintu kaca yang menghubungkan ke halaman samping.
"Kakak Sa, makan dulu, Nak." Ajakan Echa membuat Aleesa menghampiri sang bubu.
"Apa kamu lihat Jojo?" bisik Iyan. Aleesa menggeleng.
Aleesa dan Iyan menikmati sarapan tanpa semangat. Teman mereka berdua benar-benar tidak ada di sini. Setelah pulang sekolah, Iyan bergegas menuju pohon mangga. Hanya Om Uwo yang berada di sana.
"Dev dan Jojo udah kembali?" Om Uwo menggeleng.
"Ibu membawa Jojo, tapi gak tahu ke mana. Kalau si Dev pasti lagi di rumah papihnya," terang Om Uwo.
"Jojo akan kembali lagi gak, Om? Iya. takut Jojo akan pergi ninggalin Iyan," lirihnya.
"Jojo pasti kembali. Mungkin sekarang ibu sedang membawa Jojo pergi untuk menghibur Jojo." Apa yang dikatakan Om Uwo benar adanya. Iyan mencoba untuk percaya.
Satu hari ...
Dua hari ...
Tiga hari ...
Jojo pergi meninggalkan Iyan. Dev pun tidak pernah datang ke rumah membuat Aleena sedikit murung.
"Di mana kamu, Jo?"
Iyan teringat akan gelang yang diberikan oleh Jojo kepada dirinya. Sebuah gelang berwarna hitam.
Pakai ini ya, walaupun aku gak ada di samping kamu nanti. Kamu akan terlindungi hanya dengan memakai gelang ini. Ini juga gelang untuk persahabatan kita.
"Jojo," lirihnya.
Seminggu sudah tanpa kehadiran Jojo. Dev sudah kembali dua hari yang lalu. Awalanya Iyan mengira bahwa Jojo pun akan kembali bersama Dev. Pada nyatanya Jojo masih belum kembali. Bertanya kepada ibu pun hanya sebuah senyuman yang ibu berikan.
"Sudah sangat lama kamu meninggalkan aku, Jo."
Rasa sedih semakin menyelimuti hati Iyan. Kehadiran Jojo mampu membuat hari-hari Iyan berwarna. Jojo adalah sebagian dari hidupnya.
Ketika Echa datang, Iyan segera berhambur memeluk tubuh sang kakak. Menumpahkan tangisnya di pelukan sang kakak.
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Echa bingung.
"Jojo belum kembali. Sedangkan Dev sudah kembali." Ucapan Iyan terdengar sangat sedih.
Echa mengerti akan kesedihan sang adik. Bagaimana pun Jojo adalah sahabat Iyan pertama. Selalu ada di samping Iyan meskipun hampir semua orang tidak bisa melihatnya.
"Iyan kangen Jojo," lirihnya.
Echa membawa Iyan untuk duduk di ruang keluarga. Sang Ayah yang baru saja membawa si triplets ke ruang keluarga menatap Iyan bingung. Echa hanya menggelengkan kepala menandakan bahwa jangan banyak bertanya. Aleesa segera berhambur memeluk Iyan yang tengah menangis. Aleesa sangat tahu jika Iyan sedang merindukan sahabatnya. Sama seperti dirinya yang sangat merindukan Dev ketika Dev pergi.
"Jojo pasti kembali. Sama halnya dengan kamu, Jojo juga pasti gak bisa hidup tanpa kamu. Kakak yakin, Jojo dan kamu ditakdirkan menjadi sahabat yang saling melengkapi meskipun berbeda alam." Rion mengerti arah pembicaraan Echa.
"Jangan menangis, kamu itu laki-laki. Tetap menunggu dengan sabar, jangan cengeng. Kamu harus kuat, meskipun Jojo tidak kembali kamu harus bisa menerimanya. Pada kenyataannya alam kamu dan alam Jojo berbeda." Iyan semakin mengeratkan pelukannya terhadap Echa. Sedangkan Echa sudah melebarkan matanya ke arah sang ayah.
"Jangan nangis terus, nanti Jojonya gak kembali loh. Mana mau Jojo berteman dengan laki-laki cengeng," goda Echa.
"Iyan gak cengeng. Iyan hanya rindu Jojo." Echa semakin mengeratkan pelukannya. Betapa tulusnya Iyan bersahabat dengan makhluk ghaib.
Setelah makan malam, Iyan langsung masuk ke kamar. Rasa kesepian sedang melanda hati Iyan. Namun, Iyan tepis dengan gadget di tangannya. Sedikit bisa menghilangkan rindunya kepada Jojo.
Tiupan di belakang telinga Iyan membuat Iyan mendengus kesal. Biasanya itu pekerjaan hantu kerdil seperti tuyul yang sering masuk ke kamar Iyan dan menjahili Iyan. Namun, tidak berani menggasak uang keluarga Iyan.
"Kerjaan aku menggasak uang haram. Aku tidak akan menggasak uang hasil kerja keras kalian."
Begitulah pekerjaan si makhluk kerdil itu.
"Diam, Bhol," sentaknya.
Tiupan itu semakin menjadi membuat Iyan geram dan meletakkan gadgetnya. Senyuman khas makhluk yang Iyan rindukan terlihat jelas.
"Jojo!" Iyan segera berhambur memeluk tubuh sang sahabat.
"Kamu ke mana aja? Jangan tinggalin aku." Kalimat terakhir yang Iyan ucapkan membuat senyum Jojo melengkung dengan sempurna.
"Aku sudah bertemu Mamak. Aku diajak Mamak untuk kembali ke tempat asalku." Wajah Iyan berubah menjadi sendu.
"Tapi ... aku tidak mau, aku ingin menemani kamu hingga kamu bertemu dengan orang yang tulus menyayangi kamu dan bisa menjaga kamu."
Mata Iyan berkaca-kaca mendengar penuturan Jojo. Dia pun tersenyum ke arah Jojo.
"Sahabat selamanya." Iyan mengurangi jari kelingkingnya disambut oleh jari kelingking Jojo.
"Selamanya," jawab Jojo.
__ADS_1