Yang Terluka

Yang Terluka
Lega


__ADS_3

Di balik kesedihan Anggi, ada juga orang yang tengah bersedih. Semenjak pertemuannya dengan Kano di Singapura, Rifal menjadi pria ya g pendiam dan senang mengurung diri di kamar.


Pagi ini Radit sengaja datang ke rumah sang Papih untuk menanyakan perihal salah satu panti asuhan. Papihnya adalah donatur tetap di beberapa panti asuhan sekitaran Jabodetabek.


"Sarapan dulu, Dit," ajak Addhitama yang sudah duduk di ruang makan.


Radit menggeserkan kursi untuk dia duduki. Dia hanya mengambil segelas susu cokelat hangat yang ada di meja.


"Kakak ke mana?" tanya Radit.


"Lagi pakai bedak kali. Dandannya melebihi emak-emak." Radit tertawa mendengar ocehan sang ayah.


Tak lama, orang yang baru saja Radit tanyakan turun dari singgasananya.


"Tumben lu! Mana keponakan gua?"


Radit berdecak kesal, setiap ke rumah Papihnya yang Papih dan kakaknya tanyakan hanya anak-anaknya.


"Bawa mereka ke sini, Dit. Hari ini Papih gak ke kantor."


Hanya jawabannya 'hem' yang keluar dari mulut Radit. Setelah Papih dan kakaknya selesai sarapan, barulah Radit menanyakan perihal panti asuhan.


"Ada apa memangnya?" tanya Addhitma.


Radit menceritakan semua perihal Anggi kepada Addhitma dan juga Rifal. Mereka mendengarkan dengan seksama.


"Setahu Papih, anak-anak di sana tuh memiliki orang tua asuh. Tugasnya bukan untuk mengadopsi atau tinggal di rumah mereka, tetapi untuk membiayai sekolah mereka sampai ke jenjang yang lebih tinggi." Radit mengangguk mengerti


Alasan kenapa almarhum Bu Parmi memasukkan Anggi ke panti asuhan tersebut. Ternyata banyak anak-anak panti di sana yang mendapat pendidikan yang layak. Bukan karena biaya dari donatur, tetapi orang tua asuh yang membiayai semuanya. Itu berlaku hanya untuk anak-anak yang beruntung. Anak-anak pilihan dari mereka yang ingin memiliki anak asuh di sana.


Setelah mendapat jawaban yang mencerahkan dari sang Papih, Radit pamit untuk ke kantor. Namun, Rifal mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam mobil Radit.


"Dih ... ngapain?"


"Mau curhat," jawab Rifal yang sudah memasang sabuk pengaman.


"Aku bukan Mamah Dedeh," tukas Radit.


Rifal tak mengindahkan ocehan Radit. Dia malah duduk di kursi penumpang depan dengan santainya. Decakan kesal keluar dari mulut Radit.


"Aku banyak kerjaan loh, Bang."


Rifal mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang yang tidak ingin Radit tahu. Dia lebih memilih fokus pada jalanan.


"Cancel semua jadwal Raditya Addhitama."


Radit menginjak rem tiba-tiba hingga kepala Rifal membentur dashboard mobil.


"Ngapa sih lu?" sungut Rifal.


"Itu apa-apaan!"


"Hey! Raditya Addhitama! Saya ini masih atasanmu. Jadi, kamu harus nurut sama perintah saya. Sampai sini, paham?"


Radit mendengus kesal, dia menjalankan mobilnya kembali. Mengajak kakaknya untuk duduk manis di kedai kopi yang semua orang pasti tahu.


"Ngobrolnya di sini aja." Radit sudah memarkirkan mobil. Rifal mengikutinya saja.


Sebelum berbincang tidak afdol jika tidak memesan kopi terlebih dahulu beserta camilan pendampingnya.


"Ada apa?"


Wajah Rifal terlihat sendu. Radit sudah bisa menebak apa yang sedang ada dipikiran Rifal.


"Keysha?"


Rifal mengangguk, helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Dia lihat gua, tapi gua abaikan."


Kalimat yang penuh dengan penyesalan yang Rifal ucapkan. Radit hanya mengusap lembut pundak kakaknya.


"Apa secinta itu Abang kepada Keysha?"


Rifal menatap manik mata Radit, tanpa Rifal menjelaskan pun Radit sudah tahu.


"Apa yang dikatakan oleh Kak Kano ada benarnya juga. Menempuh pendidikan S1 itu cukup lama, paling cepat empat tahun. Belum lagi jika Keysha ingin melanjutkan S2 karena tuntutan papihnya. Apa Kakak sanggup menunggunya selama enam tahun? Itu bukan waktu yang sebentar, hanya orang-orang yang sabar dan memiliki kepercayaan yang tinggi, mampu melewati semua itu."


Rifal mencerna ucapan Radit. Banyak hal yang sudah Radit lalui, pahit, manis dan asamnya kehidupan sudah Radit lalui. Berbeda dengannya yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Mampu berdiri seperti sekarang karena Addhitama. Berbeda dengan Radit yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri karena usaha dan kerja kerasnya selama ini. Perusaahan yang dia pegang pun itu hanya warisan dari sang Papih. Ketika Addhitama mewajibkan ketiga anaknya untuk mengurus dua sampai tiga perusahaan, Radit hanya memilih satu.


Radit akan mengelola perusahaan yang memang sudah Papih berikan untuk Radit, sedangkan perusahaan yang Papih miliki, biarlah Abang dan Kakak yang mengelolanya. Uang Radit dari buka kafe di Ausi lebih dari cukup.


Itulah yang Radit katakan ketika Addhitama mengumpulkan ketiga anaknya. Keras kepala Radit tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Pada akhirnya, Addhitama mengalah. Dari pada Radit tidak mau menerima apapun darinya.


"Apa gua gak pantas mencintai anak di bawah umur?" Radit tertawa mendengar ucapan Rifal.


"Jangan kayak bocah deh, Kak. Kalau Kakak merasa gak pantas, sekarang saatnya Kakak memantaskan diri untuk Keysha. Tunjukkan pada papihnya Keysha bahwa Kakak pantas menjadi pendamping hidup anaknya," tutur Radit.


"Kalau bapaknya masih gak setuju?"


"Bawa kabur anaknya. Ajak kawin lari," kelakar Radit.


Rifal menatap jengah ke arah adiknya ini. Ketika diajak bicara serius malah dijawb bercanda. Namun, ucapan Radit benar adanya. Memantaskan diri, itulah yang harus Rifal lakukan.


"Kak ... tidak semua perjuangan kita akan membuahkan hasil membahagiakan. Ada kalanya, kita juga pulang sebagai pecundang membawa sebuah kekalahan. Aku harap ... Kakak kebal akan hal itu." Raut khawatir nampak di wajah Radit, sedangkan Rifal sudah tersenyum.


"Bukankah gua selalu jadi pecundang? Kali ini, gua bertekad untuk jadi pemenang," ucapnya.


Radit tersenyum ke arah Rifal. Di usia matang baru bertemu orang yang benar-benar bisa membuka hatinya. Namun, dengan perempuan yang usianya jauh berbeda.


Setelah pertemuannya dengan Rifal, Radit memutuskan untuk pulang ke rumah. Menemui sang istri dan mengajak ketiga anaknya ke rumah sang opa.


"Loh kok?" Echa tersentak ketika melihat Radit sudah memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Echa baru saja menidurkan ketiga anaknya, dan kini sedang membersihkan botol susu yang baru saja terlepas dari mulut si triplets.


"Disuruh pulang sama atasan."


Dahi Echa mengkerut mendengar ucapan dari Radit. Atasan?


"Kak Rifal," lanjut Radit.


Echa terkekeh, dia sangat tahu maksud dan tujuan Rifal menyuruh Radit untuk tidak bekerja. Apalagi jika bukan masalah cinta.


"Mau aku siapin makan gak?" Radit menggeleng.


"Temani aku aja di kamar." Echa melirik tajam, sedangkan Radit sudah menaik turunkan alisnya.


Baru saja masuk ke dalam kamar, Echa menggelengkan kepala ketika sang suami sudah terlelap tanpa mengganti pakaiannya.


"Capek banget kayaknya," gumam Echa.


Echa memilih untuk ikut merebahkan tubuhnya, dia pun sangat lelah. Namun, masih ada yang mengganjal di kepalanya. Anggi, bagaimana dengan Anggi? Apa Radit sesudah menemukan titik terang tentang Anggi?


Lelah berpikir, akhirnya Echa terlelap dengan wajah yang menelusup ke dada bidang Radit. Tempat yang paling nyaman untuknya.


Dua jam berselang, Radit merasakan ada yang menindih tubuhnya. Perlahan dia membuka mata dan ternyata ketiga anaknya sudah memeluk tubuhnya. Ketika dia melihat ke samping, sang istri masih terlelap dengan damainya.


"Ssstt!"


Radit menempelkan telunjuknya ke bibir. Kepalanya menggeleng dan anak-anak Radit pun turun dari tempat tidur diikuti oleh Radit.


"Bubu lagi bobo, mainnya sama Baba, ya."


"Ho ...."


"Ssstt!"


Teriakan yang akan keluar dari mulut si triplets terhenti karena larangan Radit.


"Mainnya di depan, ya. Baba ganti baju dulu."


Jika, Radit sudah berbicara ketiga anaknya pasti akan sangat nurut. Mereka berjalan menuju ruang bermain. Tak lama, Radit datang dengan membawa tiga susu kotak kecil rasa strawberry dan cokelat kesukaan mereka.


Si triplets menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan juga kanan sambil badan ikut goyang menandakan mereka tengah bahagia. Radit tertawa melihat tingkah lucu ketiga anaknya ini.


Namun, tiba-tiba Aleesa mendekat ke arah Radit menggenggam tangannya.


"Baba ... iyat itu," tunjuknya ke arah pintu samping.


Radit membeku, matanya melebar. dadanya berdegub sangat kencang. Tak terasa bulir bening menetes begitu saja.


"O-ma."


"Mamih ...."


Vivi tersenyum ke arah putranya. Senyum yang persis ketika berada di foto keluarga.


Air Mata Radit terus menetes mendengar ucapan sang Mamih. Dia tahu, Mamihnya telah tiada. Namun, dia juga tahu bahwa Aleesa dapat melihat sang Mamih.


"Maafkan Mamih, Dit. Mamih tidak dapat mendampingi kamu. Mamih hanya bisa melahirkan kamu tanpa bisa menggendong tubuh kamu. Maafkan Mamih." Radit menggeleng, dja masih menatap lekat Mamihnya yang hanya terdiam di depan pintu.


"Sudah lama Mamih ingin bicara kepada kamu, tetapi baru kali ini terlaksana." Senyum melengkung indah di wajah Vivi.


"Jaga ketiga anak kamu, ya. Jaga istri kamu yang sangat baik itu. Jangan pernah sia-siakan dia. Separuh jiwa Mamih ada pada istri kamu."


"Mamih pamit ya, Dit. Jangan menangisi Mamih lagi. Mamih sudah sangat bahagia melihat ketiga anak Mamih sekarang rukun. Tetap jaga kerukunan kalian. Bahagiakan Papih kalian. Selamat tinggal, Nak."


Lambaian tangan Vivi membuat air mata Radit semakin terjun bebas. Ibunya sudah tidak ada di hadapannya, meskipun tangan Aleesa masih memegang tangannya.


"Mamih!" serunya.


Radit menunduk sangat dalam, air matanya berjatuhan. Mulutnya kelu ketika melihat sang ibu secara langsung di depan matanya.


Echa yang baru saja tiba di ruang keluarga terkejut ketika mendengar isakan lirih suaminya.


"Ay," panggil Echa, dia pun segera memeluk tubuh Radit.


"Kamu kenapa?"


"Mamih." Suara berat keluar dari mulut Radit. Tangannya memeluk erat tubuh Echa.


Kening Echa mengkerut mendengar penuturan dari Radit. Dia menatap ke arah Aleesa.


"Baba, iyat Oma."


Echa menghela napas kasar mendengar ucapan Aleesa.


"Mamih mendengar permintaan kamu semalam. Bukankah kamu bilang, kamu ingin bertemu dengan Mamih." Radit mengangguk dan masih menangis di dalam pelukan Echa.


"Sekarang kamu udah ketemu sama Mamih. Mamih pasti bahagia melihat kamu sudah menjadi ayah dan memiliki anak-anak yang sangat menggemaskan."


Radit mengurai pelukannya. Dia menggenggam tangan Echa. "Aku gak akan pernah sia-siakan kamu, Sayang. Mamih bilang, separuh jiwa Mamih ada di dirimu kamu."


Echa tersenyum mendengar ucapan dari Radit. Hatinya benar-benar menghangat.


"Itulah alasan kenapa kamu mencintai aku, bukan?" canda Echa. Radit pun tertawa dan mencubit pipi Echa.


"Anan ubit Bubu!" pekik Aleena.


Aleeya sudah memukul lengan Radit dan Aleesa sudah mengusap lembut pipi Echa.


"Ya ampun, anak-anak Baba galak amat."


"Balin," jawab mereka bertiga. Radit dan Echa malah terkekeh.


"Mau ketemu Opa gak?"

__ADS_1


Pertanyaan Radit membuat ketiga putrinya menjawab dengan semangat. "Mau!"


"Kamu siap-siap gih, kita titip anak-anak ke Papih. Setelah itu kita temui Anggi."


"Apa sudah ada titik terang?" Radit mengangguk.


Setelah menyiapkan segala keperluan ketiga anaknya, mereka berangkat ke rumah Addhitama. Sebelum itu, Radit mampir ke restoran cepat saji. Anak-anaknya ingin memakan ayam crispy. Mereka terus berdendang gembira sambil memangku kotak makan mereka masing-masing.


Tibanya di rumah Addhitama, mereka berlari menuju sang kakek yang tengah duduk bersantai.


"Cucu-cucu Opa," ujarnya.


"Radit titip mereka bertiga ya, Pih. Mau ke rumah sakit." Addhitama mengangguk dengan senang hati.


Kebahagiaan Addhitama sangatlah sederhana. Bermain dengan cucu-cucu tercinta akan menjadi pelipur lara baginya.


Di rumah sakit, Radit dihubungi oleh dokter Arif yang menangani Anggi. Mereka berbincang bertiga di kantin rumah sakit.


"Anggi minta disuntik mati."


Mata Echa melebar sedangkan Radit mendesah panjang.


"Terlalu berat beban yang harus dia pikul diusianya yang masih sangat kecil," papar Radit.


"Ya, dia bilang jika dia mati setidaknya dia tidak akan merepotkan Anda dan juga istri Anda," jelas dokter Arif.


"Kami sungguh tidak keberatan," imbuh Echa.


"Saya sangat tahu itu, Bu. Akan tetapi, Anggi berpikirnya lain."


Radit mengusap lembut kepala sang istri. "Kita coba bicara baik-baik dengan Anggi."


Setelah pembicaraan dengan dokter Arif selesai, Radit dan Echa menuju ruang perawatan Anggi. Pagi tadi Echa sudah memesankan beberapa makanan dan juga buah-buahan untuk Anggi dan juga Bu'de warung yang menjaga Anggi di rumah sakit.


"Tante ... Anggi ingin menyusul ibu."


Echa mendekat dan mengusap rambut Anggi.


"Anggi, dengar Tante, ya. Ibu pergi karena sudah waktunya ibu pergi. Tidak ada manusia yang hidup kekal abadi, Nak. Semuanya pasti akan mati. Kapan waktunya? Kita tidak pernah tahu. Sama halnya dengan ibu 'kan. Anggi tidak bisa menemani ibu disaat terakhir ibu."


Echa melihat ada gurat penyesalan di wajah Anggi. Anak mana yang tidak akan menangis, tidak akan sedih ketika tidak bisa melihat dan mendampingi ibunya menghadap sang pencipta.


"Bukan hanya Anggi yang kehilangan Ibu. Kak Iyan juga sangat kehilangan. Anggi tahu 'kan, ibu Anggi sangat mirip dengan bundanya Kak Iyan. Ketika Kak Iyan berharap bisa mengobati rindu terhadap bundanya melalui ibu Anggi, dia malah kehilangan ibu Anggi."


"Tapi ... Kak Iyan tidak sendiri, dia masih memiliki Tante, Om dan Kakak cantik itu, juga ayah. Sedangkan Anggi ...."


Air mata Anggi menetes begitu saja. Echa mendekap hangat tubuh Anggi.


"Anggi boleh anggap Tante dan Om sebagai orang tua pengganti Anggi. Tante malah senang, berarti Anggi memiliki tiga adik perempuan lucu," terang Echa seraya tersenyum.


Anggi menggelengkan kepala. Echa tahu pasti Anggi akan menolak.


"Kalau Anggi tinggal di panti asuhan mau gak?"


Anggi berpikir sejenak. Dia teringat sesuatu, ibunya dulu pernah membawa dia ke sebuah panti asuhan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tempatnya bagus dan banyak anak seusianya.


"Di sana Anggi gak akan kesepian. Banyak anak-anak yang kurang beruntung yang seperti Anggi. Jadi, Anggi gak perlu minder. Alasan Anggi gak mau tinggal bersama Tante karena Anggi gak mau ngerepotin Tante 'kan."


Anggi terdiam, dia pun menunduk dalam.


"Mau ya, tinggal di panti asuhan. Setidaknya Tante tenang, Anggi gak tidur sendirian. Makannya pun teratur. Tante sayang sama Anggi, Tante gak mau terjadi apa-apa dengan Anggi."


Mendengar ucapan tulus Echa, Anggi berhambur memeluk tubuh Echa. Dia menangis dan tidak bisa berkata.


"Makasih, Tante. Tante sudah baik banget sama Anggi. Makasih banyak."


"Sama-sama, Sayang."


Radit dan Echa lega, akhirnya Anggi mau tinggal di panti asuhan. Setelah pulang dari rumah sakit, sepasang suami istri ini mendatangi panti asuhan yang Bu Parmi maksud. Mereka meminta untuk berbincang dengan pemilik dan pengelola panti asuhan itu.


"Iya, Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Bu Vina pengelola panti asuhan sudah membuka suara.


"Begini Bu, ibu kenal dengan ibu ini?" Echa menunjukkan foto mendiang Bu Parmi.


"Iya, dia pemulung yang sering lewat sini. Sudah beberapa hari ini dia tidak pernah lewat," terang Bu Vina.


"Beliau sudah meninggal."


"Innalilahi."


Bu Vani terkejut dengan ucapan Echa. Dia juga menjelaskan bahwa Bu Parmi pernah berkata akan menitipkan anaknya di panti asuhan ini jika dia sudah tiada.


"Itu yang ingin saya bicarakan, Bu." ujar Echa.


Echa menjelaskan semuanya, tidak ada yang terlewat sama sekali. Bu Vina hanya mendengarkan tanpa mencela. Walaupun dadanya terasa sesak.


"Saya ingin menjadi ibu asuhnya. Menanggung semua biaya sekolah Anggi hingga dia kuliah."


"Subhanallah. Ibu serius?"


"Iya, Bu. Asalkan Ibu tidak mengatakan hal ini kepada Anggi, ya. Pasti Anggi tidak akan mau menerimanya."


Bu Vina menyetujui permintaan Echa. Ketika urusannya selesai, Echa dan Radit pulang dengan hati yang tenang. Masalah Anggi telah selesai.


"Kamu seriusan?" tanya Radit ketika arah jalan pulang.


"Iya. Biaya untuk Anggi gak akan pakai uang kamu kok. Tabungan aku lebih dari cukup untuk biayain Anggi."


Radit mengacak-acak rambut Echa. Istrinya ini sangat hati-hati jika dalam menggunakan uang yang diberikan olehnya.


"Aku gak akan pernah keberatan, Yang. Malah aku senang kalau kamu pakai uang aku. Apa perlu uang bulanannya aku tambah?"


Echa tertawa dan menatap suaminya penuh cinta. Meletakkan kepalanya di bahu Radit yang tengah mengemudi.

__ADS_1


"Makasih, Sayang. Selalu mendukung aku dalam segala hal."


__ADS_2