
Setelah deal siapa yang akan mendampingi Echa. Kini, tempatlah yang menjadi perdebatan antara Rion dan Ayanda. Echa hanya menjadi penyimak. Karena Echa tahu, kedua orang tuanya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi, ini momen pertama untuk mereka yang sebentar lagi akan memiliki seorang menantu.
Setelah perdebatan panjang. Akhirnya rumah Rion lah yang menjadi tempat diadakannya lamaran. Dengan alasan, rumah itu menyimpan banyak cerita antar Rion, Ayanda serta Echa sebelum sebuah perpisahan terjadi. Dan Echa pun banyak menghabiskan masa kecil dan remaja di sana.
Rumah Rion pun dihias seindah mungkin. Hingga mendatangkan orang khusus untuk menghias ruangan yang akan menjadi tempat lamaran. Ini hanya lamaran, bagaimana dengan pernikahan? Maklum, ini kali pertama bagi Ayanda dan juga Rion akan kedatangan calon besan. Dan ingin mengikuti zaman. Seperti lamaran-lamaran zaman sekarang.
Bibir Echa terus tersungging ketika melihat kebaya modern yang digantung di kamarnya. Sedangkan Radit akan memakai baju batik senada dengan kain kebaya Echa di acara lamaran malam nanti.
Ketukan pintu membuat lamunan Echa terburai. Dia membukakan pintu dan seulas senyum penuh kelembutan terpancar dari wajahnya.
"Mamah boleh masuk?" Echa mengangguk seraya tersenyum.
Echa menggandeng tangan Ayanda dan mereka duduk di tepian tempat tidur. Ayanda menatap lekat wajah sang putri yang kini sudah dewasa.
"Gak kerasa, sebentar lagi Mamah akan melepas kamu." Kalimat pembuka yang membuat hati Echa meringis.
"Bayi perempuan yang cantik dan tumbuh menjadi anak istimewa. Ketika kesakitan Mamah terima, kamu selalu Mamah bawa. Karena kamu adalah kekuatan untuk Mamah. Kamu adalah penyemangat hidup Mamah. Susah, senang sudah kita lewati bersama. Apapun kondisinya, yang terpenting kita bersama. Berjuang menghilangkan lara di hati kita." Ayanda mulai bernostalgia dengan masa lalunya dan Echa.
"Meskipun kamu dibenci oleh Ayahmu. Tetapi, kamu tidak pernah membenci dia. Malah sebaliknya, kamu sangat menyayangi ayahmu melebihi kamu menyayangi Mamah," guraunya untuk menyamarkan kesedihan Ayanda.
"Tidak Mah." Echa memeluk tubuh sang Mamah.
"Rasa sayang dan cinta Echa sangatlah besar untuk Mamah. Tidak akan bisa diukur oleh apapun. Karena Mamah adalah wanita tangguh. Panutan untuk Echa. Pekerja keras dan rela berkorban. Mamah sudah banyak mengorbankan semuanya untuk Echa. Mungkin, jika Echa minta nyawa Mamah. Mamah pun pasti akan memberinya kepada Echa." Ayanda pun mengangguk.
"Apapun akan Mamah lakukan untuk kamu. Lelah dan letih Mamah akan hilang begitu saja ketika melihat kamu tertawa dan ceria. Karena Mamah tahu, jadi kamu itu tidak mudah. Apalagi dengan keistimewaan penyakit yang kamu punya."
"Maaf, dulu Mamah membawa kamu masuk ke dalam kubangan kesusahan," cicit Ayanda.
Dengan cepat Echa menggeleng. Dia menatap manik mata sang mamah yang sudah berair.
"Mamah tidak perlu meminta maaf. Mamah tidak salah, takdir kita sudah dituliskan begini. Dan Echa sangat merasa bersyukur. Meskipun hidup susah dan serba kekurangan. Tetapi, Echa tidak merasakan kekurangan kasih sayang," balas Echa dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Jangan menangis, Mah. Harusnya Mamah bahagia. Karena beban Mamah akan berkurang satu."
"Kamu bukan beban Mamah. Kamu adalah kebahagiaan Mamah. Dan Mamah sangat beruntung memiliki kamu. Tanpa kamu, mungkin Mamah tidak akan pernah bisa bersatu bersama Papa. Tanpa kamu, Ayahmu tidak akan pernah bahagia. Mamah dan Ayah sangat bahagia memiliki kamu. Anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada kami," terang Ayanda.
Echa semakin mengeratkan pelukannya. Wajar, ketika seorang ibu akan melepaskan sang anak untuk suaminya. Hatinya pasti berkecamuk. Antara sedih dan bahagia.
Rion tersenyum ke arah anak dan mantan istrinya. Ternyata dia sudah bersandar di daun pintu menyaksikan keharuan dua wanita yang dia sayangi. Meskipun, Ayanda sudah mantan istri. Rion tetap menyayanginya seperti adiknya sendiri. Terlebih, Ayanda selalu ada untuk Rion.
"Belum juga akad nikah, udah haru begini." Ucapan Rion membuat pelukan Ayanda dan juga Echa terurai.
Echa tersenyum ke arah sang ayah. Serta merentangkan tangannya.
"Hug, me."
Rion berhambur memeluk tubuh putrinya. Bukan hanya Ayanda yang akan merasa kehilangan Echa. Rion pun merasakan hal yang sama.
"Ayah masih belum menyangka. Kamu sudah sebesar ini." Suara Rion terdengar sangat bergetar.
"Echa tetaplah putri kecil Ayah. Yang masih membutuhkan nasihat Ayah. Omelan Ayah dan pelukan hangat Ayah."
Air mata Rion pun menetes, dia tidak bisa menahan keharuan. Begitu juga Ayanda yang terus menyeka ujung matanya.
"Echa bahagia terlahir menjadi anak Ayah dan Mamah. Kalian adalah orang tua Echa yang luar biasa. Mampu mendidik Echa dengan sangat baik dan menjadikan Echa wanita yang kuat dan mandiri. Terima kasih, Ayah. Terima kasih Mamah." Air mata Echa pun menetes tidak sanggup mengatakan itu semua.
__ADS_1
Kedua orang tua kandung Echa pun memeluknya dengan penuh kasih sayang. Bibir Echa melengkung dengan sempurna. Dia bahagia, teringat ketika dia masih SD yang selalu dipeluk hangat oleh Ayah dan Mamahnya seperti ini.
"Meskipun kalian sudah berpisah. Jangan pernah saling membenci. Tetaplah seperti ini. Agar Echa tetap merasakan kasih sayang seperti mereka yang memiliki orang tua utuh." Sungguh perkataan yang keluar dari hati Echa yang terdalam.
Malam pun tiba, Echa sudah dirias tipis dengan kebaya yang sangat pas ditubuhnya. Wajahnya yang sudah cantik mendapat polesan make up tipis dan natural membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
"Kamu sangat cantik," puji Beby yang sedari tadi menemani Echa. Hanya seulas senyum yang Echa berikan.
"Bocah Bangor gua udah mau tunangan aja," ucap Arya yang baru saja masuk ke dalam kamar Echa.
Echa merentangkan tangannya meminta Arya memeluknya. Arya sudah Echa anggap seperti Ayah kedua baginya. Dan dia sangat menyayangi Arya. Bangor di depan Arya adalah cara Echa menunjukkan kasih sayangnya.
"Gua harap lu akan bahagia. Dan nasib lu lebih baik dari Mamah lu," ujar Arya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Echa selalu berdoa untuk itu. Karena masih ada ketakutan di hati Echa. Echa takut jika nanti nasib rumah tangga Echa seperti rumah tangga kedua orang tua Echa." Arya mengurai pelukannya. Dia menangkup wajah keponakannya ini.
"Radit dan kamu memiliki masa lalu yang sama-sama menyakitkan. Masalahnya pun sama karena orang tua. Om yakin, dia akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Menyayangi kamu dengan tulus. Dan tidak akan pernah menyakiti kamu. Karena dia pun ingin menjadi orang tua yang utuh untuk anak-anak kalian nanti." Perkataan yang sangat serius dan mampu membuat Echa menangis haru.
"Jangan menangis, sebentar lagi kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya." Arya menghapus air mata Echa dengan sangat lembut. Beby tersenyum seraya menyeka ujung matanya. Kasih sayang suaminya sangat besar untuk Echa. Sama seperti Arya menyayangi Beeya, anak kandungnya.
"Kenapa lu bikin anak gua nangis?" sungut Rion yang baru saja masuk.
"Ah, pengganggu suasana aja, lu," sungut Arya balik.
Suasana haru pun berubah menjadi tawa canda. Rion dan Arya bagai Tom and Jerry. Selalu bertengkar tetapi saling menyayangi.
Mereka semua pun sudah berkumpul di ruang keluarga yang disulap menjadi ruangan yang sangat indah dan cantik. Menunggu kedatangan keluarga Radit dengan rasa bahagia tak terkira.
Beberapa mobil mewah terparkir di halaman rumah Rion. Ketampanan Radit sangatlah terlihat nyata. Dan nyaris sempurna.
"Kayak opa-opa Korea pake baju batik," sahut Sheza.
Mereka pun sudah berada di ruangan keluarga. Menyerahkan beberapa barang bawaan kepada keluarga Echa.
"Mohon tunggu sebentar. Adik saya masih dalam perjalanan," pinta Addhitama kepada pihak keluarga Echa.
Sepuluh menit menunggu, akhirnya adik dari Addhitama tiba. Namun, hati Amanda ibu sambung dari Echa berdetak dengan begitu cepat. Pria yang baru saja datang itu adalah pria di masa lalunya. Yang membeli kehormatannya sebesar 1 Milyar rupiah. (Baca ceritanya di karya Bang Duda, jika aku ceritakan pasti kalian bosan)
Meskipun ada getaran-getaran aneh di antara keduanya. Mereka mampu menutupinya dengan sempurna. Belum ada yang tahu akan hal ini. Dan mereka lebih memilih fokus kepada acara pertunangan.
Echa baru saja keluar dengan diapit oleh Beby dan juga Sheza. Senyumnya terus merekah. Begitu juga Radit yang terpesona akan kecantikan calon tunangannya.
"Kedip, Dit. Gua colok mata lu nanti," gurau Arya. Semua orang pun tertawa. Echa sudah duduk di antara Rion dan juga Ayanda. Berhadapan dengan keluarga Raditya.
"Langsung saja, ya. Perkenalkan saya Satria adik dari Pak Addhitama dan Om dari Raditya Addhitama. Kedatangan saya dan keluarga ke sini berniat untuk meminta izin kepada Bapak Rion Juanda dan Ibu Ayanda Rashani ingin melamar putri Bapak dan Ibu untuk keponakan saya, Raditya Addhitama. Mungkin, Bapak dan Ibu juga sudah tahu seperti apa hubungan mereka. Dan sudah seberapa lama hubungan mereka. Alangkah lebih baiknya, kita segera mengikat mereka dalam tali pertunangan. Lalu, sesegara mungkin mengadakan pernikahan. Supaya tidak terjadi fitnah," terang Satria.
"Bagaimana menurut Bapak dan Ibu?" tanya Satria.
"Saya tidak bisa memutuskan apapun, Pak Satria. Karena semua keputusan ada di tangan putri saya," jawab Rion.
"Bagaimana Echa? Apa kamu menerima lamaran dari keponakan Om?" Echa menatap kedua orang tuanya. Ketika mereka berdua mengangguk kecil, Echa pun mengangguk mantap dengan seulas senyum di bibirnya.
Semua orang pun ikut berbahagia. Apalagi Radit dan Echa yang terus mengukirkan senyum.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa terhadap putri Bapak dan Ibu. Radit bukanlah manusia yang sempurna. Dia juga memiliki kekurangan serta kelebihan." Satria kini menghadap ke arah Echa.
__ADS_1
"Apa kamu mau menerima kekurangan Radit?" tanya Satria. Lagi-lagi mengangguk mantap.
"Pak Satria, putri saya pun banyak sekali kekurangannya. Jadi, saya harap Radit dan keluarganya bisa menerima kekurangan putri saya ini," ucap Ayanda sambil mengusap lembut pundak Echa.
"Insha Allah, Bu. Kakak saya sangat menyayangi putri Bapak dan Ibu. Beliau lah yang selalu mendesak Radit agar segera menghalalkan Echa. Agar cepat dikaruniai cucu untuk menemani masa tuanya," jelas Satria.
"Dit, cincinnya mana? Sematkan di jari manis Echa." Radit pun berdiri diikuti Echa. Mereka sudah berada di tempat yang sudah disediakan. Sebuah kotak kecil berwarna merah sudah di tangan Radit. Di dalamnya berisi dua cincin. Satu cincin dia ambil, dan disematkan di jari mamis Echa. Dan Echa mengambil cincin dating lagi. Lalu disematkan di jari manis Radit.
Senyum bahagia terukir di bibir mereka berdua. Apalagi ketika Echa mencium tangan Radit. Dibalas dengan kecupan hangat dari Radit di kening Echa. Membuat suasana riuh bahagia.
"Congratulation," ucap Beby yang kini memeluk anak dari sepupunya ini.
"Minjem Radit sebentar, ya. Mau foto bareng opa-opa Korea pake batik," ucap konyol Beby. Diikuti Sheza yang sudah menggenggam ponselnya.
Semua orang yang berada di sana tertawa melihat tingkah dua wanita penggila drama Korea.
"Opa Tae Hyung," seru Sheza menunjuk Rifal.
Mata semua orang mengikuti arah telunjuk Sheza. Dan sekarang Rifal yang menjadi pusat perhatian semua orang. Hingga dia menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuknya.
"Bukan Tante, saya buka si Ta* Idung," ucap Rifal.
"Tae Hyung. Bukan Ta* Idung," ralat Sheza.
Sekarang, Rifal yang menjadi korban dari kecentilan Beby dan Sheza. Membuat Arya dan Kano malu melihatnya. Namun, orang-orang yang berada di sana sangat terhibur dibuatnya. Tanpa mereka sadari, ada dua orang yang sedari tadi saling tatap. Mencoba untuk acuh tetapi, tidak bisa.
Pandangan aneh istrinya terhadap Satria tertangkap jelas oleh Rion. Beribu pertanyaan ada di benak Rion. Namun, dia masih bersikap diam. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Radit dan Echa seperti dua manusia yang tidak ingin dipisahkan. Tangannya terus bertautan. Hingga kedatangan dua bocah kembar membuat tautan tangan mereka berdua terlepas. Dua bocah itu malah menautkan tangannya ke tangan Radit dan Echa karena mereka berada di tengah-tengah antara Radit dan Echa.
"Mommy, fotoin kami," teriak Aksa.
Lagi-lagi semua orang tergelak. Melihat Radit, Aska, Aksa serta Echa seperti kelurga muda bahagia.
"Dua anak cukup, Dit. Ikuti anjuran pemerintah," canda Arya.
"Bikin aja belum," gerutu Radit. Sontak Echa memukul lengan tunangannya.
"Jaga omongan di depan anak kecil." Sebuah peringatan meluncur bebas dari mulut Echa.
Semua orang terbahak-bahak melihat wajah Radit yang terlihat takut ketika Echa sedang marah.
"Calon suami takut istri," ledek Kano. Diikuti tawa semua orang.
Terlalu bahagia menjadikan Radit bullyan malam ini. Harusnya semua orang mengistimewakan Radit. Tetapi sebaliknya, Radit menjadi bahan ejekan dari para sahabat ayah dari tunangannya yang memiliki kewarasan yang tidak sempurna. Memiliki paras tampan dan kekayaan tidak menjamin otak mereka lurus. Addhitama pun malah ikut tertawa melihat anaknya diledek oleh para sahabat calon besannya.
Addhitama sangat bangga kepada kedua orang tua kandung Echa. Meskipun mereka berpisah, hubungan mereka masih terjalin dengan sangat baik dan harmonis. Yang lebih membuat Addhitama salut adalah Gio. Papa sambung dari Echa yang memiliki ketulusan yang luar biasa. Dan mampu menyayangi Echa seperti putri kandungnya sendiri. Sungguh didikan Genta, sahabat dari Addhitama itu luar biasa.
Setelah puas mem-bully Radit. Mereka melakukan sua foto. Echa tersenyum bahagia ketika kedua orang tuanya berada di sampingnya untuk mendampinginya. Dan Radit hanya didampingi Ayah dan juga Kakaknya. Bibir Radit tersenyum. Namun, hatinya sedikit sesak.
"Radit harap, Mamih ikut menemani Radit malam ini," batinnya pedih.
...****************...
Bantu aku untuk menjaga level karya kisah Echa dan Radiy, ya. Dengan cara setiap bab baru terbit langsung baca dan jangan ditimbun-timbun. Bulan ini aku sedang mencoba mengejar 60ribu kita untuk kisah Echa dan Radit supaya dapat gajian.
__ADS_1
Bantu aku, ya ...🙏