Yang Terluka

Yang Terluka
Makam Bunda


__ADS_3

Ketika hari libur menjelang, Echa dan Radit serta Iyan membawa si triplets ke pemakaman umum.


"Ini bukan lumah Oma," ucap Aleesa.


Radit menuntun tangan ketiga makanya dan tersenyum. "Kita bukan ke rumah Oma, Nak. Kita akan berkunjung ke rumah Nenek."


Tiba-tiba ketiga anak Echa menghentikan langkahnya. Dia menatap ke arah sang ayah dan juga ibu mereka.


"Dedek gak mau. Nenek selalu buat Engkong sedih," tolak Aleeya.


Radit dan Echa menatap penuh tanya ke putri bungsu mereka.


"Engkong selalu nangis kalau lihat foto itu. Makanya Kakak Sa, Kakak Na dan juga Dedek udah gak mau tahu lagi tentang Nenek. Kami hanya memiliki Mimo dan Oma," terang Aleesa.


Mendengar ucapan Aleesa Iyan menunduk dalam. Dia juga tahu bahwa ayahnya sering menangis sendiri di ruang kerja jika melihat foto mereka berempat. Foto yang sengaja Iyan dan Riana pasang di meja kerja ayah mereka. Agar ayahnya bisa berdamai dengan rasa sakitnya.


"Anak-anak Bubu, jangan bicara seperti itu, Nak. Nenek pasti ingin bertemu kalian," ucap Echa.


"Kami tidak ingin, Bu," balas Aleena.


Ketiga anak Echa memiliki watak keras kepala yang tak tertandingi. Jika, mereka berkata A pasti A. Sama halnya dengan kedua orang tua mereka.


Radit menggeleng pelan ke arah Echa. Bertanda bahwa Echa tidak boleh memaksa si triplets. Semakin dipaksa mereka akan semakin memberontak.


"Baiklah, jadi kalian tidak ingin melihat rumah Nenek?" Ketiga anaknya menggeleng dengan cepat

__ADS_1


"Ya udah, kita kembali ke mobil. Biarkan Om kecil dan Bubu ke rumah Nenek dulu, ya." Radit mulai membujuk ketiga anaknya dan mereka pun menurut.


Iyan dan Echa melangkah kaki menuju makam Amanda. Sudah tiga tahun ini Rion maupun Echa tidak pernah datang ke sini. Mereka hanya mengantar Iyan dan Riana sampai pintu gerbang pemakaman. Tanpa mau masuk. Kecuali, jika Iyan dan juga Riana datang bersama Radit. Kakak iparnya itu akan menemani Iyan dan juga Riana.


"Assalamualaikum, Bunda. Maaf, Iyan baru bisa jenguk Bunda lagi."


Echa hanya terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang Iyan lontarkan.


"Hari ini Iyan datang gak sendiri, Bunda. Iyan ditemani Kak Echa. Ditemani Bang Radit serta ketiga anak Kak Echa yang lucu-lucu, tapi mereka menunggu di luar," lanjutnya lagi.


"Bunda ... Ayah masih selalu saja menangis. Tidak kah Bunda berniat untuk meminta maaf kepada Ayah meski hanya di dalam mimpi?"


Hati Echa mencelos mendengar ucapan Iyan. Apa Iyan selalu mengajak pusara bundanya untuk bercerita?


"Bunda, bunda tahu 'kan anak perempuan yang pernah Iyan ceritakan. Setiap malam Iyan bermimpi tentangnya. Ada apa ya, Bun? Iyan sering ke panti asuhannya, tetapi gak pernah ketemu sama dia."


"Bunda, jangan khawatir akan keadaan Kak Ri. Kak Ri baik-baik saja di Jogja. Hampir tiap hari Iyan dan Kak Ri berkirim pesan. Bunda tahu gak? Kak Ri sekarang bagai ibu-ibu yang cerewet. Selalu mengingatkan Iyan untuk kerjain PR, makan dan segala macamnya." Lengkungan senyum terukir di bibirnya.


"Tapi, Iyan bahagia. Kak Ri masih sangat perhatian meskipun berada jauh dari Iyan dan Ayah." Tangan Iyan mengusap nisan sang ibu. Ada sorot kepiluan dari matanya.


Masih banyak yang ingin Iyan ceritakan kepada Bunda. Iyan tidak mau Kak Echa mendengar rintihan hati Iyan. Iyan gak mau Kak Echa sedih. Iyan harap, Bunda datang ke dalam mimpi Iyan agar Iyan bisa bercerita panjang lebar kepada Bunda.


Selama ini, jika Iyan dibiarkan masuk sendiri dan mengadu ke pusara sang bunda. Banyak yang akan Iyan ceritakan. Suka dukanya menjadi anak piatu serta siapa saja yang menyayangi Iyan dengan tulus.


Iyan sudah bangkit, Echa kini jongkok di pusara sang ibu sambung. Iyan cukup terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Maafkan Echa, Bunda. Bunda baru bisa menjenguk Bunda di sini." Suara Echa tercekat, tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Echa menarik napas panjang sebelum berbicara. Seperti banyak batu yang sedang menindih hatinya.


"Echa sudah memaafkan, Bunda. Echa juga sudah melupakan semuanya. Semoga Bunda tenang ya."


Iyan menatap haru ke arah sang kakak. Inilah yang dia sukai dari Echa, selalu memaafkan meskipun terlambat.


"Maaf ya, Bun. Echa tidak bisa membawa ketiga anak Echa ke hadapan Bunda. Mereka sangat sayang kepada kakeknya. Jadi, selagi Ayah masih menangis mereka tidak akan pernah mau datang ke sini. Doakan saja semoga Ayah segera melupakan semuanya. Memaafkan Bunda dan membawa ketiga anak Echa ke hadapan Bunda. Semoga Bunda tenang di surga sana, dan jangan pernah khawatirkan Riana dan Iyan. Sebisa mungkin Echa akan menjadi ibu pengganti untuk mereka berdua. Echa juga sangat sayang kepada mereka."


Iyan tak kuasa menahan tangisnya dan memeluk kakaknya dari belakang. Isak tangis terdengar sangat lirih.


"Makasih, Kak."


Echa mengusap kepala Iyan dan tersenyum. Dia menarik tangan Iyan untuk berjongkok di sampingnya.


"Iyan sudah Echa anggap seperti anak Echa sendiri begitu juga dengan Riana. Apapun yang mereka minta pasti akan Echa turuti. Jangan khawatir juga masalah biaya kuliah Riana. Echa masih sanggup membiayai kedua adik Echa." Senyum tulus terukir di wajah Echa, sedangkan Iyan sudah menyeka air matanya.


"Bunda ... selama ini Kakak sudah sangat baik kepada Iyan dan juga Kak Ri. Kakak rela merawat Iyan dan juga Kak Ri padahal Kakak juga memiliki tiga orang anak yang harus Kakak sayangi. Iyan benar-benar beruntung memiliki seorang kakak seperti Kak Echa. Selalu menjadi panutan untuk Iyan dan Kak Ri. Anak-anak nakal Bunda kini berubah menjadi anak yang baik berkat Kak Echa. Pasti Bunda bahagia di sana melihat bagaimana Kak Echa merawat kami di sini. Kak Echa juga sangat sayang sama Ayah. Dia selalu jaga Ayah dan selalu memposisikan diri seperti istri jika Ayah pulang kerja. Ketika Ayah sakit pun, Kak Echa dengan telaten dan sabar mengurus Ayah. Pokoknya Iyan sangat bahagia memiliki ibu pengganti seperti Kak Echa. Kak Echa banyak mengajarkan Iyan berbagai hal baik. Jika, bunda ada di sini bunda pasti akan bangga kepada Kak Echa."


Echa tersenyum hangat kepada sang adik, tak terasa bulir bening membasahi pipinya.


"Jangan menangis, Kak. Kakak adalah ibu kedua untuk Iyan yang sangat luar biasa. Iyan sangat sayang Kakak." Iyan memeluk tubuh Echa dengan sangat erat di hadapan pusara Amanda.


Rasa sakit hati, sedih dan kecewa kini menguap begitu saja ketika Echa datang ke makam ibu sambungnya. Beban di hatinya seolah sirna, dia benar-benar sudah melupakan semuanya.

__ADS_1


Memaafkan adalah kunci dari ketenangan hati. Ikhlaskan apa yang telah mereka perbuat. Semuanya akan menerima ganjarannya. Tidak perlu susah-susah untuk membalas dendam karena sesungguhnya Tuhan yang akan membalaskan semuanya.


Hukum tanam tuai itu berlaku di dunia. Apa yang ditanam itulah yang akan dipetik. Seperti Echa yang selalu menanamkan kebaikan. Jodohnya pun adalah orang yang sangat baik. Hidupnya sangat sempurna dan bahagia.


__ADS_2