
Firasat itu bukan hanya dimiliki oleh Aleesa. Iyan yang baru saja pulang sekolah dan mencium tangan sang kakak merasa terkejut dengan bayangan yang ada di kepalanya.
"Baju hijau, penutup kepala. Ada apa ini?" batinnya.
Iyan menggeleng, dia mencoba untuk tidak mempercayai apa yang dia lihat.
Beberapa hari ke depan, Echa dan keluarganya sudah mendapat kabar jika istri dari adik pertamanya tidak lagi tinggal di kediaman Giondra. Echa dapat tersenyum bahagia karena sesungguhnya dia sangat merindukan sosok kedua orang tuanya. Namun, karena kehadiran sang wanita pengganggu membuatnya enggan ke sana.
"Sayang, hari ini Papih yang akan jemput anak-anak. Papih mah ajak mereka main sama Rio juga," imbuh Radit ketika melihat istrinya baru keluar dari kamar mandi. Echa hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat pucat.
"Ke dokter, ya," ajak Radit yang kini sudah berada di depan sang istri.
"Enggak, Ay. Aku mau ke rumah Mamah, aku ingin salad buah buatan Mamah." Seulas senyum Radit berikan kepada istri yang paling dicintainya.
"Aku antar, ya." Lagi-lagi bEcha menggeleng. "Kamu antar anak-anak aja." Radit tersenyum dan mencium kening sang istri. Meskipun, sudah sepuluh tahun bersama, kemesraan selalu mereka tunjukkan.
Setelah Radit membawa ketiga anaknya sekolah, Echa berjalan kaki ke rumah sang mamah yang berada di samping rumahnya. Dia disambut hangat oleh Aska juga Ayanda. Tidak dipungkiri Ayanda juga Aska merindukan Echa.
"Maafkan Mamah, Kak." Sorot penuh penyeselan terlihat di wajah Ayanda.
"Mamah gak salah. Hanya waktu saja yang tidak berpihak," sahut Echa dengan seulas senyum.
"Kakak sakit?" sergah Aska. Dia melihat wajah Echa yang pucat.
"Kakak hanya pusing dan mual," jawab Echa.
__ADS_1
"Adek antar Kakak ke rumah sakit, ya," tawar Aska. Namun, Echa menggeleng.
"Kakak ke sini ingin salad buah buatan Mamah." Ayanda pun tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putri kesayangannya.
Aska memilih untuk pergi ke kafe miliknya. Meninggalkan kakak dan juga ibunya.
Aska yang baru keluar dari pintu rumahnya masih berdiri tegak tak beranjak. Dia melihat Ziva yang akan masuk ke dalam rumahnya. Dia pun mencegatnya.
"Mau apa lu ke sini?" sergah Aska.
"Aku mau mencari suamiku," jawab Ziva dengan tatapan tajam. Wanita yang menjadi istri jadi-jadian dari Aksa, adik pertama Echa.
"Suami lu tidak ada di sini."
Jika, bukan perempuan mulut Ziva sudah Aska sobek-sobek layaknya kertas.
Mendengar teriakan dari arah luar, Ayanda serta Echa menuju ke arah teras. Ada dua manusia yang sedang menatap satu sama lain dengan sorot mata penuh permusuhan.
"Ada apa, Dek?" tanya Ayanda.
"Aksa mana?" Sungguh tidak sopan sekali mulut Ziva dan membuat Echa geram.
"Jaga mulut kamu!" sentak Echa.
"Gak usah sok berkuasa. Jangan mentang-mentang kamu anak emas jadi kamu bisa membentakku," ucap Ziva berapi-api.
__ADS_1
Echa mendekat ke arah Ziva. Dia menatap tajam ke arah wanita jahanam ini. Tangannya sudah mengepal keras.
Plak!
Tamparan mendarat di pipi Ziva. Tidak terima dengan tamparan Echa, Ziva mendorong tubuh Echa dengan sangat keras hingga Echa tersungkur ke lantai.
Ringisan keluar dari mulut Echa. Mata Ayanda melebar ketika melihat ada darah yang mengalir di kaki Echa.
"Kak, kakimu ...."
Echa menatap ke arah kakinya yang sudah mengucur darah segar. Ayanda menatap ke arah Echa dengan tatapan sendu.
"Kak ... kamu ...."
Air mata Echa menetes begitu saja. Dia mengerti akan ucapan sang ibu.
"Dek, cepat bawa ke rumah sakit," ucap Ayanda.
Echa masih mematung dengan deraian air mata. Aska segera menggendong tubuh kakaknya ke dalam mobil dan diikuti oleh Ayanda. Dia tidak bisa berkata apapun dan tatapannya terpaku pada darah yang mengalir di kakinya.
"Sudah waktunya aku mengambil apa yang kamu punya sebagai penebus nyawa anakmu pada waktu itu."
Semalam dia bermimpi didatangi orang berjubah putih. Kalimaty
itulah yang dia katakan. Tangannya pun memegang perut Echa.
__ADS_1