Yang Terluka

Yang Terluka
Hampir Fatal


__ADS_3

Tidak mudah bagi Echa melalui kenyataan yang ada tentang pengangkatan rahimnya. Di mana dia sudah tidak bisa memiliki anak lagi. Padahal, dia sangat mendambakan memiliki anak laki-laki.


Radit dengan setia membantu pemulihan psikis yang Echa derita. Pelan tapi pasti Echa bisa kembali tersenyum lagi. Sedikit demi sedikit bisa melupakan apa yang telah terjadi.


"Bubu, jangan sedih lagi. Kakak Sa ikut sedih kalau Bubu sedih," tutur anak kedua Echa.


Echa memeluk tubuh Aleesa. Selama pasca penyembuhan, Aleesalah yang selalu setia mendampinginya. Melewatkan beberapa acara yang dibuat oleh keluarga mereka.


"Makasih, Sayang." Echa mengecup kening Aleesa dengan sangat lembut.


Di ruangan sang ayah, Addhitma tengah memandangi wajah putranya. Dia seakan tahu kesedihan yang selama ini dirinya pendam.


"Kamu kecewa?"


Pertanyaan Addhitama membuat Radit menatap ke arah sang ayah.


"Ini keputusan kamu. Ini kemauan kamu, harusnya kamu yang lebih berlapang dada," tegas sang ayah lagi.


Radit hanya terdiam. Addhitma menyerahkan sebuah amplop kepada Radit.


"Itu dari istrimu."


Radit sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dia segera meraih amplop tersebut dan membacanya.


Dear : Suamiku.


Aku tidak bisa berucap banyak ketika aku tahu bahwa aku sudah tidak bisa mengandung buah cinta kamu lagi. Hatiku kecewa dan sakit menerima kenyataan ini. Namun, kamu selalu memberikan dukungan kepadaku. Padahal, kamu sendiri pun lebih sedih dari aku.


Sekarang ... aku sudah menjadi wanita yang tidak sempurna lagi. Sudah ada kecacatan pada diriku. Jika, kamu ingin mencari wanita yang lebih sempurna dari aku. Insha Allah aku ikhlas. Namun, kamu juga harus bisa ikhals melepaskan aku karena sesungguhnya aku tidak mau didua. Cukup kisah Ayah dan Mamahku menjadi pelajaran yang berharga meskipun menyakitkan untukku.


Maafkan aku, karena aku tidak bisa lagi menjadi istri yang sempurna untuk kamu.


...Elthasya ...


Radit melipat kertas itu, kemudian memasukkannya lagi ke dalam amplop.


"Jangan lihat ketidaksempurnaan istri kamu sekarang, tapi lihatlah perjuangannya untuk menyempurnakan hidup kamu yang penuh dengan kekurangan," ucap Addhitama.


Radit terdiam, dia mencerna ucapan dari sang ayah.


"Jangan melepaskan permata yang sudah kamu genggam. Demi emas imitasi yang mengecoh mata kamu."


Jleb.


Perkataan sang ayah seperti peluru yang menembak tepat sasaran.

__ADS_1


"Papih tahu wanita yang mencoba menjanjikan hal manis kepada kamu," ungkap Addhitama.


"Jangan pernah sia-siakan dia yang dengan tulus berjuang. Manemani kamu dari nol hingga sekarang. Bukan dia yang baru saja datang dan hanya menginginkan kesenanangan."


"Kamu sedang tertawa bersama wanita lain, sedangkan istri kamu tengah menangis karena belum bisa menerima kenyataan. Apa kamu suami model seperti itu?"


"Bangkai tetaplah bangkai, bau busuk!"


Pikiran Radit tengah berkecamuk. Ucapan ayahnya menyadarkannya atas kesalahan yang telah dia perbuat. Sudah seminggu ini Radit pulang malam dan tak pernah berbincang dengan sang istri dikarenakan Echa sudah terlelap ketika dia pulang. Ketiga anaknya pun seakan enggan mendekat, seperti mengetahui apa yang sudah dilakukan ayah mereka.


Ketika suaminya pulang kerja, Echa akan pura-pura tertidur. Dia tidak ingin emosinya tidak stabil ketika melihat suaminya dengan wajah sumringah. Ketika ada masalah dengan sang suami, Echa tidak akan bercerita kepada keluarganya. Dia akan bercerita kepada ayah mertuanya. Ternyata, kecurigaannya benar. Addhitama yang menyuruh Echa untuk pura-pura tidak tahu. Addhitama pun mendatangkan psikiater terbaik untuk membantunya bangkit dari rasa kehilangan juga tidak terlalu memikirkan perihal sang suami yang mencoba bermain belakang. Sulit, sudah pasti.


Radit segera pergi dari ruangan sang ayah. Dia bergegas menuju rumahnya dan meninggalakan kedua anaknya bersama sang kakak ipar. Hatinya berkecamuk. Dia benar-benar merasa bersalah kepada istrinya. Wanita yang sudah melahirkan tiga anak yang sangat cantik dan juga pintar. Namun, seolah dia tidak bersyukur dengan apa yang sudah dia terima. Dia hampir terjerumus ke dalam jurang penyesalan.


Tibanya di rumah, langkah lebarnya membawa tubuhnya ke kamar mereka. Sebelum menekan gagang pintu, Radit menarik napas panjang terlebih dahulu. Pelan-pelan, Radit membuka pintunya. Dia melihat kamar itu kosong, tetapi pintu ke arah balkon terbuka.


Malam ini angin begitu kencang dan Echa membiarkan tubuhnya terkena angin malam yang dingin. Hanya dengan menggunakan baju tidur terusan tanpa lengan. Dia memejamkan matanya dengan bersandar di ayunan. Hati Radit teriris, dia seperti melihat kejadian belasan tahun yang lalu. Echa yang terpuruk dan menyimpan kesedihannya seorang diri.


Radit melangkah dengan sangat pelan dan Echa terkejut ketika dia sudah dipeluk oleh sang suami.


"Maafkan aku," lirih Radit.


"Maaf untuk apa? Emangnya kamu punya salah sama aku?" tanya balik Echa dengan nada datar.


Dia masih terlihat biasa, tetapi tidak dengan hatinya. Radit mengurai pelukannya, dia menatap sendu ke arah sang istri.


Radit berkata dengan suara yang sangat lemah. Dia menggenggam erat tangan sang istri tercinta.


Echa hanya tersenyum tipis dan berkata, "aku udah gak sempurna. Kamu berhak mencari ataupun mendapatkan wanita yang lebih sempurna dari aku. Kamu pria, yang tak akan pernah berjejak. Sekalipun, kamu memiliki istri dan anak."


"Tidak, Sayang. Aku tidak akan melakukan itu. Aku khilaf, aku terlalu sedih dalam menghadapi kenyataan ini," terangnya.


"Kamu sedih dan mencari kebahagiaan dengan wanita lain. Tanpa kamu sadari perlahan tapi pasti kamu semakin membuat hatiku lebih sedih dan lebih sakit." Radit memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.


Air mata Echa sudah tak bisa menetes lagi. Hatinya terlalu perih. Cukup menangis keras di dalam hati tanpa orang lain mengetahui.


"Lebih baik lepaskan aku. Jangan sakiti aku seperti cara ayahku menyakiti mamahku. Itu terlalu membekas dan sangat menyakitkan."


"Tidak. Sayang. Tidak, maafkan aku."


Ketika Radit dengan seorang wanita lain, ketiga anaknya seakan memiliki naluri yang sangat kuat. Mereka sama sekali tidak ingin didekati oleh sang ayah. Mereka selalu menempel pada sang ibu.


Echa tidak membalas ucapan Radit lagi. Tangannya pun tidak membalas pelukan hangat Radit. Namun, Radit masih memeluk erat tubuh istrinya dan tidak mau melepaskan. Dia benar-benar sangat menyesal.


Sepuluh menit berselang, Radit merasakan tubuh istrinya yang sudah dingin. Ketika dia mengurai pelukannya, wajah Echa sudah sangat pucat dan tubuhnya menggigil.

__ADS_1


"Sayang!"


Radit benar-benar terkejut melihat istrinya seperti ini. Dia segera membawa tubuh istrinya ke dalam kamar dan menyelimuti tubuh Echa dengan selimut tebal. Dia menelepon sang ayah mertua yang untungnya belum tidur.


"Ayah, tolongin Radit. Tolong buatkan teh hangat untuk Echa. Tubuhnya menggigil, Yah. Radit gak mungkin ninggalin dia."


Suara Radit terdengar sangat ketakutan. Meskipun tubuh istrinya sudah berbalut selimut, tetapi tubuh Echa masih menggigil. Radit terus mendekap tubuh Echa.


"Sayang, bertahanlah," ucap Radit.


Sebuah penyesalan yang benar-benar Radit rasakan. Dia telah melakukan hal bodoh.


Tak lama, Rion masuk ke dalam kamar putridan dia benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat. Rion segera menghampiri Echa. Dia menyuruh Echa meminum teh manis hangat yang baru saja dia buatkan. Tangan Radit pun tak melepaskan pelukannya.


Tubuh menggigil Echa perlahan menghilang. Namun, wajah pucatnya masih terlihat jelas.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Rion. Radit menjelaskan semuanya, tapi tidak dengan sikap bodohnya.


Rion mendekat ke arah sang putri yang masih terlihat pucat dan berada di pelukan Radit.


"Jangan buat Ayah khawatir, Dek. Ayah gak mau kehilangan kamu." Ucapan tulus yang keluar dari mulut Rion Juanda.


Tes.


Ucapan ayahnya membuat Echa menitikan air mata. Dia tidak bercerita apapun kepada sang ayah. Dia hanya tidak ingin ayahnya membenci suaminya. Seburuk apapun kelakuan Radit, tidak pernah Echa katakan kepada ayahnya. Pelukan hangat Rion berikan kepada sang putri.


"Jangan pernah sakit, Dek. Sakit ga kamu membuat tubuh Ayah ikutan sakit juga."


Radit menatap wajah istrinya yang tanpa ekspresi. Dia mengecup kening Echa dengan sangat dalam.


"Terus tidur ya, Sayang. Aku akan jaga kamu di sini," ucapnya setelah memberikan obat kepada sang istri


Semalaman ini Radit terus memeluk erat tubuh Echa. Tak dia lepas barang sedetikpun. Menyesali semua perbuatannya. Ponsel Radit di atas nakas bergetar. Dia meraihnya dan menghela napas kasar ketika dia melihat nama siapa yang memanggilnya. Tanpa menunggu lama, Radit menolak panggilan itu. Dia pun memblokir nomor tersebut.


Echa bukannya tidak tahu karena dia memang tidak tidur. Ketika pagi menjelang, dia dikejutkan dengan Radit membanting ponsel mahal miliknya.


"Aku ingin memulai hidup yang baru dengan kamu, Sayang." Radit menghampiri sang istri yang baru saja terbangun. Kecupan hangat mendarat di kening Echa.


"Siang nanti, antar aku ke mall, ya. Aku ingin mengganti ponsel baru."


Goresan luka yang Radit berikan masih berbekas hingga sekarang. Echa hanya mengikuti keinginan Radit. Berjalan-jalan ke mall dengan tangan yang digenggam erat oleh Radit.


Ketika di toko ponsel pun, Radit mempersilahkan Echa untuk mengatur semuanya. Dari nomor ponsel Echa yang memilih, sandi ponsel Echa yang buat. Semuanya Radit serahkan kepada sang istri.


"Gak apa-apa kamu masih marah sama aku, belum bisa percaya sama aku. Memang aku patut dimarahi dan dibenci karena kebodohan aku, tapi harus kamu tahu, mulai hari ini aku sudah berubah. Aku akan selalu ada di samping kamu juga anak-anak dan akan menjadi pelindung untuk kalian. Love you so much, Sayang."

__ADS_1


Radit mengecup punggung tangan Echa dengan sangat dalam. Meraih maaf dari Echa memang sulit. Apalagi, dia sudah melakukan kesalahan yang hampir fatal. Akan tetapi, Radit terus berusaha menjadi suami yang baik. Pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit Echa pun melupakan semuanya. Tuhan saja selalu memberikan kesempatan kepada umat-Nya. Echa yang sebagai umat-Nya pun harus bisa seperti itu. Memberikan kesempatan kepada suaminya sendiri untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi.


...****************...


__ADS_2