Yang Terluka

Yang Terluka
Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Tiga hari sudah si triplets dirawat di rumah sakit. Keadaan Aleesa semakin membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya perlu kontrol rutin setiap seminggu sekali. Selama di rumah sakit, keluarga Echa dan Radit silih berganti berdatangan untuk menjenguk tuyul kesayangan. Apapun yang si triplets minta langsung mereka kabulkan.


"Hari ini boleh pulang 'kan?" tanya Rion kepada Echa.


"Iya, Yah. Ayah ke kantor aja dulu. Sore kok pulangnya."


"Maafkan Ayah ya, Dek. Ayah terlalu egois, padahal anak kamu masih membutuhkan kamu," sesalnya.


"Nggak ada yang salah dalam musibah ini. Echa udah ikhlas kok, Yah. Aleesa sakit mungkin teguran untuk Echa dan juga Kak Radit agar lebih memperhatikan anak-anak Echa lagi. Echa yakin, Aleesa bisa sembuh." Ucapan tulus yang keluar dari mulut putri sulung Rion Juanda.


"Kamu wanita hebat dan Ayah yakin kamu akan menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak kamu." Echa memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat.


Kekurangan kasih sayang di masa-masa balita membuat Echa selalu nyaman memeluk tubuh ayahnya. Meskipun dia sudah menikah dan memiliki anak, dia tidak malu untuk memeluk tubuh sang ayah.


"Temani Echa terus, untuk menghadapi masa-masa sulit Echa." Rion mengangguk seraya mengeratkan pelukannya.


"Ton, Dedek Ya au uda dipiyuk," seru Aleeya.


"Ya ampun, Engkong lupa." Rion terkekeh melihat ketiga cucunya sedang melipat kedua tangan mereka di atas dada. Pagi ini, selang infus mereka sudah dilepas.


"Sini-sini Engkong peluk." Mereka berdiri di ranjang pesakitan dan memeluk tubuh Rion yang berada di pinggiran brankar.


Suara pintu terbuka terdengar, Echa menatap ke arah suaminya yang baru saja masuk.


"Sudah selesai?"


"Sepertinya ada yang membayar biaya perawatan anak-anak. Ketika aku ke kasir katanya semua biaya sudah dibayar. Jadi, tinggal pulang saja," terang Radit.


"Pasti Papa," ucap Echa.


"Di sini ada kok rincian biayanya, nanti di rumah kita obrolin sama mereka semua. Termasuk black card yang Papih berikan."


Rion tersenyum bangga melihat anak dan menantunya yang benar-benar mandiri. Tidak ingin menyusahkan siapapun.


Sore hari tepat jam empat sore ketiga anak Echa sudah diperbolehkan pulang. Mereka tidak mau digendong dan ingin jalan sendiri dengan tangan yang bergenggaman satu sama lain.


"Ih, lucu banget. Berapa tahun, Mbak?" tanya seorang wanita yang juga tengah mengantri mengambil obat.


"Jalan dua tahun, Mbak."


"Gemes deh." Wanita itu mencubit pipi si triplets. Namun, mereka segera menepisnya.


"Dak boyeh!" seru mereka.


"Bubu, yap."


(Bubu, Lap)


"Maaf, Mbak. Kulit anak-anak saya sangat sensitif. Jadi, tidak bisa disentuh oleh sembarang orang," terangnya.


"Gak apa-apa, Mbak."


Wanita itu tersenyum melihat Echa yang dengan telaten mengelap pipi ketiga anaknya. Sesekali bercanda dengan mereka.


"Baba," teriak Aleena dan berlari ke arah Radit.


"Kita pulang!" ucap Radit sambil menggendong Aleena.


"Yeay!" seru Aleena.


"Bubu, ayo!" Radit mengulurkan tangannya kepada sang istri dan disambut hangat oleh Echa.


"Mbak kami duluan."


Di dalam mobil ketiga anaknya terus saja bernyanyi riang ketika Radit memutar lagu anak-anak kesukaan mereka.


"Kakak Sa, jangan terlalu capek, ya." Aleesa mengangguk.


"Kamu capek gak, Yang?" tanya Radit sambil mengusap lembut kepala Echa.


"Capek ku hilang ketika melihat anak-anak happy seperti ini," jawabnya seraya menatap ke arah sang suami.


"Makin sayang sama kamu," imbuh Radit.


Echa meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Namun, teriakan dari ketiga anaknya membuat Echa menekuk wajahnya.


"Ampun deh, Ba. Mereka persis kamu, posesif," sungutnya.


Radit tertawa mendengar Omelan sang istri. Tangannya kembali mengusap lembut rambut Echa.


"Kamu istirahat, ya. Masih setengah jam lagi. Anak-anak udah pakai sabuk jadi aman." Echa mengangguk.


"Anak-anak Baba, jangan berisik ya. Bubu mau tidur dulu."


"Iya, Ba."

__ADS_1


Dikelilingi empat perempuan yang cantik-cantik membuat Radit merasa sangat beruntung. Tibanya di rumah, ternyata keadaan rumah sudah sangat ramai. Keluarga Echa sudah datang semua. Si triplets pun sangat bahagia karena banyak balon di mana-mana.


"Lelah banget, ya?" tanya sang mamah.


"Lelah Echa akan hilang ketika melihat mereka sehat kembali." Ayanda tersenyum mendengar penuturan dari Echa.


"Mau makan apa? Biar Mamah masakin," ucap Ayanda.


"Adek!" panggil Echa.


"Beliin Kakak bakso di depan gih. Sekalian sama yang lain."


"Siap Kak, asal ada uang jalan," kekeh Aska.


"Iya." Echa menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.


"Hitung orangnya ada berapa. Untuk si triplets jangan pakai mecin dan bakso halus aja."


"Siap, Kak."


Semua orang menggeleng melihat kelakuan Echa. Padahal di rumahnua sudah disediakan makanan enak dan sehat, tetapi dia memilih beli makanan di luar.


"Menantu Sultan masa iya makan di pinggir jalan," celetuk Rifal.


"Sejak kapan Papih ganti nama jadi Sultan?" Lagi-lagi semua orang tertawa mendengar jawaban Echa.


Inilah cara Echa menutupi semua rasa yang sudah bercampur aduk menjadi satu. Namun, dia harus terlihat baik-baik saja.


"Bubu, atit adi," ucap Aleesa yang kini sudah ada di hadapan Echa.


Echa mengangkat tubuh Aleesa dan memanhkinha. Mengusap lembut dada putri keduanya. Semua orang menatap Echa dengan perasaan haru dan juga sedih.


"Kakak Sa jangan kecapean dulu, ya. Gak boleh lari-lari dulu." Aleesa mengangguk mengerti.


Ayanda menyeka ujung matanya, perlakuan Echa sama persis dengan apa yang dilakukannya dulu terhadap Echa ketika sakit.


Makanan pesanan Echa pun datang, mereka semua sangat antusias. Apalagi Mba Ina sudah membuatkan minuman yang sangat cocok jika bersanding dengan bakso. Kerupuk pun sudah disiapkan. Ketiga anak Echa sudah sangat gembira melihat bakso bulat di dalam mangkuk mereka.


"Bubu suapin, ya." Mereka menggeleng.


Echa terkejut, ketika Aleeya menusuk bakso dengan garpu miliknya. Memakannya dengan sangat lahap.


"Pintarnya anak Bubu," puji Echa.


Mereka menikmati makan sederhana sambil melihat tingkah lucu si triplets yang meriuhkan suasana.


"Kita bilang sama Ayah." Radit mengajak Echa untuk menemui ayahnya di ruang keluarga yang sedang menemani Iyan bermain Ps. Sedangkan Riana sedang membaca novel.


"Ayah." Suara Echa membuat ayah dan kedua adiknya menoleh.


"Ada apa, Dek?"


"Echa mau bicara penting sama Ayah," jawabnya.


Rion dan Iyan segera menjeda permainan mereka. Menatap Echa penuh tanda tanya begitu juga dengan Riana.


"Mau bicara apa?" tanya Rion.


"Echa mau fokus ngurus anak-anak lagi, Yah. Bukanya Echa gak percaya sama Ayah. Akan tetapi, kondisi mereka baru saja pulih dan Aleesa ... harus mendapat perhatian dari Echa. Echa harap Ayah tidak keberatan," ungkapnya dengan sangat hati-hati.


Rion tersenyum dan kini duduk di samping sang putri sulung. Tangannya membelai lembut kepala Echa.


"Ayah memang akan melarang kamu untuk pergi ke kantor. Sebelum kondisi Aleesa membaik dan dinyatakan sembuh total oleh dokter. Ayah tidak akan mengijinkan kamu." Rasa takut yang menjalar di hatinya kini lebur sudah. Berganti dengan kebahagiaan dan kelegaan tiada Tara.


"Makasih, Yah."


"Sama-sama, Dek."


Malam ini Echa dan Radit memutuskan untuk tidur di kamar si triplets. Tidur di karpet tempat mereka tidur siang. Radit menutupi tubuh istrinya dengan selimut tebal.


Keesokan paginya, Echa sudah disibukkan dengan memandikan ketiga anaknya dengan air hangat. Gelak tawa terdengar membuat Radit penasaran. Dia mencoba mengintip ternyata anak-anaknya tengah menyipratkan air ke wajah Echa.


"Bubu udah mandi, Nak." Mereka bertiga malah tertawa dan semakin jadi.


"Baiklah, jika kalian masih nakal Bubu akan bilang ke Baba, ya."


"No!" seru mereka dengan kompak.


Radit tersenyum kecil melihat tingkah lucu ketiga anaknya. Kepada sang ibu yang biasa memarahi mereka, mereka masih terlihat santai. Sedangkan kepadanya, baru diancam dengan kata baba saja nyali mereka sudah ciut. Padahal Radit belum pernah memarahi anak-anaknya.


Echa menggiring ketiga anaknya yang sudah dibalut handuk ke karpet. Echa sudah menyiapkan baju untuk mereka pakai.


"Bubu, au tutu," pinta Aleeya.


"Setelah minum susu, pakai baju, ya." Aleeya mengangguk patuh.

__ADS_1


Dari ketiga anaknya Aleeya lah yang selalu membuat Echa emosi. Intinya, dia itu tidak ingin memakai baju. Aleena dan Aleesa sudah cantik. Sedangkan Aleeya masih memakai popok.


"Dedek Ya," panggil Echa.


"Kalau Dedek Ya masih nakal, yanh diajak jalan-jalan hanya Kakak Na dan Kakak Sa saja," ancam Echa.


"Yeay!"


"Dedek dak itut," ejek Aleesa.


Mata Aleeya sudah berkaca-kaca, hidungnya sudah memerah dan kembang kempis. Terlihat ingin menangis.


"Mau nurut gak?" Aleeya pun mengangguk, lalu menghampiri Echa dan memeluk tubuhnya.


"Dedek mu itut."


"Iya, tapi pakai baju dulu, ya. Setelah itu ke meja makan. Ada roti panggang kesukaan Dedek." Aleeya pun tersenyum senang.


Setelah anaknya keluar kamar, Echa menuju kamarnya melihat suaminya. Ternyata Radit sudah rapi dan sedang memakai jam di tangannya.


"Maaf, Ay. Tadi Aleeya bikin drama lagi," sesal Echa.


"Gak apa-apa, Sayang." Radit mengecup kening sang istri.


"Jangan kecepean. Cukup jaga anak-anak saja. Ketika anak-anak tidur, kamu ikut istirahat. Sudah lebih dari tiga hari ini kamu kurang istirahat." Echa mengangguk patuh.


"Kalau mau makan apapun, pesan online saja. Atau minta masakin ke Mbak Ina."


Mereka menikmati sarapan bersama, tetapi ada drama sebelum Rion berangkat ke kantor. Ketiga anak Echa menangis karena tidak ingin ditinggalkan oleh kakek mereka.


"Engkong kerja ya, Nak. Hari ini dan seterusnya kalian main sama Bubu. Bubu yang akan jaga kalian," imbuh Echa.


"Kalau kalian kangen Engkong bisa video call Engkong atau kita ke kantor Engkong," ujar Echa lagi.


Akhirnya ketiga anak Echa pun menurut dan membiarkan engkong mereka pergi kerja. Mereka main seperti biasa. Dari main boneka, bola, mendengarkan musik, mewarnai dan berjoget ria. Ketika mereka lelah, mereka akan meminta susu dan mengajak ibu mereka ke dalam kamar. Di kamar, Echa akan berbaring di tengah-tengah mereka bertiga dengan tangan mereka yang memeluk erat tubuh Echa. Mata mereka pun mulai terpejam. Diikuti oleh Echa.


Radit yang sengaja pulang ke rumah di waktu makan siang membuat Mbak Ina sedikit terkejut.


"Echa udah makan Mbak?"


"Neng Echa sedang tidur di kamar anak-anak." Radit segera menuju ke kamar ketiga anaknya. Pandangan yang memilukan yang Radit temukan.


Guratan lelah terlihat jelas di wajah cantik istrinya. Wajah penuh kenyamanan pun ditunjukkan oleh ketiga putrinya. Hanya hembusan napas kasar yang mampu Radit keluarkan.


"Kalian harta yang paling berharga yang Baba miliki," gumamnya. Radit memilih untuk ikut berbaring di samping Aleesa. Memeluk tubuh kecil putrinya.


Mata Radit pun perlahan mulai menutup. Ikut terlelap dengan damainya bersama keempat perempuan yang sangat berarti di dalam hidupnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua, Echa mulai membuka matanya dan dia sedikit terkejut ketika melihat sang suami ada bersamanya dan tengah memeluk Aleesa.


Perlahan, Echa bangun dan melepaskan tangan ketiga anaknya dengan sangat hati-hati. Membiarkan mereka tidur dengan ayahnya.


"Neng Echa udah bangun?" tanya Mbak Ina ketika melihat Echa sudah keluar dari kamar.


"Kak Radit kapan pulang?" tanya Echa.


"Tadi pas maka siang. Mas Radit bawa ini untuk Neng Echa. Sepertinya nasi Padang," ucap Mbak Ina.


"Ya ampun."


Echa mengambil bungkusan plastik yang berisi dua bungkus nasi Padang. Semalam, dia memang ingin memakannya. Berhubung semua restoran tutup di aplikasi makanan online, akhirnya Echa memilih untuk tidur. Ternyata, siang ini Radit membawakan nasi Padang untuknya.


Echa membawa bungkusan plastik itu ke kamar ketiga anaknya. Membangunkan suaminya dengan pelan.


"Ay." Radit mulai mengerjapkan matanya dan tersenyum ke arah sang istri.


"Makan yuk. Mumpung anak-anak masih tidur."


Radit mulai bangkit dari tidurnya, mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum makan. Echa sudah membuka bungkusan nasi itu dengan teh manis hangat.


"Aku suapin, ya." Radit tersenyum mendengar tawaran sang istri. Kadang sekali Echa bersikap seperti ini.


Setiap suapan yang Echa berikan seperti tenaga tambahan yang Radit dapatkan. Meskipun sudah bertahun-tahun menikah dan menjalin asmara cukup lama, cinta di hati Radit tidak pernah berkurang untuk Echa. Malah semakin bertambah dan terus bertambah.


"Kamu juga makan, dong." Radit hendak menyuapi Echa, tetapi dilarang.


"Nanti kemeja kamu kotor, Ay. Nanti pasti aku makan kok. Setelah kamu selesai makan." Radit mengusap. lembut kepala sang istri.


"Mau ke kantor lagi?" Radit menggeleng setelah meneguk teh manis hangat.


"Aku ingin menemani istriku dan memanjakan dia." Echa pun terkekeh mendengar ucapan Radit.


"Aku ganti baju dulu, ya. Nanti aku akan suapin kamu." Radit meninggalkan Echa dan tak lupa membubuhkan kecupan singkat di bibir merah Cherry milikinya.


Rasa lelah yang melanda hilang begitu saja ketika Radit bersikap seperti ini. Selalu mengerti dia dan tak pernah menuntut apapun perihal ini dan itu.

__ADS_1


Radit kembali dengan pakaian santainya. Dia segera mengambil nasi sang istri kemudian menyuapinya. Hal yang paling Radit sukai adalah memanjakan sang istri seperti ini. Hal kecil tetapi memiliki makna yang besar. Tidak perlu makan di restoran mahal. Makan lesehan seperti ini pun terasa sangat romantis bagi Echa dan Radit. Inilah bukti bahwa bahagia itu sederhana.


__ADS_2