
Setelah mencari tahu tentang Iyan di sekolah, Echa dan Radit mulai membuat Iyan mau bercerita kepada mereka tentang hal apapun. Awalnya Iyan enggan untuk berbicara. Lama kelamaan Iyan mau terbuka perihal apapun. Radit akan menjadi pendengar yang baik. Apapun yang Iyan katakan akan Radit dengar.
Dirasa semuanya sudah berjalan dengan normal. Echa memilih untuk ke kantor lagi. Sang ayah sudah terus merengek ingin mengasuh si triplets. Pagi ini semua orang berkumpul di meja makan tak terkecuali ketiga anak Echa yang lucu. Mereka sarapan dengan menu yang sederhana.
"Kak, Iyan boleh bawa bekel gak?" Echa tersenyum dan mengangguk.
"Mau bekal apa?"
"Roti panggang Ovaltine," jawabnya dengan wajahnya yang berbinar.
"Baiklah. Riana kamu mau?" Riana pun mengangguk.
Echa bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Padahal di dapur ada Mbak Ina, tetapi Echa tidak ingin merepotkan Mbak Ina perihal roti panggang yang sangat mudah. Radit menatap ke arah sang istri dengan senyum manisnya. Piring Echa masih terisi penuh, membuat Radit membawa piring itu ke dapur.
"Loh kenapa ke sini?" tanya Echa tanpa menoleh ke arah Radit. Wangi maskulin sang suami sangat Echa kenali.
"Mau nyuapin kamu," ucapnya.
Echa tersenyum dan membuka mulutnya. Perlakuan sederhana Radit sangatlah manis. Tanpa diminta Radit mengerti apa yang dibutuhkan oleh Echa.
"Aku juga mau, ya."
"Iya, suamiku."
Mbak Ina selalu tersenyum bahagia jika melihat anak majikannya sedang berdua bersama sang suami. Padahal mereka sudah lama bersama. Masa pacaran hingga ke jenjang pernikahan cukup lama lima tahun. Setelah hampir tiga tahun menikah barulah mereka dikaruniai anak. Luar biasnya hubungan mereka masih tetap harmonis dan romantis.
"Kamu sudah sarapan?" Radit mengangguk sambil meminum susu cokelat dingin yang selalu tersedia di dalam kulkas.
Tiga kotak bekal dan satu piring berisi roti panggang sudah siap santap.
"Ayah, kalau Ayah gak keberatan tolong beliin roti tawar ya di toko roti di depan komplek," imbuh Echa seraya memberi kotak bekal kepada kedua adiknya dan juga suaminya. Satu piring dia letakkan di ruang televisi untuk cemilan ketiga buah hatinya beserta ayahnya.
"Baiklah, beli berapa?" tanya Rion.
"Kalau expired-nya lama beli dua bungkus aja. Kalau sebentar mah satu aja. Sama kopi yang biasa Echa dan Kak Radit minum. Echa malas ke supermarket, nanti uangnya Echa ganti." Rion mengangguk.
Setelah kepergian anak-anak dan menantunya. Dia melihat ke arah si triplets yang tidak ada kenyangnya. Sedari tadi ngemil terus.
"Tadi udah makan, sekarang roti panggang. Sebentar lagi susu." Rion menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ssstt!!" Ketiga balita itu meletakkan jari telunjuk mereka di bibir. Menandakan jangan berisik.
Rion melihat ke arah sepeda si triplets. Sangat merepotkan jika membawa tiga sepeda sekaligus. Dia masih ingat akan tontonan di YouTube cara mengasuh balita kembar tiga.
Rion segera menghubungi tukang las untuk merombak sepeda ketiga cucunya sesuai dengan ada yang digambar. Dia pun mencari-cari seperti pelindung dada yang dibelakangnya terhubung dengan per lentur yang dihubungkan dengan anggota tubuh sang pengasuh.
Tak peduli harganya berapa, yang terpenting manfaatnya. Selama Rion bergelut dengan gadget di triplets sudah tidak ada di sana.
"Astaga!" pekiknya.
Rion segera berlari ke halaman samping. Benar saja, mereka sedang bermain di bawah pohon mangga. Mereka sangat nyaman bermain di sana.
"Sejuk sekali di sini. Pantas saja mereka betah," gumam Rion.
Ketiga cucunya cukup diawasi, tidak perlu dilerai ataupun dicegah. Rion membiarkan ketiga cucunya bermain kotor-kotoran. Agar nantinya dia tidak jijik dengan tanah.
Hari semakin panas, ketiga cucunya mengajak Rion untuk masuk ke dalam rumah. Tanpa diberitahu mereka sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan. Setelah cuci tangan dan kaki, Rion mengganti pakaian ketiga cucunya. Mereka sudah tiduran di atas karpet. Menandakan mereka ingin susu. Tiga botol susu sudah di tangan Rion, kini dia memberikannya kepada cucu-cucunya.
Jika, bersama Radit mereka akan dibacakan dongeng. Sedangkan bersama Rion mereka akan diperdengarkan lagu anak-anak hingga mereka terlelap. Semakin ke sini mengurus si triplets semakin mudah. Hanya saja kesabaran yang diuji.
Rion ke luar kamar si triplets untuk membuat kopi dan mencari cemilan. Pak Mat datang tergopoh-gopoh. "Paket Bapak sudah datang." Rion yang baru saja memakan satu buah anggur segera bangkit dari duduknya.
Bibirnya tersenyum ketika melihat sepeda yang dia inginkan ada di depan matanya. Serta alat untuk mengasuh si kembar agar tidak kabur jauh.
"Sempurna."
Rion kembali ke dapur melanjutkan membuat kopi panas. Dia tidak berniat untuk makan siang. Dia sedang ingin makan pecel lele. Di depan kompleks ada kedai yang menjual lele goreng. Dia berencana untuk mengajak ketiga cucunya makan di sana.
Jam tiga sore, si triplets baru bangun. Rion segera membuatkan susu untuk ketiga cucunya. Kemudian, memandikan mereka.
"Au nana?" tanya Aleeya ketika rambutnya sedang dikuncir oleh sang engkong.
"Jalan-jalan."
Mereka bertiga bertepuk tangan gembira. Setelah memakaikan sepatu yang lucu dan sama. Rion menyuruh ketiga cucunya untuk bergandengan tangan. Si triplets bersorak gembira ketika melihat sepeda mereka disambungkan menjadi satu. Satu di depan sebagai dan dua di belakangan.
__ADS_1
"Au aik," ucap Aleesa.
Dengan senang hati, Rion menaikkan ketiga cucunya ke sepeda tersebut. Kali ini Rion tidak perlu repot-repot mendorong tiga sepeda. Cukup satu sepeda yang berisi tiga orang kurcaci montok di sana.
Rion mengambil dompet, serta alat-alat untuk menjaga si triplets agar tidak kabur dan berbuat ulah. Kemudian dia mendorong si triplets ke luar rumah. Rona bahagia nampak jelas di wajah tiga kurcaci cantik itu. Banyak yang menyapa tiga balita lucu itu, padahal mereka sedang mencari perhatian kepada si pria yang mendorong sepeda tersebut.
"Mohon maaf, emak dari anak-anak ini galaknya melebihi singa betina," ujar Rion. Dia pun mendorong sepeda itu menjauhi para wanita yang sedang bermodus ria.
"Kalau ketahuan bubu kalian, bisa ditahan transferan bulan ini," gumamnya.
Tibanya di depan mini market, Rion menurunkan ketiga cucunya. Lalu, dia memasangkan rompi ke tubuh si triplets. Di belakang rompi itu terdapat per yang terhubung ke rompi yang dipakai Rion. Jadi, ketika mereka akan menjauh, Rion bisa mengetahuinya.
Benar saja, Aleeya si biang onar sudah mulai berulah. Namun. Rion segera meliriknya tajam. Mereka berjalan beriringan, Rion mengambil keranjang belanjaan. Mencari pesanan Echa yang tadi pagi dia bilang. Si triplets pun tidak mau kalah mengambil makanan yang mereka suka.
Ketika sampai kasir, Rion menepuk jidat. Keranjang belanjaannya penuh dengan makanan milik ketiga cucunya. Padahal Rion hanya membeli roti dan juga kopi.
"Bikin Engkong bangkrut nih." Ketiga kurcaci itu malah tertawa.
Selesai berbelanja dan ketiga kurcaci itu sudah diletakkan di atas sepeda. Rion mendorong mereka ke arah kedai pecel ayam. Aroma ayam goreng dan lele goreng sudah menyeruak.
"Mau makan?" tanya Rion. Dijawab anggukan oleh ketiga cucunya.
Rion menyuruh ketiga cucunya untuk duduk manis diantara bangku plastik. Mereka menurut sambil memakan kerupuk udang kesukaan mereka yang dijual di kedai tersebut. Empat lele goreng sudah tersedia di meja.
Ketiga kurcaci itu memandang aneh ke arah lele yang sudah digoreng. Kepala mereka miring ke kanan dan juga ke kiri.
"Apa tu?" tanya Aleena yang bergidik ngeri melihat kepala lele.
"Itu lele."
"Yeye?" Rion mengangguk.
"Enak loh dan banyak vitaminnya. Kalian makan, ya." Kompak, tiga kurcaci itu menggeleng.
"Kok gak mau? Lihat Engkong nih." Rion mengambil daging lele kemudian dia taruh di atas nasi dan memakannya.
"Enak," ucap Rion.
Tiga anak Echa terdiam sejenak. Mereka takut kepada kepala lele.
Rion mulai memisahkan daging dari tulangnya. Meletakkannya di atas nasi si triplets. Tak lupa nasi itu di beri kecap.
Ketiganya masih terdiam. Tatapan mereka tertuju pada kepala lele.
"Kalian takut sama kepalanya?" Mereka bertiga pun mangengguk.
Rion memotong kepala lele tersebut dan membuangnya. Hanya menyisakan badannya saja.
"Sok makan," titah Rion.
Barulah ketiga anak Echa mau memakannya. Mata mereka berbinar karena ikan yang mereka makan sangatlah enak. Rion tersenyum dan dia pun melanjutkan makannya. Aleeya terus saja memperhatikan cara Rion makan. Dari menyocolnya ke sambal, dedaunan yang ada di piring dicocol juga ke sambal lalu Rion memakannya.
Rasa ingin tahu Aleeya yang besar. dia menyocol daging lele ke kecap, kemudian dia makan. Lalu, dia mengambil daun selada. Dicocolnya ke kecap dan dimakan. Aleeya terlihat suka. Tingkah Aleeya diikuti oleh kedua kakaknya, mereka pun menyukainya. Sungguh benar-benar turunan orang sunda.
Setelah kenyang dan makanan di piring mereka berempat tak tersisa. Serta lima bungkus kerupuk udang yang hanya menyisakan bungkusannya saja. Rion membayar apa yang dia dan ketiga cucunya makan dan kembali ke rumah. Akan tetapi, di samping kedai pecel ayam ada yang menjual aneka baju. Rion mampir dulu ke sana.
Matanya tertuju pada baju bola. Tanpa berpikir panjang, Rion membeli tiga setel baju bola ukuran si triplets dan satu setel untuknya. Rion pulang dengan hati gembira.
Tibanya di rumah ternyata Echa dan Radit sudah ada di ruang televisi sedang menikmati acara televisi layaknya pengantin baru.
"Enak ya, nih anak kalian," ujar Rion sambil menyerahkan si triplets.
Echa dan Radit tertawa, si triplets memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
"Kok bau amis? Maka telur?" Ketiga anak Echa menggeleng.
"Yeye," kata Aleeya.
Echa menatap ke arah Radit, sedangkan Radit mengangkat bahunya tak mengerti juga dengan apa yang dikatakan oleh ketiga anaknya.
"Lele," teriak Rion dari arah dapur.
"Ya udah, cuci mulut kalian dulu ya," imbuh Echa.
Keesokan paginya Echa dikejutkan dengan pakaian yang digunakan oleh si triplets.
__ADS_1
"Ayah!" serunya.
Rion yang baru saja hendak menyesap kopi mendengus kesal.
"Berisik!"
Echa membawa ketiga anaknya ke hadapan Rion. Echa pun sudah berkacak pinggang.
"Apa-apaan ini?" sentak Echa.
Ketiga anaknya dipakaikan baju bola dari tim kesebelasan yang sama. Rion pun memakai baju bola yang sama juga.
"Keren 'kan."
"Anak Echa cewek, Ayah," serunya.
Rion melempar bola ke arah anak-anak Echa. Mereka mulai menendang bola di dalam rumah membuat Echa semakin menepuk keningnya.
"Ayah, kenapa Iyan gak dibeliin juga?" ujar Iyan melihat ketiga keponakannya memakai baju Jersey favorit Iyan.
"Iyan mau?" Dia pun mengangguk.
"Baiklah, nanti Ayah belikan." Iyan pun terlihat bahagia.
"Radit juga beliin dong, Yah." Mata Echa melebar ketika mendengar ucapan sang suami yang baru saja bergabung. Malah mengajarkan ketiga anaknya bermain bola.
"Baba!" geramnya.
"Lucu tahu, Bu. Nanti kapan-kapan kita foto keluarga pakai baju bola."
Radit, Rion dan Iyan bertos ria, sedangkan Echa mendengus kesal. Apalagi sudah ada korban dalam permainan si triplets. Pajangan yang pecah karena terkena bola. Helaan napas kasar terdengar.
"Nak, kalau mau main bola di halaman samping, ya." Ketiga anak Echa berlari menuju halaman samping sambil membawa bola. Echa hanya menggelengkan kepala.
"Jagain anak Echa yang bener tuh," kesalnya.
Lelah bermain, mereka menonton televisi acara kesukaan mereka. Sedangkan Rion sedang asyik mengecek perusahaan di ponselnya. Di tubuh si triplets ada rompi keselamatan agar Rion yang tengah fokus pada pekerjaan tidak ketinggalan jejak. Mbak Ina hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan majikannya ini.
Terlalu fokus kepada layar ponsel, Rion tidak sadar jika ketiga cucunya sudah terlelap. Ketika Rion melihat ke arah bawah, tiga kurcaci itu sudah terpejam dengan mengemut jempol mereka masing-masing.
"Waktunya ngopi," ujar Rion.
Rion melepaskan rompi yang menghubungkan dirinya dengan ketiga anaknya. Kemudian, dia menuju dapur.
"Pak, saya bikin pisang goreng," ujar Mbak Ina.
"Teman yang cocok," kata Rion.
Dia asyik ngopi cantik dengan ditemani pisang goreng. Tanpa dia sadari ketiga cucunya sudah tidak ada di karpet. Mereka hanya pura-pura tertidur. Puas ngopi dan makan pisang goreng, Rion kembali ke ruang televisi. Matanya melebar ketika yang ada di sana hanya rompi serbaguna.
"Ke mana mereka?"
Rion melihat pintu halaman samping terbuka sedikit. Ketika Rion ke halaman, ketiga cucunya sudah bermain becek-becekan sambil bermain bola. Kaki yang tanpa sendal sudah kotor. Baju sudah penuh dengan tanah basah. Wajah pun sudah sangat kotor.
"Ya ampun," keluh Rion.
"Udahan yuk." Ketiga anak Echa menggeleng dengan kompak.
"Nanti dimarahin Bubu." Bujukan Rion tidak mampu menggoyahkan mereka.
Rion hanya bisa menjadi penonton di saat mereka asyik melempar bola yang sudah kotor ke badan satu sama lain. Wajah ketiga cucunya pun sudah seperti Dakochan. Hanya helaan napas kasar yang terdengar. Ingin rasanya Rion berteriak. Akan tetapi, ketiga anak Echa sangat sensitif.
Setelah puas bermain, Rion menyiram tubuh mereka dengan air keran. Bukannya menangis, ketiga anak ini malah tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa pada nakal sih?"
"Tak atal. Ton yan atal. Men ape," sahut Aleeya.
(Gak nakal. Engkong yang nakal. Main hp)
"Tata Bubu, tak oyeh men ape talo gi ama tami," kata Aleena.
(Kata Bubu gak boleh main hp kalau lagi bersama kami)
"Tak aik wat mata, Ton. Ti Matana melah," sambung Aleesa.
__ADS_1
(Gak baik buat mata, Kong. Nanti matanya merah)
Niat hati ingin menceramahi, malah Rion yang diceramahi oleh ketiga tuy ini.