
"Keysha?"
Perempuan itu tersenyum manis kepada semua yang menyapanya. Kakinya melangkah menuju ke arah Rifal, Radit, Ecamha serta Rindra dengan langkah terseok-seok.
"Kamu kenapa ke sini? Kaki kamu 'kan masih sakit," ujar Rifal dengan nada khawatir, dan membantu Keysha untuk berjalan.
"Udah yuk, tinggalin pasangan bucin ini," keluh Echa diikuti Rindra dan juga Radit.
"Aku hanya mau ngasih ini," balas Keysha.
Sebuah kotak berwarna hitam dengan logo jam tangan ternama. Rifal kemudian menatap ke arah Keysha.
"Pakailah Kak! Key berharap, setiap Kakak melihat ke arah jam tangan ini, Kakak akan ingat bahwa Kakak juga harus punya waktu untuk menghubungi Key." Ucapan sekaligus peringatan. Namun, mampu membuat Rifal tersenyum senang.
"Makasih, Sayang." Rifal menarik tangan Keysha dan memeluknya.
"Kalau aku lupa, tolong ingatkan," imbuhnya seraya mengeratkan pelukan.
Baru menikmati hangatnya pelukan wanita dambaan, pekikan suara keempat keponakan Rifal membuat telinganya panas.
"Tawatna ti teblang!" teriak Aleeya.
(Pesawatnya nanti terbang)
"Ya Tuhan!" Rifal pun mendengus kesal.
"Aku pergi, ya. Keponakan aku bagai alarm mematikan," kelakarnya.
Keysha terkekeh mendengar candaan dari Rifal. "Jika, sudah sampai tolong kabari," pinta Keysha.
"Tentu, Sayang."
"Om!" teriak si triplets dan Rio.
Lagi-lagi Keysha tertawa melihat wajah Rifal yang ditekuk. "Udah Kakak pergi gih," titah Keysha.
"Peluk lagi," ucapnya manja.
Keysha pun berhambur memeluk tubuh Rifal dengan sangat erat. Begitu juga dengan Rifal.
"Jangan nakal ya, Sayang. Aku gak suka kamu terlalu dekat dengan cowok itu." Rifal menjelma menjadi pria yang posesif. Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Keysha.
Tanpa mereka sadari, ketiga tuyul dan juga Rio sudah turun dari mobil. Menarik paksa tubuh Rifal dari pelukan Keysha.
"Tepet!" Aleeya sudah berkacak pinggang. Sedangkan Aleena, Aleesa dan juga Rio sudah menarik tubuh Rifal.
"Dak boyeh eket-eket Om," omel Aleeya kepada Keysha.
Bukannya marah Keysha malah tertawa. Semakin besar ketiga anak Echa semakin comel.
"Aku pergi, ya. Mau aku antar pulang?" Keysha menggeleng.
"Aku ke sini juga diantar Mamih. Mamih titip salam ke Kakak." Rifal sedikit terkejut mendengar ucapan Keysha. Dia segera berlari menghampiri mobil yang membawa Keysha. Tak dia hiraukan keempat keponakannya sudah berteriak.
Rifal mengetuk kaca mobil, apa yang dikatakan oleh Keysha ternyata benar.
"Bu," sapa Rifal dengan sopan.
"Panggil saya Tante saja. Jangan terlalu formal." Rifal tersenyum seraya mengangguk.
"Saya titip Keysha, Tante. Nanti, saya datang ke sini lagi dengan membawa rombongan untuk melamar Keysha." Sheza tertawa mendengar ucapan Rifal.
"Boleh, asal siap bersaing aja, ya." Rifal tertawa mendengar ucapan Sheza.
"Kalau begitu, saya permisi Tante. Saya harus bertolak ke Jakarta dan empat anak-anak saya sudah rewel," canda Rifal.
"Duda tapi masih perjaka." Rifal pun terkekeh mendengarnya.
Setelah berpamitan kepada calon mertua. Rifal mengusap rambut Keysha dengan lembut.
"Aku pasti akan kembali dan sering nengokin kamu di sini." Hanya seulas senyum yang Keysha tunjukkan.
"Bye, Sayang."
Tanpa malu ataupun takut, Rifal mencium kening Keysha dengan sangat dalam. Mengukirkan kenangan manis di kening Keysha.
Selama di pesawat, Rifal seperti manusia yang tidak waras. Sering tersenyum sendiri. Apalagi, jam tangan yang diberi Keysha sudah dia pakai.
"Mih, Om kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Rio.
"Om Ifal sedang bahagia, Nak," jawab Nesha.
"Tapi ... kalau Iyo bahagia gak begitu, Mih. Apalagi senyum seperti itu. Kayak orang gila yang sering Iyo lihat kalau pulang sekolah." Ucapan Rio mampu membuat Rindra tertawa dan mengusap kepala sang putra.
"Biarkan Om Ifal gila. Dia sedang dimabuk cinta." Mata Rio melebar ketika mendengar kata mabuk.
"Om Ifal mabuk? Nanti Iyo kasih tahu ke Opa, biar dimarahin," kata Rio dengan wajah yang sedikit terkejut.
"Papih ...."
"Biarin aja, Mih." Rindra merengkuh pundak Nesha dan mencium pipinya.
Bagi Rio pemandangan seperti ini sudah biasa. Papihnya sudah sering bermesraan dengan sang Mamih di depan matanya. Rio merangkul leher sang Mamih dan mencium pipi Nesha bergantian.
"Iyo sayang Mamih," ucapnya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Sama Papih sayang gak?" Rio mengangguk dan berpindah duduk di pangkuanku Rindra.
"Iyo sayang Papih juga." Rio memeluk tubuh Rindra.
Lengkungan senyum terukir dari wajah Nesha melihat suami dan anaknya bisa seakrab ini. Kehadiran Rio mampu membawa perubahan besar bagi Rindra dan juga Nesha.
"Janji ya, ketika Papih gak ada Rio yang harus jaga Mamih. Okay?" Rio
mengangguk.
"Iyo 'kan mau jadi pria hebat seperti Papih. Iyo akan jaga Mamih." Tidak ada kebahagiaan selain ini. Nesha memeluk tubuh kedua laki-laki yang sangat dia sayangi.
Berbeda halnya dengan keluarga Radit. Tidak ada kesempatan untuk Echa bermanja dengan suaminya. Ketiga anaknya sangat mendominasi. Di kiri dan kanan ada Aleesa dan juga Aleena, di pangkuan Radit ada Aleeya. Mereka terus mengoceh layaknya burung beo. Sedangkan Echa berada di kursi belakang Radit dan menghela napas kasar.
"Punya anak tiga cewek semua ya begini, kalah saing," gerutunya pelan.
Radit hanya tersenyum mendengar gerutuan sang istri. Radit mencoba menidurkan ketiga anaknya. Setelah mereka tidur, dia berpindah ke kursi belakang. Echa yang baru saja memejamkan matanya sedikit tersentak mendapat rengkuhan tiba-tiba. Kecupan hangat pun mendarat di keningnya.
"Kok ke sini?" Bukannya menjawab, Radit malah mengeratkan pelukannya.
"Udah pada tidur mereka. Sekarang tinggal nidurin Bubunya," kelakar Radit dan mampu membuat Echa tertawa.
Echa meletakkan kepalanya di bahu sang suami, dengan tangan yang melingkar di pinggang Radit.
"Senang gak liburannya?" tanya Radit sambil mengusap rambut Echa.
"Kurang lama, Ay," jawab Echa.
"Nanti kita bikin agenda lagi. Berlibur hanya berlima," imbuh Radit.
"Anak-anak ingin melihat hewan, Ay. Ke taman safari aja, ya."
"Iya. Sekalian kita reservasi hotel di sana, tetapi tidak untuk sekarang ya," tukas Radit.
Tibanya di Jakarta, mereka sudah disambut oleh Addhitama. Setelah berlibur mereka diharuskan menginap di kediaman sang Papih.
"Gimana liburannya?" tanya Addhitama sambil memangku Aleena dan Aleesa.
"Telu," jawab Aleeya yang sedang asyik mengunyah puding cokelat kesukaannya.
"Mau liburan lagi?"
"Mau!" seru keempat cucunya.
Radit memilih membawa Echa ke kamarnya. Sedari tadi Echa terus mengeluh badannya lelah sekali.
"Baba bawa Bubu dulu ya, ke kamar. Kalian sama Opa dulu." Ketiga anak Radit mengangguk patuh.
Echa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajah lelahnya terlihat sekali.
"Mau Ay, tapi yang enak ya. Soalnya seluruh badan aku sakit semua," ujarnya.
"Iya, tapi dengan syarat, ya.", Dahi Echa mengkerut mendengar ucapan sang suami.
"Aku nemenin kamu di sini," tegasnya.
"Terserah, Ay."
Sikap over protektif dan posesif Radit terkadang membuat Echa jengah. Namun, dia juga bahagia karena Radit sangat mencintainya. Perbedaan sikap antara Echa dan Radit sangatlah jauh. Echa yang santai dengan pergaulan Radit, sedangkan Radit yang seolah membatasi pergaulan sang istri. Saking santainya Echa membuat Radit membatasi dirinya sendiri. Setidaknya mereka berdua harus adil.
Radit meninggalkan Echa yang sudah terpejam. Dia menuju lantai bawah dan menanyakan kepada Nesha tukang pijat yang sangat profesional.
"Ke tempat refleksi aja, Dit. Lebih enak di sana sambil perawatan badan," jawab Nesha.
"Iya, Dit. Aktifitas Echa sepertinya terlalu padat. Wajahnya pun tidak berseri seperti kemarin-kemarin," tambah Addhitama.
Radit tahu, Echa tidak akan pernah mau pergi ke luar hanya untuk refleksi. Dia lebih memilih untuk melakukan semua perawatan di dalam rumah. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya.
"Abang kira istri kamu senang ke luar," tebak Rindra.
"Sebaliknya dia mah, Bang. Echa itu udah kaya manusia doyan rebahan. Apa-apa malas dia lakukan," timpal Rifal dan mampu membuat Radit melebarkan mata.
"Itu namanya istri Solehah. Gak mau ke luar rumah tanpa suami. Di zaman sekarang ini jarang loh perempuan yang seperti itu. Apalagi, Echa memiliki uang yang banyak. Apapun bisa dia beli, tetapi penampilannya aja sangat sederhana. Itu yang Papih suka dengan Echa." Nesha mendengarkan dengan seksama. Jika, dibandingkan dengan dirinya, dia tidaklah memiliki apa-apa. Echa adalah anak yang dilahirkan dari keluarga berada. Ketiga orang tuanya pun memiliki kekayaan berlimpah. Echa juga memiliki beberapa usaha yang dia kelola sendiri. Terkadang, Nesha malu karena dia yang hanya meminta kepada suami memakai barang branded. Sedangkan Echa yang banyak uangnya pun tak pernah berlebihan.
"Emang kamu gak pernah beliin barang branded?" sergah Rindra.
"Dia selalu menolak, dia bilang jika dia ingin membeli sesuatu dia harus menabung dulu. Biar dia bisa menghargai barang tersebut dan tidak menganggap barang itu seperti sampah."
Rindra speechless mendengar penuturan dari Radit. Echa memang wanita yang limited edition. Di saat para wanita berlomba-lomba menunjukkan pesonanya dengan barang-barang mewah, Echa malah sebaliknya.
Untuk apa, Ay? Barang itu nantinya juga gak akan kepakai lama. Akan ditaruh di lemari tas.
Itulah yang selalu Echa katakan. Radit pun sangat bangga kepada istrinya. Namun, jika dia ingin barang tertentu dia akan terus berusaha mendapatkannya. Meskipun harus ke luar negeri.
"Duit lu utuh dong," ujar Rifal.
"Tujuh puluh lima persen penghasilan bulanan aku, aku kirim ke rekening Echa." Semua orang pun melebarkan mata mendengarnya.
"Lu gak salah?" Rifal terkaget-kaget. Radit pun menggeleng.
Nesha menatap ke arah Rindra, dan Rindra mengusap tengkuknya yang tak gatal. Radit sungguh membuatnya mati kutu di depan sang istri.
"Iya, nanti Papih ikutin Radit. Tujuh puluh persen buat Mamih," imbuhnya.
"Lima persen lagi, Pih," sergah Nesha.
__ADS_1
"Lima persen lagi untuk transport, Mih." Rifal tertawa sangat keras. Abangnya yang mantan playboy cap kadal sekarang malah masuk ke deretan suami-suami takut istri.
"Baba," panggil Aleeya yang kini duduk dipangkuan Radit.
"Kenapa?" Dua anaknya yang lain pun mengahampiri Radit dan memeluk kakinya.
"Bubu," ucap mereka bertiga.
"Bubu sedang tidur, jangan diganggu ya. Kalau Bubu sakit nanti kalian tidak bisa menemui Bubu." Wajah ketiga anak Radit pun nampak sedih.
"Bubu dak oyeh atit," ucap Aleena.
(Bubu boleh sakit)
"Tata Sa dak Au Bubu atit," sambung Aleesa.
(Kakak Sa gak mau Bubu sakit)
"Makanya, jangan nakal ya. Harus jadi anak yang baik. Biar Bubu bisa bermain lagi bersama kalian."
Rifal merasa sangat bangga kepada adiknya ini. Cara mendidik Radit sangatlah lembut, tetapi mampu membuat si triplets menjadi anak yang penurut.
"Sa, angen Dev," bisik Aleesa.
(Sa, kangen Dev)
Radit tersenyum dan mengusap lembut kepala Aleesa. Hanya Radit lah yang mampu menjadi teman curhat untuk Aleesa masalah hal tak kasat mata.
Sore menjelang, tukang pijit langganan ibu-ibu kompleks sekitaran rumah Addhitama datang. Dia dibawa ke kamar Radit oleh asisten rumah tangga.
"Mas, tukang pijatnya udah datang," ucap asisten rumah tangga dari balik pintu.
Radit segera membuat pintu kamarnya dan terlihat wanita paruh baya menundukkan kepalanya sopan.
"Tolong pijat istri saya."
Radit membawa tukang pijat itu ke kasur tebal yang sudah asisten rumah tangga Radit gelar. Echa yang masih terlelap pun Radit bangunkan dan disuruh berganti pakaian terlebih dahulu.
Tukang pijat itu pun menggeleng tak percaya ketika Radit malah ikut masuk ke kamar mandi membantu Echa mengganti pakaian.
"Harus cepat sembuh, ya. Aku ingin lagi," bisik Radit.
"Beri aku waktu istirahat dulu ya, Ay. Tiga hari deh cukup." Echa sudah memasang wajah memelas dan membuat Radit terkekeh.
"Aku bercanda, Sayang. Kamu harus istirahat dulu dan gak boleh kecapean." Echa tersenyum dan memeluk tubuh sang suami.
"Makasih, Sayang." Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Barulah mereka ke luar dari kamar mandi.
"Mbak, minyak anginnya jangan pakai yang sembarangan, ya." Asisten rumah tangga itu mengangguk paham. Dia tahu bahwa Echa memiliki alergi dan hanya bisa memakai produk skincare dan bodycare dari merk tertentu. Itu pun atas anjuran dokter.
Radit menemani sang istri yang telah tengkurap. Perlahan, si ibu tukang pijat memijat punggung Echa. Sedikit Echa meringis.
"Sakit?" Raut khawatir terpancar jelas di wajah Radit.
"Ini terlalu lama duduk, Mas. Makanya urat-uratnya menegang," sahut si ibu tukang pijat.
"Jangan khawatir ya, Ay. Aku ingin menikmati pijatan ini." Radit tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri.
Ketika si ibu tukang pijit mulai memijat ke arah bawah, Echa sedikit berteriak membuat Radit terkejut.
"Kenapa?"
"Ini urat-uratnya pada meringkel, kebanyakan pakai selop tinggi nih kayaknya," tutur si ibu tukang pijat.
"Aku 'kan udah bilang, jangan pakai high heel. Mulai besok buang semua high heel yang ada di rumah," tegas Radit.
Si ibu tukang pijat terhenyak mendengar ucapan dari Radit. Buang semua. Dia pun menggeleng tidak percaya.
"Jangan dibuang, Mas. Mending buat anak saya. Saya punya anak yang seumuran Nona ini," jelasnya.
Echa mendelik kesal ke arah Radit sedangkan Radit selalu bersikap biasa. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Echa.
"Besok malam, kita datang ke designer sepatu terkenal. Aku gak menerima penolakan."
"Hem," jawab Echa malas.
Sedangkan Rifal ditugaskan untuk menjaga si triplets yang sangat doyan jajan. Diajak ke minimarket malah mengambil semuanya yang mereka suka. Di samping minimarket ada kedai es krim, mereka pun merengek.
"Baiklah, Om akan ikuti apa mau kalian." Mereka bertiga bertepuk tangan gembira.
Semua pesanan mereka bertiga sudah tersedia, sedangkan Rifal memesan es kopi. Melihat mereka makan dengan sangat lahap membuat Rifal tersenyum gembira.
Rifal dikejutkan dengan nada ponsel khusus dari sang pujaan hati. Dia segera merapihkan pakaian dan juga wajahnya agar terlihat tampan di mata Keysha.
"Iya, Key."
Lengkungan senyum Keysha berikan untuk Rifal. Mereka berbincang ria hingga Rifal melupakan sesuatu. Ketika sambungan video call terputus, Rifal memasukkan ponselnya ke dalam saku. Namun, dia terkejut ketika ketiga keponakannya sudah tidak ada di sana.
"Trio Al," panggil Rifal.
"Aleena! Aleesa! Aleeya!"
"Kalian di mana? Udah sore jangan main petak umpet," teriaknya.
Tak lama, ponsel Rifal berdering dan nama Echa yang terpampang nyata di sana.
__ADS_1
"Mampoes!"