
Fani tersentak karena mendengar ucapan Radit barusan. "Si-siapa yang mau ngubah hasil tes DNA?" kilahnya.
Radit hanya melirik sekilas ke arah Fani dengan wajah yang sangat sinis. Radit kembali menatap jalanan dari jendela samping mobil yang membawa Radit ke apartment Fani terlebih dahulu.
Dan di apartment berbeda, Rindra telah mengerang kesal. Dia membanting semua barang-barang yang ada di dekatnya. Ya, begitulah sifat Rindra.
"Arrghh!!" teriaknya.
"Kenapa anak bodoh itu selalu dilindungi orang-orang baik?" geramnya.
Rindra langsung menghubungi seseorang dan meminta untuk mengawasi Radit. Dan Rindra ingin tahu, siapa yang menjadi malaikat penyelamat untuk Radit.
Di Indonesia.
Kabar yang menjadi trending topik kemarin, membuat Echa terpuruk. Ditambah bully-an yang Echa terima di sekolah. Karena mulut Tere yang seperti ember bocor.
Yang Echa lakukan hanyalah menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya serta Doni yang seperti parasit yang menempel pada Echa, Sasa dan Mima. Kegiatan mereka pun ada yang selalu mengawasi.
Apapun yang Echa lakukan akan dilaporkan oleh seseorang yang terus memperhatikan Echa dari jauh. Dari Echa yang memang pura-pura bahagia hingga dia bersama seorang laki-laki yang nampak akrab.
"Cha, emang lu gak bisa liat gua sebentar aja," pinta Doni.
"Tiap hari gua liatin lu, kok," sahut Echa santai.
"Liat bukan hanya sekedar teman," ucapnya seraya menatap manik Echa.
Echa yang sedang meminum booba kesukaannya pun menghentikan minumnya. Dia menghela napas kasar.
"Gua gak mau pertemanan kita hancur karena pacaran. Lu liat Riza, kan. Dia teman dekat gua, tapi setelah kita memutuskan untuk pacaran terus hubungan kita berhenti di tengah jalan, apa yang terjadi diantara kita berdua?"
"Hanya kecanggungan dan kebencian yang ada," lanjut Echa.
"Lu datang dengan cinta yang tepat, tapi di waktu yang salah," ejek Sasa.
"Anying lah," geramnya.
Mima dan Sasa puing tertawa melihat wajah Doni yang sedang merajuk.
"Gua udah lebih dari 10 kali loj nyatain perasaan gua ke lu. Sekali lagi udah bisa bikin kesebelasan bola. Apa gua ini gak sebaik Riza dan Radit?" cecar Doni.
"Dua lelaki itu emang gak ada yang baik. Dan lu juga belum tentu baik," jawab Echa.
"Astagfirullah, lu mah kayak pohon pisang. Punya jantung tapi, gak punya hati," oceh Doni.
Echa pun tertawa mendengar ocehan teman laki-lakinya ini yang kebawelannya melebihi emak-emak komplek.
Tak sengaja, pandangan Echa dengan pandangan orang yang sedari tadi memperhatikan Echa bertemu.
Aku tau Kak, itu orang suruhan kamu. Aku di sini masih mengharapkan kamu. Masih berjuang untuk melupakan bayang wajah kamu di kepala aku. Masih berjuang melupakan kisah cinta yang dulunya nyata tapi sekarang sirna.
Perhatian Echa teralihkan ketika melihat Doni sudah memangku gitar dan dia bernyanyi di atas mini panggung.
"Jeritan hati cowok yang ditolak sepuluh kali," ejek Mima yang membuat Echa dan Sasa tertawa.
🎶
__ADS_1
KIta jalan berdua
Bergandengan tangan
Tapi gak jadian
Kita nonton berduaan
Dan makan malam
Tetap tak jadian
Ini nasib yang mengenaskan
Harus terjadi lagi
Bukan mau suudzon
Tapi orang bilang itu Friendzone
Echa pun tertawa lepas mendengar nyanyian dari Doni. Apalagi melihat mimik wajahnya yang mengenaskan.
"Nyesek banget ya," teriak Mima kepada Doni.
🎶
Malam telfon-telfonan
HIngga pagi datang
Tetap tak jadian
Juga kesempatan
Masih tak jadian
Tidakkah cukup
Yang engkau lihat
Pertemanan ini sungguh berat
Tidakkah indah bila kita bersama
Tapi tidak dimimpi saja
🎶
"Ngenes amat nasib lu, Tong," ucap penyanyi yang berada di mini panggung. Sontak semua orang yang berada di cafe itu pun tertawa.
Ternyata orang yang sedang memperhatikan Echa, mengirimkan video Doni yang sedang bernyanyi serta ekspresi Echa kepada Radit.
Di belahan dunia yang lain, Radit hanya tersenyum melihat tawa lepas dari mantan kekasihnya ini. Ternyata Echa masih belum bisa membuka hatinya. Sama halnya dengan Radit yang masih mengharapkan Echa untuk kembali kepadanya.
"Setelah hasil tes DNA ini keluar, aku akan memperjuangkan cintaku. Aku akan datang menemui, Sayang," ucapnya.
__ADS_1
Setelah melakukan tes DNA, Radit tidak pernah menemui Fani ataupun menghubunginya. Nomornya pun dia blokir. Dan Radit selalu menghindar.
Fani tidak kehilangan akal, dia menceritakan semua yang telah Radit lakukan kepadanya termasuk tes DNA, Hingga amarah Addhitama pun memuncak.
Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung dihajar oleh sang papih, hingga dia tersungkur.
"Kenapa kamu meragukan anak itu? Sudah jelas-jelas itu anak kandung kamu. Banyak saksinya," sentak Addhitama.
Radit menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Ternyata Addhitama tidak datang seorang diri. Dia datang bersama Rindra.
"Radit harus segera menikahi wanita itu. Perusahaan kita diambang kehancuran," jelas Rindra.
Radit pun mengeraskan kepalan tangannya. Tanpa aba-aba Radit langsung menghantam wajah Rindra.
"Bisa gak Abang bersaing secara sehat? Gak kaya gini," bentak Radit.
"Jika, Abang masih membenciku. Aku terima Bang, aku sudah biasa dibenci oleh Abang. Aku sudah biasa Abang fitnah, aku sudah biasa dengan semua sikap Abang," sentaknya.
"Tapi, jika menyangkut masalah hati. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Akan aku perjuangkan apa yang seharusnya aku perjuangkan. Akan aku bongkar fakta yang ssesungguhnya."
"Meskipun di masalah ini aku yang kalian Serang dan aku yang kalian salahkan, aku akan berjuang sendiri untuk mencari kebenaran," sambung Radit.
"Lebih baik Abang yang menghalalkan Fani. Bukankah Abang juga menabung benih di sana?" Seringai licik pun muncul di wajah Radit.
Addhitama yang mendengarnya pun membelalakkan matanya. "Apa maksud kamu Radit?" tanya Addhitama.
"Hanya anak kesayangan Papih dan Fani yang tahu," sahutnya dan langsung meninggalkan kedua orang itu di dalam apartmentnya.
Radit terus melangkahkan kakinya tanpa arah tujuan. Ujung bibirnya masih terasa sakit, tapi lebih sakit hatinya karena telah dikucilkan oleh orangtuanya.
"Andai kamu ada di sini, aku ingin memeluk kamu dan tidur di pangkuanmu. Melupakan sejenak apa yang telah terjadi padaku," lirihnya.
Hingga langkah kakinya membawanya ke rumah besar yang terasa sepi di kala itu. Radit masuk ke sana dan disambut hangat oleh para pelayan.
"Tuan ada di halaman belakang," sambut pelayan.
Radit menganggukkan kepalanya lalu, menuju halaman belakang tempat sang kakek sedang bersantai.
Sang kakek menatap Radit dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wajah Radit nampak pucat dan kaki Radit pun tampak memerah.
"Kamu kenapa Dit?"
Tubuh Radit pun limbung dan dia tidak sadarkan diri. Ya, hari-harinya tersita karena harus kuliah serta praktek. Dan ketika dia baru selesai membersihkan tubuhnya dan menunggu makanan, sang Papih dengan kejamnya langsung menghajar wajah Radit hingga ujung bibirnya berdarah. Ditambah Rindra yang ikut hadir semakin memperkeruh keadaan.
Dengan perut kosong, Radit pergi dari apartment miliknya tanpa membawa dompet serta ponselnya. Menahan cacing yang sudah berdemo ingin asupan makanan.
Dua jam berjalan kaki, Radit tiba di rumah sang kakek. Pegal dan lelah Radit abaikan. Dia ingin tenang dan hanya kepada sang kakek lah dia merasa aman.
Baru saja Radit pergi dari apartment, seorang kurir makanan datang ke unit milik Radit. Addhitama yang menerima makanan pesanan Radit. Dan dia melihat jam pada meja Radit. Di mana anaknya baru saja pulang praktek dan baru saja ingin makan. Tapi, dengan kejamnya dia menyakiti putra bungsunya.
Dilihatnya, dompet serta ponsel Radit ada di atas nakas. Membuat Addhitama merasa sangat bersalah.
"Pergi ke mana kamu Dit?"
***
__ADS_1
Mana dong komennya? katanya Akau disuruh up tiap hari, tapi kalian pelit sama komen.🤧