Yang Terluka

Yang Terluka
Pusara Mamih


__ADS_3

Acara pernikahan antara Radit dan Echa sudah semakin dekat, Persiapan pernikahan sudah tujuh puluh lima persen. Semuanya disiapkan oleh orang tua Radit dan Echa. Mereka tidak ingin anak mereka kelelahan mempersiapkan pernikahan.


Kedatangan Radit ke rumah Echa tanpa kabar membuat Echa sedikit bingung. Apalagi wajah Radit yang terlihat sendu.


"Ada apa, Bhal?" Echa sudah duduk di samping Radit dan mengusap lembut punggung tangan Radit.


Radit hanya menghela napas berat. Beralih menatap manik mata calon istrinya.


"Kita ke makam Mamih," ucapnya pilu.


Echa menangkup wajah sendu Radit. Tersenyum hangat kepadanya. "Jangan sedih, pasti Mamih bahagia melihat anaknya akan menikah," terang Echa yang terus menyunggingkan senyum.


Senyum Echa pun menular kepada Radit. Ingin sekali Radit mencium bibir merah cherry Echa. Namun, dia masih harus menahannya. Dia memilih mengecup kening Echa sangat dalam.


"Makasih, Sayang. Kamu selalu mengerti aku," ucap tulus yang keluar dari mulut Radit.


"Kita sudah berjanji untuk saling melengkapi satu sama lain." Tangan Echa masih melingkar di pinggang Radit membuat wajah pilu Radit menghilang seketika.


"Aku gak suka melihat kamu sedih seperti ini," kata Echa.


"Iya, Sayang. Maafkan aku." Radit mengecup ujung kepala Echa.


"Aku siap-siap dulu, ya."


Setelah Echa sudah siap, mereka pergi ke sebuah toko bunga terlebih dahulu. Echa ingin membawakan bunga untuk calon mertuanya. Memilih bunga yang terindah untuk mempercantik pusara.


"Papih sama Abang udah bawa bunga, Yang." Itulah yang Radit katakan. Namun, Echa tetap bersikukuh ingin membawakan calon mertuanya bunga yang indah.


"Aku ingin memberikan sesuatu yang indah untuk Mamih, Bhal." Radit hanya bisa mengalah dengan senyum yang merekah. Radit bahagia karena Echa terlihat menyayangi Mamihnya meskipun sudah tiada.


Tibanya mereka di pemakaman. Radit menatap nanar ke arah di mana papih dan kakaknya berada. Echa menggenggam tangan Radit dengan sangat erat. Membuat Radit menatap ke arah sang calon istri.


"Aku akan selalu ada di samping kamu." Ucapan yang membuat Radit melengkungkan senyum. Memeluk tubuh Echa sebentar. Menetralkan perasaannya yang sudah berkecamuk.


Addhitama menatap ke arah Radit dan juga Echa yang baru saja tiba. Tangannya sudah mulai mengusap lembut nisan sang istri.


"Mamih, Papih datang bersama Rifal dan juga Radit. Kedatangan Papih untuk memberi tahu kepada Mamih bahwa sebentar lagi anak bungsu kita akan melepas status lajangnya." Ucapan Addhitama membuat Rifal dan Radit menunduk dalam. Sedih, itulah yang mereka berdua rasakan.


Echa semakin mengeratkan genggamannya kepada Radit. Di saat seperti inilah Radit terlihat rapuh.


"Perempuan cantik di samping putra bungsu kita adalah calon istrinya. Dia wanita hebat, mampu menyembuhkan luka batin yang anak kita derita. Echa, namanya Echa. Dia wanita baik dan anak sambung dari sahabat Papih, Genta. Pasti Mamih masih ingat 'kan."


Perkataan sang Papih membuat Rifal dan Radit semakin terisak. Bukan tanpa sebab, dua anak Addhitama ini sangat tahu apa yang sedang Addhitama rasakan. Itulah yang membuat mereka menangis. Hidup hanya bersama seorang ayah dari kecil mampu membuat mereka mengerti perasaan Addhitama sesungguhnya. Di balik kacamata hitam yang bertengger di hidung Addhitama ada kesedihan dan kepiluan yang Addhitama coba sembunyikan.


"Kita harus bangga kepada Radit. Dia tumbuh menjadi anak yang hebat. Memiliki dua gelar sekaligus. Psikolog dan juga dokter. Sesuai dengan keinginan Papih. Di usia mudanya dia mampu menghasilkan pundi-pundi yang luar biasa. Itu semua hasil jerih payah putra kita. Tanpa bantuan Papih. Papih sangat bangga dengannya, Mih." Suara Addhitama mulai bergetar.

__ADS_1


Radit semakin menunduk dalam. Tubuhnya bergetar, air matanya tak mampu dia bendung. Gelar yang dia dapat kurang sempurna karena dua kali wisuda tidak ada sang Mamih yang mendampinginya.


"Restui pernikahan putra kita. Biarkan dia bahagia dengan wanita pilihannya. Sudah waktunya putra bungsu kita mendapatkan kebahagiaan."


Hanya kepiluan yang tercipta. Seketika suasana hening. Addhitama sudah tidak berbicara lagi. Ikut menunduk, dadanya sangat sesak jika harus laporan kepada mendiang istrinya tentang Radit. Putra bungsunya yang tidak pernah mendapat sentuhan hangat dari sang ibu semenjak dia lahir ke dunia.


Echa bangun dari posisi jongkoknya. Membuat ketiga pria itu menatap bingung ke arah Echa.


Echa mengusap lembut batu nisan calon mertuanya. Dia tersenyum ke arah batu nisan itu. Seperti melihat sosok mamih dari Radit.


"Assalamualaikum, Mamih." Echa masih menyunggingkan senyumnya seraya menatap batu nisan.


"Echa langsung panggil Mamih aja, ya. Biar lebih akrab. Ini kali kedua Echa datang ke sini. Kesempatan pertama untuk berbicara langsung dengan Mamih."


"Makasih, Mamih telah melahirkan Kak Radit ke dunia ini. Jika, Echa tidak bertemu dengan Kak Radit mungkin Echa masih tenggelam dalam luka yang menganga sangat lebar. Putra Mamih pahlawan untuk Echa. Dia mampu menyembuhkan luka tak kasat mata yang Echa derita. Dia selalu ada untuk Echa. Awalnya dia sangat menyebalkan, tetapi dia sangat pengertian dan mampu membuat Echa nyaman." Bibir Radit tersungging mendengar perkataan Echa. Calon istrinya seperti sedang mengadu kepada sang Mamih.


"Echa bukanlah wanita yang sempurna, Mih. Echa juga memiliki kekurangan dan masa lalu yang menyedihkan. Echa harap Mamih bisa menerimanya. Seperti Kak Radit yang mau menerima segala kekurangan Echa. Papih juga menyayangi Echa seperti anak perempuannya. Kak Rifal yang menganggap Echa seperti adik kandungnya sendiri. Echa harap Mamih merestui pernikahan kami dan menyayangi Echa seperti anak Mamih sendiri."


"Walaupun Mamih sudah tiada. Dan tidak bersama kita lagi. Echa yakin, sekarang ini Mamih berada bersama kita di sini. Mamih pasti wanita yang hebat dan cantik. Karena mampu melahirkan anak-anak yang tampan serta hebat. Echa ingin seperti Mamih. Echa ingin menjadi istri dan ibu yang baik nantinya. Tuntun Echa, Mih. Echa masih minim ilmu tentang hal seperti itu," ungkapnya.


Air mata ketiga pria itu merembes mendengar penuturan dari Echa. Hati mereka tersayat ketika mendengar ketulusan ungkapan hati Echa di depan batu nisan. Echa seperti sedang berbicara dengan calon mertuanya.


"Mamih lihat dan dengar 'kan. Calon menantu kita sangat baik. Papih sangat sayang kepadanya. Papih harap, Mamih juga menyayangi Echa," sambung Addhitama dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Mih, Kakak dilangkahin sama Radit," keluh Rifal yang ingin mengubah suasana.


Sekarang, giliran Radit yang mendekat ke arah nisan sang Mamih. Matanya nanar setiap datang ke pemakaman ini.


"Mih, Radit sudah kembali ke sini. Maaf, Radit jarang nengokin Mamih. Setiap kali Radit datang ke sini, Radit tidak bisa menahan sesak di dada Radit. Jika melihat rumah Mamih ini membuat Radit ingin dipeluk Mamih." Suasana yang sudah mencair kini kembali menjadi sedih.


"Mamih tahu, ketika pertunangan Radit beberapa waktu lalu. Radit berharap Mamih menemani Radit di sana. Radit juga ingin memiliki foto bersama Mamih ketika hari bahagia Radit. Radit ingin memiliki kenangan indah bersama Mamih."


Addhitama tidak bisa menahan air matanya. Bulir bening menetes begitu deras membasahi wajahnya. Begitu juga dengan Rifal. Dia menatap nanar dan iba ke arah Radit. Adiknya yang sangat malang.


"Mih, anak Mamih sekarang sudah dewasa. Sebentar lagi status Radit berubah menjadi seorang suami. Doakan Radit semoga Radit bisa menjadi suami dan ayah yang luar biasa seperti Papih."


"Tolong restui pernikahan Radit dengan wanita yang sangat Radit sayangi setelah Mamih. Mamih tahu, kenapa Radit memilih Echa untuk menjadi istri Radit? Dia adalah wanita hebat dan kuat. Radit sangat nyaman berada di samping dia. Radit juga merasa sentuhan tangannya selembut sentuhan tangan Mamih. Membuat Radit tidak ingin berpisah dengannya. Sampai Radit rela bersaing dengan Abang demi untuk mempertahankan wanita yang luar biasa di samping Radit ini." Tangan Radit sudah menggenggam tangan Echa dengan erat.


"Mendapatkan Echa tidaklah mudah, Mih. Dia bukan wanita yang mudah untuk jatuh cinta. Bukan juga wanita yang gampang dirayu. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ketika Radit sudah memenangkan hati Echa. Radit harus berjuang lagi mendapatkan hati kedua ayah Echa. Sungguh menguras emosi, Mih. Apalagi ayah kandung Echa. Harus jadi sultan dulu untuk menikahi putrinya," keluh Radit ditanggapi senyuman lucu oleh Echa.


"Andai Mamih masih ada, pasti Mamih bahagia bisa melihat calon menantu Mamih yang cantik jelita. Mamih juga akan merasa bangga jika melihat keluarga Echa. Echa bukan anak dari keluarga yang utuh. Ayah dan mamahnya sudah berpisah. Namun, mereka masih tetap akur sampai saat ini. Padahal kedua orang tua kandung Echa sudah memiliki pasangan masing-masing. Mereka masih kompak dalam mengurus Echa. Pasti Mamih bangga kepada mereka dan merasa beruntung memiliki calon besan seperti mereka."


"Makasih Mih, telah melahirkan Radit. Jika, Radit tidak lahir pasti Radit tidak akan bertemu dengan Echa. Tidak akan juga Radit menikahinya. Radit sayang Mamih."


Helaan napas kasar terdengar jelas oleh Addhitama, Rifal serta Echa. Tangan Echa mengusap lembut punggung Radit. Memberikan ketenangan kepada calon suaminya. Radit menoleh ke arah sampingnya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Meskipun Radit tidak pernah merasakan sentuhan hangat dan kasih sayang dari Mamih. Melalui Echa, Radit bisa merasakan semua itu. Kepergian Mamih untuk membuat Radit bertemu dengan Echa. Kepergian Mamih untuk membuat Radit jadi manusia yang mandiri dan kuat. Kepergian Mamih membuat Radit semakin semangat untuk menjalani hidup yang keras ini. Kepergian Mamih membuat Radit tidak ingin menyakiti hati wanita dan sangat menghargai wanita. Makasih, Mih. Kepergian Mamih membuat Radit banyak belajar dan banyak bersyukur. Radit sayang Mamih." Kecupan hangat Radit berikan di atas batu nisan. Membuat Addhitama mengusap punggung Radit perlahan. Terlalu banyak penyesalan yang Addhitama rasakan.


Echa meletakkan bunga lily putih di atas pusara ibu dari Radit. Lengkungan senyum terukir dari bibirnya. "Semoga Mamih suka dengan bunganya. Echa janji, Echa akan sering nengokin Mamih ke sini. Tentunya bersama anak Mamih yang tampan ini," ujarnya dengan senyuman yang tak pernah pudar.


"Echa pamit pulang, Mih. Hari sudah semakin gelap. Echa sayang Mamih." Radit merengkuh pinggang Echa dan mengecup pelipis Echa. Sangat beruntung dirinya mendapatkan wanita sebaik Echa.


Addhitama dan Rifal tersenyum bahagia melihat Radit menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Setelah dari pemakaman, Radit dan Echa kembali ke rumah Echa. Radit membaringkan tubuhnya di sofa kamar Echa. Tentunya tanpa menutup pintu.


"Bhal, mau mandi dulu atau makan? Mamah sama Papa lagi ngecek persiapan pernikahan kita," terang Echa yang baru saja masuk ke kamarnya dengan dua gelas jus di tangannya.


"Aku mau kamu," ucapnya sambil merentangkan tangan. Echa tersenyum dan menghampiri Radit. Setelah dua gelas itu diletakkan di atas meja. Barulah Echa memeluk tubuh Radit.


"Jangan tinggalkan aku. Hanya kamu yang membuat aku bahagia," ucap Radit.


Setelah puas memeluk tubuh Echa Radit meminum jus yang sudah Echa siapkan. Tanpa melepaskan genggaman tangannya kepada Echa.


"Yang, kamu mau punya anak berapa?" Pertanyaan yang membuat Echa tersedak jus yang baru saja masuk tenggorokannya.


"Nikah aja belum," sungut Echa. Radit tersenyum ke arah Echa. Kemudian menariknya ke dalam pelukannya.


"Sebentar lagi kita sah menjadi suami-istri, Yang. Dan sebentar lagi kamu milikku seutuhnya. Termasuk tubuhmu," jelas Radit.


Radit mengurai pelukannya, menatap dalam manik mata Echa. Menarik dagu Echa dan wajahnya mulai mendekat. Hembusan napas mereka saling bersahutan. Bibir mereka pun bersatu. Mata Echa seketika membola. Namun, mata itu mulai terpejam merasakan kelembutan pergerakan bibir yang Radit berikan.


Echa pun terbuai, dan dia mulai melingkarkan tangannya di leher Radit. Menikmati setiap sapuan bibir Radit. Merasakan gigitan-gitgitan kecil yang Radit berikan. Serta lidah Radit yang sudah mengabsen mulut Echa. Pagutan itu pun berakhir ketika oksigen sudah mulai menipis. Radit tersenyum ke arah Echa. Mengusap bibir Echa yang basah.


"Maaf, ya, Sayang. Aku tidak bisa menahannya," sesal Radit. Echa hanya menggeleng lalu mengecup singkat bibir Radit. Sukses membuat Radit mematung untuk sepersekian detik.


"Mulai nakal, ya." Echa hanya tertawa. Mencoba menghindari Radit. Namun, kalah dengan kecepatan tangan Radit sehingga Echa terjatuh ke pangkuan Radit.


Wajah mereka pun bertemu. Mereka semakin mendekatkan wajah mereka. Pagutan bibir itu pun terjadi kembali. Dua insan ini seakan tidak cukup melakukannya hanya sekali. Bibir pasangan mereka seperti menjadi candu.


Setelah pagutan itu terlepas, mereka tersenyum puas. "The first kiss?" tanya Radit. Echa pun mengangguk.


"Makasih, Sayang." Kini, Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Hatinya benar-benar bahagia. Ciuman yang mereka lakukan sama-sama ciuman pertama untuk mereka.


Echa tersenyum ketika melihat calon suaminya terlelap setelah makan mie rebus semangkuk berdua. Wajah Radit terlihat sangat damai ketika terpejam. Ketampanannya semakin terpancar. Echa duduk di lantai di depan sofa yang ditempati Radit.


"Aku masih beruntung dari kamu, Bhal. Pasti hati kamu lebih sakit dari apa yang aku rasakan. Hidup kamu pun pasti lebih sulit dari yang aku hadapi, tetapi aku bangga sama kamu. Kamu bisa melewati semuanya. Kamu tumbuh menjadi laki-laki yang luar biasa."


"Aku sayang kamu, Bhal. Menualah bersamaku. Jadilah ayah yang luar biasa untuk anak-anak kita nanti." Echa mengecup kening Radit sangat dalam.


...****************...

__ADS_1


Terbit bab baru langsung baca ya, jangan ditimbun2. Bantu aku buat dapat gaji bulan depan.


__ADS_2