
Radit hanya terdiam ketika mendengar penjelasan dokter Nana. Dia menatap Fani dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Setelah pemeriksaan, Radit mengantar Fani pulang tanpa sepatah kata sedikit pun.
Ada kekecewaan di hati Radit. Dan benar apa yang dikatakan Kakek waktu itu.
Jika kamu ingin memastikan itu anak kamu atau bukan, lakukanlah tes DNA.
"Ya, aku harus melakukannya," gumamnya.
Keesokan paginya, Radit mendatangi rumah sang kakek. Dia menceritakan semuanya tanpa terlewat.
Kakek itu pun mengusap lembut punggung Radit. "Kamu anak baik, Kakek percaya itu."
"Dengan pacarku pun aku tidak pernah melakukan hal yang macam-macam," jelasnya.
Ada raut kesedihan dan kerinduan yang terpancar di wajah Radit. Sang kakek hanya tersenyum.
"Apa kamu sangat menyayangi kekasihmu?" Radit pun mengangguk.
"Dia yang membuat hidupku yang dulunya monokrom menjadi berwarna. Dia seperti cahaya yang selalu menerangi hidup ku," lirihnya.
"Dan karena masalah ini, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang baru seumur jagung. Dan keluarganya pun pasti membenciku," terangnya.
"Tapi, Kakek tidak." Radit menatap sang kakek dengan tatapan menyelidik.
"Maksud Kakek apa?" Kakek pun tersenyum
"Tidak, mungkin kamu salah dengar," kilahnya.
Radit semakin mengerutkan dahinya, dia memang sudah dekat dengan kakek ini. Tapi, Kakek ini seolah tertutup. Tidak ada yang Radit ketahui tentang sang kakek.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya sang kakek.
"Aku akan mengukuti rencana Kakek untuk melakukan tes DNA. Inilah jalan satu-satunya untuk memastikan anak itu."
"Jika, itu anakku, aku akan bertanggungjawab. Tapi, jika itu bukan anakku aku akan mengejar cintaku," ungkap Radit.
"Kakek bangga padamu, kamu memang cocok untuk menjadi pendamping cucu Kakek," imbuhnya.
"Cucu?"
"Nanti juga kamu tahu," sahut Kakek.
Sebenarnya siapa Kakek ini? Apa aku akan dijodohkan dengan cucunya? Bagaimana dengan Echa?
"Jangan dipikirkan ucapan Kakek tadi. Kamu mau melakukan tes DNA di mana?"
__ADS_1
"Belum tahu Kek, aku yakin Fani pasti akan menolaknya," ujar Radit.
"Kamu kelabui dia," saran sang kakek.
"Maksudnya?"
Sang kakek pun memberikan ide kepada Radit agar Fani mau melakukan tes DNA. Radit pun tersenyum.
"Makasih Kek atas idenya."
"Besok sopir Kakek yang akan mengantar kamu ke rumah sakit itu," ujar sang kakek. Radit pun mengangguk mengerti.
Setelah kepulangan Radit, pria paruh baya itu pun tersenyum bangga. Dia masuk ke ruang kerjanya dan menatap sebuah foto yang ada di atas meja.
"Kamu memang anak yang baik serta bertanggungjawab. Kamu memang sangat tulus mencintai cucuku," ucapnya seraya tersenyum.
Dengan terpaksa Radit menuju apartment Fani tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Baru saja dia keluar dari lift, dilihatnya seseorang yang sangat dia kenali keluar dari lift yang berbeda.
Radit memperlambat langkahnya, dia mengikuti pria yang perawakannya tak jauh berbeda dengan dirinya. Alangkah terkejutnya Radit, ketika pria itu masuk ke apartment Fani tanpa menekan bel. Dia mengetahui password apartment Fani.
Radit mendekatkan telinganya di daun pintu. Matanya melebar ketika samar-samar dia mendengar desahan. Dia semakin menajamkan telinganya, suara itu semakin jelas dan Radit mematung dengan sempurna ketika dia mendengar nama yang Fani sebut ketika Fani mencapai titik kenikmatan.
"Breng sek!" Tangan Radit sudah mengepal dengan sangat keras.
Radit mencoba menstabilkan amarahnya, matanya sudah memerah. Dan gurat-gurat amarah sangat terlihat jelas di wajah Radit.
"Tega banget kamu Bang," lirihnya.
Tibanya Radit di apartment miliknya, dia membuka sosial media milik Echa. Foto mereka berdua sudah Echa hapus. Radit hanya dapat memandang foto Echa yang sangat cantik yang dia ambil ketika Echa sedang tersenyum.
"Aku kangen kamu Bhul."
Tangan Radit terhenti ketika dia melihat ada foto Echa yang sedang tertawa lepas dengan laki-laki seusianya. Ada rasa cemburu di hati Radit dan dia langsung menyuruh orang untuk mencari tahu hubungan Echa dengan laki-laki itu.
"Tunggu aku, Bhul. Aku akan kembali kepadamu." gumamnya.
Keesokan harinya, sopir sang kakek sudah menjemput Radit di rumah sakit tempatnya praktek. Radit masih menunggu Fani yang masih berganti pakaian.
"Hai Sayang," sapa Fani sambil memeluk tubuh Radit. TIdak ada balasan dari Radit. Dia hanya mematung bagai manekin.
Tanpa banyak kata, Radit membawa Fani menuju mobil yang sudah menjemputnya. Mata Fani membelalak ketika Radit dijemput dengan mobil mewah.
"Sayang, ini mobil kamu?" Radit hanya melirik sekilas kepada Fani. Tanpa menjawab apa yang ditanyakan oleh Fani.
Tibanya di sana, Fani menatap tajam ke arah Radit. "Aku ingin memastikan usia kandunganmu," dustanya.
__ADS_1
"Aku kurang yakin, jadi aku ingin lebih memastikan." Fani pun mengangguk.
Radit pun menyuruh Fani untuk mengikutinya. Radit sudah disambut oleh dokter obgyn terbaik di Australia.
Sesampainya di ruang pemeriksaan, dokter pun bertanya, "kamu yakin?" Radit mengangguk yakin.
"Kita harus mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosintesis atau dengan chorlonic Villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta," jelas dokter Steve. Radit pun mengangguk mengerti.
"Ma-maksud kamu apa Radit?" tanya Fani dengan wajah gugup.
"Aku hanya ingin memastikan siapa ayah dari anak itu? Aku atau ...."
"Ini anak kamu Radit," sentak Fani.
Radit pun tersenyum tipis. "Jika, kamu yakin itu anak aku pastinya kamu tidak akan menolak tes DNA ini, kan," ucap Radit dengan seringai licik.
"Ta-tapi ini akan membahayakan ja ...."
"Tenang saja Nona, ini akan sangat aman. Tidak akan terjadi apa-apa dengan janin Anda," sahut dokter Steve.
"Ikuti keinginanku jika kamu ingin aku bertanggungjawab atas anak itu," titah Radit.
Fani merasa terjebak sekarang ini. Dia tidak bisa menolak sama sekali. Setelah cairan ketuban diambil, mereka harus menunggu hasilnya kurang lebih dua Minggu.
"Terimakasih, dok," ucap Radit.
Dokter Steve pun mengangguk dan tersenyum. "Sampaikan salam saya kepada Kakek kamu." Radit pun mengangguk.
Setelah kepergian Radit, ponsel dokter Steve berdering.
"Pastikan hasil tes DNA itu aman. Saya sudah kerahkan beberapa penjaga di sana."
"Baik Tuan."
Di dalam mobil hanya keheningan yang tercipta. "Kamu gak percaya sama aku?" ucap Fani dengan berderai air mata.
"Tidak ada untungnya aku percaya terhadap wanita sepertimu," sinis Radit.
"Ini anak kamu Dit," bentak Fani.
"Kita tunggu hasil tes DNA-nya saja. Itu akan membeberkan fakta yang sesungguhnya. Itu pun, jika hasil tes DNA tidak diubah," sindir Radit.
Ya, sedari tadi Radit melihat Fani tengah sibuk mengirim pesan kepada seseorang. Sepintas dia melihat ada ketikan DNA di dalam isi pesan tersebut.
Apalagi dia tahu, yang berhubungan dengan Fani dan bersekongkol dengan Fani adalah orang yang cukup berpengaruh dan selalu menghalalkan segala cara untuk kemenangannya.
__ADS_1
***
Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.