Yang Terluka

Yang Terluka
Mengurus Anak


__ADS_3

Mengganti popok karena sudah penuh atau membersihkan poop ketiga anaknya, sudah biasa Radit lakukan. Awalnya Radit jijik, tetapi setelah berhari-hari dia mulai terbiasa.


Pagi ini ketiga anak Radit sedang dijemur di halaman samping. Sungguh keren sekali mereka berjemur menggunakan kacamata hitam yang dibelikan oleh aki mereka. Ya, Echa membiasakan ketiga anaknya yang masih bayi untuk memanggil pria-pria kesayangannya dengan panggilan berbeda-beda.


Gio, akan dipanggil aki oleh ketiga anaknya. Addhitama, akan dipanggil opa. Sedangkan Rion akan dipanggil engkong oleh si triplets. Untuk Ayanda dia memilih sendiri nama panggilan yang menurutnya indah di dengar. Mimo, itulah panggilan yang diinginkan sang nenek satu-satunya. Baru kali ini, ada cucu yang memiliki tiga kakek dan satu nenek. Sedangkan Arya serta Kami akan dipanggil Wawa oleh si trio tuyul. Begitulah sebutan Arya untuk ketiga anak Echa.


Rion sedang sibuk mengambil gambar ketiga cucunya yang sedang asyik berjemur. Hanya dengan menggunakan popok dan memakai kacamata hitam khusus untuk bayi. Mereka bersandar di kasur multifungsi yang dibelikan oleh sang aki. Membuat penampilan mereka sangat berkelas. Setiap hari Rion selalu bersemangat untuk memposting gambar ketiga cucunya yang serba branded.


"Kakek norak!"


Begitulah pesan balasan untuk status whatsapp sang kakek baru.


"Ay, bawa Aleena untuk mandi," teriak Echa dari kamar si kembar.


Dengan semangat 45 Radit membawa Aleena menuju istrinya. Echa sudah berdiri di tempat khusus untuk memandikan anak-anaknya. Baju ketiga putrinya pun sudah tersedia dengan rapih di masing-masing box bayi.


"Sayang, apa perlu bantuan?" tanya Radit.


"Tidak, Ay. Semuanya sudah aku siapkan. Setelah mandi aku akan memberi Aleena asi terlebih dahulu. Kamu jaga dua anak kita yang lain, ya." Radit tersenyum dan mengecup pipi sang istri.


"Baik Bubu sayang." Echa hanya tersenyum mendengar ucapan Radit yang terkadang berlebihan.


Sebenarnya Radit, Ayanda, Gio serta Rion sudah menawarkan untuk memakai jasa baby sitter agar meringankan tugas Echa. Akan tetapi, Echa menolak. Dia ingin merawat anaknya dengan tangannya sendiri. Repot memang, tetapi amat membahagiakan.


"Kakak anak pintar. Kakak harus jadi pelindung untuk adik-adiknya, ya. Harus menjadi contoh untuk dedek Aleesa dan Dedek Aleeya."


Echa berbicara kepada Aleena yang tersenyum ke arahnya ketika dipakaikan baju. Setelah putri pertamanya cantik, dia segera memberi asi untuk Aleena. Tak menunggu lama, Aleena pun terlelap dan segera Echa letakkan di dalam boks bayi.


Kegiatan mandi memandikan pun terus berulang hingga tiba giliran Aleeya. Anak terakhir Echa dan Radit ini berbeda dengan kedua kakaknya. Masih bayi pun sudah menunjukkan keaktifan luar biasa. Susah tidur, senang bermain air, serta paling rakus dalam meminum asi.


Setelah lima belas menit menyusui Aleeya, Echa dapat bernapas lega karena Aleeya sudah terlelap. Semua bayinya sudah tertidur pulas di boks bayi mereka masing-masing. Jika, siang hari ketiga anaknya akan tidur di dalam kamar mereka. Kamar yang secara sengaja Radit buat tersambung dengan kamar utama.

__ADS_1


Pijatan kecil di pundak Echa membuat Echa tersenyum bahagia.


"Pasti capek, ya."


Echa membalikkan tubuhnya dan menatap sang suami yang sudah rapih dengan pakaiannya.


"Lelah yang menyenangkan," ucapnya seraya tersenyum bahagia.


Radit mengusap lembut pipi sang istri. Kemudian. Membenarkan rambut Echa yang berantakan. Pakaian Echa di rumah setelah memiliki anak seperti ibu-ibu berdaster pada umumnya. Rambut dicepol ke atas. Pakai daster, tentunya tanpa make up. Wajah polos dengan lingkar mata panda yang samar terlihat.


"Kamu udah rapih, jangan pegang aku dulu. Aku masih bau," tolak Echa.


Bukannya menjauh, Radit malah memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Mencium kening istrinya sangat dalam.


"Aku mencari istri yang bisa mengurus rumah, anak, dan suami. Bukan istri yang senangnya berleha-leha, bermanja-manja, shoping ke sana ke mari tanpa memperdulikan suami, anak serta rumah."


"Jika, kamu lelah, aku akan menambah ART lagi. Serta baby sitter untuk ketiga anak kita," tutur Radit.


"Jangan berbuat hal yang aneh di depan anak-anak kalian." Suara Rion mampu membuat Radit dan Echa gelagapan.


Rion dan kedua adiknya sudah berangkat. Di rumah hanya tinggal Radit dan Echa serta anak-anak mereka yang tengah tertidur.


"Aku mau ke rumah Papih. Mau membicarakan masalah perusahaan," ucap Radit disela sarapannya.


"Salam untuk Papih. Insha Allah, setelah empat puluh hari si kembar cucu-cucu serta menantu Papih akan berkunjung ke rumah Papih."


Radit tersenyum dan menganggukkan kepala. Perubahan tubuh Echa tidak membuat Radit risih. Malah dia semakin suka. Menurutnya, Echa bagai boneka beruang putih yang sangat cantik dan empuk untuk dipeluk.


Echa mengantar suaminya hingga depan pintu mobil. Radit tak segan mencium kening sang istri di depan para pekerjanya.


"Jangan telat makan, ya. Kalo ada makanan yang kamu inginkan bilang ke aku. Biar aku pesankan."

__ADS_1


Jutaan rasa syukur Echa panjatkan kepada Tuhan. Bahagia sudah pasti Echa rasakan. Apalagi memiliki suami seperti Radit.


"Non, mau jus apa?"


"Nanti saja, Mbak. Echa mau cuci baju si triplets dulu."


"Biar saya saja, Non," tawar Mbak Ina .


"Tidak usah, Mbak. Hanya direndam lalu dikucek sebentar," terang Echa.


Echa benar-benar sudah dewasa. Jiwa keibuannya pun sudah terlihat jelas. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Setelah selesai, Echa membaringkan tubuhnya di kasur yang berukuran medium di kamar si triplets. Gunanya untuk tempat tidur Echa ketika Echa lelah.


Rasa sakit masih sering terasa di bagian perutnya. Namun, dia tidak ingin manja. Dokter mengatakan bahwa efek dari operasi ini bisa sampai tahunan.


Tak lama, dia pun terlelap dengan damainya. Bagi ibu baru, fisik Echa terbilang kuat. Malam hari dia harus rela kurang tidur. Siang hari pun dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Apalagi merawat tiga anak sekaligus. Satu pun sudah sangat kewalahan. 2


Ayanda datang ke rumah Echa jam sepuluh. Dia baru kembali dari butik miliknya karena harus ada pengecekan tiap bulan. Meskipun sudah Ayanda percayakan pada orang-orang berkompeten, tetapi Ayanda tidak lepas tangan begitu saja.


Dia membawa dua goody bag besar untuk ketiga cucunya dan juga ibunya. Ketika dia masuk ke rumah Echa, Ayanda disambut oleh Mbak Ina.


"Non Echa sedang tidur di kamar si kembar," ujarnya.


Ayanda segera menuju kamar ketiga cucunya. Membuka pelan pintu kamar agar tidak mengganggu kenyamanan anak dan cucunya. Ada keharuan yang Ayanda rasakan ketika melihat putrinya nampak terlihat kelelahan. Sedangkan, ketiga cucunya sedang tertidur sangat pulas dengan baju yang sama. Hanya gambar angka yang membedakan baju tersebut.


Aleena memakai baju yang bergambar angka satu. Aleesa mengenakan baju bergambar angka dua. Serta Aleeya yang menggunakan baju bergambar angka tiga. Gambar tersebut sebagai tanda pembeda. Wajah ketiga bayi itu sangatlah mirip.


"Pasti kalian rewel. Membuat Bubu kalian bergadang," gumam Ayanda pelan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2