
Setelah ucapan Addhitama tempo hari, ketiga anak Addhitama merasakan ada hal yang berbeda. Mereka sedikit takut akan Papih mereka, terutama Rindra.
Malam ini, dia tengah berada di ruang kerja di rumahnya. Tatapannya tertuju pada satu foto di mana senyum ayahnya mengembang dengan sempurna.
"Selamat, Nak. Kamu memang anak kebanggaan Papih."
Masih teringat jelas kalimat yang dilontarkan oleh sang ayah. Rindra lulus dengan hasil yang memuaskan dan dialah yang akan menjadi penerus pertama perusahaan Addhitama.
Dia mengusap lembut foto tersebut dan bulir bening menetes begitu saja di pelupuk matanya.
"Maafkan Abang, Pih," lirihnya.
Semua perbuatan di masa lalunya berputar di kepala. Di mana dia yang selalu mengecewakan ayahnya. Bermain wanita, mengugurkan anak yang ada di dalam perut mantan kekasihnya hingga Fani meninggal dunia. Dia teringat akan kebejatannya yang dulu dia lakukan dengan Fani.
Siang hari semeorang perempuan berpakaian seksi masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Rindra mendengkus kesal, sedangkan perempuan itu duduk manja di pangkuan Rindra.
"Sayang ... aku lagi pengen banget."
Terkadang Rindra menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang selalu diminta oleh wanita ini. Namanya Fani, dia adalah wanita yang disewa oleh Rindra untuk menjebak adiknya. Akan tetapi, sekarang malah dia yang terjebak dengan wanita hyper *** seperti ini.
Rindra tidak bisa menolak ketika tangan Fani sudah menyentuh bagian sensitifnya.
"Puaskan aku, Sayang," bisik manja Fani.
Tanpa basa-basi Rindra membawa tubuh Fani ke dalam kamar khusus yang memang tersedia di ruangannya. Mencium setiap inchi tubuh Fani dan meninggalakan jejak di mana-mana.
Le nguhan nikmat keluar dari mulut Fani apalagi Rindra sudah menyentuh bagian yang sangat sensitif dari tubuh Fani.
"Sayang, cepat masukin. Aku gak tahan!"
Seruan Fani tak membuat Rindra menurutinya. Justru Rindra semakin mempermainkannya hingga jeritan cukup keras keluar dari mulut Fani.
"Kamu jahat," ucapnya manja dengan keringat yang bercucuran.
"Sekarang giliran kamu puaskan aku," titah Rindra.
Rindra sudah menarik tangan Fani untuk menyentuh sesuatu yang sudah sangat menegang di bawah sana. Hangat dan sangat keras.
"Oh ...."
Baru sentuhan saja sudah membuat Rindra me lenguh. Namun, Fani tidak ingin memainkan itu. Fani ingin memuaskan dirinya karena dia sedang menginginkan kenikmatan itu.
Sial! Gara-gara nonton siaran langsung beginian di apartment, malah gua yang kepengen berat.
Fani menyuruh Rindra untuk merebahkan tubuhnya. Dia merangkak naik ke atas tubuh Rindra dan menyusuri setiap inci wajah dan tubuh kekar Rindra.
Dia sudah mengambil kuda-kuda, merenggangkan kedua kakinya dan lenguhan kenikmatan keluar dari mulut Rindra.
"Terus Fan ... terus ...."
Rindra terus merancau karena kenikmatan yang Fani berikan. Cukup lama Fani bermain women on top akhirnya Fani semakin mempercepat gerakannya.
"Langsung copot, Fan. Aku gak pakai pengaman," ujar Rindra dengan napas yang tak teratur.
Fani benar-benar tidak mengindahkan ucapan Rindra. Ketika Rindra berkata dia ingin mencapai puncak, Fani malah sengaja semakin bergoyang. Akhirnya, susu kental manis itu keluar di dalam. Fani ambruk di atas tubuh Rindra dan menciumnya dengan ganas.
"Ternyata lebih enak tanpa pengaman, Sayang."
Bisikan Fani membuat gairah Rindra kembali lagi. Kini, dia yang mengendalikan permainan. Tidak ada kata lembut yang Rindra lakukan sekarang. Namun, Fani seolah sangat menikmatinya.
#off.
"Abang bukan anak yang baik."
Rindra benar-benar menyesali semuanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Ucapan ayahnya seperti pertanda untuknya. Jujur, dia belum sanggup untuk menjadi ayah bagi kedua adiknya.
Nesha membuka pintu ruang kerja Rindra. Dia melihat tubuh suaminya bergetar dengan Isak tangis terdengar sangat lirih.
"Papih," panggilnya.
Rindra yang tertunduk menatap ke asal suara. Wajahnya sudah basah dan terlihat sangat kacau. Nesha segera memeluk tubuh suaminya.
"Papih kenapa?" tanya Nesha.
Rindra malah semakin terisak. Dia memeluk tubuh Nesha dengan sangat erat. Suaminya tidak menjawab apapun. Dia melihat ke arah meja yang terdapat foto suaminya juga ayah mertuanya.
__ADS_1
"Papih Addhitama adalah orang yang berjasa untuk rumah tangga kita," ucap Nesha.
Rindra mengurai pelukannya, dia menatap manik mata Nesha dengan sangat dalam.
"Papih Addhitama yang menyuruh Mamih untuk terus bersabar menghadapi sikap kasar yang sering Papih lakukan," tutur Nesha.
Rindra semakin menunduk dalam. Dia menggenggam tangan istrinya.
"Maafkan Papih, Mih."
Nesha tersenyum dan tangannya menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah suaminya.
"Tidak ada yang harus Mamih maafkan. Mencintai Papih adalah keinginan Mamih," balasnya, seraya tersenyum.
Rindra menarik tangan Nesha dalam pelukannya. Dia merasa beruntung memiliki istri seorang Nesha Permata. Wanita pilihan papihnya setelah Rindra diasingkan ke desa terpencil.
"Ketika pertama kita bertemu, Mamih merasa sangat yakin bahwa Papih itu memang jodoh Mamih," tukasnya.
Jodoh pilihan Papihnya memang tidak pernah salah. Keberengsekannya perlahan menghilang semenjak Nesha menjadi istrinya. Dia yang hyper akan kenikmatan surgawi hanya akan meminta itu kepada Nesha. Meskipun, dengan cara sedikit kasar.
"Makasih ya, Mih. Sudah mau menerima buruknya Papih." Nesha tersenyum dan merangkulkan lengannya di leher sang suami.
"Menikah itu bukan hanya melihat kelebihan pasangan, tetapi mampu menerima keburukan pasangan juga." Kecupan singkat Nesha berikan di bibir Rindra. Senyum pun melengkung di wajah Rindra Addhitama.
"Kita harus sering-sering jenguk Papih. Bawa juga Rio agar Papih bisa bermain bersama cucunya," imbuh Nesha. Rindra mengangguk setuju.
Setiap akhir pekan ketiga anak Addhitama akan berkumpul di rumah Addhitama. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan berbincang santai juga bermain dengan ketiga anak Echa dan juga anak Rindra.
Lengkungan senyum Addhitama menandakan dia sangat bahagia bisa bermain bola atau bermain masak-masakan bersama Rio dan juga si triplets. Rasa sepi itu perlahan memudar. Ada semangat lagi di dalam jiwanya.
"Opa capek," kata Addhitma yang sudah duduk di rumput.
Rio dan si triplets yang sedang bersembunyi keluar dari persembunyian mereka.
"Hayo, kalian kena," ujar Addhitama.
Keempat cucunya merengut kesal. "Opa culang!" seru Aleeya.
"Iya nih, gak selu!" sambung Aleena.
"Udahan dulu, yuk. Minum dulu," teriak Echa.
Mereka berempat pun berlari menuju Echa. Begitu juga dengan Addhitama.
"Ini, Pih."
Nesha memberikan segelas air putih untuk Addhitama. Tak lupa Addhitma mengucapakan terima kasih kepada sang menantu.
"Suami kalian di mana?" tanya Addhitama.
"Main PS," jawab Echa.
Addhitama berdecak kesal. Dia masuk ke dalam rumah dan mulai berkacak pinggang menghalangi layar televisi besar.
"Papih!" seru mereka.
Addhitama bergeming, dia malah menatap tajam ke arah ketiga putranya.
"Papih ikutan."
Ketiga pria dewasa itu mengangguk tak percaya dengan ucapan sang ayah. Dia meraih stik PS Rindra dan menantang Radit untuk bermain bersamanya, sedangkan sedari tadi Rifal tengah tertidur pulas karena dia baru saja tiba dari Kalimantan subuh tadi.
Echa dan Nesha malah tertawa melihat sang ayah mertua. Benar kata orang-orang, penyakit itu akan hilang ketika anak-anak dan cucu-cucu datang menjenguk. Bermain bersama dan bercanda tawa. Berbeda jika hidup sendirian. Tidak ada yang bisa diajak berbincang, bercanda dan juga tidak bisa atertawa melihat tingkah lucu cucu-cucunya. Obat yang paling mujarab adalah hati yang bahagia.
Si triplets dan Rio memilih untuk bermain di halaman samping. Namun, Aleesa melihat ada sosok yang pernah dia lihatnya. Dia tersenyum bahagia ke arah Aleesa.
Sosok itu semakin mendekat ke arah Aleesa. Lengkungan senyum itu pun terukir di wajah cantik Aleesa.
"Oma."
Ketiga saudara Aleesa menatap bingung ke arah Aleesa. Aleena dan Aleeya yang penasaran segera memegang lengan Aleesa. Tak lupa, Aleena mengajak Rio untuk ikut memegang Aleesa. Mereka bisa melihat sosok Oma yang biasnya hanya bisa mereka lihat di dalam foto.
"Oma!" seru mereka.
Seruan suara mereka dapat terdengar jelas ke arah dalam rumah. Echa menatap ke arah Radit. Sontak Radit melempar stik PS dan berlari menuju halaman belakang bersama sang istri. Dari belakang Rindra, Nesha dan Addhitama mengikuti mereka.
__ADS_1
Langkah mereka terhenti ketika melihat keempat anak itu tengah menangis. Radit dan Echa meraih pundak Aleesa dan air mata mereka terjatuh begitu saja.
"Menantu Mamih," ucapnya.
Air mata Echa tidak terbendung ketika pertama kalinya dia melihat sang ibu mertua yang sangat cantik ini.
"Makasih, Nak. Sudah memberikan kasih sayang yang sempurna untuk pura bungsu Mamih. Makasih, Sayang."
Kalimat yang membuat Echa menangis tersedu. Addhitama, Rindra dan juga Nesha yang tak mengerti kenapa Echa dan keempat anak itu menangis. Mereka berdua saling pandang. Radit meraih tangan Rindra dan menuntunnya agar memegang pundak Aleesa.
Mata Rindra tak berkedip, mulutnya kelu. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Rindra anak Mamih."
Tubuh Rindra tersungkur ke bawah dan dia menangis cukup keras di sana.
"Mamih," panggilnya.
Radit mengusap lembut pundak sang Abang. Nesha ikut mendekat ke arah Rindra. Namun, Radit melarang.
"Mbak, coba pegang pundak Aleesa," titah Radit.
Nesha mengikuti perintah adik iparnya dan seketika tubuhnya menegang. Matanya melebar dengan sempurna.
"Nesha, menantu Mamih."
Bukan hanya Echa yang menangis mendapat sapaan hangat dari ibu mertuanya. Dia juga ikut tersedu. Echa mulai mundur dan dia menyuruh ayah mertuanya untuk memegang pundak Aleesa.
Addhitama tercengang dengan apa yang dia lihat. Istrinya yang telah puluhan tahun meninggal ada di hadapannya sekarang. Tersenyum bahagia ke arahnya.
"Makasih, Pih. Makasih."
Vivi menangis ketika mengucapakan kalimat tersebut. Dia sangat bahagia karena Addhitama telah mendidik anak-anaknya dengan sangat baik. Menjadikan mereka pria hebat dan sekarang Rindra dan Radit sudah menjadi ayah yang luar biasa.
"Mamih ... benar itu Mamih ...."
Vivi mengangguk, dia tersenyum ke arah suaminya yang sudah terlihat senja. Keriput di wajahnya sudah terlihat, meskipun ketampanannya tidak pernah pudar.
"Ketika Ipang bahagia, Mamih akan kembali lagi, Pih. Kita akan hidup bahagia bersama," imbuh Vivi.
Tak terasa bulir bening pun menetes di wajah Addhitama. Baru kali ini dia dapat melihat mendiang istrinya.
Bruk!
Tubuh Aleesa terjatuh dan dia pingsan. Keadaan haru biru berubah menjadi panik. Radit segera membawa tubuh Aleesa ke dalam rumah. Echa sudah mengambil minyak kayu putih untuk mengembalikkan kesadarannya.
"Bawa Aleesa ke rumah sakit, Dit," titah Addhitama.
"Tidak usah, Pih. Energinya terkuras habis karena dia sudah mencoba memperlihatkan Mamih kepada kita semua," terang Radit.
Rindra dan juga Addhitama tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Ya, Radit tidak memberitahukan keistimewaan Aleesa kepada keluarga besarnya. hanya keluarga dari istrinyalah yang tahu kemampuan Aleesa.
"Setelah Aleesa sadar, Radit akan cerita semuanya," pungkasnya.
Selang sepuluh menit, maha Aleesa terbuka. Tubuhnya terlihat sangat lemas.
"Minum ya, Nak." Echa memberikan air mineral botolan kecil untuk Aleesa. Setelah meneguk habis, dia memeluk tubuh ibunya dan tertidur di pangkuan Echa.
"Apa maksud kamu tadi, Dit?" tanya Addhitama.
Rindra dan Nesha pun ikut menyimak. Dia pun merasa aneh kenapa mereka bisa melihat sosok Mamih mereka.
"Sebenarnya ... Aleesa memiliki kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata," jelas Radit.
Sontak Addhitama terkejut begitu juga dengan Nesha serta Rindra.
"Bukannya Iyan juga memiliki kemampuan seperti itu?" tanya Rindra. Radit mengangguk.
"Mereka anak yang sangat berbeda," balas Radit.
Addhitama menatap ke arah cucu keduanya yang tengah terlelap. Menatapnya penuh cinta.
Makasih sudah mempertemukan opa dengan oma.
Doa yang selalu Addhitama panjatkan ketika sebelum tidur baru dijabah saat ini. Dia dapat melihat istrinya dengan sangat jelas. Bisa berkomunikasi walaupun hanya sekilas.
__ADS_1
Tunggu Papih, Mih. Masih ada satu tugas lagi yang belum Papih selesaikan. Menikahkan Ipang, putra kedua kita.