
Hubungan Echa dengan ayahnya semakin memburuk karena ketakutan yang tidak beralasan dari ibu sambung Echa, yaitu Amanda.
Radit tahu akan hal itu karena Radit selalu memantau Echa dari kejauhan. Radit menyuruh orang untuk mengawasi Echa. Dan hati Radit sangat sakit ketika melihat wajah Echa yang nampak tirus dan tidak ada rona bahagia yang Echa pancarkan.
"Aku ingin memelukmu, Bhul." Kalimat yang lolos dari mulut Radit.
Sesungguhnya cinta Radit sangatlah besar kepada Echa. Meskipun banyak dari pasiennya mendekati Radit tapi, Radit selalu bilang, "I have engaged." (Saya sudah tunangan)
Wanita yang ingin mendekati Radit pun mundur secara perlahan. Apalagi Radit bersikap sangat dingin kepada wanita yang mencoba mendekatinya. Dan Radit selalu menunjukkan foto Echa kepada para wanita itu.
"This is my fiance."
Ini tunangan saya.
Bukan Radit terlalu percaya diri. Tapi, Radit juga tahu bahwa Echa memiliki rasa yang sama terhadap Radit. Echa masih menyayangi Radit. Begitu juga Radit yang tidak bisa melupakan wajah Echa. Semakin Radit melupakan wajah Echa, semakin wajah Echa terpampang jelas diingatannya.
Malam ini, Radit diundang oleh Genta untuk makan malam. Semenjak mengurus praktek yang mulai ramai, Radit sudah jarang bertemu dengan Genta. Kesehariannya sangatlah sibuk, kuliah, magang, serta membuka praktek. Tapi, Radit senang melakukannya. Karena Radit ingin memantaskan diri untuk bersanding dengan Echa. Yang tak lain cucu dari Genta Wiguna.
"Malam Kakek," sapa Radit dan mencium tangan Genta dengan sopan.
"Sombong sekali kamu sekarang," canda Genta.
"Bukan sombong Kek, tapi jadwal Radit sangat padat. Radit kan melakukan ini untuk membuat cucu Kakek bahagia nantinya," ujar Radit seraya tersenyum.
"Kakek bangga padamu," puji Genta.
Tanpa Radit duga, ternyata Genta sudah menyimpan rasa suka kepada Radit semenjak Radit masih belia. Sikap Radit yang berbeda dengan kedua kakaknya membuat Genta jatuh hati dan ingin menjodohkan Radit dengan cucunya.
Ternyata sebelum dijodohkan, Radit dan Echa sudah menjalin asmara. Sungguh takdir yang sungguh luar biasa indahnya.
"Kakek mau pamit, Kakek mau ke Singapura malam ini. Echa dan keluarganya akan menginap di rumah besar. Dan Kakek juga merindukan anak dan cucu-cucu Kakek," imbuhnya.
"Andai Radit bisa meninggalkan semuanya, ingin Radit ikut bersama Kakek."
__ADS_1
Genta pun tersenyum dan menepuk bahu Radit. "Belum waktunya kalian bertemu."
Radit pun mengangguk dan tak lama menghembuskan napas kasar. "Cinta ini membunuhku," geramnya.
Genta tertawa mendengar geraman Radit. Dari sini, Genta sudah melihat keseriusan Radit terhadap cucunya. Pemantauan Radit pun diketahui oleh Genta. Dan itulah yang membuat Genta yakin ingin menjadikan Radit cucu menantunya.
Setelah selesai makan, Radit kembali ke ruko yang dia sewa. Dia menatap nanar pada sebuah foto yang berada di atas meja kerjanya.
"Aku ingin memeluk kamu, Bhul. Aku sangat merindukan kamu. Satu tahun tidak membuatku bisa melupakan kamu. Kamu tetap ada di hati aku, selamanya."
Radit terlelap dengan memeluk figura kecil yang berisi fotonya dan juga Echa yang sedang tertawa bahagia.
Keesokan harinya, Radit masih menjalani hari-harinya seperti biasa. Selama di Singapura, Genta mengirimkan foto Echa yang sedang duduk bersama keluarganya. Aura kesedihan Echa sangat terlihat jelas.
"Andai aku bisa meninggalkan semuanya. Akan aku hapus semua sedihmu, Bhul."
Hingga ponsel Radit pun berdering. Ternyata Genta yang menghubunginya.
"Besok kita akan terbang ke Jogja."
"Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan Echa?" Terka Radit.
Radit segera menghubungi orang kepercayaannha. Benar saja, Echa pergi dari Singapura dan sekarang sudah ada di Jogja di tempat sahabat Mamahnya.
Radit menghela napas kasar seraya menyandarkan tubuhnya di kursi. "Apa yang sudah mereka lakukan pada kamu? Sehingga kamu nekat seperti ini," gumam Radit.
Sedikit banyak Radit tahu tentang Echa. Jika, hanya goresan luka, Echa tidak akan seperti ini. Dan Radit bisa menyimpulkan jika Echa mendapatkan luka yang teramat dalam. Sehingga dia tidak sanggup menghadapinya dan ingin menenangkan dirinya.
Radit membatalkan semua janji dengan pasien di tempat prakteknya. Dia ingin segera menemui Echa. Ingin memeluknya dan menghapus air matanya. Waktu seakan lambat untuk berputar. Radit terus mengumpat kesal karena jarum jam seakan tidak bergerak.
Hingga pagi menjelang, Radit tidak bisa terlelap. Dan Genta mengabarkan jika, dirinya sudah ada di Bandara. Radit pun segera ke sana. Selama mengudara, tidak banyak yang Genta katakan. Hingga Radit yang berinisiatif membuka obrolan. Jujur saja, melihat wajah Genta yang seperti ini membuat Radit takut.
"Kek, ada apa dengan Echa?" tanya Radit.
__ADS_1
"Kakek hanya takut penyakitnya kambuh lagi. Dan nyawanya tidak tertolong."
Jantung Radit seakan berhenti berdetak mendengar penuturan dari Genta. Apa yang sebenarnya terjadi? Penyakit apa yang diderita Echa? Begitulah batin Radit berkata.
"Kek ...."
"Echa menderita Aritmia. Dan kondisi terparah dia ketika Mamah dan Ayahnya hendak berpisah. Itu terjadi karena ada seorang anak yang memanggil ayahnya Echa dengan sebutan Ayah. Sama seperti Echa. Dan di situlah penyakit yang sudah hampir 10 tahun tidak kambuh, kembali kambuh. Selama sebulan Echa koma, semua dokter sudah Kakek datangkan tapi, semua dokter pun menyerah. Ketika semua alat medis hendak dilepas, kedatangan ayahnya menimbulkan rangsangan yang hebat ke semua saraf Echa. Dan Echa perlahan mulai sadar dari tidur panjangnya," terang Genta.
Radit tercengang mendengar penjelasan dari Genta. Dan yang dia tahu, aritmia akan kambuh jika pikiran orang itu terlalu berat dan stress. Dan itu bisa terjadi pada Echa saat ini.
Radit hanya terdiam setelah mendengar tentang sakit Echa. Dia bergelut dengan pikirannya sendiri. Dan dia bertekad harus menyembuhkan psikis Echa supaya tidak berimbas kepada sakit yang pernah dideritanya.
Pesawat seakan terbang sangat lambat. Berkali-kali Radit melihat ke arah jam tangannya.
Kapan sampainya?
Itulah yang menjadi pertanyaan di setiap perjalanan menuju Jogja. Khawatir dan rindu bersatu menjadi kesatuan yang sulit untuk diartikan.
Tunggu aku di sana, Bhul. Aku akan menghapus semua lukamu.
Setelah tiba di Jogja, Radit serta Genta menuju ke sebuah rumah. Dan Radit memakai pakaian serba hitam lengkap dengan topi serta kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Di depan rumah tujuan mereka, Radit mengetuk pintu dan muncullah lelaki kemayu dari dalam.
"Apa Echa ada di sini?"
Lelaki kemayu itu berusaha menutupi keberadaan Echa hingga Genta turun dari mobilnya. Mereka berbicara dan akhirnya si lelaki kemayu bernama Andri itu mempersilahkan Genta masuk dan membawa mereka ke sebuah kamar. Ketika pintu itu terbuka sungguh remuk hati Radit melihat keadaan Echa yang sangat kacau dan hancur.
Kenapa kamu bisa sehancur ini Bhul? Maafkan aku yang terlambat datang. Maafkan aku.
...----------------...
Q : Thor, kok konflik antara Echa sama ayahnya gak ditulis?
__ADS_1
A : Semuanya sudah aku kabarin dicerita Bang Duda. Jadi, di sini kita fokus kepada hubungan Radit dan Echa saja yang penuh liku.
Semoga kalian suka ...