Yang Terluka

Yang Terluka
Meminta Restu


__ADS_3

Rahang Addhitama mengeras ketika mendengar kenyataan yang sebenarnya. "Anak kurang ajar," geramnya.


Rifal mencoba menenangkan hati sang Papih. Tidak dipungkiri dia juga kecewa dengan apa yang sudah dilakukan sang Abang.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Addhitama. Rifal mengangguk setuju. Namun, Rifal naik ke lantai atas untuk memberitahu kepada Radit. Sontak mata Radit melebar mendengarnya.


"Udah gak waras tuh orang," sarkas Radit.


"Kita temenin Papih ke sana," pinta Rifal.


Tibanya di rumah sakit, wajah Addhitama sudah merah padam. Tangannya mengepal keras ketika melihat tubuh Fani yang terkapar lemah tak berdaya.


"Kenapa kamu melakukan ini, Rindra?" Suara Addhitama menggema di dalam ruangan tersebut. Untungnya, Rindra memilih ruangan vvip.


Rindra hanya terdiam. Tidak bisa menjawab apa yang diucapkan sang ayah.


"Jika, kamu belum siap memiliki anak. Berhenti berbuat zinah!" pekik Addhitama.


"Papih kecewa sama kamu, Rindra. Kecewa!" imbuh Addhitama yang segera berlalu meninggalkan Rindra yang tengah menunduk dalam.


Radit hanya menghela napas kasar. Dia menatap ke arah Fani yang sedang terbaring lemah dengan wajah bak mayat hidup.

__ADS_1


"Jangan pernah buat Papih menangis, Bang. Hanya Papih yang kita miliki di dunia ini," tutur Radit.


"Apa emang Abang ingin melihat Papih mati karena tingkah laku binatang Abang?" sarkas Radit.


Mulut Radit tidak bisa bermanis-manis di hadapan Rindra. Apalagi jika sudah menyangkut perempuan dan Papihnya.


"Coba bayangkan, jika Fani ikut meninggal bersama anak Abang? Abang akan hidup dalam kubangan penyesalan," terang Radit.


"Aku harap, cukup Fani yang menjadi korban Abang. Jangan ada Fani-Fani yang lainnya," tukasnya dan berlalu meninggalkan Rindra.


"Apa kamu masih mencintai wanita ini?" Langkah Radit terhenti ketika mendengar ucapan Rindra. Dia menatap Rindra dengan wajah sangat tidak bersahabat.


"Seleraku lebih berkelas, tidak seperti selera Abang yang suka dengan wanita murahan."


Tangan Rindra sudah mengepal sempurna mendengar penuturan dari Radit. Radit benar-benar menghina harga dirinya.


"Kenapa? Abang mau marah? Berarti Abang gak sadar diri!" cicit Radit yang seolah sedang menuangkan kekesalannya.


"Jika, Abang adalah calon orang tua yang baik. Abang tidak akan pernah membiarkan anak itu hilang," terang Radit.


Rindra terdiam mendengar ucapan dari sang adik. Apa yang dikatakan Radit benar adanya. Dan Radit sudah berlalu meninggalkan Rindra seorang diri.

__ADS_1


Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Dan dia lebih memilih datang ke rumah orang tua Echa untuk meminta restu kepada keempat orang tua Echa. Setelah kembali ke Indonesia, Radit berencana untuk melamar Echa dan menikahi wanita yang sangat dia cintai.


Kedatangan Radit disambut oleh Ayanda dan juga Gio. Dan kebetulan Rion, Amanda dan juga Arya serta Beby sedang berada di kediaman Ayanda.


"Kok pulang gak bilang dulu?" tanya Ayanda.


"Cuma sebentar Tante," jawab Radit sopan.


"Echa?" tanya Amanda.


"Dia sedang pusing sama tugas skripsinya," sahut Radit.


"Terus lu ke sini mau ngapain?" Pertanyaan yang langsung ke inti yang Arya layangkan.


"Radit mau meminta restu kepada Om-om dan Tante-Tante di sini. Radit mau serius dengan Echa. Dan setelah lulus kuliah, Radit ingin meminang Echa."


"Apa?" seru Gio, Arya serta Rion bersamaan.


...****************...


Yang minta aku up tapi gak komen aku sentil nih,🤧

__ADS_1


__ADS_2