Yang Terluka

Yang Terluka
Persiapan


__ADS_3

Semakin hari anak-anak Addhitma semakin banyak meluangkan waktu bersama sang ayah tercinta. Waktu adalah hal yang tak akan pernah bisa terulang lagi. Mereka tidak ingin menyesal di kemudian hari.


Seperti hari ini, ketiga anak Addhitama sudah sibuk mendekor sebuah ruangan di sebuah restoran. Begitu juga dengan kedua menantunya yang ikut mempersiapkan segalanya.


"Semuanya sudah siap?" tanya Radit.


Rifal dan Rindra mengangguk. Pesta kecil-kecilan yang mereka buat untuk merayakan ulang tahun sang ayah. Selama ini mereka seakan menghabiskan ayahnya. Tak pernah memberikan kejutan apapun.


Echa dan Nesha tersenyum sumringah ketika semuanya telah selesai.


"Semoga Papih suka, ya," ujar Nesha.


Echa tersenyum dan menatap ke semua sudut ruangan. Jika, menyangkut seorang ayah hati Nesha akan sedikit perih. Nesha memilih duduk di salah satu kursi. Pandangannya lurus ke depan.


"Masuk ke dalam keluarga ini membuat aku merasakan keluarga yang sesungguhnya," tutur Nesha.


Echa ikut di samping sang kakak ipar. Dia pun ikut menatap ke arah depan.


"Hal sana pun Echa rasakan. Papih bagai ayah yang tulus menyayangi Echa. Beliau mampu menerima segala kekurangan Echa," timpalnya.


"Ya, kita sangat beruntung memiliki mertua sepeti Papih," tukas Nesha. Echa mengangguk setuju.


Di lubuk kecil hati Nesha dia tengah menangis keras. Hari ulang tahun Addhitama sama dengan hari ulang tahun sang ayah. Dia masih ingat jelas ketika dia kecil dia dan ibunya memberikan kejutan kepada sang ayah tercinta. Hanya kue yang ditancapkan satu buah lilin. Hal sederhana yang masih terukir indah di kepala sampai saat ini. Kejadian itu jauh sebelum ibunya tiada.


Ketika Nesha berumur lima belas tahun. Ibu Nesha mulai terkena sakit yang cukup parah, yaitu ginjal. Segala cara sudah dilakukan. Mulai dari cuci sarang dan segala macam. Namun, hal itu tidak memperbaiki keadaan. Malah membuat keadaan sang ibu mulai memburuk.


"Bu, ini harus sembuh." Suara lirih Nesha yang selalu ada di samping ibunya.


Semenjak divonis menderita ginjal parah, ayah Nesha mulai berani. bermain wanita. Bukannya ibu Nesha tidak tahu, dia hanya menutupinya dari Nesha. Dia tidak ingin Nesha semakin sedih. Sudah cukup dirinya yang membuat Nesha terus menitikan air mata. Dia tidak ingin Nesha semakin terluka.


Pada suatu malam, ibu Nesha mulai kritis. Nesha berteriak kencang karena sangat ketakutan. Dia berlari dari kamar yang memang dikhususkan untuk ibunya dirawat karena sang ibu tidak ingin dirawat di rumah sakit.


Air mata Nesha sudah berjatuhan, dia mencari sosok ayahnya. Ketika dia mendekat ke arah kamar ayah terdengar suara yang aneh. Tangannya perlahan membuka gagang pintu. Matanya melebar ketika melihat ayahnya mencumbu wanita lain di kamarnya ketika ibunya sakit parah.


"A-ayah ...."


Suara Nesha sangat bergetar. Tubuhnya mematung, langkahnya terkunci.


Sang ayah yang merasa terganggu mulai marah dan menampar Nesha di depan wanita yang tengah dia garap.


Plak!


Plak!


Plak!


Tiga kali tamparan yang Nesha terima dari ayahnya yang tengah murka. Nesha tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menangis dengan luka lebam di sudut bibirnya.


"Anak gak punya sopan santun!" sentaknya dengan geram.


Tangan ayahnya menarik tubuh Nesha dan menguncinya dari dalam. Dia sengaja menyuruh Nesha berdiam diri di sana untuk menyaksikan aksi bejatnya dengan wanita yang ada di kamarnya.


Sungguh mata Nesha sangat ternoda dengan apa yang mereka lakukan. Ingin keluar pun tidak bisa kadena sang ayah menyembunyikan kunci kamarnya. Hanya menangis yang Nesha lakukan.


"Ibu," lirihnya.


Selang lima belas menit, pintu kamar ayahnya ada yang mengetuk sangat keras.


"Pak, buka Pak! Ibu meninggal."


Dunia Nesha seketika hancur dan runtuh. Tubuhnya lemah tak berdaya, Pikirannya sudah buntu.


"Ibu!"


Pintu kamar pun ayah Nesha buka. Nesha berlari ke arah kamar Raat ibunya di rumah. Tubuh ibunya sudah tertutup selimut putih.


"Jangan tinggalin Sha, Bu. Sha mohon."


Seringai licik ayah Nesha ukirkan. Sekarang dia bebas melakukan hal apapun di rumah peninggalan istrinya. Nesha terus berteriak ketika tubuh ibunya mulai dibungkus dengan kain putih.


"Ibu masih hidup!" teriaknya.


Jangankan ditenangkan oleh ayahnya, mendekat pun tidak. Nesha terus menangis dan hanya sahabatnya yang memeluk tubuh Nesha.

__ADS_1


Ketika tubuh ibunya diturunkan ke liang lahat, Nesha menangis keras. Apalagi ketika tubuh ibunya ditimbun dengan tanah merah. Ingin rasanya dia juga dikubur di dalam lubang yang sama bersama ibu tercinta.


"Sudah ya, Sha. Ibu kamu sudah tidak merasakan sakit lagi." Itulah yang sahabat Nesha katakan.


Semenjak kepergian ibunya, hidup Nesha berubah tiga ratus enam puluh derajat. Hidupnya tanpa gairah, disiksa ayahnya hingga luka lebam di mana-mana. Nesha hanya diam, seakan dia sudah mati rasa dengan semuanya.


Apalagi ketika ayahnya menikah dengan perempuan yang ada di kamar ayahnya ketika ibunya pergi. Hidup Nesha seperti di neraka. Diberi makan pun tidak. Tidur pun di gudang yang kotor. Hanya sisa makanan yang ibu tirinya berikan.


Ketika tengah malam dan hujan sangat deras. Tubuh Nesha ditarik oleh sang ayah dan dimasukkan ke dalam mobil.


"Mau ke mana?" tanya Nesha.


Ayahnya bergeming, dia masih melajukan mobilnya. Dibawanya Nesha ke satu kontrakan kecil dan kumuh. Ternyata semua barang-barang Nesha yang ada di rumah sudah dimasukkan ke dalam koper. Malam itulah Nesha dibuang.


"Jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi ke rumah! Saya tidak Sudi melihat wajah kamu yang sangat mirip dengan ibumu yang penyakitan itu," sarkasnya.


Sudah kering air mata Nesha Sekaran ini. Hatinya sudah kebal dihina, dicaci dan dimaki. Tubuhnya seakan sudah kuat menerima pukulan demi pukulan dari ayahnya.


Uang lima ratus ribu dilempar begitu saja ke wajah Nesha. "Itu untuk biaya hidup kamu satu bulan. Jangan pernah meminta uang lagi kepadaku. Aku sudah tidak peduli dengan kamu. Mulai detik ini kamu bukanlah anakku."


Sakit sudah pasti Nesha rasakan. Namun, dia berusaha untuk tegar. Lima ratus ribu cukup untuk apa ketika hidup di ibukota. Nesha tak gentar, dia masuk ke dalam rumah petakan yang sangat kumuh itu. Tidak ada apa-apa di sana. Kasur lu tidak ada. Lantai pun sudah rusak.


Tubuh lelah Nesha membawanya berbaring di lantai rusak itu. Dia tidur dengan berbantalkan koper tanpa alas dan tanpa selimut. Kehidupan keras nan menyedihkan Nesha sudah akan dimulai.


Keesokan paginya tubuh Nesha menggigil kedinginan. Namun, dia tidak ingin meninggalakan sekolahnya. Dia berjalan ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air dingin. Nesha sudah terbiasa, setelah kepergian ibunya hidup mewahnya harus berganti dengan hidup yang sangat memilukan.


Ketukan pintu terdengar, Nesha yang tengah memakai seragam pun segera membuka pintu. Seorang wanita seumuran ibunya sudah ada di depan pintu.


"Ada apa ya, Bu?" tanya Nesha.


"Saya mau menagih uang sewa karena kata bapak yang semalam, kamulah yang akan membayarnya."


Nesha menghela napas kasar. Ternyata ayahnya melebihi harimau yang sangat buas.


"Berapa Bu?" tanya Nesha.


"Empat ratus enam puluh ribu."


"Tolong kembaliannya ya, Bu. Saya tidak punya uang lagi. Empat puluh ribu lagi itu buat ongkos saya ke sekolah," balsa Nesha.


Si ibu pemilik kontrakan melihat bet lokasi sekolah yang ada di baju Nesha. Sungguh jauh sekali sekolahnya dari rumahnya sekarang. Si ibu yang merasa kasihan mengembalikan uang yang Nesha beri sebesar dua ratus ribu.


"Kembaliannya kebanyakan, Bu." Ibu itu menggeleng.


"Itu untuk kamu." Mata Nesha berkaca-kaca. Di dunia ini masih ada manusia yang baik.


Perjalanan Nesha menuju sekolah memakan waktu lebih dari setengah jam. Hari ini Nesha datang terlambat karena dia tak tahu jalan dan naik angkutan apa saja. Biasa diantar jemput oleh sopir. Hari-hari Nesha pun sangat berat. Di mana dia harus kelaparan dan berjalan kaki menuju sekolahnya karena tidak memiliki uang untuk naik angkot. Hanya berjalan satu botol air putih. Pulang pun berjalan kaki dengan perut yang sangat lapar.


Dari situlah kehidupan Nesha dimulai. Dia sangat membenci ayahnya. Meskipun, dia butuh uang untuk biaya sekolah dia lebih baik kerja di rumah makan ataupun kedai bakso untuk menjadi tukang cuci piring. Upah sepuluh sampai tiga puluh ribu dia terima. Setidaknya dia tidak kelaparan karena diberi makan. Uangnya bisa dia simpan untuk biaya sekolah. Keadaan lah yang membuat Nesha menjadi mandiri.


Jika, mengingat itu semua dia pesimis akan bisa mendapatkan mertua yang baik. Namun, Tuhan berkata lain. Dia malah dipertemukan dengan sosok Addhitama yang sangat baik. Mau menerimanya meskipun dia hanya sampah jalanan.


"Mamih," panggil Rindra.


Nesha yang tengah melamun segera menoleh. Dia tersenyum ke arah suaminya.


"Kenapa, Mih?" tanyanya.


Rindra sedari tadi memperhatikan sang istri yang mimik wajahnya sudah berubah. Dia memilih mendekat. Akan tetapi, Nesha hanya menggeleng.


"Mamih tidak bisa berbohong dari Papih," tukasnya.


Sorot mata sendu Nesha sangat Rindra kenali. Istrinya tidak dapat berbohong perihal kesedihannya.


"Jangan pikirkan di tua bahkan itu. Biarkan dia membusuk di dalam penjara."


Kalimat yang penuh dengan penekanan. Tua Bangka yang Rindra maksud adalah mertuanya. Dialah yang menjebloskan mertuanya ke dalam penjara. Rindra lebih kejam kedua adiknya dan juga papihnya. Dia juga lebih kejam dari singa jantan.


Selama ini Addhitama dan juga Nesha menyembunyikan rapat-rapat perihal ayah Nesha yang ternyata memeras Addhitma ketika dia Addhitama hendak menjadikan Nesha menantunya. Tak tanggung-tanggung, ayah Nesha meminta satu perusahaan Addhitama. Tanpa berpikir panjang Addhitma memberikannya. Itu juga tanpa sepengetahuan anak-anaknya.


Tidak Addhitma duga ternyata Rindra mengecek semua aset milih Addhitama. Dahinya mengkerut ketika salah satu perusahaan yang cukup besar bukan atas nama Addhitama melainkan atas nama Fredi Sutoyo. Nama yang tidak asing. Hari itu juga, Rindra menyelidiki siapa Fredi Sutoyo dan perusahaan papihnya. Seminggu penyelidikan semua bukti Fredi Sutoyo sudah di tangan. Rindra membaca satu per satu hasil penyelidikan dari anak buahnya. Urat-urat kemarahannya hadir di wajah tampannya. Apalagi dia membaca perihal sikap Fredi Sutoyo terhadap istrinya. Rindra menonjok foto Fredi Sutoyo dengan segala amarahnya.


"Kau harus pergi ke neraka!" geramnya.

__ADS_1


Siapa yang tidak tahu bahwa Rindra adalah manusia yang sangat licik serta kejam. Mengingat ke belakang, adiknya pun dia curangi demi mendapatkan hati seorang wanita.


Rindra menjalankan misinya dengan sangat lancar dan berakhiran pada pertemuannya dengan Fredi Sutoyo. Rindra sengaja mengajaknya bekerja sama dan bertemu di sebuah restoran ternama.


"Selamat siang Pak Rindra," sapa Fredi.


Rindra sudah menunjukkan wajah tak bersahabatnya. Fredi tidak tahu bahwa Rindra adalah menantunya karena Addhitama mengatakan bahwa Nesha akan menikah dengan Rifal. Ternyata, itu hanya tipuan Addhitama belaka.


Fredi terus saja berbicara dan membuat Rindra jengah. Ketika mulutnya sudah berhenti berbicara, Rindra segera mengeluarkan sesuatu dari mapnya. Dia memperlihatkan foto seorang wanita cantik yang tengah menggandengkan tangannya.


"Apa Anda tahu wanita ini?" Suara Rindra terdengar sangat dingin.


Fredi mengambil foto itu dan seketika tubuhnya mematung. Dia menatap serius ke arah foto tersebut.


"Salam kenal Ayah mertua," ucap Rindra penuh penekanan.


Seketika wajah Fredi pucat pasi. Apalagi tatapan tajam sudah Rindra berikan ke arah pria paruh baya itu. Banyak foto yang Rindra keluarkan dari mal tersebut dan membantingnya di meja.


"Apa Anda masih mengingatnya? Atau sudah amnesia!" teriaknya.


Tubuh pria itu bergetar hebat. Apalagi Rindra sudah terlihat sangat marah.


"Terlalu banyak luka yang Anda torehkan kepada istri saya!" sentaknya.


Fredi tidak bisa berkata apapun. Tubuhnya bergetar hebat.


"Jangan harap Anda bisa hidup tenang wahai ayah mertua," ancamnya.


Rindra pergi begitu saja dan dia segera pulang ke rumah. Memeluk istrinya yang tengah menggendong Rio yang masih berumur dua tahun. Rindra menangis tersedu di pelukannya.


"Papih kenapa?" tanya Nesha.


Tidak ada jawaban dari Rindra. Dia masih menangis sejadi-jadinya.


"Papih, jangan buat Mamih takut," ujarnya.


Rindra mulai mengurai pelukannya. Dia menatap sendu ke arah sang istri yang nampak kebingungan.


"Kenapa Mamih mampu memendamnya sendirian?" Nesha benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Memendam apa, Pih?" tanya Nesha.


"Perihal ayah biadab kamu," jawab Rindra.


Nesha hanya terdiam dan di situlah pertahanan dan kekuatannya roboh dan hancur lebur. Mencoba baik-baik saja yang pada nyatanya sangat rapuh. Mencoba tersenyum pada nyatanya hati tertekan.


Rio anak yang berusia dua tahun yang menjadi saksi bisu terungkapnya masa lalu sang ibu. Masa lalu yang sangat menyakitkan


Diperlakukan bagai hewan oleh ayah kandungnya sendiri. Sampai sekarang rasa dendam itu masih ada di hati Rindra.


Rindra memeluk tubuh istrinya, air matanya pun tumpah. Rindra akan selalu memberikan ketenangan kepada istrinya ini.


"Jangan menangisi orang yang telah menyia-nyiakan Mamih. Masih banyak orang yang menyayangi Mamih dengan tulus, yaitu keluarga ini," tandasnya.


Nesha semakin erat memeluk tubuh Rindra. Pria yang sangat menyayanginya juga melindunginya. Pria yang menjadi ayah dari anaknya.


Echa hanya memperhatikan saja. Dia tidak tahu bagiamana kehidupan kakak iparnya itu sewaktu dulu. Echa bukanlah orang yang ingin tahu. Dia tersentak ketika Radit memeluknya dari belakang.


"Kita siap-siap, ya. Sekalian jepit anak-anak." Echa mengangguk setuju.


Addhitama sendiri masih ada rapat penting dengan para klien. Ketika makan siang, Gio datang ke kantor Addhitama dan kebetulan besannya itu ada di sana.


"Wah, tumben sekali Giondra Aresta Wiguna datang ke sini," canda Addhitama.


Gio hanya tertawa dan duduk di samping sang besan. Dia menyerahkan undangan kepada Addhitma. Dahi Addhitama mengkerut.


"Saya telah membuat acara nanti malam. Tolong hadir, ya. Nanti saya yang akan menjemput, Om."


"Ini undangan atau perintah?" gurau Addhitama.


"Undangan dalam bentuk perintah," balasnya.


Gio dan Addhitama pun tergelak. Padahal sebelum Gio datanh hatinya tengah dilanda kesedihan. Di hari spesialnya tidak ada putranya yang mengucapkan apapun kepadanya. Begitu juga dengan kedua menantunya. Ada rasa kecewa yang berkecamuk di dalam dada. Namun, dia harus mengerti karena ketiga anaknya memiliki kesibukan yang memang padat.

__ADS_1


__ADS_2