
Semenjak kejadian penculikan kemarin, keluarga Echa benar-benar memberikan penjagaan yang ekstra ketat untuk si triplets. Kini, mereka diantar jemput oleh sopir yang dipekerjakan Addhitama khusus untuk menjaga cucunya. Memliki ilmu bela diri tinggi agar bisa melindungi cucu kesayangannya. Apalagi, Echa sudah mulai sibuk dengan meeting-meeting penting.
Belum lagi Gio yang sudah menyuruh beberapa orang untuk berjaga ketika si triplets ke sekolah. Mereka hanya mengawasi dari kejauhan.
"Baba, Dedek gak suka pakai sopil itu," keluh Aleeya pada Radit.
"Olang-olang di depan juga Kakak Na gak suka," sungut Aleena.
"Meskipun kalian menolak, Opa tidak akan menggantinya. Itu perintah dari opa," tegas Radit.
"Orang-orang di depan pintu pun adalah orang suruhan Aki." Dengusan kesal keluar dari mulut si triplets. Jika, sudah mendengar nama opa dan aki mereka tidak akan bisa berkutik.
Bibir ketiga anak Radiy dimajukan beberapa sentimeter. Mereka merasa kebebasan mereka terganggu. Apalagi wajah sopir itu sangat kaku. Radit hanya terkekeh melihat sikap protes mereka bertiga.
Bukan hanya di sekolah, di rumah pun selalu ada orang berpakaian hitam yang berjaga di depan rumah Radit. Terkadang dua lontong putih merasa terganggu akan kehadiran mereka. Gangguan demi gangguan selalu mereka lakukan. Akan tetapi, dua orang itu seakan kebal menghadapi gangguan dari dua lontong tersebut.
Jangan ditanya bagaimana nasib Seto si penculik yang diringkus oleh para hantu satu komplek. Mendekam dan membusuk di dalam penjara. Addhitama meminta Seto dihukum seberat-beratnya. Jika, bisa Addhitama meminta hukuman mati untuk Setk agar tidak ada Seto Seto selanjutnya.
Pulang sekolah dengan keadaan rumah sepi membuat si triplets hanya mondar-mandir tak jelas. Ibunya sedang meeting dan belum pulang. Acara televisi tidak ada yang mengasyikan. Mainan mereka pun tidak ada yang baru, membuat mereka bosan. Aleena tiduran bersama boneka besar, Aleeya mematahkan mainan yang dia miliki, sedangkan Aleesa sedang berteduh di bawah pohon mangga.
Suara deru mesin mobil membuat Aleesa bangkit, dia berlari ke halaman depan. Matanya memicing ketika melihat bukan mobil ibunya. Namun, seketika matanya berbinar ketika pria tampan keluar dari mobil.
"Om!" panggilnya.
Aleesa berlari dan memeluk tubuh Aska. "Kok dari samping?" tanya Aska yang kini sudah menggendong Aleesa.
"Dali pohon mangga."
Aska mengajak keponakannya masuk ke dalam rumah sang kakak. Aleeya dan Aleena bersorak gembira ketika melihat Aska. Seperti kedatangan idola mereka.
"Om, ke mall yuk," ajak Aleeya.
Aska tertawa, dia datang ke sini atas perintah kanjeng mamih yang menyuruhnya membawa main si triplets. Uang pun sudah Ayanda transfer ke rekening Aska untuk biaya makan dan main ketiga cucunya. Tidak tanggung-tanggung dua puluh lima juta Ayanda kirimkan.
Aska terkejut ketika mendapat notifikasi transferan dengan nominal yang tidak sedikit, tetapi ada kelegaan juga di hatinya. Uangnya sudah dipastikan aman terkendali.
Aksa pun mengangguk pelan dan membuat ketiga anak itu melompat kegirangan. Sebelum berangkat, Aska menyuruh Mbak Ina untuk menggantikan pakaian mereka terlebih dahulu. Aska tidak mau membawa cucu-cucu para sultan berpenampilan anak jalanan. Harus sesuai dengan kasta ketiga anak tersebut. Apalagi ketiga keponakannya jalan bersama sang paman yang ketampanannya membuat perempuan klepek-klepek.
Ketika Mbak Ina memandikan ketiga cucu dari majikannya, Aska masuk ke kamar si kembar. Dahinya mengkerut ketika melihat tiga brankas yang ada di kamar ketiga keponakannya.
"Kagak ada kodenya," gumam Aska.
Matanya melebar ketika membuka brankas tersebut. "Benar-benar cucu Sultan, gak kaleng-kaleng," imbuhnya.
Di dalam brankas tersebut berisi uang beragam warna. Ada yang abu-abu, cokelat, ungu, hijau, biru dan merah. Namun, didominasi oleh uang yang berwarna merah. Bukan selembar dua lembar, tetapi gepokan.
"Kagak diambil tuyul kah?"
Merasa namanya dipanggil, si botak teman Aleesa merasa geram. Ternyata brankas itu dijaga oleh si botak, agar para kawan-kawan si botak tidak bisa mengambil uang di triplets.
Sudah cantik, wangi dan menggemaskan ketiga anak tuyul itu Aska bawa. Seperti biasa Aleesa melambaikan tangan pada dua buah lontong putih yang masih setia berdiri di depan rumah.
Namun, langkah Aska dihadang oleh pria berbaju hitam. Aska pun berdecak kesal.
"Ini perintah dari Nyonya Giondra. Paham?"
Pria berbaju hitam itu pun mengangguk cepat. Dia adalah orang suruhan Gio yang bertugas menjaga kediaman sang putri.
"Kalau mau jagain dari belakang aja. Jangan sampai saya lihat!"
Aska sangat muak dengan yang namanya penjagaan ketat. Sedari kecil dia sudah kenyang dengan bodyguard dan segala macam penjagaan sehingga membuat geraknya terbatas. Aksa tidak mempermasalahkannya, berbeda dengan Aska yang menginginkan kebebasan bukan pengekangan.
Sama halnya dengan si kembar tiga ini. Biasanya mereka bermain di halaman depan, kini dilarang oleh semuanya. Hanya boleh main di dalam rumah dan halaman samping. Aleena yang senang berbagi pun ikut mengeluh. Hobinya memberhentikan tukang jajanan dan membayarnya dengan uang besar, kini tidak bisa dia lakukan.
"Sabar ya, kedua orang tua kalian dan para kakek kalian tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian," ujar Aska.
"Kesel, Om," sungut Aleeya.
Aska hanya tertawa mendengar celotehan-celotehan ketiga keponakannya. Sudah lebih dari seminggu dia tidak bertemu dengan ketiga tuyul ini.
"Yeay!" teriak mereka ketika sudah sampai di parkiran mall.
Aksa menuntun ketiga keponakannya yang berwajah riang gembira. Mereka menunjuk ini dan itu dan membuat Aska tertawa. Mereka meminta masuk ke toko mainan, Aska hanya bisa mengikuti mereka saja. Toh, mereka sudah diberi uang jajan oleh nenek mereka.
"Masing-masing satu, ya." Mereka pun mengangguk.
Setelah mengambil apa yang mereka mau, dan Aksa pun membayarnya. Wajah berseri mereka semakin terlihat jelas.
"Om, main ya," pinta Aleesa.
__ADS_1
"Siap."
Melihat ketiga anak itu bahagia membuat Aska merasa bahagia juga. Ketiga anak itu adalah pengobat dari segala bentuk penyakit yang tengah menghampirinya. Salah satunya penyakit hati.
Ketika tiba di tempat permainan, seseorang memanggil nama Aska. Bukan hanya Aska yang menoleh, si triplets pun menoleh juga.
"Kebetulan ya bertemu di sini," ucap seorang perempuan. Aska hanya tersenyum ke arah wanita cantik itu.
"Ini keponakan kamu?" tanya si perempuan tersebut.
"Iya," jawabnya singkat.
"Cantik-cantik sekali kalian."
"Kita kan pelempuan pasti cantik lah," ketus Aleeya. Wajah tidak suka mereka perlihatkan dengan sangat jelas.
"Ayo, Om." Aska benar-benar gemas kepada ketiga keponakannya ini. Apalagi Aleena yang sedari tadi bergelayut manja di tangannya .
Ternyata perempuan itu menunggu Aska dan duduk manis memandangi Aska yang tengah bermain bersama ketiga keponakannya. Satu jam berselang, ketiga anak tuyul itu mengeluh haus dan lapar. Tanpa banyak berdebat, Aska membawa mereka ke food court. Mata Aska memicing ketika melihat Christina masih ada di sana.
"Kamu masih di sini?" tanya Aska.
"Iya, aku nungguin kamu," ucapnya seraya tersenyum.
Tidak dipungkiri Christina adalah perempuan cantik, pintar dan juga lembut. Pertemuan pertama mereka ketika Aska ikut dengan sang Daddy ke Singapura. Pengacara dari sang kakek memperkenalkan putrinya kepada Aska dan di situlah mereka mulai saling mengenal.
"Om, lapal," keluh Aleeya.
Aska tertawa dan mengusap lembut kepala si triplets. Mereka menuju restoran cepat saji yang si triplets ingini. Semua makanan mereka pilih membuat Aska tertawa melihatnya.
"Kamu adalah Om yang baik," puji Christina.
"Kamu mau makan apa?" tawar Aska.
Christian sedikit terkejut dengan sikap Aska. Namun, dia tidak menyia-nyiakan penawaran dari Aska.
"Samain aja," jawabnya.
Aska mengangguk dan pamit kepada ketiga keponakannya yang tengah asyik makan apa yang mereka pesan.
"Anteu siapanya Om?" Pertanyaan penuh selidik dari Aleena.
"Temannya Om kamu, cantik," jawab Christina.
Mata Christina melebar mendengar penuturan dari Aleena.
"Kalau pacar emang kenapa?" tanya Christina.
"Om-nya gak bakal mau," tukas Aleesa.
Hati Christina patah seketika mendengar ocehan keponakan-keponakan Aska.
Aska datang dengan membawa dua makanan untuknya dan juga Christina.
"Makasih," ucap Christina.
"Om, Dedek bilangin ke Mimo, ya."
Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan Aleeya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya.
"Bilangin apa?" tanyanya.
"Om jalan sama pelempuan," tegas Aleena.
Aska pun tertawa, dia mengusap kepala Aleena.
"Dia hanya teman Om, Aleena."
Lagi-lagi hati Christina hancur berkeping-keping mendengarnya. Apa Aska tidak pernah melihatnya barang sedetik pun. Padahal mereka sudah sering jalan dan liburan bersama.
"Apa kabar dengan Christian?"
Aska malah menanyakan sang kembaran dari Christina.
"Baik. Dia bersahabat baik dengan Aksa," jawab Christina.
Hati Christina bagai dicabik-cabik, angin segar yang dia dapatkan dari kedua orang tua mereka ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Aska tidak pernah menganggap Christina spesial. beda halnya dengan Christina yang selalu menganggap Aska adalah pria yang sangat spesial.
Aska malah banyak berbicara dengan ketiga keponakannya dibandingkan dengan Christina.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan oleh orang-orang. Aska mudah untuk didekati, tetapi sulit untuk dimiliki." Begitulah batinnya berkata.
Ponsel Aksa berdering, Christina menatap tajam ke arah Aska karena terlihat lengkungan senyum yang tersemat di wajahnya.
"Iya, Kak."
Mendengar jawaban seperti itu membuat hati Christina sangat lega. Dia mengira yang menelepon Aska adalah kekasihnya.
"Iya, habis makan pasti mereka minta jajan lagi. Habis itu Adek akan bawa mereka pulang."
Christina hanya mendengarkan pembicaraan Aska di telepon sambil mengunyah makanannya.
"Kakak mau dibeliin apa? Mumpung Adek belum pulang."
Terkadang Christina merasa iri, Aska sangat perhatian kepada kakak perempuannya. Dia ingin tahu seperti apa kakak perempuan Aska. Wajah Aska akan berseri ketika mendapat telepon dari kakaknya itu.
Si triplets masih mengajak Aska berkeliling, Christina meminta ikut pulang bersama Aska karena dia memang tidak membawa mobil. Setelah membujuk ketiga keponakannya, akhirnya Christina boleh ikut dengan mereka.
Apa yang dikatakan oleh Aska memang benar adanya. Si triplets meminta membeli makanan ini dan itu. Apalagi kakaknya meminta dibelikan es booba kekinian. Membuat mereka pun ingin membelinya. Namun. Aska melarang dan lebih merekomendasikan jus buah segar diberi jelly di dalamnya. Mereka pun mengikuti saran dari Aska.
"Ketiga keponakan kamu doyan jajan, ya," celetuk Christina.
Aska hanya tertawa, tangannya mengeluarkan kartu debit dari dalam dompet.
"Biarin aja, namanya juga anak-anak. Toh mereka menjadi kesayangan semua orang, apapun yang mereka inginkan pasti akan kami turuti," terang Aska.
Aleena menekuk wajahnya ketika kursi penumpang depan diduduki oleh Christina.
"Kakak Na gak mau bicala sama Om. Kakak Na malah," sungutnya.
Aska hanya menghela napas kasar, dia juga tak menyangka bahwa Christina akan mengusik kekaleman Aleena. Aleena adalah tipe anak yang akan mengalah, tetapi marah di belakang. Jika, Aleena sudah marah dia sulit untuk memaafkan.
Tibanya di depan rumah, pintu mobil Aleena tutup dengan sangat keras. Dia berlari hingga menabrak anteu poci. Wajahnya ditekuk hingga tekukan terkecil.
"Anak Bubu udah pulang," sambut Echa. Namun, Aleena hanya menyambut pelukan sang ibu. Kemudian, dia masuk ke dalam kamarnya. Tak dia pedulikan makanan yang dia beli dari mall.
"Kenapa itu?" tanya Echa ketika melihat Aska masuk ke rumahnya.
Matanya menyipit ketika ada seorang perempuan yang mengikuti Aska dari belakang. Setahu Echa, Aska tidak pernah membawa perempuan ke rumahnya. Meskipun, itu adalah pacarnya.
"Biasa lah Kak," jawab Aska.
Dia mencium tangan sang kakak, kemudian mengecup pipinya. Christina terperangah ketika melihat kakak dari Aska. Kecantikannya luar biasa meskipun sudah memiliki tiga orang anak.
"Christina, kenalkan ini Kakakku," ucap Aska.
Christina menghampiri Echa dan menjabat tangan Echa. "Christina," katanya.
"Echa," jawabnya sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, sangat cantik sekali wanita ini. Apa tipe wanita yang Aska inginkan seperti kakaknya ini? Arrgg! Aku menyerah kalau begini," gumamnya dalam hati.
Echa menatap tajam ke arah Aska. Aska hanya menggedikkan bahunya.
"Anak dari Pengacara Christo," terangnya. Echa mengangguk, dia tahu siapa Christo.
"Bubu, ini minumannya." Aleesa memberikan minuman yang ibunya pesan.
"Makasih, Kakak Sa," ucapnya.
Christina sangat kagum kepada kakak dari Aska ini. Sungguh lembut sekali perkataannya.
"Adek ke kamar Aleena dulu deh. Bujuk Aleena itu lebih susah dari bujuk pacar yang lagu merajuk." Echa pun tertawa mendengar candaan sang adik.
Echa banyak berbincang dengan Christian. Keramahan Echa membuat Christina semakin mengaguminya.
Di kamar si tripelts, Aska masih membujuk Aleena yang tengah merajuk.
"Maafin Om dong, Aleena. Om gak mungkin 'kan ngusir teman Om itu," terang Aska.
"Kakak Na gak suka sama anteu itu," tegas Aleena.
Aska hanya menghela napas kasar. Kadang dia berpikir, bagaimana jika Aleena sudah dewasa? Yang menjadi pacar Aleena akan kewalahan menghadapi Aleena yang tengah merajuk. Playboy tengik macam Aska pun tidak bisa membujuk Aleena.
Seribu satu cara Aska lakukan dan pada akhirnya Aleena pun memaafkan Aska. Paman dari Aleena itu mencium pipi gembil sang keponakan.
"Kita ke ruang bermain. Jusnya nanti gak enak," ajak Aska. Aleena pun naik ke punggung Aska sambil tertawa.
Mendengar suara tawa Aleena, Echa dan Christina menoleh ke asal suara. Senyum melengkung di wajah Christina, tetapi Aleena membalasnya dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Pulangnya suluh naik angkot aja, jangan diantelin sama Om," bisik Aleena.
...****************...