
Mumpung ke Bandung, Rion akan menanyakan perihal keistimewaan yang Iyan miliki. Jujur, Rion sedikit tidak percaya. Hanya Radit lah yang percaya akan hal ini. Mengingat, Radit sering menangani pasien yang sama dengan Iyan.
Rion sudah tiba di rumah sang mamah. Sudah ada juga adiknya di sana. Menemani sang mamah. Sedangkan suami dan anak Nisa sedang jalan-jalan.
"Gimana kondisi Mamah?" Rion kini sudah memijat kaki sang mamah. Sedangkan kedua anaknya duduk di bawah tempat tidur sang nenek.
"Alhamdulillah membaik," jawab Nisa.
Mata Nisa menatap tajam ke arah Iyan. "Aa, datang ke sini sama siapa aja?" Rion mengerutkan dahinya ketika mendengar pertanyaan dari Nisa.
"Cuma bertiga. Kenapa memangnya?"
Kini, Iyan menatap ke arah Nisa. Dia tersenyum ke arah Nisa.
"Tante liat teman-teman Iyan, ya." Ucapan Iyan membuat Nisa mendesah lega.
"Kamu bisa ngeliat yang begituan juga?" Sekarang Rion yang balik bertanya.
"Ya, dari kecil Nisa bisa liat para huntu," ujarnya.
"Jadi, Iyan ...."
"Aki kalian pun dulunya orang yang istimewa. Menurun kepada Nisa serta putra Aa," terang Mamah Dina.
Akhirnya terjawab sudah pertanyaan yang selama ini ada di kepala Rion. Keistimewaan Iyan turunan. Bahkan adiknya pun bisa melihat hal yang tak kasat mata. Hanya saja dia menyembunyikan dari semua orang. Termasuk dirinya, kakak kandung dari Nisa.
"Tante, apa Tante melihat Bunda?" Pertanyaan yang mengiris hati semua orang yang berada di sana.
"Kakak, Iyan sudah bilang. Bunda tidak akan pernah bisa kita temui. Seolah ada benteng yang besar dan juga tebal yang mengurungnya," jelas Iyan.
"Apa itu benar, Tante?" Riana tidak percaya kepada Iyan. Kemudian, Nisa menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan si triplets?" Nisa benar-benar khawatir kepada anak-anak Echa.
"Mereka dijaga oleh teman-teman, Iyan." Nisa dan Mamah Dina pun tersenyum ke arah Iyan. Begitulah cara Iyan melindungi ketiga keponakannya.
****
Waktu terus bergulir, anak-anak Echa tumbuh menjadi anak yang sangat sehat dan juga aktif. Pipi gembilnya membuat semua orang pasti akan gemas jika melihat mereka.
"Ya ampun, cucu Opa." Addhitama dengan gemasnya menciumi wajah ketiga cucunya.
__ADS_1
"Hai, keponakan Aunty," sapa Nesha.
"Lucunya keponakan Uncle," ucap Rindra sambil mencium gemas mereka.
Hubungan Echa dengan Rindra sudah membaik. Itu terjadi ketika Echa mengalami penusukan oleh almarhum ibu sambungnya. Semua orang sibuk mengurus bayi Satria dan Nesha yang ditugaskan untuk menjaga Echa.
Dari situlah Echa mulai membuka hatinya. Mencoba memaafkan apa yang dulu pernah Rindra lakukan. Echa melihat, Rindra sudah berubah. Dia sangat menyayangi istrinya. Apalagi kehadiran Rio yang menjadi jawaban atas cinta Rindra untuk Nesha.
"Aunty," panggil Rio.
Rio segera berhambur memeluk tubuh Echa. Dengan penuh kasih sayang Echa mengecup ujung kepala Rio.
"Kangen sama keponakan, Aunty," balas Echa.
"Iyo juga sama, kangen. Iyo mau main ke rumah Aunty dan Om, tapi Papih ngelarang Iyo," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iyo 'kan mau ke rumah Om-nya pas malam-malam. Makanya Papih larang." Rindra berbicara sangat lembut kepada sang putra.
"Kalo malam, ketiga boneka kesayangan Iyo udah tidur dong," sambung Radit.
Echa mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Rio. Dia mengusap lembut pipi Rio.
"Kalo mau main ke rumah dedek boneka gak boleh malam. Pagi-pagi aja, biar Iyo bisa main sama tiga boneka cantik." Rio pun mengangguk patuh.
"Kamu istirahat aja ya, Cha. Biar Mbak yang jaga mereka bertiga," ucap Nesha.
"Janganlah, Mbak. Mereka aktif banget," tolak Echa. Echa sedang bersandar di sofa. Tangan Radit sedang memijat kaki Echa.
Sedangkan Rindra dan Addhitama hanya tersenyum melihat sikap Radit kepada Echa. Mereka tersenyum bahagia.
"Ajak istrimu istirahat di kamar, Dit. Biar Papih sama Rindra serta istrinya jagain mereka. Lagi pula Rio senang banget ngajak main anak-anak kalian," kata Addhitama.
"Kamu bawa susu si triplets 'kan?" Echa mengangguk ke arah Nesha.
"Rencananya Abang, Papih, Rifal serta Mamihnya Rio ingin mengajak anak-anak kalian jalan-jalan. Boleh 'kan?"
"Radit mah terserah istri Radit aja, Bang." Radit menatap ke arah Echa dan Echa mengangguk cepat.
"Kalian istirahat, gih," titah Addhitama.
Akhirnya, Radit dan Echa menuruti perkataan sang Papih. Jika, berasa di rumah sang Papih ketiga anak Echa dan Radit tidak pernah rewel dan selalu mau digendong oleh penghuni rumah ini.
__ADS_1
Di rumah sang Papih lah Echa dan Radit bisa beristirahat dengan tenang. Echa dan Radit tidak perlu khawatir akan ketiga buah hatinya. Ada penghuni rumah yang lain serta Rindra dan Nesha yang akan dengan senang hati merawat si triplets.
Seperti mengenang masa lalu. Radit terus memeluk tubuh Echa dari belakang. Kemudian mencium tengkuk leher Echa dengan penuh kelembutan. Hingga bulu kuduk Echa meremang dan ada desiran aneh di tubuhnya.
"Ay." Radit pun sudah ingin melanjutkannya lagi. Namun, ada rasa takut di hati Radit. Apalagi luka di perut Echa.
Mereka berdua terpejam dan saling memeluk satu sama lain. Hal yang sudah jarang mereka lakukan setelah kehadiran sang anak. Ketika mereka ingin bermesraan, ketiga anaknya seolah melarangnya.
Semua anggota keluarga Radit membawa si triplets jalan-jalan ke sebuah mall. Addhitama dengan sangat antusias memilihkan baju demi baju untuk ketiga cucunya. Tidak lupa dia juga membelikan untuk Rio. Sedangkan Nesha sibuk memilihkan aksesoris cantik untuk para keponakannya. Rindra dan Rifal sibuk mencari sepatu-sepatu bayi yang sangat lucu.
Ketiga bayi itu pun selalu tertawa jika kakek, Om dan tantenya menunjukkan barang-barang yang akan mereka beli.
"Pih, bawa pulang satu ya boneka cantiknya," pinta Rio sambil menarik ujung baju Rindra.
Rindra tersenyum ke arah Rio. Dia menatap lembut ke arah sang putra.
"Papih akan berusaha memberikan Rio adik bayi. Supaya Rio tidak kesepian di rumah." Rio mengangguk pelan. Rindra menggendong tubuh sang putra.
Ada kesedihan jika mendengar Rio meminta adik. Kandungan Nesha lemah, untuk mempertahankan Rio selama sembilan pun hampir merenggut nyawa Nesha. Mungkin, ini teguran dari sang maha kuasa atas perbuatannya di masa lalu. Ketika Tuhan memberikannya buah hati, dia malah menggugurkannya hingga dua kali. Kali ini, ketika dia ingin memiliki buah hati, seakan Tuhan enggan memberi. Bahkan harus menghadapi cobaan bertubi-tubi. (Baca Loving You di G o o d N o v e l)
Ketika sudah selesai berbelanja. Mereka semua pulang ke rumah dengan barang belanjaan yang banyak.
Echa dan Radit terbelalak ketika melihat goody bag merk ternama yang dijinjing oleh kedua kakak iparnya. Belum lagi security ikut membawakan belanjaan yang lain.
"Kalian abis ngejarah mall?" Radit bertanya dengan penuh kebingungan.
"Itu semua buat anak-anak kamu Dit." Radit dan Echa saling tatal ketika mendengar ucapan sang Papih. Secara bersama mereka menggelengkan kepala.
"Aunty, Papih beliin sepatu cantik deh buat boneka cantik. Mamih pun beliin jepit rambut yang lucu buat mereka," oceh Rio sambil menunjukkan mainannya ke arah Echa.
"Kenapa repot begini sih?"
"Gak ada kata repot, Cha. Gua beliin stok susu si kembar tuh. Lengkap sama mainan bayi," terang Rifal.
Rifal mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu kepada Echa. "Apa ini?"
"Pakailah kartu itu untuk membeli susu si triplets. Setiap bulan akan gua transfer untuk jatah susu mereka."
"Gak usah, Kak. Echa masih mampu be ...."
"Terima aja, Cha. Itu bentuk kasih sayang dari Rifal untuk ketiga putri kamu. Rifal 'kan jarang ketemu sama mereka."
__ADS_1
Akhirnya, Echa menerima apa yang diberikan Rifal untuk ketiga anaknya karena sang Papih dan Rifal terus memaksanya. Ternyata bukan hanya trio kurcaci yang mendapatkan jatah bulanan dari Rifal. Rio pun sama. Itulah tanda Rifal sangat menyayangi para keponakannya.
...****************...