Yang Terluka

Yang Terluka
Menjauh


__ADS_3

Kepergian Echa bukan karena dia tidak memaafkan Radit. Mulutnya mampu memaafkan kesalahan sang suami, tetapi hatinya masih perih tak terkira. Radit adalah orang yang membantunya untuk sembuh dari trauma yang dia alami, tetapi Radit juga yang kini sudah membuka sedikit celah untuk trauma itu hadir. Echa hanya perlu waktu mendinginkan hati dan pikiran agar dia bisa berdamai dengan kenyataan.


Radit sudah melacak keberadaan Echa, tetapi tak dapat dia temui. "Ke mana kamu, Sayang?"


Pikiran Radit sudah kalut dan buntu. Semua anak buahnya sudah dia kerahkan, tetapi semuanya mengatakan tidak tahu. Sungguh membuat Radit murka. Jalan terakhir yaitu menemui ayahnya. Dia sangat yakin bahwa ayahnya mengetahui keberadaan Echa.


"Kamu menuduh Papih?" Radit hanya terdiam.


"Ini salah kamu! Wajar aja Echa pergi, coba kalau dia minta cerai kepada kamu!"


Jleb.


Ucapan Addhitama sangat membuat Radit syok. Mulut Radit terasa kelu mendengar ucapan sang ayah yang sangat menusuk ulu hati. Radit keluar dari ruangan sang ayah dan segera mencari istrinya. Instingnya sangat kuat, hati kecil Radit mengatakan bahwa istrinya pergi ke Jogja. Tempat di mana Echa menghabiskan waktu sedihnya di sana.


Tibanya di Jogja, dia segera datang ke tempat di mana Andri berada. Wajah panik dan cemas bercampur aduk.


"Om, di mana Echa?" Sergahan Radit membuat Andri mengerutkan dahi.


"Ngapain nanya sama saya? Kamu 'kan suaminya," sahutnya.


"Om, pelase ...."


Radit sudah mengiba dan memohon. Pikirannya sudah dangkal, dia benar-benar merasa takut sekarang.


"Radit hanya ingin bertemu dengan istri Radit," pintanya. Seketika dia terduduk di lantai dengan kepala yang tertunduk.


"Bantu Radit, Om."


Andri sungguh tidak tega, tetapi dia juga tidak tahu di mana Echa akan tinggal. Dia meminta kepada Andri agar merahasiakan kepergiannya kepada kedua orang tua juga papahnya. Andri sendiri pun tidak tahu ke tempat apa Echa menenangkan diri.


Andri menghampiri Radit, dia menjongkokkan tubuhnya seraya mengusap lembut pundak Radit. "Hati Echa mudah luka dan rapuh. Jadi, jangan pernah membuat gesekan luka. Inilah yang akan terjadi."

__ADS_1


Perkataan Andri memang benar. Echa adalah wanita yang kuat perihal dihina ataupun dimaki. Namun, perihal hati dia amat rapuh karena luka masa lalu yang pernah dia derita. Pengkhianatan ayahnya kepada ibunya, pengkhianatan mantan kekasihnya almarhum Riza kepadanya. Sekarang, luka itu seakan dikorek lagi.


.


Echa baru tiba ketika pagi menjelang, dia memesan hunian sederhana untuk dia tinggali. Itupun berada dekat hamparan sawah yang luas. Dia benar-benar menginginkan ketenangan. Melupakan sejenak apa yang sudah terjadi padanya. Mencoba untuk melupakan walaupun sulit dilakukan.


Mentari mulai datang dari ufuk timur, tetapi Echa masih saja menatap hamparan sawah yang luas dengan tatapan kosong.


"Maafkan aku, Ay."


Seorang istri yang sudah disakiti masih mampu mengucapkan kata maaf. Padahal, hatinya lebih tersakiti.


"Maaf, jika sekarang aku sudah tidak sempurna." Lelehan air mata sudah membasahi wajahnya. Sisi lain Echa seperti ini. Ketika masalah datang, dia hanya ingin tenang. Datang ke tempat di mana hanya ada kesunyian. Hanya ada suara alam yang dapat dia dengar.


Kembali dikhianati oleh orang yang dia cintai dengan tulus. Ketika bersama Riza dialah yang dikhianati hingga traumanya kambuh lagi. Datanglah Radit yang kini menjadi suaminya, mengobati lukanya yang tak terlihat dan membuatnya lupa akan rasa sakit yang dulu pernah bersarang di hatinya. Namun, kali ini seperti de javu untuknya. Hampir dikhianati dan menjadi single Mommy.


"Apa jalan takdirku memang harus seperti ini?" Senyum tersungging di bibirnya, tetapi tangannya memegang dadanya yang teramat sakit. "Pura-pura baik-baik saja itu melelahkan, Tuhan."


Hingga siang menjelang, Echa baru bisa memejamkan mata. Dia meringkuk bagai bayi kedinginan. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kecupan mesra. Dia hanya sendiri dan sendiri.


.


"Makan dulu, Dit."


Seruan dari balik pintu tak ayal membuat Radit beranjak dari tempatnya. Dia masih berdiri memandangi wajah cantik istrinya semasa remaja di dalam sebuah figura.


"Di mana kamu, Sayang? Maafkan aku."


Andri yang melihat Radit seperti ini merasa iba juga. Namun, dia ingin melihat perjuangan Radit sebesar apa untuk Echa.


Dua hari sudah Radit berada di Jogja. Dia belum juga menemukan sang istri. Berangkat subuh dan pulang tengah malam dengan wajah sendu karena tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Orang yang selalu berada di belakang Radit mengatakan bahwa sudah dua hari ini Radit tidak menyentuh nasi sama sekali. Untung saja Radit bukan pria pemabuk. Dia hanya akan berteriak keras ketika hatinya ingin menangis.

__ADS_1


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Andri. Dia sangat tidak tega karena dia melihat sendiri tubuh Radit yang terlihat lebih kurus dan pipi yang tirus.


"Dit, makan malam dulu."


"Makasih, Om. Radit harus istirahat. Besok pagi harus mencari Echa lagi."


Andri hanya menatap kasihan. Inilah yang terjadi jika Radit mencoba bermain-main api. Echa bukanlah orang yang senang dengan pertengkaran. Ketika hatinya panas, dia lebih baik menjauh.


Ketika subuh datang, Andri pergi dengan tergesa. Radit yang memang tidak terpejam melihat Andri masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru. Ada sedikit curiga dalam hatinya. Tanpa pikir panjang, dia pun mengikuti Andri. Tak dia pedulikan hanya memakai piyama panjang saja.


Cukup lama Radit mengikuti mobil Andri pergi. Satu setengah jam mengendara, mobil Andri berhenti di sebuah rumah di tengah-tengah sawah. Rumah yang terlihat asri dan sederhana.


"Mau apa Om Andri ke sini?" Radit mengikuti langkah Andri dari belakang. Ketika sudah di depan rumah dia segera memegang gagang pintu.


"Gak dikunci."


Radit segera masuk, terdengar suara Andri yang tengah berbicara dengan seseorang.


"Echa gak lapar, Om."


Deg.


Jantung Radit berhenti berdetak mendengar suara itu. Radit mendekat dengan cara mengendap-endap. Dia tidak ingin ketahuan. Radit hanya bisa menguping pembicaraan Andri dengan istrinya. Dia belum bisa melihat wajah Echa karena dia harus bersembunyi.


"Kenapa nasib Echa harus seperti Mamah, Om?" Echa berbicara dengan sangat lirih. Radit sangat yakin bahwa istrinya berbicara sambil menangis.


"Baru seperti ini aja hati Echa udah sakit banget. Bagaimana dengan hati Mamah?"


Radit hanya bisa menyandarkan tubuhnya di dinding. Trauma istrinya mulai hadir. Rasa takut berlebih mulai hinggap di kepala dan juga hati Echa. Dia sangat merutuki kebodohannya.


"Kenapa gua harus sebodoh ini?" erangnya dalam hati.

__ADS_1


"Apa Echa yang harus mengalah? Mengijinkan Radit berpoligami, walaupun nantinya hati Echa akan semakin sakit."


...****************...


__ADS_2