Yang Terluka

Yang Terluka
Obsesi Berbalut Cinta


__ADS_3

Selama diperjalanan menuju Bandara, bibir Radit tak hentinya melengkungkan senyum. Apalagi dia baru saja mengaktifkan ponselnya dan sudah lebih dari 150 chat yang Echa kirimkan untuknya.


Itu gak benar Bhal.


Bhal Sayang balas dong chat aku.


Yang ....


Kamu mah jahat, aku merasa bersalah banget ini 😭


Baru kali ini Echa menyebutnya Sayang melalui chat. Biasanya Echa hanya memanggilnya Bhal saja. Sungguh berbunga hati Radit sekarang ini.


Namun, Radit tidak berniat untuk membalas pesan Echa. Dia hanya cukup membacanya saja.


"Kamu udah kabarin Echa?" Radit pun menggeleng.


"Mau kasih kejutan." Radit pun hanya tersenyum. Yang Radit inginkan cepat sampai Bandara dan terbang ke Indonesia. Gadis kesayangannya sedang gelisah di sana. Menganggap jika dia marah kepada Echa.


Tunggu aku di sana, Sayang.


Sedangkan Echa sedari pulang sekolah hanya berdiam diri di halaman belakang. Berkali-kali dia mengecek ponselnya namun, masih centang satu.


"Kak, bagaimana tadi di sekolah?" tanya sang Mamah.


"Heboh Mah," sahut Echa.


"Kenapa kamu menolak tawaran Papa?" Ya, Gio menawarkan agar dirinya mengumumkan kepada semua warga sekolah jika kabar yang beredar itu tidak benar adanya. Namun, ditolak oleh Echa.


"Echa gak mau terus berlindung di belakang nama Papa. Biarlah Echa menghadapi sendiri, ketika Echa mulai tidak sanggup barulah Echa akan meminta bantuan Papa," jelasnya.


"Mamah bangga padamu, Kak." Ayanda pun memeluk tubuh sang putri.


"Echa harus sadar diri, Mah. Papa itu bukan ayah kandung Echa. Tapi, kebaikan Papa melebihi kebaikan seorang ayah kandung." Ayanda pun tersenyum dan mengusap punggung Echa.


"Papa sangat menyayangi kamu, sama halnya Papa yang menyayangi si kembar. Tidak ada bedanya anak kandung dan anak sambung bagi Papa," terang Ayanda.


"Radit bagaimana Kak?" Echa mulai terdiam.


"Masih belum ada kabar dari Radit?" Echa hanya mengangguk.


"Kemarin malam Om Addhitama ke rumah, dia bilang kalo kondisi Radit drop." Mata Echa mulai berkaca-kaca mendengar penuturan sang Mamah.


"Kak Radit gak apa-apa kan, Mah?"


"Kabar ini sudah sampai di telinga Radit. Dan pastinya Radit sangat terluka dan menyangka kabar itu benar adanya," jelas Ayanda.


"Mah ...."

__ADS_1


"Tenang Sayang, semuanya akan baik-baik saja. Setelah pulang dari sini kemarin malam, Om Addhitama langsung bertolak ke Canberra."


Hanya rasa ketakutan dan rasa bersalah yang amat besar yang Echa rasakan.


Satu jam.


Dua jam.


Tiga jam.


Echa masih betah berada di halaman belakang. Matanya terus memandangi ponselnya. Dia selalu berharap Radit akan membalas pesannya dan juga menghubunginya.


Echa membuka aplikasi WhatsApp, pesan yang tadinya ceklis satu kini berubah menjadi centang dua garis biru. Yang pastinya sudah dibaca oleh Radit.


"Kenapa tidak kamu balas Bhal?" lirih Echa. Ada kesedihan di hati Echa. Dia takut jika Radit mempercayai berita itu.


Panggilan dari seseorang dengan suara barito pun terdengar sangat dekat. Echa terdiam sejenak, suara itu sangat dia kenali.


Dengan perlahan Echa menoleh ke asal suara itu dan seseorang dengan wajah sendu ada di hadapannya.


"Mau apa kamu ke mari?" sentak Echa.


"Kak, tenanglah." Ayanda menghampiri Echa yang terlihat sedang menantunya dengan wajah yang teramat marah.


"Nggak, Mah. Aku gak mau ketemu dia tanpa ada Papa di samping aku." Echa pun pergi meninggalkan Rindra dan Ayanda.


Tak lama keamanan pun datang dan menyeret Rindra keluar. Rindra tidak bisa menolak, karena semua ini adalah salahnya. Dia yang membuat Echa semakin menjauh.


Malam pun tiba, Gio menghampiri putrinya yang sedari tadi mengunci kamarnya. "Kak, ini Papa," ucap Gio.


Echa pun bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk sang papa. "Kenapa dikunci?"


"Echa takut, Pa. Orang itu sangat nekat," lirihnya.


Gio memeluk tubuh sang putri, terlihat jelas wajah sedih sekaligus ketakutan yang Echa rasakan.


"Ada Papa, Sayang. Papa akan melindungi kamu," imbuhnya.


Setelah Echa sedikit tenang, Gio menatap manik cantik miliki Echa. "Rindra di bawah, dia ingin berbicara sama kamu," ujar Gio.


"Echa tidak mau."


"Kita temui dia, ya. Apa yang akan dia lakukan sekarang," balas Gio.


Awalnya Rindra tidak berniat untuk meminta maaf, meskipun sang Papih sudah memohon kepadanya. Ternyata, kabar dirinya dan Echa telah sampai ke telinga Genta Wiguna. Sehingga Genta Wiguna memberikan senyuman kecil kepada Rindra.


Genta menarik semua sahamnya dari Addhitama Grup. Diikuti oleh investor-investor asing lainnya. Sehingga Addhitama Grup diambang kehancuran. Tanpa para investor, perusahaan Rindra bukanlah apa-apa.

__ADS_1


Wajah Rindra merah padam ketika mengetahui semuanya. Dia menghubungi satu per satu para investor. Dan jawaban mereka sama, berita ini mempengaruhi kepercayaan mereka kepada penerus pertama Addhitama Grup. Para investor pun menolak ketika Rindra mengajak mereka untuk bertemu. Terlebih Genta Wiguna, manusia yang sangat keras kepala.


Echa merangkul lengan sang papa turun ke bawah. Sedangkan Ayanda menatap tajam ke arah Rindra seperti seekor elang yang akan memburu mangsanya. Yang Rindra bisa lakukan hanyalah menunduk. Apalagi dia sudah mendapat ancaman dari Papihnya. Jika, dia tidak bisa menormalkan perusahaan, Rindra akan dihapus dari list penerus Addhitama Grup.


Derap langkah kaki membuat Ayanda dan Rindra menoleh ke asal suara. Rindra menatap Echa dengan penuh penyesalan. Tapi, Echa menatap Rindra dengan penuh kemarahan.


Gio duduk di samping Echa dengan tangan Echa yang merangkul erat tangannya.


"Echa sudah ada di sini, kamu mau bicara apa?" ucap Gio membuka keheningan.


"Cha, aku minta maaf. Aku melakukan itu semua karena aku sayang sama kamu," imbuhnya.


Echa hanya tersenyum tipis dan tertawa sinis mendengar penuturan Rindra.


"Apa kurangnya aku dibanding adik aku sendiri? Aku lebih dari dia, Cha."


"Dari materi Kakak emang lebih daripada Kak Radit. Tapi, dari segi hati dan ketulusan. Kakak kalah telak dari Kak Radit," jawab Echa.


Sungguh jawaban yang sangat menusuk ulu hati Rindra. Anak SMA pun bisa menilai Rindra seperti apa.


"Rasa sayang sesungguhnya itu tidak akan ada pemaksaan dan juga rekayasa. Rasa yang Kakak miliki itu hanyalah obsesi yang dibungkus oleh sedikit rasa sayang," jelasnya.


Rindra pun terdiam mendengar jawaban dari Echa yang semakin dalam menusuk hatinya. Baru kali ini dia mendapat penolakan dan juga perkataan yang menyakitkan dari seorang wanita. Terlebih, wanita yang menolaknya ini hanyalah seorang gadis SMA. Sungguh tak memiliki wajah Rindra kini.


"Aku harap, kita tidak akan pernah bertemu lagi." Echa bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka di ruang tamu.


"Bhul." Langkah Echa terhenti ketika dia mendengar ada yang memanggilnya.


Satu menit dia berdiri namun, tidak ada yang menghampiri. Echa pun mulai menaiki satu anak tangga.


"Sayang, ini aku."


Echa mencoba memberanikan diri membalikkan badannya. Karena dia sangat hafal dengan suara ini. Suara yang dia rindukan.


Mata Echa pun sudah berkaca-kaca melihat seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan senyuman yang indah.


"Bhal." Echa pun berhambur memeluk tubuh Radit yang sangat amat dia rindukan.


****


Happy reading ....


Komen dong komen ...


Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.


Eh, anu aku mau nanya. Kalo aku naruh cerita di si hijau K B M kalian mau ngikutin gak? Cerita baru aku, udah aku tulis di pengumuman Bang Duda hari ini. Baca aja ya kalo penasaran.

__ADS_1


__ADS_2