Yang Terluka

Yang Terluka
Si Alan!


__ADS_3

Perkataan Rifal membuat Kano terdiam membisu. Tiba sudah mereka di depan rumah mewah bercat putih.


"Mau mampir?"


"Tidak, terima kasih."


Baru saja Kano keluar dari mobil. Keysha sudah berlari menghampiri Kami dan memeluknya manja. Rifal hanya melihat Keysha sekilas dan memilih untuk pergi menjauh.


"Ternyata kamu baik-baik saja."


Pagi harinya di kediaman Echa, suasana semakin riuh karena kedatangan Arya yang baru saja pulang ke Indonesia. Ditugaskan ke Jepang untuk memeriksa proyek di sana oleh ayahnya.


Arya sudah merentangkan kedua tangannya, tetapi ketiga anak Echa lebih tertarik dengan paper bag yang Arya bawa.


"Kecil-kecil udah tahu mana barang bemerk," gerutunya.


Echa dan yang lainnya hanya tertawa. Seminggu tanpa Arya rasanya sangat sepi. Arya berangkat tepat ketika Aleesa kambuh kembali. Makanya, Echa benar-benar ketakutan harus menghadapi Aleesa seorang diri. Tidak ada yang selalu bisa menenangkan hatinya.


Arya menatap nanar ke arah Aleesa. Matanya terkunci pada sosok balita yang cantik itu.


"Kenapa dia harus mengalami hal yang sama kayak lu?"


Ucapan yang penuh dengan kepiluan. Apalagi ucapannya terdengar sangat lirih dan perih. Hanya senyum penuh penyesalan yang keluar dari bibir Echa.


"Jika ... Echa tidak ...."


"Semuanya sudah takdir Tuhan." Arya memeluk tubuh Echa dengan sangat erat.


Dia tahu bagaimana perasaan Echa yang sesungguhnya. Kematian Aleesa pun Arya ketahui, dia pun menangis. Selang satu jam dia diberi tahu lagu jika Aleesa sudah membuka mata kembali. Puji syukur terus dia ucapkan pada sang pemilik semesta.


"Jaga anak-anak lu dengan baik. Jadilah ibu yang hebat untuk mereka. Mamah lu aja bisa mengurus lu ketika lu sakit. Sekarang, lu juga harus bisa mengurus ketiga anak lu."


Echa mengangguk patuh, Arya tahu bagaimana hati dan pikiran Echa. Makanya, dia tidak ingin melanjutkan ucapannya lagi.


Arya menyudahi haru birunya, dia lebih memilih bergabung bersama ketiga anak Echa.


"Kalian suka?"


Si triplets mengangguk kegirangan. Warna kesukaan mereka yaitu baby pink.


"Bubu, ini pate ini." Aleeya membawa baju pemberian Arya kepada Echa.


"Bajunya belum dicuci, Nak. Besok ya baru dipakainya."


Aleeya pun merengut kesal membuat Echa tertawa lucu.


"Kalau kulit Dedek Ya gatal-gatal lagi, mau?"


Gelengan kepala dengan sangat cepat Aleeya berikan. Pernah sekali Aleeya terkena alergi yang sangat parah. Dia terus menangis dan menggaruk kulit sensitifnya.


Arya meminta ijin kepada Echa untuk membawa si triplets ke rumah Mamihnya. Sudah beberapa bulan ini sang Mamih mengeluh rindu kepada anak-anaknya.


"Bawa pulang dalam keadaan utuh juga, ya."

__ADS_1


"Emang barang," dengus Arya.


Anak-anak Echa adalah anak yang dengan siapa saja mau. Asalkan orang itu mereka kenali.


"Wa, au nana?" tanya Aleesa.


"KIta main ke rumah Oma."


"O-ma?"


Aleesa memandang kedua saudaranya. Wajah mereka nampak bingung.


Selama hampir dua tahun ini, Rion tidak pernah mengenalkan Amanda kepada cucu-cucunya. Arya tahu, Rion masih memendam kesakitan yang mendalam. Setahunya juga, dia tidak pernah mendatangi makam Amanda. Hanya Iyan dan juga Riana yang pergi ke sana.


Tibanya di rumah sang Mamih, Arya disambut teriakan dari Arina. Dia sudah menunggu ketiga anak-anak yang sangat lucu ini.


"Para boneka anteu," ujar Arina dan mengecup ketiga pipi si triplets bergantian.


"Salim dong."


Mereka bertiga mencium tangan Arina membuat Arina tersenyum bahagia.


"Ya ampun, boleh gak sih ini buat gua satu," ucapnya sambil menguyel-uyel pipi Aleeya.


"Rela deh gua tuker sama satu perusahaan atas nama gua."


Arya menoyor kepala sang kakak dengan tidak sopan. "Ini anak orang bukan anak kucing," sentak Arya.


Arina menuntun ketiga kurcaci ini ke dalam. Teriakan histeris pun menyambut Arya dan juga si triplets. Nyonya Bhaskara sudah merentangkan kedua tangannya. Penuh percaya diri Arya menghampiri sang mamih, tetapi rentangan tangan itu untuk anak-anak Echa.


"Sial banget hari ini," gerutunya dalam hati.


Diabaikan terus-terusan ternyata sangat menyebalkan.


"Mamih dan Mbak Arin gak mau oleh-oleh-oleh dari aku?"


"Taruh aja di situ," jawab Arina dan Nyonya Bhaskara secara berbarengan.


Arya hanya menganga dan menggelengkan kepala. Auranya terkalahkan oleh aura si tiga tuyul. Mereka pun tidak merasa risih dengan perlakuan Arina dan juga Mamih Arya. Malah mereka tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun, Oma gemas deh sama kalian."


"Anteu juga," tambah Arina.


Nyonya Bhaskara dan Arina saling tatap. Bibir mereka pun terangkat.


"Sunarya!"


Pekikan suara sang kakak membuat Arya yang sedang berselonjor manja mendengus kesal.


"Berisik!"


Dia terus melanjutkan aktifitasnya, yaitu memakan keripik kentang sambil menonton acara televisi. Tak dia indahkan teriakan demi teriakan Arina.

__ADS_1


Sang kakak, Arina Bhaskara yang sudah lelah berteriak bagai Tarzan pun mulai mencari keberadaan adiknya ini. Dia berkacak pinggang melihat adiknya yang sudah mendengkur keras.


"Udah kaya kebo," sungut Arina.


Arina tidak tega untuk membangunkan Arya. Bukan tanpa alasan, dini hari tadi Arya baru saja tiba di Jakarta. Pasti sangat lelah perjalanan Jepang menuju Jakarta. Dia meninggalkan Arya yang sudah masuk ke alam mimpi.


"Mih, kita berdua aja yuk. Minta antar sopir. Si Sunarya lagi bobo syantik. Sepertinya dia sangat kelehan."


"Baiklah."


Sopir sudah siap untuk mengantar mereka berlima. Sorak gembira mereka bertiga membuat senyum Nyonya Bhaskara dan juga Arina melengkung dengan sempurna.


"Let's Go!"


Nyonya Bhaskara terlihat sangat bahagia melihat putri pertamanya bahagia bersama ketiga anak Echa. Semenjak Panji, sang cucu tiada karena sebuah penyakit leukimia. Arina berubah menjadi sosok pendiam. Apalagi, suaminya telah meninggalkannya dengan alasan Arina tidak bisa memberikan turunan lagi untuknya. Lebih tepatnya Arina diselingkuhi oleh suaminya. Dia lebih memilih bercerai dari pada harus diduakan. Meskipun tanpa seorang suami, Arina masih mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Kini, Arina lebih memilih menyibukkan diri mengurus perusahaan yang diwariskan sang Papih kepadanya dan juga Arya.


Di kediaman Antonio Bhaskara, mata Arya mulai mengerjap. Dia tidak mendengar kebisingan ketiga anak Echa.


"Mungkin mereka lagi tidur sama Mbak Arin."


Mata Arya pun terpejam kembali. Rasa kantuknya belum terobati. Apalagi, dia harus bangun pagi buta karena sang istri harus terbang ke Singapura. Mengurus Beeya adalah menjadi tugasnya selama Beby tidak ada.


Sudah tiga jam Arya terlelap, jam dua belas siang dia membuka mata. Meregangkan ototnya yang terasa kaku karena tidur di sofa.


"Enak banget tidur gua," ucapnya.


Arya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah tubuhnya segar, dia menuju ruang keluarga di mana si triplets berada. Akan tetapi, dia tidak menemukan siapa-siapa.


Dia melangkahkan kaki menuju kamar Arina. Biasanya Arina membawa si triplets tidur di kamarnya. Tangan Arya sudah memegang gagang pintu. Dia membuka pintu secara perlahan. Ketika dia melongokkan kepala, ternyata tidak ada juga mereka di sana.


"Tiga tuyul!" teriaknya.


Arya terus mencari keberadaan mereka. Namun, nihil Arya tidak menemukan si triplets.


"Pada ke mana?"


Arya segera menghubungi sang Mamih, tetapi tidak ada jawaban. Menghubungi Arina pun sama juga.


"Si triplets dibawa sama mereka gak sih?" tanyanya.


Bel pintu terdengar, ternyata Echa sudah ada di depan pintu.


"Mana anak-anak Echa?"


"Hah?"


Arya tidak bisa menjawab. Dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kayak monyet begitu?"


"Si Alan!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2