Yang Terluka

Yang Terluka
Rencana Terselubung


__ADS_3

"Om, saya harus pergi. Saya harus ke kampus."


Suara yang menghentikan langkah Jingga. Suara yang Jingga rindukan selama ini.


Jingga hendak kembali ke ruang tamu, tetapi Kalfa memanggilnya dan ingin dibuatkan susu.


Aska yang sudah keluar dari rumah Satria merasakan ada sesuatu yang berbeda. Aska menghentikan langkahnya sejenak, tetapi dia menggelengkan kepala dan melanjutkan langkahnya kembali.


"Ternyata aku belum bisa lupakan kamu," gumamnya, seraya tersenyum kecut.


Di taman bermain pun, Jingga merasakan ada kerinduan di hatinya akan sosok yang sangat baik kepadanya. Orang yang selalu ada untuknya meskipun mereka berbeda kasta.


"Pasti kamu sudah memiliki pacar yang sekelas dengan kamu," batinnya lirih.


Si triplets terlihat sangat senang bermain bersama Kalfa dan juga Jingga. Apalagi dia merasa sangat dekat dengan Jingga.


"Coba kalau Kak Jing-jing pacalan sama Om," bisik Aleesa. Aleena dan Aleeya terkekeh mendengar ucapan Aleesa.


Di kampus, Aska menjelma menjadi manusia kalem tidak seperti biasanya. Banyak wanita yang mendekatinya pun dia hanya diam saja. Tak melarang ataupun bersikap galak.


"Tuh anak kesambet setan apaan?" tanya Ken kepada Bian.


Bian hanya mengangkat bahunya tak mengerti. Dia juga heran dengan kelakuan Aska hari ini.


"Lagi ada masalah, Bro," tanya Bian.


"Touring motor yuk ke Bandung," ajaknya.


Ken dan Bian tertawa, jikalau sudah begini sahabatnya ini memang sedang ada masalah.


"Kapan berangkat?" Ken segera menyetujuinya.


"Jum'at malam."


Sahabat dari Aska ini mengangguk setuju. Selama ini dia tidak pernah melihat Aska segalau ini. Tidak mungkin dia galau karena mahasiswi di kampus tempatnya menimba ilmu.


Sore hari, bukan Aska yang menjemput si triplets. Melainkan Echa dan juga Radit. Satria berbincang dengan Radit dan Echa berbincang dengan Jingga.


"Kak, makasih ya," ucap Jingga.


"Makasih untuk apa?" tanya Echa bingung.


"Uang yang kemarin Kakak kasih itu," terangnya. Echa pun tergelak.


"Aku kira apa," jawab Echa.


Jingga terdiam mendengar ucapan dari Echa. Uang yang Echa berikan itu tidak sedikit, satu juta rupiah.


"Simpan uang itu, takut suatu saat kamu butuh uang bisa pakai uang itu," ujar Echa.


Jingga mengangguk seraya tersenyum. Aleena mendekat ke arah ibunya dan berbisik, "Kalau pacal Om kayak Kak Jing-jing Kakak Na suka."


Echa tertawa dan mencium pipi anak pertamanya. "Kita gak bisa larang Om mau dekat dengan siapapun, Sayang. Kita hanya bisa berdoa supaya Om dapat jodoh yang terbaik," terang Echa.


"Kakak Sa bisa lalang Om," sahut Aleesa.


"Dedek juga bisa," tambah Aleesa.


Echa tergelak mendengar ucapan dari ketiga anaknya ini. Jingga tak mengerti dengan ucapan ketiga anak kembar ini.


"Ngomongin apa sih, Kak?" tanya Jingga penasaran.

__ADS_1


"Biasalah anak-anak."


Si triplets pamit pulang karena hari sudah sore. Tak lupa dia mencium tangan Satria dan juga Jingga.


"Nanti main lagi, ya," kata Kalfa.


"Iya," jawab si triplets bersama.


Di sepanjang perjalanan si tripelts terus bercerita panjang lebar. Hanya rona bahagia yang mereka tunjukkan.


"Kalian senang bermain sama Kalfa atau pengasuhnya?" tanya Radit.


"Kak Jing-jing," jawab mereka kompak. Echa dan Radit pun tertawa.


Di kediaman Satria, Jingga yang tengah membersihkan taman bermain dipanggil oleh Satria.


"Iya, Pak," ucap Jingga sopan.


"Jum'at malam kita akan ke Bandung untuk beberapa hari. Kamu siapkan perlengkapan Kalfa dan juga perlengkapan kamu." Jingga pun mengangguk.


Tidak seperti biasanya, ketiga anak Echa ingin pergi ke rumah sang Mimo.


"Tumben banget." Radit terkejut dengan permintaan ketiga putrinya. Padahal mereka sedang bermusuhan dengan Aska.


"Ayo, Bubu," ajak Aleena dan Aleeya.


Echa yang tengah duduk santai pun terus ditarik oleh kedua anaknya ini.


"Sama Baba aja, ya." Mereka pun menggeleng.


"Sama Baba dan Bubu," ucap mereka bertiga.


Echa dan Radit pun tertawa dan mengikuti permintaan ketiga anaknya. Dahi mereka mengkerut ketika mereka mengambil sesuatu dari dalam lemari es.


"Ada udang di balik batu," bisik Echa kepada Radit.


"Kita lihat saja apa yang tengah mereka rencanakan," balas Radit berbisik kepada istrinya.


Mereka berlima berjalan kaki menuju rumah Ayanda dan Gio. Ketiga putri mereka nampak bahagia. Sambutan hangat diberikan oleh Mimo mereka.


"Cucu-cucu cantik Mimo," sambut Ayanda sambil memeluk mereka bertiga.


Gio yang berada di ruang kerja pun keluar. Senyum merekah di wajahnya ketika melihat ketiga cucunya yang sangat cantik itu.


"Kalian gak kangen Aki?" tanya Gio.


"Miss you so much," ucap mereka bersama.


Gio memeluk tubuh ketiga cucunya dan menciumnya bertubi-tubi.


"Makin cantik cucu aki," pujinya.


"Aki makin ganteng," Aleena mencium pipi Gio diikuti oleh Aleesa dan juga Aleeya.


"Tumben banget," kata Ayanda.


"Kayaknya ada rencana terselubung," imbuh Echa.


Ayanda menatap Echa heran, begitu juga dengan Gio.


"Lihat aja sama Papah," ucap Radit.

__ADS_1


"Mimo, Om ada?" tanya Aleesa.


Ayanda dan Gio tertawa mendengarnya. Rencana apa yang sedang mereka susun.


"Ada di kamar," jawab Ayanda.


Mereka segera naik ke undakan anak tangga, di sana Radit dan Gio mengikuti mereka dari belakang.


"Aki, bukain pintunya," ujar Aleena.


Gio pun membuka pintu kamar Aska. Dilihatnya Aksa tengah fokus pada layar ponselnya. Ketiga anak Echa segera menghampiri Aska.


"Hai, Om," sapa si triplets.


Dahi Aska mengkerut ketika melihat ketiga keponakannya datang dengan senyum yang berbeda. Namun,tidak dipungkiri ada kebahagiaan di hati Aska karena si triplets sudah mau mengajak bicara dirinya.


"Ini buat Om," ujar Aleeya. Dia memberikan kotak bening yang berisi puding buah.


"Makasih," balas Aska.


Ketiga keponakannya naik ke atas tempat tidur Aska. Mereka duduk di samping Aska.


"Kalian sudah memaafkan Om?" tanya Aska.


Mereka menggeleng, kini Aleena mendekat ke arah Aska.


"Kakak Na akan maapin Om, tapi ...." Ucapan Aleena menggantung. Aska menukikkan kedua alisnya tak mengerti. Jujur, dadanya bergemuruh hebat.


"Tapi apa?" tanya Aska penasaran.


"Om mau kita kenalin sama pelempuan," jawab Aleesa.


Sontak mata Aska melebar, dia benar-benar syok dengan apa yang dikatakan oleh si triplets.


"Kalau Om gak mau, ya udah kita gak akan maapin," ujar Aleeya.


Aska ingin mencari aman. Tak ada salahnya juga jika dia mengikuti ketiga keponakannya.


"Gimana?" tanya Aleena.


"Em ... boleh." Ketiga keponakannya berteriak gembira. Aska malah ikut tertawa.


"Kecil-kecil pengen jadi mak comblang," batin Aska.


"Kalau boleh tahu, siapa perempuan itu?" tanya Aska.


Si triplets saling pandang. Mereka masih membungkam mulut mereka.


"Ayolah, kasih tau Om," paksa Aska.


"LAHASIA," jawab mereka.


"Ya udah. Padahal Om punya cokelat yang baru dikirim Uncle."


Mendengar kata cokelat membuat keteguhan hati mereka sedikit goyah. Apalagi Aska sudah menunjukkan cokelat tersebut.


"Beneran gak mau?"


"Mau," jawab mereka.


"Kasih tahu dulu namanya siapa," pinta Aska.

__ADS_1


"Kak Jing-jing."


__ADS_2