Yang Terluka

Yang Terluka
Istimewa dan Over Protektif


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan Radit. Keesokan paginya Radit dan Echa pergi ke makam sang Mamih. Mereka pergi bersama ketiga anak mereka. Repot memang, Radit dan Echa sama-sama menggendong satu anak. Satu lagi mereka dorong di stroller.


Tidak disangka, ketiga anak mereka tertawa bersamaan ketika tiba di samping pusara sang Mamih. Mereka terlihat sangat bahagia.


"Assalamualaikum, Mih," ucap Radit.


Echa bingung dengan ketiga anaknya yang nampak bahagia sekali. Terus tertawa dan mengoceh layaknya ada orang yang mengajak mereka bermain.


"Mungkin Mamih ada di sini. Mengajak mereka bercanda. Temu kangen dengan cucu-cucunya," terang Radit kepada Echa.


"Dunia tak kasat mata itu ada. Jika, tidak percaya juga tidak apa. Namun, kita harus saling menghargai." Echa mengerti apa yang dimaksud oleh Radit. Dia pun mengangguk pelan.


Setelah memanjatkan doa dan mengenalkan satu per satu putrinya kepada sang Mamih. Radit pun memilih untuk kembali ke kediaman Addhitama. Sebelum mereka kembali ke rumah.


"Uncle dan Aunty kenapa gak ajak Iyo?" Rio sudah berkacak pinggang dengan wajah yang nampak marah.


"Iyo, gak boleh gitu sama uncle dan aunty," larang Nesha dengan bahasa lembut.


"Iyo 'kan ingin bertemu dengan Oma, Mih," rengeknya.


"Boleh aunty dan Uncle serta tiga bonekanya ganti baju dulu gak? Nanti baru aunty jawab pertanyaan dari Iyo." Rio pun mengangguk.


"Anak Soleh, anak pintar." Echa mengusap lembut kepala Rio dengan penuh kasih sayang.


Rifal datang dengan membawa cemilan di tangannya. Duduk manis bersama keponakannya.


"Kok nurut banget sama aunty. Rio sayang aunty?" Tanpa berlama-lama dia mengangguk dan ikut mengambil cemilan yang ada di pangkuan Rifal.


"Punya ajian apa itu si Echa? Bisa bikin nih bocah nurut." Nesha hanya tertawa mendengar celotehan Rifal.


Radit terus memeluk tubuh Echa. Enggan sekali untuknya melepaskan tubuh istrinya.


"Kenapa Ay?"


"Besok aku pergi. Bagaimana dengan kalian?" Pertanyaan yang penuh dengan kekhawatiran.


"Aku dan anak-anak akan baik-baik saja, Ay. Yang penting, kamu ajak bicara mereka bertiga supaya mereka tidak mencari kamu." Si triplets seakan tahu jika ayahnya pergi keluar Kota. Mereka akan menangis secara bersama. Tidak mau tidur hingga membuat Echa kelelahan.


"Lagi pula cuma satu hari. Kalo semua pekerjaan kamu selesai, kamu bisa langsung pulang 'kan."


"Tetap saja aku khawatir, Sayang," imbuh Radit.


Kemesraan mereka terjeda karena kehadiran keponakan mereka yang dengan tidak sopan masuk ke dalam kamar.


"Kenapa gak turun-turun?" sungut Rio.


Echa tertawa dan membawa Rio ke sofa. Sedangkan Radit mendengus kesal.


"Kamu kok gak sopan? Gak ketuk pintu dulu kalo masuk," sergah Radit.


"Kata Om Ifal, gak apa-apa langsung masuk aja." Jawaban Rio membuat Radit geram. Sedangkan Rifal yang sedang bersembunyi di samping pintu depan tertawa.


"Awas Bang, aku bilangin ke Papih pokoknya kalo Abang lagi dekat sama Key ...."


Suara tangisan ketiga anak Radit membuat Radit menghentikan ucapan Radit.


"Ay," geram Echa.


"Maaf, Sayang," sesal Radit.


Echa harus menimang-nimang anaknya secara bergantian. Barulah mereka tertidur kembali. Rio pun ikut terlelap di atas sofa.


"Maaf," kata itu lagi yang Radit ucapkan. Apalagi sang istri terlihat sangat kelelahan.


"Kamu istirahat, ya." Radit membimbing Echa menuju tempat tidur.


Setelah tubuh Echa berbaring, dengan lembutnya dia memijat kaki sang istri. Tak perlu lama akhirnya Echa terlelap dengan damainya.


Bibir Radit terangkat sedikit melihat Echa yang terlihat nyenyak. Dia mengecup kening Echa. Terdengar ketukan pintu membuat Radit segera beranjak.


"Ada apa Mbak?" tanya Radit ketika melihat Nesha lah yang berada di depan pintu.


"Rio ada?" Radit hanya mengangguk.


"Apa Mbak boleh masuk?"


"Silahkan," jawab Nesha.


Nesha tersenyum ketika melihat Rio tertidur dengan sangat nyenyak. Begitu juga Echa yang sudah terlelap.


"Kamu sangat beruntung, Dit. Mendapatkan wanita seperti Echa. Wanita limited edition di zaman sekarang," ujar Nesha.


"Ya, itulah alasan aku memperjuangkannya Mbak. Gak mau mengalah dari Abang," jelasnya.


Nesha tersenyum melihat Radit yang selalu bersikap manis terhadap Echa. Begitu juga Echa yang sangat menghargai Radit.

__ADS_1


Di rumah Addhitama memang nampak damai berbeda dengan kediaman Rion. Dua anak remaja sedang mengacak-acak dapur.


"Udah beli semua 'kan, Bee?" tanya Riana yang sedang mengupas bawang merah sambil tersedu.


"Harusnya udah sih Kak. Soalnya aku nitip ke Mamah," jawab Beeya.


"Ngeliat cumi begini inget yang lagi rame di Twitter, ya," kekeh Beeya.


Riana menoyor kepala Beeya sembari mendengus kesal. "Cuci otak kamu pake air mengalir tuh," sungut Riana.


Bocah laki-laki dengan santainya melenggang ke arah dapur. Dia melongokkan kepalanya ke arah Riana dan Beeya sebelum mengambil cemilan di kulkas.


"Kata Ibu, itu cuminya cuci yang bersih. Bawang merahnya jangan banyak-banyak. Jangan lupa bawang putih sama bawang bombaynya. Lebih enak lagi ditambah cabe rawit."


Beeya dan Riana saling pandang mendengar penjelasan Iyan. Apalagi dia menyebut ibu.


"Ibu siapa, Yan?" tanya Beeya penasaran.


Iyan menggedikkan bahunya. Kemudian menatap ke arah dekat wastafel.


"Ibu ada di sana. Lagi memperhatikan Kakak berdua," sahutnya santai.


Dua remaja ini mulai ketakutan. Apalagi, bulu kuduk mereka mulai meremang.


"Iyan, jangan nakutin," sentak Riana.


"Aku gak nakutin. Emang itu kenyataannya," balas Iyan lagi.


"Iyan!" teriak Beeya dan Riana bersamaan. Ketika Iyan meninggalkan mereka berdua dengan hawa dingin yang masih mencekam.


Rion yang sedang bersantai di halaman samping bergegas menuju dapur.


"Kalian kenapa?" tanya Rion bingung.


"Iyan, Ayah. Iyan nakutin kita," adu Riana.


"Jangan dengerin kata Iyan. Dia senang berimajinasi," imbuh Rion.


"Lanjut lagi masaknya. Ayah yang akan jadi jurinya." Riana dan Beeya mengangkat kedua ibu jari mereka.


Rion menghela napas kasar, dia masih belum percaya dengan keistimewaan yang Iyan miliki. Rion hanya menganggap sebuah kebetulan. Makanya, Iyan lebih senang bercerita kepada Radit dibandingkan ayahnya. Radit lebih mengerti dirinya dan tidak pernah mencela ucapannya.


Langkah kaki Rion membawanya ke halaman belakang. Di sana terdapat kolam ikan mini yang sengaja Rion buat. Dahinya mengernyit ketika Iyan tertawa sendiri dan berbicara sendiri.


Rion melebarkan mata ketika Iyan berbaring di samping kolam. Matanya terpejam dan mulutnya terus saja berbicara.


"Ibu datang pasti karena Iyan sedang merindukan Bunda 'kan."


Hati Rion teriris mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Iyan. Ibu dan bunda, dua kata itu membuat Rion sedih. Kondisi anak bungsunya sangatlah menyedihkan. Selalu diabaikan oleh bundanya. Namun, dia lah yang tidak marah dengan apa yang dilakukan oleh sang bunda.


Tepukan di pundak Rion, membuat dia sedikit tersentak. Dia menoleh ke arah sampingnya. Ada Radit di sana.


"Kapan pulang?" Pertanyaan yang Rion lontarkan dengan mata yang masih tertuju pada Iyan.


"Baru datang. Baru naruh anak-anak di kamar karena mereka tidur lagi di mobil." Rion mengangguk kecil dengan tatapan yang masih tertuju pada Iyan.


"Iyan anak spesial. Jangan anggap dia aneh," ujar Radit.


"Kenapa dia berbeda dengan anak yang lain? Ketika anak seusia Iyan senang bermain, Iyan malah senang dengan gadget di tangannya. Tempat inilah yang menjadi tempat favorit untuk Iyan," terang Rion.


"Dia anak spesial, Ayah." Rion menatap ke arah Radit. Sorot matanya meminta penjelasan lebih lengkap lagi.


"Nanti, kita bicarakan bersama. Biar Ayah dan yang lainnya juga tau," tukas Radit.


Baru saja drama melow akan terjadi. Sudah ada drama yang muncul dari arah dapur. Radit dan Rion segera berlari menuju dapur.


"Cuminya masih hidup," teriak Beeya.


Minyak panas meletup-letup dan menyiprat ke segala arah. Membuat Riana dan Beeya berlari ketakutan. Bukannya mematikan kompor.


"Ya Allah!" seru Echa yang melihat asap hitam sudah mengepul ke atas.


Dengan berbekal tutup panci yang cukup besar. Mampu menghalangi cipratan ke tubuh Echa, dengan langkah sedikit agak lebar dia mendekat ke arah kompor. Mematikan pemantik api tersebut.


"Aw!" ringisnya.


"Sayang kamu gak apa-apa?" Radit yang hendak mendekat dilarang oleh Echa.


"Jangan mendekat Ay. Nanti kamu kena letupan minyak panas." Radit menurutinya saja. Echa bergegas menjauhi kompor menuju wastafel yang berada di ruang makan.


Tangannya disiram dengan air yang mengalir agar tidak melepuh karena terkena minyak panas. Mata Radit membelalak ketika melihat tangan Echa yang memerah karena ulah minyak panas.


"Sayang, itu lebar banget kena minyak panasnya." Khawatir sudah pasti Radit rasakan. Apalagi, tangan kanan Echa yang terkena cipratan tersebut.


"Cuma sedikit kok Ay. Jangan lebay deh," imbuh Echa. Dia merasa suaminya terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Lebay gimana? Itu tangan kamu terluka begitu. Udah merah, masih aja bilang gak apa-apa," oceh Radit.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ajak Radit.


"Ay, aku seriusan gak apa-apa."


"Ke rumah sakit atau besok aku suruh tiga baby sitter pilihan Papih datang ke sini." Dua buah pilihan yang Radit berikan kepada Echa.


Echa mesti sabar menghadapi sang suami yang benar-benar over protektif sekali. Dia menghela napas kasar sebelum menjawab, "ya udah. kita ke rumah sakit."


Itulah jawaban yang Radit tunggu. Radit sangat yakin Echa akan memilih pilihan yang pertama karena Echa memang bersikukuh untuk tidak memakai jasa baby sitter dalam membesarkan ketiga anaknya.


Radit mengambil tisu untuk membersihkan tangan Echa. Tak lupa membubuhkan salep khusus untuk luka bakar sebagai pertolongan pertama.


"Ayah, Radit titip si triplets." Rion yang sedang mensidang Beeya dan Riana menatap bingung ke arah Radit.


"Mau ke mana?"


"Ke rumah sakit, punggung tangan Echa kena cipratan minyak panas. Cipratan itu cukup lebar. Radit takut luka itu semakin menjalar." Rion mengangguk.


"Ayah, cuma luka segini doang," kata Echa sambil menunjukkan punggung tangannya yang terkena cipratan minyak panas.


"Segini doang?" ulang Radit yang sangat tidak menyukai ucapan Echa.


"Ikuti saja suamimu. Cukup lebar kok luka itu. Takutnya kamu tidak mampu menggendong anak-anak kamu nantinya. Itu tangan kanan loh, bahaya jika terjadi apa-apa." Echa mendengus kesal mendengar ucapan ayahnya.


Mau tidak mau Echa harus mengikuti langkah Radit. Menuju rumah sakit di mana dulu dia praktek. Radit langsung menghubungi dokter kulit di sana.


"Ay, aku ini gak apa-apa. Udah sering kayak gini." Echa mulai menenangkan suaminya yang masih saja terlihat khawatir.


"Luka itu cukup lebar, Yang. Udah, sekarang kamu ikutin apa kata aku. No debat." Echa merasa kesal dengan sikap Radit seperti ini. Dia memilih untuk melihat ke arah jendela dari pada melihat ke arah sampingnya.


Suami menyebalkan.


Tibanya di rumah sakit, Radit disambut hangat oleh dokter Alfian. Berbincang sebentar lalu masuk ke dalam. Dokter Alfian tersenyum ketika memeriksa luka pada tangan Echa.


"Benar 'kan dok, saya tidak apa-apa," imbuh Echa sambil menatap tajam ke arah Radit.


"Gak pernah bawa istri ke rumah sakit. Sekalinya bawa istri cuma karena minyak panas," kekeh dokter Alfian.


"Gimana?" tanya Radit.


"Nanti dikasih obat dalam sama salep," jawab dokter Alfian.


"Di luar ekspektasi, dokter Radit," bisik dokter Alfian.


Dahi Radit mengkerut mendengar ucapan dokter Alfian. "Wanita yang sangat luar biasa," lanjutnya lagi.


Radit hanya tersenyum dan menatap ke arah istrinya yang tengah sibuk dengan gadget di tangannya.


"Aku sangat beruntung mendapatkannya." Dokter Alfian tertawa mendengarnya.


Radit menggandeng tangan istrinya dengan sangat posesif menuju parkiran. Sapaan hangat dari perawat serta pekerja rumah sakit hanya dijawab anggukan oleh Radit.


"Para pekerjanya cantik-cantik, ya," kata Echa.


"Gak ada yang spesial," sahut Radit yang kini fokus pada kemudi.


"Masa?" Radit menatap sang istri. Kemudian, menghentikan mobilnya di bahu jalan.


"Mata dan hati aku udah tertutup. Hanya kamu wanita yang paling cantik dan juga baik. Hanya kamu yang bisa merebut hati aku. Masih mampu membuat dadaku berdegup cepat jika ...."


Radit memajukan wajahnya, mencium bibir merah Cherry sang istri dengan sangat lembut hingga Echa pun mulai merasakan sensasi yang berbeda. Apalagi, ini pertama kalinya mereka berciuman di dalam mobil selama bersama.


Tangan Echa sudah merangkul leher Radit sedangkan tangan Radit sudah tidak mau diam. Memberikan sensasi yang membuat Echa melayang dan terus melayang. Namun, aktifitas itu terhenti ketika tangan Radit menyentuh perut bawah Echa. Masih terasa bekas luka di sana. Menyadarkannya akan tindakan bodohnya.


Radit menempelkan dahinya dengan dahi Echa. Deru napas mereka masih saling beradu. Seperti sedang berlomba menghirup oksigen.


"Maaf, Sayang. Aku belum bisa melakukannya. Aku tidak ingin membuat kamu sakit. Semuanya harus kita konsultasikan ke dokter kandungan." Echa menatap sendu ke arah Radit yang kini sudah mengusap lembut bibir Echa yang basah karena ulahnya.


"Bagaimana dengan kamu? Sampai kapan bisa menahannya?" Terkadang pikiran jelek menghampirinya. Sudah enam bulan Radit mampu menahan kebutuhan biologisnya. Dokter mengatakan setelah tiga bulan sudah mulai bisa berhubungan. Hanya saja dengan ritme yang pelan.


Namun, enam bulan berlalu. Radit masih mampu menahannya sendiri atau menyalurkannya pada wanita lain? Pikiran buruk itu selalu menghantui Echa.


"Aku bisa mengatasinya, Sayang."


"Dengan wanita lain?" Mata Echa berkaca-kaca mengucapakan hal itu.


"Loh kok kamu berpikirnya seperti itu?" Radit mengecup kelopak mata Echa bergantian.


"Aku bisa bermain sendiri, Sayang. Atau menyiram tubuhku dengan air dingin untuk menetralkan semuanya."


"Kenapa tidak melakukannya? Aku sudah tidak apa-apa." Radit tersenyum, lalu mengecup singkat bibir Echa.


"Tidak Sayang, aku tidak ingin membuat kamu kesakitan. Setelah dokter mengatakan jika semuanya sudah membaik. Baru aku melakukannya. Aku siap menunggunya, Sayang."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2