
Setelah tiba di rumah, Aksa dan Aska mendapat titipan undangan dari teman sekolah mereka ketika SMP.
"Reuni?" ucap Aksa dan Aska berbarengan.
Aksa dan Aska saling tatap, seolah mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Leuni itu apa?" tanya Aleeya.
Kedua paman muda itu lupa bahwa ketiga keponakannya akan menginap di rumah mimo dan aki mereka. Ketika mereka menoleh, ternyata Aleeya sudah berada di samping mereka.
"Reuni itu acara pertemuan teman lama," jelas Aksa singkat.
Jika, dijelaskan secara gamblang mereka akan terus bertanya tanpa ampun dan yang ada Aksa dan Aska lah yang akan pusing.
Aksa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan dingin. Hembusan napas kasar keluar
dari mulutnya.
Masa SMP adalah masa di mana pertama kali dia mengenal apa namanya cinta. Namun, sayang seribu sayang cinta yang dia miliki malah menjadi bahan untuk dipermalukan di hadapan semua warga sekolah. Sakit sekali rasanya hingga menimbulkan trauma yang cukup dalam. Harus menggunakan jasa psikiater untuk menyembuhkan trauma tersebut.
"Maafkan Adek, Bang."
Aksa melirik ke asal suara, dia kembali bergelut dengan pikirannya.
"Kalau Adek gak minta bantuan Abang, pasti Abang gak akan mengalami trauma," sesal Aska.
"Sudahlah, Dek. Itu sudah berlalu. Bukan sepenuhnya juga salah kamu. Abang juga salah, sudah memiliki perasaan kepada perempuan itu," jelasnya.
Suasana kamar pun mendadak menjadi hening. Aska benar-benar memiliki hutang yang sangat besar kepada sang Abang.
Aksa bangkit dari posisi tidurnya. Dia keluar kamar dan menuju lapangan basket. Tempat di mana tersimpan kenangan yang sangat menyenangkan bersama perempuan yang dia sayang sehari sebelum dia dipermalukan hingga dijauhi banyak teman.
Kenangan yang masih dia ingat hingga sekarang, meskipun sudah tujuh tahun berlalu. Pelukan di ujung senja berubah menjadi petaka.
"Lupakanlah, Bang!"
Ucapan yang keluar dari mulut sang Daddy. Gio sangat tahu bagaimana hancurnya Aksa pada waktu itu. Hanya kepada Gio Aksa mampu menangis layaknya anak kecil. Menumpahkan segala rasa sedih dan sakitnya. Berjuang melawan trauma tak kasat mata.
"Terlalu sulit, Dad. Terlalu sakit," sahut Aksa.
"Apa kamu masih mencintainya?" Gio sudah melempar bola basket ke dalam ring.
Aksa malah duduk di tepian lapangan, memperhatikan ayahnya menge-shoot bola.
"Benci, bukan cinta," tukas Aksa.
Gio pun tertawa dan melempar bola ke arah putra pertamanya.
"Jangan galau, mending main basket," ajak Gio.
Aksa menerima bola dari sang ayah dan bertanding satu lawan satu. Dari kejauhan Aska memperhatikan Abang dan ayahnya. Dia menatap pilu ke arah Aksa. Sentuhan hangat dari sang ibu membuat Aska tersenyum.
"Masih merasa bersalah?" Aska pun mengangguk. Tangannya sudah melingkar di pinggang sang mommy.
Ayanda mengajak putra bungsunya duduk di kursi halaman belakang. Tatapan penuh cinta Ayanda berikan.
"Mommy yakin, Abang sudah sembuh. Namun, belum bisa berdamai dengan masa lalunya," terang Ayanda.
"Semoga saja, Mom. Semoga Riana bisa menggeser wanita laknat itu di hati Abang." Beginilah ucapan Aska jika dia sudah merasa geram.
Lama mereka memandang Aksa dan Gio bermain basket, Aska membuka suara. "Diundang reunian SMP." Sontak mata Ayanda melebar, dia sangat terkejut.
Ayanda tidak berbicara apa-apa, hanya sorot mata yang seakan bertanya, apa kamu mau hadir?
Hanya hembusan napas dalam yang terdengar. Aska memandang tubuh Aksa yang sudah dibanjiri keringat.
"Adek gak mau membuka trauma Abang lagi," jawabnya.
"Apa sesayang itu kamu sama Abang?" tanya sang mommy.
"Adek sangat berhutang Budi kepada Abang. Apapun akan Adek lakukan untuk Abang," sahut Aska.
Ayanda mengusap lembut kepala Aska. Waktu seakan cepat sekali berlalu. Anak-anaknya yang lucu-lucu kini berubah menjadi anak-anak yang tampan dan juga dewasa. Keduanya menjadi anak yang mandiri.
"Mommy sangat bangga kepada kalian berdua. Selalu saling menyayangi meskipun sering berkelahi." Aska pun tertawa mendengar celetukan sang mommy tercinta.
"Tiga tuyul ke mana, Mom?" tanya Aska.
"Mereka langsung tidur."
Aksa dan Gio sudah bermandikan keringat membuat Aska menghindari mereka. Namun, sifat iseng dan jahil yang Aksa dan Gio miliki pasti membuat Aska menjadi korban.
"Daddy, bau!" seru Aska.
"Abang!" pekik Aska.
Aksa dan Gio memiting kepala Aska bergantian di ketiak mereka masing-masing. Aska yang sangat jijik dengan keringat orang lain terus meronta-ronta. Apalagi keringat yang keluar dari ketiak yang harumnya semerbak.
Ayanda hanya tertawa melihat kebersamaan ketiga laki-laki kesayangannya.
Meja makan kali ini terasa sangat ramai karena anak kembar Gio ada di sana. Ditambah ketiga cucunya sudah duduk manis.
"Apa gak repot punya anak sekaligus tiga?" tanya Aska, sambil mengunyah dan memperhatikan di triplets.
"Repotlah pasti, dua aja pusing," jawab sang mommy.
"Mimo mau itu!"
"Kakak Na mau yang itu!"
"Dedek mau itu!"
Aksa menggelengkan kepala melihat ketiga keponakannya yang super ini. Perut yang mereka miliki seperti karet, melar tak terhingga.
"Kalian mau datang ke acara reunian?" tanya Gio.
Sebelumnya, Ayanda sudah mengatakan perihal undangan reunian yang Aska katakan padanya.
"Ya terserah mereka saja. Lebih baik mereka datang. Buktikan kepada yang telah 'membuang' bahwa dialah yang akan menyesal karena perubahan Aksa yang luar biasa. Nama putra kita pun sudah sering muncul di majalah bisnis dan artikel bisnis internasional," tutur Gio.
"Jika, trauma itu kambuh lagi?"
Sebagai seorang ibu pastinya Ayanda khawatir akan kondisi Aksa. Apalagi dia melihat sendiri bagaimana Aksa depresi karena trauma yang dia derita.
"Anak kita sudah sembuh, Sayang. Jangan khawatir," ungkapnya.
__ADS_1
Tetap saja, Ayanda tidak akan tenang meskipun suaminya menyatakan bahwa Aksa sudah sembuh. Naluri seorang ibu sangatlah kuat. Dia tahu, Aksa belum sepenuhnya sembuh dan kuat jika bertemu dengan masa lalunya.
Kembali ke meja makan, Aska dan Aksa terdiam ketika sang ayah melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Kalian gak akan datang?" sergah Gio.
"Adek mah ikut Abang aja. Kalau Abang mau datang, Adek juga datang," jawab Aska.
"Dedek mau ikut ya, Om." Aleeya sudah menunjuk tangannya.
"Kakak Sa juga." Kemudian, Aleena ikut mengangkat tangannya. Senyum terukir di wajah Aksa.
"Ide bagus," ujar Aksa.
Aska menatap bingung ke arah Aksa, sedangkan sang kakak hanya memberikan senyum penuh arti kepadanya.
Tiga hari kemudian, acara reuni SMP Aska dan juga Aksa diadakan. Mereka berdua sudah mengenakan pakaian sesuai gaya mereka masing-masing. Aska dengan pakaian santainya dan Aksa dengan pakaian semi formalnya.
Jangan lupakan ketiga anak tuyul yang sedang dirias cantik oleh nenek mereka. Menggunakan baju dengan warna senada. Dari ujung kaki hingga ujung kepala semua yang mereka gunakan barang branded ternama dunia.
"Ya ampun, cantik sekali cucu-cucu aki," puji Gio yang baru saja masuk ke kamarnya.
Mereka hanya tersenyum dan mengecup pipi Gio secara bergantian. Dua laki-laki tampan pun masuk ke kamar kedua orang tua mereka dan menatap takjub ke arah tiga sosok mungil yang sangat cantik.
"Udah siap?" Mereka mengagguk.
Aska dan Aksa membawa ketiga keponakannya ke acara reuni. Lagi pula, kedua orang tua si tripelts sedang pergi ke luar Kota untuk mengurus bisnis mereka. Dari pada hanya sendirian dan tidak ada gandengan, lebih baik membawa keponakan kesayangan.
Tibanya di sebuah hotel mewah, Aksa dan Aska disambut hangat oleh para teman-temannya. Ternyata bukan hanya si kembar yang membawa ekor, banyak dari teman mereka yang sudah menikah dan memiliki anak.
Feri, teman sebangku Aksa menatap bingung kepada dua laki-laki tampan di hadapannya ini. Namun, Feri masih ingat senyuman Aksa. Tebakannya benar bahwa yang memakai kemeja berwarna abu-abu adalah Aksa.
"Ada Devita loh," bisik Feri.
Aska melebarkan mata, tetapi Aksa terlihat santai.
"Biarin aja," jawab Aksa santai.
Kalimat yang Aksa ucapkan membuat jantung Aska berdegup sangat kencang. Dia benar-benar takut dan dia harus menjadi pelindung untuk kakaknya jika bertemu dengan Devita.
"Wah, si kembar makin ganteng aja," ucap Dewa teman Aska dan juga Aksa.
"Sibuk apa sekarang?" tanyanya.
Mereka berempat pun berbincang mengenai masa sekarang. Bagi mereka, pertemuaan mereka sekarang untuk menjalin silaturahmi bukan untuk mengenang masa lalu.
Tarikan di ujung baju, membuat Aksa menunduk.
"Haus," ucap Aleena.
Aksa tertawa dan mengusap lembut rambut keponakannya ini.
"Ayo kita ambil minum," ajaknya.
Hanya Aksa dan Aleena yang pergi ke tempat di mana minuman telah disediakan. Kedua adiknya dan juga Aska masih asyik berbincang dengan Feri dan juga Dewa. Apalagi, Dewa sudah memiliki anak laki-laki yang tampan sehingga membuat Aleeya dan Aleesa betah di sana.
"Mau yang walna pink." Aksa mengambilkan minuman yang Aleena inginkan. Namun, gelas yang dipegang Aksa dipegang juga oleh seorang perempuan.
Aksa pun menoleh dan matanya melebar ketika dia melihat seorang wanita yang kini sangat dia benci.
Tak Aksa hiraukan panggilan itu, dia tetap mengambil minuman yang Aleena inginkan dan memberikannya kepada Aleena.
"Buat Kakak Sa dan Dedek," katanya lagi.
Aksa tersenyum dan mengambilkan dua minuman yang sama. Dia memilih untuk pergi, tetapi perempuan itu berhasil mencegahnya.
"Kenapa kamu menghindar?" tanya perempuan.
Aksa menatap ke arah tangan perempuan itu. Menandakan bahwa perempuan itu harus segera melepaskan tangannya. Perempuan itu pun mengerti.
"Daddy, ayo pergi," ucap Aleena.
Aleena seolah mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Aksa tersenyum ke arahnya dan menuntun tangan keponakan tercinta.
"Daddy?" gumam perempuan itu.
"Ternyata semakin jelek," ejek Aksa.
Aleena menatap ke arah om-nya sekilas. Kemudian menggelengkan kepala.
"Ketemu Devita gak?" tanya Feri.
Feri melihat Devita mendekat ke arah Aksa. Makanya dia sengaja menanyakan akan hal itu. Hanya ingin memastikan bahwa teman SMP-nya ini sudah move on atau belum.
"Makin jelek," sahut Aksa, dan membuat semua orang tertawa.
Obrolan para pria itu semakin asyik, dan anak-anak kecil yang mereka bawa pun tengah asyik bermain bersama. Namun, kedatangan seseorang membuat keadaan seketika mendadak hening.
"Boleh gua bicara sama Aksara?"
"Mau bicara apa lu, Dev? Bicara aja di sini," hardik Aska.
"Lu masih ingat si Aksa? Gua kira lu udah amnesia?" ejek Feri.
Aksa tersenyum kecut karena dia sudah mendengar semuanya ketika mengantar keponakannya ke toilet.
"Gua harus dapatin Aksa lagi. Soalnya dia itu anak teman kolega Papah gua."
Itulah yang Aksa dengar dan membuat Aksa semakin membencinya.
Devita memasang wajah sendu, dia berharap Aksa akan iba. Namun, Aksa tetaplah Aksa.
"Aksa, mau 'kan bicara sama aku?" pinta Devita.
Aksa masih terdiam, dia masih membeku. Aska menatap ke arah abangnya ini. Dia benar-benar takut sekarang. Lama keadaan hening, akhirnya Aksa membuka suara.
"Gua kasih waktu sepuluh menit."
Aksa berlalu meninggalkan mereka yang tengah bersamanya, termasuk si triplets. Dia memilih tempat yang sepi agar tidak banyak orang melihatnya.
"Aku ... minta maaf."
Aksa hanya tersenyum tipis mendengar permintaan maaf dari Devita. Dia masih bersandar di dinding dengan tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana.
"Hanya itu?"
__ADS_1
Devita memberanikan diri mendekat ke arah Aksa. Kini, dia berada tepat di hadapan pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya.
"Aku menyesal," lirihnya.
Aksa pun tertawa mendengarnya. Dia menatap tajam ke arah Devita yang nampak syok melihat respon darinya.
"Menyesal ... karena gua adalah anak dari pengusaha kaya, iya?" sinisnya.
"Apa lu udah lupa gimana jahatnya lu sama gua? Nginjek-nginjek harga diri gua di depan semua siswa dan juga guru di sekolah. Lu hampir membunuh gua!" sentak Aksa.
"Makanya aku minta maaf," ucap Devita lagi.
"Minta maaf? Apa maaf lu berguna sekarang ini?" hardik Aksa dengan tatapan penuh kemarahan.
"Dulu ... gua itu sayang sama lu tulus banget. Apapun yang lu mau pasti gua turutin, meskipun cara gua juga salah karena sudah membohongi lu dan mengaku kalau gua adalah Aska. Akan tetapi, apa yang gua terima? Gua dipermalukan dan diejek hingga lulus sekolah. Lu udah merusak masa remaja gua!" sergah Aksa.
Devita sudah menangis, dia ingin menyentuh tangan Aksa. Namun, Aksa menepisnya.
"Jangan pernah sentuh gua dan anggap ini pertemuan kita yang terakhir. Jika, suatu saat kita tidak sengaja bertemu. Anggap aja kita gak pernah kenal."
Aksa berlalu begitu saja. Kini, Aksa lah yang menorehkan luka di hati Devita. Seperti karma yang harus Devita dapat akan perbuatannya yang terdahulu kepada Aksa.
Aska merasa tenang ketika melihat Aksa baik-baik saja.
"Bang."
Tatapan khawatir yang Aska tunjukkan membuat Aksa tersenyum. Dia menepuk pundak sang adik menandakan dia baik-baik saja.
"Lu beneran baik-baik aja 'kan?"
Bukan hanya Aska yang cemas, Feri dan Dewa pun ikut merasa cemas.
"Gua gak apa-apa. Kalian gak perlu khawatir, gua udah punya calon istri yang lebih baik dari dia. Juga lebih cantik pastinya."
Bibirnya melengkung dengan sempurna membuat Aska dan kedua temannya merasa sangat lega.
"Lapal."
Rengekan salah satu keponakan Aksa dan Aska membuat kedua teman si pria kembar tertawa. Kedua pria tampan itu membawa si triplets menuju tempat disediakannya makanan. Di sana sangat ramai, didominasi oleh para perempuan. Apalagi ketika mereka melihat Aska, siswa populer ketika di SMP dan selalu aktif dalam media sosialnya membuat mereka menghampiri Aska. Mereka berbincang santai dengan Aska dan mampu membuat Aleeya geram karena dia kekurangan oksigen. Manusia yang berkerumun itu menutupi dirinya.
Aleeya mendorong tubuh para perempuan yang berada di dekatnya satu per satu sehingga mereka terhuyung ke belakang.
"Anak siapa sih bandel banget," geram salah seorang perempuan.
Aleeya tidak pernah takut kepada siapapun, dia malah melipat kedua tangannya di atas dada dan menata garang ke arah para perempuan tersebut.
"Ini anak siapa sih? Pergi ke reunian kok pada bawa anak sih," oceh perempuan yang lain.
"Ini anak gua! Masalah buat kalian," sergah Aska.
Sedari tadi Aska membiarkan para perempuan itu mendekat. Dia juga sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Aleeya. Aska hanya ingin tahu bagaimana respon para perempuan yang sok kenal dan sok akrab tersebut. Akhirnya mulut pedasnya pun beraksi.
"A-anak lu?"
"Kapan lu nikah?"
Dua pertanyaan itu terlontar dari mulut para wanita itu. Aska tidak menghiraukannya. Dia malah menuntun Aleeya untuk menjauhi mereka.
"Dedek gak suka!" sungut Aleeya.
"Maafkan Om, ya." Aska mengusap lembut kepala Aleeya.
Di meja tempat Aksa duduk pun sudah banyak wanita yang mendekat. Aleeya benar-benar kesal melihatnya.
"Kenapa halus deket-deket Om dan Uncle? Emang gak ada cowok lain apa?"
Bukan hanya Aleeya yang tidak suka jika kedua pamannya didekati oleh para wanita. Aleena dan Aleesa pun merasakan hal yang sama.
Aleeya berlari ke arah wanita yang mencoba mendekati Aksa, dengan sengaja dia menabrak wanita yang tengah membawa minuman hingga minuman itu tumpah.
"Maap."
Aleeya terus berlari dan duduk di pangkuan Aksa. Aksa mencubit gemas pipi Aleeya.
"Bilangin Bubu ya, kalau Dedek nakal," ancam Aksa.
"Dedek gak nakal. Dedek gak suka sama pelempuan-pelempuan yang suka deket Uncle. Dedek hanya suka jika Uncle dekat sama Aunty."
Aksa mencium pipi gembul Aleeya dengan sangat gemas. Keponakannya ini mampu membuat mood-nya berubah dalam sekejap.
"Uncle makin sayang sama Dedek." Aleeya pun tersenyum dan mencium pipi Aksa.
Tibanya di rumah, mereka disambut hangat oleh kakek dan nenek mereka.
"Apa kalian senang?" Ketiga anak Radit dan Echa menggeleng dengan kompak.
"Banyak pelempuan yang deket Om dan Uncle," adu Aleeya.
"Ada juga pelempuan yang pegang tangan Uncle. Kakak Na gak suka." Aleena sudah melipat kedua tangannya.
Gio dan Ayanda tertawa mendengar aduan demi aduan dari ketiga cucu mereka ini.
"Berarti cucu Aki berhasil jagain Uncle dan juga Om. Besok kita akan pergi beli boneka, mau?"
"Mau!"
Aksa dan Aska pun tertawa, mereka sudah menebak bahwa ketiga keponakan mereka ditugaskan untuk menjadi bodyguard mereka berdua.
"Apa kamu bertemu dengan perempuan itu?" Gio membuat suara ketika Ayanda sudah membawa pergi ketiga cucunya.
"Ya."
"Bagaimana hati kamu?" tanya Gio.
"Makin benci."
"Kenapa?" desak Gio.
Aksa menatap ke arah Gio. Dia menarik napas dalam sebelum berbicara.
"Dia tahu siapa Abang. Dia mendekat karena Daddy. Perempuan jahat tetaplah jahat, Dad."
Gio pun tersenyum, putranya memang sudah sembuh. Jika, Aksa masih tersentuh dengan apa yang dialkukan perempuan itu, menandakan Aksa belum sembuh. Akan tetapi, ini sebaliknya.
"Masih banyak perempuan yang lebih baik dari dia, Bang. Melepaskan batu kerikil demi mendapatkan berlian itu adalah hal yang istimewa."
__ADS_1
Aksa tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Dia mengerti akan makna kalimat tersebut.