Yang Terluka

Yang Terluka
Mengandung


__ADS_3

Rumah tangga Echa dan Radit bisa dibilang rumah tangga yang sangat adem ayem. Kenapa? Radit dan Echa mampu memahami satu sama lain. Bertengkar dalam masalah kecil sudah biasa. Namun, tak sampai dua puluh empat jam mereka akan berbaikan kembali.


Dua tahun sudah mereka menjalani biduk rumah tangga. Selama dua tahun pernikahan itu mereka terus melakukan program kehamilan. Sekarang ini mereka sedang menikmati langit sore di balkon kamar mereka.


"Ay, apa kandunganku ini tidak sehat?" Sebuah pertanyaan yang membuat Radit menatap manik Echa dengan penuh tanya.


"Kamu putus asa?" tanya balik Radit dengan suara yang berbeda. Menandakan bahwa dia tidak suka dengan ucapan Echa.


"Bukan begitu ...."


"Lalu apa? Kamu tidak percaya apa yang dokter katakan." Nada bicara Radit sudah sedikit meninggi.


Bukan hanya kali ini saja Radit mendengar pertanyaan yang menurutnya bodoh. Dia sudah muak dengan pertanyaan itu. Sedangkan Echa hanya menunduk dalam mendengar suaminya berkata.


"Terus saja kamu memikirkan hal bodoh seperti itu. Makanya, Tuhan tidak memberikan kepercayaan kepada kita. Padahal, semua dokter kandungan yang sudah memeriksamu mengatakan bahwa semuanya sehat dan normal."


"Aku lelah, silahkan kamu bergelut dengan pikiran burukmu itu." Radit segera meninggalkan Echa. Dia tidak ingin tersulut emosi. Selama ini dia sudah sabar menghadapi pertanyaan yang sama yang Echa lontarkan. Sekarang, dirinya bosan dan lelah. Istrinya menjelma menjadi wanita pesimis.


Echa hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara. Radit menuju ruang kerjanya yang berada di samping kamar utama. Mereka bergelut dengan perasaan mereka masing-masing. Baru kali ini mereka seperti ini. Biasanya Radit akan menjadi peredam. Namun, sore ini malah emosi Radit yang keluar.


Hingga malam tiba, Echa tidak turun untuk makan malam. Radit hanya mesin seorang diri.


"Tuan, Nona ke mana?" Sebuah pertanyaan yang meluncur dari Bibir Iroh.


"Kalo dia lapar juga pasti dia turun." Jawaban yang membuat bi Iroh dan juga bi Ami terdiam.


Setelah selesai makan malam, Radit kembali ke ruang kerja. Pukul sebelas malam dia baru masuk ke dalam kamarnya. Dia lihat sang istri sudah terlelap dengan posisi meringkuk.


Ada rasa bersalah di hati Radit. Namun, masih ada sisa emosi di hatinya. Dia memilih untuk membersihkan diri. Kemudian berbaring dengan posisi saling memunggungi.


Suara gemercik air membuat Echa terbangun. Dilihatnya jam sudah menunjuk ke angka lima. Suaminya pun sudah tidak ada di tempat tidur. Meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja, serta suaminya yang sedang mendiaminya. Echa tetap menyiapkan baju untuk Radit bekerja. Dia pun memilih untuk turun ke bawah. Menyiapkan kopi untuk sang suami. Biarkanlah, mau diminum atau tidak. Echa harus menjalani tugasnya sebagai istri.


Ketika dia kembali sang suami sudah selesai memakai pakaian yang telah Echa siapkan. Echa mendekat ke arah Radit dan memakaikan dasi di leher Radit. Mereka berdua hanya terdiam. Hanya suara dentingan jam yang terdengar.


"Sudah."


Echa mengambil handuk basah yang masih tergeletak di atas kasur. Radit memandang punggung Echa dengan rasa bersalah.


Pagi ini, Echa pun tidak menemani Radit sarapan. Radit hanya sarapan sendiri. Terlihat jelas dia tidak berselera menyantap hidangan. Bukan karena masakannya tidak enak. Melainkan sang istri yang seolah menghindarinya.


Sedangkan Echa sudah terduduk di tepian tempat tidur. Hatinya pun sama merasa bersalah karena telah membuat suaminya marah. Terkadang Echa menjelma menjadi wanita yang sangat sensitif.


Selesai sarapan Radit kembali ke kamar. Dia mematung sejenak ketika mendengar suara sang istri.


"Echa bahagia kok tinggal di sini. Kak Radit memperlakukan Echa sangat baik. Ayah tidak perlu khawatir."


Dada Radit terasa sesak mendengarnya. Radit perlahan membuka pintu. DIlihat bibir Echa memang tersenyum. Namun, air mata menetes di ujung matanya.


"Jahat sekali aku ini," gumam Radit.


Ketika Echa menyadari kehadiran Radit. Dengan cepat dia menyeka ujung matanya. Kemudian menutup teleponnya.


Ketika Radit mendekat, Echa masuk ke dalam kamar mandi. Echa takut jika Radit berpikiran dirinya telah mengadu pada sang ayah. Radit hanya menghela napas kasar ketika melihat pintu kamar mandi Echa tutup.


Selama praktek, pikiran Radit berkelana ke mana-mana. Dia membuka ponselnya. Melihat kapan sang istri online di aplikasi WhatsApp. Ternyata ketika dia sebelum berangkat kerja.


Radit menghubungi sistem rumah tangganya. Dia menanyakan perihal sang istri. Namun, jawaban bi Ami membuatnya mengerang kesal.


"Apa maunya?" ucap Radit setelah memutuskan sambungan telepon.


Ketika hatinya sudah sedikit luluh, kelakuan Echa membuat emosinya tersulut kembali. Awalnya, ingin memperbaiki hubungan. Malah sebaliknya.

__ADS_1


Di kamar, Echa sedang menahan pusing dan perutnya yang terus bergejolak. Untuk bangun pun dia tidak sanggup. Banyak notif pesan, tetapi dia abaikan.


Ketukan pintu membuat Echa bangun dari posisi tidurannya dengan terpaksa. Langkahnya sempoyongan menuju pintu kamar. Setelah terbuka, penglihatannya mulai kabur dan dia pun tak sadarkan diri.


"Nona!" teriak Bi Iroh.


Bi Iroh dan Bi Ami mengangkat tubuh Echa dan meletakkan di atas tempat tidur. Wajah Echa terlihat sangat pucat. Kedua asisten rumah tangga itu berpikir jika Echa pingsan karena kurang asupan makanan. Dari semalam hingga siang menjelang, Echa tidak keluar untuk makan. Itulah yang membuat Radit marah kembali.


Bi Ami mencoba menghubungi Radit. Namun, jawaban Radit membuat Bi Ami tidak bisa membantah.


"Kata Tuan, biarkan saja." Bi Iroh hanya menghela napas kasar. Kemudian menatap Echa nanar.


Bi Iroh terus mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Echa. Sedangkan Bi Ami terus memijat kaki Echa agar dia cepat tersadar.


Lima belas menit berselang, mata Echa mengerjap. Kepalanya masih terasa pusing begitu juga perutnya terasa diaduk-aduk.


"Non, makan, ya. Tadi Tuan marah karena Non tidak makan," ucap Bi Ami. Echa hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.


"Bi, buatkan jus jeruk," pinta Echa.


"Tapi, Non belum makan. Nanti sakit perut," ujar Bi Iroh.


"Saya ingin jus jeruk, Bi," ucapnya dengan wajah memelas.


Bi Iroh pun membuatkan jus keinginan majikannya. Sedangkan Bi Ami masih memijat kaki Echa.


"Non, makan dulu, ya. Baru minum jus jeruk," bujuk Bi Ami.


"Tidak, Bi. perut saya sedang tidak bisa masuk apapun," jawabnya.


Bi Iroh membawakan jus jeruk pesanan Echa. Echa sangat antusias meminum jus yang dia inginkan. Jus itu pun habis dalam waktu singkat.


"Non, itu sangat masam," kata Bi Iroh.


Bi Iroh dan Bi Ami saling pandang. Dengan senyum kecil yang terukir di bibir mereka.


Setelah kondisi sedikit membaik, Bi Iroh dan Bi Ami keluar dari kamar majikan. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka di dapur. Tanpa mereka ketahui, Echa terus mengeluarkan isi perutnya. Padahal hanya meminum jus jeruk.


perutnya terasa diaduk-aduk luar biasa. Ada yang ingin keluar, tapi ketika dikeluarkan tidak ada apa-apa. Keringat dingin mengucur di dahinya. Setelah dia lelah, Echa mencuci mulutnya dan menyeka keringatnya. Dengan langkah sangat gontai, dia kembali naik ke atas tempat tidur.


Namun, rasa mual terus hadir hingga Echa harus kembali berlari ke kamar mandi. Berkali-kali Echa seperti itu hingga tubuhnya benar-benar lelah dan lemas. Tubuhny luruh ke lantai kamar mandi. Untuk berdiri pun dia sudah tidak sanggup. Dia memilih merangkak menuju tempat tidur menggunakan sisa tenaga yang Echa miliki. Bi Iroh yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawa lemon tea hangat terkejut melihat kondisi Echa seperti itu. Dia membantu Echa untuk berdiri dan memapahnya menuju tempat tidur.


"Non, harus makan." Lagi-lagi Echa menggeleng.


Wajahnya semakin pucat melebihi tadi. Ingin rasanya dia menghubungi majikan laki-laki, tetapi dia takut. Ketika Bi Ami menelepon Radit, Radit sangat marah.


Tidak seperti biasanya, Radit pulang masih sore. Ketika dia masuk ke dalam kamar, istrinya tidak ada. Namun, pintu kamar mandi tertutup. Terdengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah.


"Penyakit dibikin sendiri," gerutu Radit.


Ketika Echa keluar dari kamar mandi dengan keadaan kacau. Radit seakan acuh padanya membuat hati Echa semakin sakit. Makan malam tiba, Radit sudah turun ke ruang makan. Dia menanyakan apa saja yang dilakukan oleh Echa seharian ini. Mendengar jawaban dari kedua asisten rumah tangganya. Radit mengambil piring, menyendokkan nasi, lauk serta sayur dan dia bawa ke lantai atas dengan wajah menahan marah.


Ketika dia sudah berada di kamar, dengan cukup keras Radit meletakkan piring di atas nakas.


"Makan! Apa memang kamu menginginkan untuk mati?" Sungguh perkataan yang sangat menyayat hati yang dilontarkan oleh Radit.


Echa teringat akan nasihat sang mamah. Seorang istri tidak boleh membantah ucapan suami. Dengan tubuh yang lemah, air mata yang sudah menganak, Echa mencoba duduk. Mengambil piring yang berada di atas nakas dengan tangan yang gemetar.


Satu suap, Echa masih bisa menahan mualnya. Namun, di suapan kedua Echa sudah tidak sanggup menahannya. Dengan langkah pendek Echa menuju kamar mandi dan memuntahkan apa yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


Radit yang hendak keluar kamar menoleh ke arah belakang. Dengan cepat dia menghampiri istrinya yang tengah muntah-muntah. Ketika dia hendak mendekat, tubuh Echa jatuh ke lantai dan dia pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Sayang," teriaknya.


Radit segera membawa tubuh Echa ke lantai bawah. Bi Iroh yang melihat Radit membawa tubuh Echa segera berlari menuju ke arah majikannya.


"Nona kenapa lagi, Tuan?" tanyanya.


"Muntah lalu pingsan."


"Dari tadi Nona memang bilang tidak enak makan." Radit tidak terlalu mendengarkan ucapan asistennya. Dia segera pergi membawa istrinya ke rumah sakit.


Selama di perjalanan rasa bersalah terus menghantui Radit. Dia sudah salah memperlakukan istrinya. Di mana dia sedang pusing dengan usaha prakteknya yang diambang kehancuran. Ditambah istrinya yang terus mengeluh membuat emosinya semakin muncul.


Tibanya di IGD, Echa segera ditangani oleh dokter jaga. Kali ini, Radit tidak membawa Echa ke ruang sakit tempatnya bekerja. Radit membawa Echa ke rumah sakit dekat rumahnya.


Radit benar-benar merutuki kebodohannya. Apalagi melihat istrinya dengan wajah bak mayat hidup. Hatinya semakin sakit.


Setengah jam menunggu dengan keadaan khawatir seorang diri. Dokter jaga keluar dan menyuruh Radit untuk masuk. Dahinya mengkerut ketika dokter tidak melakukan tindakan apa-apa.


"Jangan panik dulu, dokter Raditya," ucap dokter Christ.


Radit memang tidak mengenal dokter jaga ini, tetapi siapa yang tidak mengenal dokter Raditya Addhitama. Dokter Christ mengulurkan tangannya dengan senyum yang merekah. Sedangkan Radit masih bingung dibuatnya. Lama dokter Christ tidak menyambut tangannya, akhirnya dia menarik kembali tangannya masih dengan senyum yang bahagia.


"Selamat, istri dokter tengah mengandung," ucap dokter Christ.


Telinga Radit mendadak tuli mendengar ucapan dokter Christ. Dia hanya bisa diam tanpa menjawab ucapan selamat dari dokter Christ.


"Anda akan menjadi seorang Ayah," lanjut dokter Christ.


Radit menatap tubuh istrinya yang sudah membuka mata. Air mata meluncur begitu saja ketika dia melihat manik mata istrinya yang sudah menangis. Radit berhambur memeluk tubuh Echa dan berulang kali mengucapkan kata maaf.


Hanya tangisan yang menjadi jawaban dari Echa. Bentakan Radit masih terngiang di kepalanya. Namun, tidak dipungkiri dia juga sangat bahagia ketika menerima kenyataan bahwa dia hamil.


Tak hentinya Radit mengecup kening Echa. Tak dia hiraukan ada dokter Christ di sana. Berbeda dengan Echa yang masih menunjukkan wajah datarnya.


"Istri Anda boleh pulang. Wajar di usia kandungan masih muda pasti muntah-muntah atau mual. Jangan buat istri Anda stres. Buatlah istri Anda bahagia agar janin di dalam perut istri Anda berkembang dengan baik," terang dokter Christ.


Radit terus menggenggam tangan Echa dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Memperlakukan Echa dengan sangat baik. Namun, hati Echa masih sakit dengan perlakuan kasar dari Radit kepadanya.


Selama diperjalanan pulang dari rumah sakit. Echa hanya menyandarkan tubuh dan kepalanya ke jok mobil. Menahan rasa mual yang dia rasakan. Sedangkan tangan Echa terus Radit genggam. Sesekali dia mencium tangan Echa dengan senyum yang terus mengembang.


Tibanya di rumah, Echa sedikit berlari menuju wastafel dapur. Dia mengeluarkan isi perutnya, tetapi tidak ada apapun yang dia keluarkan. Wajah Echa sudah sangat kacau. Radit segera menghampiri Echa dan memijat tengkuk sang istri. Mengelap keringat Echa yang muncul di keningnya.


"Sudah?" Echa mengangguk pelan.


Radit menuntun Echa menuju kursi meja makan. Radit mengambil air hangat untuk sang istri.


"Minum dulu." Radit menyerahkan air hangat kepada Echa. Kemudian Echa minum.


Hati Radit sakit melihat wajah istrinya yang pucat dan terlihat tirus.


"Sekarang kamu makan, ya?" Echa menggeleng. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan mata terpejam. Radit menggeser kursi yang dia duduki mendekat ke samping Echa. Dia sandarkan kepala sang istri ke dada bidangnya. Kemudian, dia memeluk tubuh Echa dengan sangat erat.


"Maafkan aku, Sayang," sesalnya.


"Maaf aku sudah membentak kamu dan telah acuh terhadap kamu," sesalnya lagi. Echa hanya diam dengan air mata yang sudah menganak.


"Aku tidak tahu jika sensitifmu adalah bagian dari kehamilan kamu. Maafkan aku." Air mata Echa pun merembes. Tangannya sudah mulai membalas pelukan dari Radit.


"Makasih sudah menutupi kekuranganku di hadapan Ayah. Makasih selalu menjaga nama baikku di depan orang tuamu."


...****************...

__ADS_1


Komen dong


__ADS_2