
Echa pun keluar dari pantry tersebut dan langkahnya terhenti ketika ada Radit di depan pintu pantry. Radit tersenyum dan bertanya, "kamu tidak apa-apa?"
"Kamu bertanya kepada siapa? Aku atau dia?" tunjuk Echa ke arah Renita.
"Kamulah, Sayang," jawab Radit dengan sangat tegas.
"Aku selalu baik."
Jawaban yang singkat dan Echa pun berlalu meninggalakan Radit begitu saja. Namun, Radit berhasil mencekal tangan Echa dan memeluk tubuh Echa dari belakang. "Maafkan aku."
Kalimat itu terdengar sangat pilu. Namun, Echa mencoba untuk tidak peduli.
"Lepas, Kak."
Deg.
Sebutan yang tidak biasanya Echa katakan kepadanya. Jujur, hati Radit sangat sakit mendengarnya. Tangan Radit pun seketika terlepas dari perut Echa.
"Aku ingin sendiri."
Echa pun meninggalakan Radit dengan hati yang sangat perih. Dia tahu Renita itu berbohong, tetapi hatinya tetap sakit mendengarnya.
"Apa rumah tanggaku harus sama seperti rumah tangga Mamah?"
Pertanyaan itu yang tengah berkecamuk di hati Echa. Tanpa Echa sadari tubuhnya sudah digendong oleh Radit.
"Lepas!" Echa mencoba memberontak, tetapi Radit seakan acuh. Ketika Echa hendak berteriak, Radit mengancamnya, "mau aku cium di depan banyak orang."
Echa hanya terdiam, dia tahu Radit adalah orang yang sangat serius dalam setiap perkaataannya. Berada di gendongan sang suami tak lantas Echa memandang wajah suaminya yang masih sangat tampan. Selama di perjalanan pun dia hanya terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Mobil itupun berhenti di sebuah hotel. Radit memaksa Echa untuk masuk ke dalam kamar yang sudah papihnya pesan.
__ADS_1
"Aku gak mau!"
Echa mencoba untuk keluar dari kamar hotel itu, tetapi Radit tahan. "Aku ingin bicara sama kamu," pinta Radit. "Aku ingin kita seperti dulu lagi."
Echa tersenyum seraya menatap Radit. "Hati yang sudah tergores apa masih bisa utuh seperti dulu lagi? Gelas yang sudah retak apa bisa utuh lagi?" Echa menggeleng. "ITU TIDAK MUNGKIN!"
"Kamu yang memintaku untuk mengangkat rahim yang aku miliki. Aku terpuruk, aku sedih, aku kecewa ... tapi ketika aku seperti ini kamu malah bersama dia," ucap Echa yang sudah bermandikan air mata. Radit hanya terdiam. Dia sama sekali tidak menimpali ucapan Echa. Dia sangat melihat betapa sakitnya hati Elthasya Afani.
"Jika, kamu sudah bosan atau sudah tidak mencintaiku lagi. Lebih baik kamu bilang, biar aku yang pergi beserta anak-anak. Jangan bermain di belakang aku karena sesungguhnya kamu tahu itu adalah hal yang MEMBUAT AKU TERINGAT AKAN TRAUMA YANG PERNAH AKU ALAMI!"
Echa berucap dengan sangat emosi. Air matanya sudah tumpah ruah. Tangannya pun sudah menahan rasa sakit di dadanya. "Hati aku sakit ... sangat sakit," lirihnya. Sekuat-kuatnya Echa menyimpan lukanya tetap saja itu masih terasa sakit. Ada titik di mana dia sudah tidak sanggup membungkam mulutnya sendiri.
Inilah yang sengaja Radit lakukan, memancing emosi Echa agar semuanya bisa dia luapkan. Memendam rasa sakit seperti ini akan memicu trauma itu muncum lagi dan penyakit Aritmia yang pernah dia derita bisa kambuh lagi.
"Ijinkan aku pergi," ucap lemah Echa. "Aku sudah tidak sempurna lagi ... dan tolong jangan sakiti aku." Suara itu semakin melemah dan akhirnya tubuh Echa ambruk seketika dan membuat Radit segera meraih tubuh istrinya.
"Sayang! Bangun Sayang!"
.
"Ini efek dari rasa yang sudah lebih dari satu bulan dia pendam sendirian. Hati dan tubuhnya sudah tidak mampu menahan rasa sakit dan sedih yang dia rasakan," papar Addhitama.
"Istri Radit akan baik-baik saja 'kan, Pih?" Raut cemas dan khawatir jadi satu. Tangan Radit pun terus menggenggam tangan Echa.
"Dia hanya syok biasa." Helaan napas lega keluar dari mulut Radit. Namun, tatapan sendu diperlihatkan oleh Addhitama.
"Jika, kamu sudah tak mencintainya dan mempermasalahkan kekurangannya ... lebih baik kamu tinggalkan dia. Jangan buat dia menderita karena ulah bodoh kamu. Dia wanita baik, harusnya kamu jaga bukan kamu sakiti."
Jleb.
__ADS_1
Hati Radit bagai tertusuk belati panjang mendengar ucapan sang ayah. Selepas Addhitama pergi, Radit sama sekali tak beranjak dari samping Echa. Dia terus mengusap lembut rambut istrinya. Terlihat wajah Echa yang nampak sedikit tirus.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," lirihnya. Kecupan hangat pun Radit berikan di kening Echa sangat dalam. Dia memutuskan untuk membawa Echa pergi ke luar Kota hanya berdua. Memperbaiki semuanya walaupun semuanya tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
Getaran ponsel di atas nakas membuat Radit mengambil ponsel miliknya. Dahinya mengkerut ketika melihat nomor sang keponakan mengirimkan pesan suara.
"Baba, kenapa Baba berubah? Apa salah Bubu? Kenapa setiap malam Bubu selalu menangis? Katakan kepada Kakak Sa, apa salah Bubu? Kakak Sa sedih melihat Bubu terus menangis."
Radit memutar pesan suara yang kedua.
"Siapa wanita itu? Wanita yang tidak lebih baik dari Bubu. Tidak lebih cantik dari Bubu. Siapa dia, Ba? Jangan pernah sakiti Bubu karena bukan hanya yang akan merasakan sakit karena ulah Baba, Kakak Sa, Kakak Na dan Dedek Ya pun pasti akan merasa sedih dan sakit. Apa Baba sudah tidak menyayangi kami lagi?"
Radit menunduk dalam mendengar pesan suara yang kedua dari Aleesa.
"Kalau itu benar, biarkan Kakak Sa, Kakak Na, Dedek juga Bubu pergi dan jangan pernah cari kami lagi. Kakak Sa yakin, tanpa Baba kami pun akan bahagia."
Pesan terakhir itu sangat menampar ulu hati Radit. Dia tidak menyangka anak seusia Aleesa bisa berkata seperti itu. Kini, dia menatap wajah sang istri yang masih tertidur karena efek obat. Selama satu bulan lebih istrinya menyimpan semuanya seorang diri. Tidak ada satu orang pun yang tahu akan permasalahan yang tengah dia hadapi.
Radit melihat ponsel Echa tergeletak di meja samping tempat tidur. Tangannya mencoba meraih ponsel milik sang istri. Ketika dihidupkan wallpaper yang terpasang adalah foto mereka berlima. Hati Radit pun mencelos. Dia mencoba membuka sosial media milik sang istri.
Dahi Radit mengkerut ketika melihat postingan terakhir sang istri.
"Jika kata pisah adalah yang terbaik untuk kita. Aku tidak akan menyalahkan diri kamu atas apa yang sudah menimpa hubungan kita, tetapi aku hanya akan menyalahkan diri aku sendiri kenapa sekarang ini aku berbeda? Dan ketika orang menanyakan perihal kandasnya hubungan kita, aku akan menjawab, "aku yang menginginkan jalan ini karena aku tidak ingin menyakiti dia terlalu dalam lagi."
Caption dari sebuah foto di mana Echa tengah menatap sebuah figura yang terdapat gambar mereka berlima.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1
Aku udah up lagi nih