
Hari pertama sekolah, Aleeya sudah berulah. Echa yang sedang berada di kantor sang ayah karena harus membicarakan hal yang penting mengenai perusahaan, bergegas kembali ke sekolah ketika pihak sekolah menghubunginya.
"Baru juga ditinggal setengah jam," gumam Echa.
Tibanya di sana, Echa segera menuju ke kelas ketiga anaknya. Guru dari ketiga anaknya sudah menyambut Echa didampingi oleh orang tua anak yang menjadi korban Aleeya.
"Kita bicarakan di luar," ujar guru si triplets.
"Pokoknya anak ibu harus mengganti jam tangan anak saya yang sudah hancur karena dibanting ke lantai." Ibu itu memperlihatkan smart watch yang sudah hancur.
"Asal ibu tahu, jam tangan ini mahal," sungutnya lagi.
Echa hanya mengangguk, dia tidak akan banyak berdebat. Apalagi dengan ibu yang ada di depannya ini. Penampilan bak sosialita dengan emas yang banyak menempel di tangannya.
"Baik Bu, akan saya ganti."
"Harga jam ini itu tujuh juta." Lagi-lagi Echa hanya mengangguk.
"Saya minta nomor rekening, Ibu. Saya tidak membawa uang cash," ujar Echa sambil mengeluarkan ponselnya.
Si ibu itu dengan sombongnya mengeluarkan dompet yang berisi kartu ATM dan juga kartu kredit dengan berbagai warna. Serta ponsel apel sebelah yang ada di dalam dompet itu. Seolah ingin memamerkan kekayaannya.
"Sangat miris." Begitulah batin Echa berbicara.
Ibu itu memperlihatkan nomor rekening miliknya kepada Echa.
"Sudah saya transfer sepuluh juta."
Si ibu itu pun tercengang mendengar ucapan Echa. Dia segera mengecek rekening miliknya. Ternyata benar.
"Urusan kita sudah selesai ya, Bu."
Echa pergi meninggalkan ibu itu. Dia hanya menghela napas kasar. Bukan karena Aleeya, melainkan ibu itu yang suka sekali pamer harta.
Sambil menunggu ketiga anaknya pulang sekolah, Echa duduk di kursi tunggu taman bermain. Banyak orang tua murid yang sedang berkumpul di sana. Echa menyapa hangat ke arah mereka semua, tetapi mereka seolah acuh. Apalagi penampilan Echa yang tidak ada glamor-glomornya. Hanya mengenakan celana panjang, kaos putih dan juga flat shoes. Tidak ada permata berharga yang melekat di tubuh Echa. Apalagi tas yang Echa bawa pun tas murahan.
Apa begini pergaulan para orang tua siswa sekarang? Mendahulukan gaya hidup?
Echa menghembuskan napas kasar, apalagi melihat ibu-ibu tak jauh dari mereka memamerkan tas branded serta ponsel lipat keluaran terbaru.
"Murah kok Jeng, tas kremes ini cuman lima ratus jutaan."
Echa masih bergeming, dia tidak ingin mendengar apa yang tidak penting. Jika, memikirkan duniawi tidak akan pernah ada habisnya.
Si ibu tadi yang meminta ganti rugi menghampiri Echa. Dia melemparkan uang tiga juta rupiah ke pangkuan Echa. Sengaja dia lakukan itu di depan orang tua murid yang lain.
"Gak perlu sok kaya kamu! Saya tidak perlu belas kasih wanita biasa seperti kamu. Bayar SPP ketiga anak kamu aja masih kesusahan," cibirnya.
Pandangan semua orang sekarang tertuju pada Echa yang merapihkan uang yang si ibu itu lempar.
"Saya ikhlas kok, Bu. Ini sebagai permintaan maaf saya karena anak saya sudah merusak jam tangan anak ibu," terang Echa, sambil menyodorkan kembali uang tiga juta ke arah ibu tersebut.
"Uang saya masih lebih dari cukup, untuk membeli harga diri kamu pun saya mampu."
Dada Echa sudah turun-naik mendengar ucapan ibu di hadapannya ini. Mulutnya sudah gatal ingin menimpali ucapan si ibu itu.
Sabar ... sabar ....
Semua orang mulai berbisik-bisik dan menggunjing Echa. Apalagi si ibu tadi ikut bergabung dengan para orang tua murid yang lain. Echa membiarkannya saja, toh jika mulut mereka sudah lelah nanti juga akan berhenti.
Echa tidak akan pernah menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain. Dianggap hina ya biarkan saja, yang penting tidak hina di mata Tuhan. Begitulah prinsip hidupnya.
Tak lama ketiga anaknya sudah keluar kelas. Mereka bertiga saling bergenggaman tangan mencari ibu mereka.
"Bubu."
Si triplets berhambur memeluk tubuh Echa. Senyum bahagia terukir di wajah ketiga anaknya. Namun, Aleeya nampak menunduk dalam. Ada sorot ketakutan yang mata Aleeya tunjukkan.
"Mau makan di mall?"
"Mau."
Echa membawa ketiga anaknya masuk ke dalam mobil. Pandangan sinis para ibu-ibu itupun sangat terlihat jelas. Apalagi, Echa hanya membawa mobil matic biasa.
Tibanya di mall, si triplets meminta makan di restoran Jepang cepat saji.
"Bubu, tadi teman Kakak Sa ada yang bawa makanan ini. Besok bawa makanan ini boleh?"
"Tentu saja, boleh." Echa mengusap lembut kepala Aleesa.
__ADS_1
Aleena dan Aleeya sudah menikmati makanan mereka, sedangkan Aleesa sudah mengoceh panjang lebar.
Entah kebetulan atau sengaja, si ibu tadi pun makan di restoran yang sama dengan Echa. Namun, Echa tidak menghiraukannya.
Anak laki-laki gembul menghampiri meja Aleeya dan dengan sengaja menumpahkan makanan Aleeya. Aleeya terlihat marah, tetapi keberadaan ibunya mengurungkan niatnya.
"Kenapa kamu begitu? Tidak baik," tegur Echa.
Si ibu itupun langsung naik pitam dan memaki-maki Echa di depan umum. Dibilang bagai sampah, orang susah dan segala macam. Mata Aleena sudah merah padam, dengan kasarnya dia menyiramkan minuman yang ada di depannya ke arah ibu dari temannya itu.
"Jaga mulut, Tante!"
"Kakak Na, sudah. Bubu gak apa-apa." Echa mulai menenangkan Aleena. Marahnya Aleena itu sangatlah menyeramkan.
"Saya akan tuntut kalian!"
Ibu itu nampak sekali geram dan meninggalkan Echa dan juga ketiga anaknya dengan wajah yang basah kuyup.
"Maafkan Dedek." Echa mengusap lembut kepala Aleeya. Dia tahu Aleeya ketakutan.
"Gak apa-apa, Dek. Lebih baik beli yang baru dan makannya di rumah."
Echa membawa anak-anaknya pergi ke luar dari mall dan kembali ke rumah.
Setelah mandi sore, Echa mengajak ketiga anaknya berbincang santai. Mata Echa tertuju pada Aleeya.
"Choki yang duluan, Bu. Dia patahin ini." Mata Aleeya sudah berkaca-kaca sambil menunjukkan miniatur Hulk kesayangannya yang sudah patah. Itu pemberian dari Aksa.
Echa menghembuskan napas kasar. Aleeya tidak akan nakal jika tidak ada yang memulai duluan.
"Iya, Bu. Choki-choki nakal. Tadi aja, kuncilan Kakak Sa ditalik. Sakit," keluhnya.
"Kakak Na gak diganggu 'kan?"
"Sebelum dia ganggu Kakak Na, Kakak Na nunjukin ini." Kepalan tangan yang Aleena tunjukkan. Echa pun terkekeh.
"Ya udah, yang penting jangan nakal ya. Harus bersikap baik kepada semua orang." Mereka mengangguk patuh.
Keesokan paginya, Rion memilih berangkat kerja lebih awal dari pada harus kena palak ketiga cucunya. Namun, dia melebarkan mata ketika hendak membeli bensin.
"Dompet gua ke mana?"
Di rumahnya, ketiga tuyul itu sedang tertawa karena berhasil menyembunyikan dompet sang kakek. Mereka tahu, jika dompet kakeknya tebal pasti baru menarik uang tunai.
Mereka bersorak gembira. Bagi si triplets, Engkong mereka adalah manusia paling pelit. Berbeda dengan Aki dan juga Opanya. Royal memberikan mereka apapun. Jika, tidak seperti ini engkong mereka tidak akan pernah mau mengeluarkan uang.
Echa sudah menuntun ketiga anaknya menuju kelas. Namun, suasana kelas ramai dan dipadati ibu-ibu tidak seperti kemarin, membuat Echa menajamkan mata. Samar terlihat juga ada orang yang berpakaian polisi di sana.
"Itu dia Pak orangnya," tunjuk ibunya Choki.
Echa membeku ketika pihak kepolisian dan ibu-ibu menghampirinya.
"Tangkap dia!" seru ibunya Choki.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Echa tak mengerti.
"Ibu ikut kami ke kantor. Bisa dijelaskan di sana."
"Tapi ... bagaimana dengan anak saya?" Ketiga anak Echa sudah menangis dan memeluk kaki Echa.
"Mereka bisa dibawa ke sana."
Echa mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh polisi tersebut. Ibunya Choki tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan pernah main-main dengan saya. Saya itu memiliki banyak kenalan di kepolisian. Menjebloskan siapapun pasti akan sangat mudah." Sombongnya ibu dari Choki ini berbicara.
Echa terus menenangkan ketiga anaknya. Di sini bukan Echa yang syok, melainkan ketiga anaknya.
"Jangan nangis ya, Nak. Bubu gak apa-apa. Nanti di sana ada Baba juga yang akan nemenin kita."
Echa sudah menghubungi suaminya. Tanpa Echa ketahui, Radit sudah menelepon keluarga besar Echa. Sontak mereka sangat terkejut.
Tibanya di kantor polisi, Echa digiring ke sebuah ruangan. Di sana sudah ada ibunya Choki dengan seringainya.
Baru saja hendak ditanya oleh tim penyidik, dua orang pria datang dengan wajah cemas. Echa menoleh ke arah mereka berdua dengan senyum yang dipaksa.
"Jelaskan ada apa ini?" Addhitma sudah menggebrak meja, sedangkan Radit sudah membawa ketiga anaknya.
"Kamu akan aman, Sayang." Kecupan hangat Radit berikan sebelum membawa pergi ketiga anaknya yang terlihat ketakutan.
__ADS_1
Ibunya Choki melebarkan mata ketika melihat Addhitama. Seringainya mulai pudar karena dia tahu siapa Addhitama.
Belum juga penyidik menjawab pertanyaan Addhitama, tiga orang pria dengan wajah khawatir datang lagi. Mereka adalah Gio, Rion serta Arya.
"Ada apa ini? Kenapa putri saya bisa dibawa ke sini? Apa salahnya?" Berondongan pertanyaan Gio berikan. Dia sangat tidak terima putri yang dia sayangi harus masuk ke ruangan ini layaknya tersangka.
Tubuh ibunya Choki bergetar hebat ketika mendengar Gio menyebut Echa sebagai putrinya.
"Maaf, Bapak-bapak. Ini atas laporan Nyonya Grace. Dia melaporkan bahwa saudari Elthasya Afani sudah melakukan tindakan yang tidak menyenangkan terhadapnya."
Penjelasan penyidik membuat empat pria itu menatap nyalang ke arah Grace. Addhitama mulai mendekat ke arah Grace.
"Menantu saya tidak akan pernah melakukan hal yang tidak menyenangkan jika Anda tidak memulainya duluan." Kegeraman hadir di wajah Addhitama.
"Ayah akan melakukan apapun untuk membebaskan kamu."
Setelah Rion berkata seperti itu, lima pengacara masuk ke dalam ruangan penyidikan. Mereka adalah pengacara yang masing-masing lima pria itu bawa. Kalah? Sudah pasti. Itulah yang harus Grace terima.
Ketika barang bukti ditunjukkan, keempat pria itu berdecak kesal.
"Hanya disiram?" Gio menggelengkan kepalanya.
"Aki, si Choki-choki anaknya Tante menol itu udah matahin lobot Dedek, lobot Hulk yang Uncle belikan di LN."
Ternyata anak Radit satu ini yaiyu Aleena sudah menerobos masuk ke dalam ruang penyidikan.
"Tante itu juga ... ngatain Bubu dengan kata-kata kasal yang selalu Bubu lalang Kakak Na tilu. Mulut dia jahat, Aki." Tangan Aleena sudah menunjuk ke arah Grace.
Grace terkejut dengan semua yang dikatakan oleh Aleena. Anak itu dengan beraninya mengatakan kepada semua orang tentang perilakunya kemarin.
"Opa ... dedek minta maaf. Dedek udah pecahin jam si Choki-choki. Kata Bubu, Bubu udah menggantinya. Padahal si Choki-choki juga salah. Halusnya ganti lobot Hulk Dedek juga." Tangis Aleeya pun pecah jika sudah menyangkut robot kesayangannya.
Radit menggendong Aleeya dan membawa Aleena serta Aleesa keluar. Akan tetapi, Aleena menolak.
"Kakak Na mau temani Bubu."
"Sekarang sudah jelas siapa yang salah? Anda yang salah, tetapi Anda yang tidak mengakui kesalahan Anda. Baiklah, saya akan membuat laporan balik."
"Papih."
Echa mengusap lembut punggung Addhitama. Dia menatap manik mata Addhitma dengan penuh permohonan.
"Jangan lakukan itu. Biarlah ini hanya menjadi kesalah pahaman saja."
Gio menggeleng tak percaya dengan sifat baik anaknya ini. Meskipun, disakiti difitnah tetap saja tidak ingin membalas. Arya melengkungkan senyum, keponakannya yang satu ini tiada duanya.
Rion sudah tahu apa yang akan Echa katakan. Jadi, semua keputusan Echa sudah Rion ketahui.
"Tapi, kamu sudah dipermalukan," bantah Addhitama.
"Tidak apa-apa, Pih. Echa tidak peduli mereka mau bilang Echa ini dan itu, yang mengetahui Echa adalah kalian. Keluarga Echa."
Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Addhitama dan Gio. Terbuat dari apa hati menantu serta anaknya ini.
"Baru nenteng tas kremes boleh ngutang aja bangga," cibir Arya.
"Harga tas yang Anda bawa tidak ada seujung kuku pun dari uang yang anak saya miliki. Harga diri Anda bisa anak saya beli tanpa harus bernegosiasi," papar Rion.
Duo mulut beracun sudah beraksi dan mampu membuat wajah Grace pucat pasi. Dia benar-benar ketakutan dan mencoba menghubungi suaminya dan juga pengawalnya.
Ketika suaminya datang, pria itu malah mematung dan menunduk sopan ke arah Gio serta Addhitama.
"Ada apa ini? Kenapa Pak Gio dan juga Pak Addhitama ada di sini?" Bingung itulah yang dirasakan Gerald.
"Istri Anda sedang bermain-main dengan menantu kesayangan saya. Juga anak kesayangan Pak Gio."
Mata Gerald melebar dengan sangat sempurna mendengar penjelasan dari Addhitama. Dia menatap ke arah Grace yang kini menunduk.
"Kenapa Mamah lakukan ini? Mamah tahu siapa mereka? Kolega bisnis Papah. Penanam saham terbesar di perusahaan kita," terangnya dengan berbisik di telinga Grace.
Grace sangat terkejut mendengar penjelasan dari suaminya. Tubuhnya limbung seketika.
"Baiklah Pak Gerald. Berhubung kita bertemu di sini, saya memutuskan untuk tidak jadi bekerja sama dengan perusahaan Anda. Saya sudah kecewa dan merasa diinjak-injak harga diri saya oleh istri Anda. Apa pantas seorang istri dari pengusaha sukses seperti Anda berkata dengan sangat kasar. Apalagi kepada anak kesayangan saya," tukas Gio.
"Tapi, Pak ...."
"Cukup! Anda tahu 'kan bahwa saya adalah orang yang tidak akan merubah keputusan yang sudah saya ambil." Gerald pun terdiam.
"Baiklah Pak, kalau begitu saya akan membawa anak saya pergi dari sini karena yang salah di sini adalah wanita itu. Jika, dia tidak menarik laporannya sekarang juga. Hari ini juga saya akan menyeret dia ke dalam jeruji besi," jelas Gio.
__ADS_1
Polisi pun menanyakan kepada Grace. dan Grace memutuskan untuk mencabut laporannya kepada Echa. Dia pun meminta maaf kepada Echa dengan berlinang air mata. Namun, tak sedikitpun Echa merasa iba. Beginilah Echa, jika dia sudah mengetahui bagaimana seseorang itu. Dia akan respect atau sebaliknya.
"Janganlah memandang orang hanya dari penampilannya saja. Lihatlah pemulung di sana. Pakaiannya compang-camping, tetapi penghasilannya lebih besar dari orang yang memakainya pakaian rapi dan juga berdasi."