Yang Terluka

Yang Terluka
Terlalu Tua


__ADS_3

Hari-hari yang dilewati penuh dengan kebahagiaan. Bagaiman tidak, setelah acara pensi berakhir hubungan Radit dan juga Echa semakin dekat. Kedua keluarga pun sudah saling mengenal dan memberikan lampu hijau. Terlebih, Genta Wiguna menjadi orang sangat berbahagia tentang kabar kedekatan cucunya dengan anak bungsu Addhitama.


Genta Wiguna adalah sahabat dari Addhitama. Sedari Radit kecil Genta sudah mengagumi Radit. Anak yang sangat berbeda dari yang lain. Ditambah keramahannya yang membuat Genta semakin menyukainya.


Hari ini, Radit sudah tidak pergi ke kantor lagi. Dia tetap dengan aktifitas di tempat kuliahnya. Dia sudah menjadi psikolog muda, tapi dia tidak mau membuka praktek. Dia hanya akan membantu para dokter yang membutuhkan jasanya di rumah sakit tempat ayahnya praktek. Karena banyak pasien ketika didiagnosa penyakit serius pasti akan stres. Radit akan mengajak para pasien itu mengobrol dan melupakan sejenak penyakitnya.


Selain jadi psikolog, Radit ingin mengambil kuliah kedokteran. Menurutnya, dokter dan psikolog berkesinambungan. Dokter bisa menyembuhkan orang sakit dan psikolog bisa menyembuhkan batin yang sakit.


Mendengar cita-cita Radit, Rindra menggunakan kesempatan ini untuk mempercepat keberangkatan Radit ke London. Radit akan kuliah di sana, padahal permintaan Radit hanya berkuliah di Canberra.


"Dit, ke ruangan Papih. Papih mau bicara," ujar Addhitama.


Radit yang sedang bersantai pun mengikuti langkah papihnya. Dia duduk tepat di hadapannya.


"Ada apa, Pih?"


"Papih sudah menyiapkan semua kelengkapan kamu, dan kamu diterima di Universitas Oxford." Mata Radit pun membelalak dengan sempurna.


"Ma-maksud Papih apa?"


"Kamu ingin mengejar kuliah kedokteran kan. Papih sudah daftarkan kamu di sana." Radit hanya menggeleng.


"Radit hanya ingin kuliah di Ausi, bukan di London. Papih tau akan hal itu," sahut Radit.


"Di sana lebih bagus daripada universitas di Canberra," timpal Rindra.


Radit menatap tajam ke arah Rindra. Dia yakin, ini atas rekomendasi Rindra. Karena Rindra memang kuliah di Oxford.


"Kenapa kalian tidak mengirimkan aku ke kutub Utara saja? Biar aku semakin jauh dari kalian," imbuhnya. Radit berlalu meninggalkan papihnya dan juga Rindra.


Ada kesakitan di hati Addhitama mendengar ucapan Radit. Dia tahu, Radit belum siap untuk pergi. Terlebih, Rindra juga menyukai kekasih Radit. Itulah yang membuat Radit berat.


Radit memejamkan matanya sejenak. Lalu dia menyambar kunci motor di atas nakas. Tak lupa dia memakai jaket dan langsung pergi. Addhitama tahu, Radit sedang marah. Jadi, dia hanya membiarkannya saja.


Sampailah dia di kediaman Echa. Dia disambut hangat oleh Ayanda dan juga Gio.


"Echa di kamar Dit," ucap Ayanda.


"Boleh Radit ke kamarnya?"


"Masuklah, toh di kamar itu ada CCTV," sahut Gio.


Radit pun tertawa. "Radit tidak sebringas itu, Om." Gio pun tertawa.


Dia melihat Echa sedang menikmati udara sore di balkon. Dia menghampiri Echa dan langsung meletakkan kepalanya di bahu Echa.


"Loh, Bhal. Ka ...."


"Biarkan seperti ini dulu," kata Radit. Dia pun menggenggam tangan Echa dan meletakkan tangan Echa di dadanya.

__ADS_1


Echa merasa sedikit aneh dengan sikap Radit seperti ini. Tidak pernah Radit bersikap manja seperti ini selama mereka menjalin hubungan.


"Bhal, ada apa?" tanya Echa.


Radit hanya menatap Echa dan dia membaringkan kepalanya di atas kaki Echa. Dia memeluk pinggang Echa dengan eratnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Radit. Inilah sisi terlemah Radit.


Echa hanya menghela napas kasar dan tangannya terus membelai rambut Radit. Radit pun terlelap di pangkuan Echa.


"Apa yang sedang kamu rasakan, Bhal?" gumamnya.


Ayanda masuk ke kamar Echa, dia sedikit terkejut melihat Radit yang sedang terlelap di pangkuan putrinya. Echa hanya meletakkan jarinya di atas bibirnya. Ayanda pun mengangguk pelan.


Echa masih fokus dengan ponselnya hingga kepala Radit bergerak dan semakin memeluk erat pinggang Echa.


Echa mengusap lembut rambut Radit kembali dan dengkuran halus pun terdengar. Echa tidak tahu masa lalu Radit.


Satu jam berselang, Radit terbangun. Bibirnya tersenyum ketika melihat cantiknya wajah Echa dari bawah.


"Kamu lagi apa?" tanya Radit dengan suara beratnya.


"Udah bangun!?" Radit mencoba untuk duduk.


"Pasti sakit, ya," ucap Radit sambil memegang kaki Echa.


"Tidak apa-apa, Bhal. Lagi pula kamu terlihat lelah sekali," balasnya.


"Tidak apa-apa," jawab Radit.


Echa membaringkan kepalanya di pundak Radit. "Jangan pernah ada yang kamu sembunyikan dari aku," imbuhnya.


Radit pun tersenyum dan memeluk pinggang Echa. "Iya, Sayang." Dia mengecup puncuk kepala Echa.


Momen seperti ini momen yang nantinya akan dia rindukan. Bagaimana dengan hubungannya? Apa Echa mau diajak LDR-an?


"Bhul, jalan yuk. Kita nonton," ajaknya.


"Emang ada film baru?"


"Ya gak tau, tapi kan kita gak pernah nonton berdua." Sejenak Echa berpikir, memang benar apa yang dikatakan Radit. Dan Echa pun menyetujuinya.


"Aku ganti baju dulu, ya." Radit mengangguk.


Selama Echa berganti pakaian, Radit hanya bisa menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Dia memikirkan Echa jika tanpa dia.


"Bhal, aku udah siap." Radit menghampiri Echa, Echa sangat terlihat cantik dengan rambut yang digerai seperti itu.


"Aku cuci muka dulu."


Setelah selesai, mereka turun ke lantai bawah. Sudah ada Ayanda dan juga Gio di ruang makan.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Ayanda.


"Mau nonton Mah. Udah lama gak keluar," sahut Echa.


"Hati-hati, jaga putri Om," ucap Gio.


"Siap Komandan." Radit pun mencium tangan Gio dan juga Ayanda sebelum mereka pergi.


"Naik motor aja, gak apa-apa kan?" Echa hanya tersenyum.


"Emang aku terlihat seperti cewek matre?" Radit pun tertawa. Dia memakaikan jaketnya di tubuh Echa. Di bagasi motor Radit memang tersimpan jaketnya khusus untuk Echa pakai.


Mereka menikmati waktu senja berdua. Tangan Echa yang melingkar erat di pinggang Radit, dan tangan Radit yang satunya mengusap lembut punggung tangan Echa.


Tiba sudah mereka di parkiran mall. Radit membukakan helm Echa dan merapihkan rambut Echa. Echa pun tersenyum dengan perlakuan Radit.


Radit dengan eratnya menggenggam tangan Echa. Mereka bercanda dan tertawa bersama dengan tangan yang tetap bertautan.


Ketika Radit membelii tiket bioskop, Echa bertemu Rindra dengan sekretarisnya. Wanita yang membuat Echa marah kepada Radit.


"Sama siapa Cha?" tanya Rindra.


"Sama Radit, Kak. Dia lagi beli tiket," jawab Echa.


Echa sudah merasa tidak nyaman berada di sini. Terlebih Rindra menatapnya dengan tatapan tidak bisa dibaca.


"Kamu sudah berapa lama berhubungan sama Radit?" Tiba-tiba Sisi membuka suaranya.


"Sayang." Radit sudah berada di samping Echa dan merengkuh pinggang Echa.


"Udah belinya?"


"Udah, kita makan dulu ya. Masih satu jam," ucapnya. Echa pun mengangguk dan Radit dengan sengaja menggenggam tangan Echa dengan mesranya di depan Rindra dan juga Sisi.


"Kenapa mereka bisa di sini?" gumam Radit.


"Gak tau, Bhal."


Mereka duduk di restoran cepat saji kesukaan Echa. "Tetap jaga hatimu untuk aku, ya." Echa pun tersenyum lalu mengangguk.


"Dia terlalu tua untuk aku," bisik Echa kepada Radit. Mereka pun tertawa bersama.


Radit menatap manik mata Echa sangat dalam. "Bhul sebenarnya aku ...."


****


Happy reading ...


Kangen nggak nih sama Babang Ndit sama neng Echa?

__ADS_1


__ADS_2